23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idealisme, Politik dan Lain-lain – Obrolan Mewah di Warung Desa

Bramasta Wira Bumi by Bramasta Wira Bumi
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ray

BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kopi hitam dan pisang goreng di warung, adalah hal paling menyenangkan. Hal menyenangkan yang pernah dilewati oleh orang desa seperti aku.

Duduk di warung, sangat sedikit dari kami mengerti dan paham ketika mendengar kata kata sejenis idealisme, politik, dan hal sejenisnya. Sebagaimana obrolan warung, kami biasa bicara tentang hal-hal yang mudah dipahami, misalnya tentang lingkungan kami sendiri.

Tentang bebek, tentang sawah, tegalan, jukut-jukutan, jenis-jenis lawar, dan hal-hal yang memang kami ketahui dengan pasih. Kata-kata yang berliweran di mulut kami adalah kata ngayah, nguopin, maang ngamah celeng, ngelawar, ngae jukut dan sejenisnya.

Kebanyakan orang nyaman dengan hal seperti dan mendambakan suasana semacam itu di kehidupannya. Mengobrol bebas tanpa beban, ngobrol kangin-kauh dan bercengkrama satu sama lainnya tanpa kenal waktu.

Tapi zaman berubah. Kata-kata baru mulai masuk dalam obrolan warung. Yang paling kerap muncul adalah obrolan tentang politik. Ini karena saking seringnya masyarakat di hadapkan pada fenomena politik. Pilkada Bupati, Pemilu Legislatif, Pilkada Gubernur, Pemilihan Presiden, bahkan hingga pemilihan perbekel, kepala dusun dan klian subak dimasuki unsur-kata-kata politik yang tak banyak diketahui masyarakat.

Kalau pun terjadi obrolan, istilah-istilah politik itu diucapkan dengan gagap, tidak percaya diri dan kadang sok tahu.

Hari itu terasa dingin menusuk tulang dan waktu sudah menunjukan pukul 20.30 wita.  Kami berkumpul di warung, di tepi jalan, sambil menonton siaran TV lokal yang memang sering disetel oleh masyarakat desa kami. Karena mungkin TV menyiarkan berita lokal dengan bahasa Indonesia dan bahasa Bali.

Di TV itu sering tampak sosok berpakaian adat Bali dan terlihat sangat berwibawa berbicara di depan presenter. Siapa yang tidak merasa kagum dengan sosok ini? Seseorang yang dengan lantang turut menegakkan Ajeg Bali kendati suaranya baru terdengar beberapa waktu lalu.

Ia dengan lantang menolak Reklamasi Teluk Benoa kendati baru beberapa bulan belakangan. Tampak juga di TV sosok ini ikut turun ke jalanan kendati baru beberapa minggu ini. Sosok ini jadi sangat terkenal, apalagi sering memposting segala aktivitasya di media sosial.

Kami sering membicarakan tokoh tersebut, tentu juga tokoh-tokoh lain. Pembicaraan lebih banyak mengarah pada soal-soal politik. Karena, orang yang tiba-tiba sering tampak di TV, media sosial dan pada berita-berita berbayar di koran-koran, memang sering dikait-kaitnya dengan keinginan untuk menjadi Bupati, Gubernur atau anggota DPR.

Malam itu, di warung, tiba-tiba datang teman kami, sebut saja Komang, dengan membawa Iphone 5s barunya. Ia bermain facebook di hadapan kami. Seperti melihat emas, kami yang di warung langsung mendekati Komang untuk melihat handphone yang dia bawa.

Komang yang merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri memang memiliki pergaulan yang berbeda dengan kami. Kami yang setiap hari hanya bermain di sawah, sungai dan peternakan, sementara Komang bergaul dengan orang-orang penting di perkotaan.

Sesaat ketika sedang memperhatikan handphone Komang, kami kembali menemukan pampangan foto seorang sosok yang baru saja kami saksikan di TV. Orang yang suka berpakaian adat Bali itu.

Spontan saja kami langsung membicarakannya. Salah satu dari kami bahkan berkata, ”Wah ini pasti orang terkenal, pasti calon gubernur ini.”

Aku juga sangat setuju dengan dugaan itu, mengingat kemampuan bicara sosok itu, wibawanya dan tentu style-nya yang sangat keren. Kami terheran-heran dan tampak sangat kagum.

Namun Komang hanya tersenyum saja. Kami heran kenapa Komang tak tampak kagum. Ah, tentu saja karena kami memiliki pengetahun dan pergaulan yang berbeda. Kami di kampung biasa terbius hanya dengan melihat di TV. Tapi Komang pasti mengetahuinya secara langsung.

Saat itu Komang hanya tertawa.  Menurut Komang, orang yang kami bicarakan ini memang orang penting. Orang yang sering memberikan masukan kepada pemerintah dalam berbagai permasalahan. Memiliki idealisme yang sangat tinggi pada Bali.

Namun karena diduga punya kepentingan secara politik, ia sering melakukan pembelaaan terhadap Bali secara berlebihan hanya untuk menarik simpati. Misalnya dengan cara mendeskreditkan sebuah golongan minoritas di depan publik. “Mengingat gelar yang dia miliki rasanya sedikit kurang pantas untuk mengumbar permasalahan yang lagi merupakan permasalahan yang sensitif terkait dengan ras, agama dan golongan,” kata Komang.

Gerakan yang diusung memang terkesan mengutamakan Bali bahkan tak jarang sangat mendukung rakyat miskin. Namun disisi lain pula juga ia lupa bahwa Bali terdapat dalam bingkai NKRI yang harus tetap dijaga dan dipegang keutuhannya.

Idealisme yang ia pegang memang sangat teguh tapi tak ayal terasa mengidealkan idealisme yang dipegang. “Prinsip atau idealisme yang dijalankan tanpa mau mendengar pendapat orang lainnya apakah dapat disebut pemimpin yang memiliki idealisme yang sejalan dengan masyarakat dalam bingkai NKRI?” kata Komang.

Idealnya, menurut Komang, idealisme yang baik adalah idealisme yang dapat mencakup kepentingan masyarakat luas terlebih lagi kepentingan seluruh bangsa, bukan hanya kepentingan sebuah golongan atau ras dan agama.

Maka itu, mengidealkan idealisme bukanlah jawaban yang tepat untuk menjawab sebuah tantangan menjadi seorang pemimpin. Tapi idealisme yang mendekati ideal-lah yang terbaik dimiliki oleh seorang pemimpin sehingga pemimpin memiliki batasan yang jauh berbeda dengan pemimpi.

Kami, orang-orang desa di warung desa, hanya manggut-manggut saja. Syukur sekali kami memiliki teman yang memiliki pengetahuan dan pergaulan yang cukup luas.  Jika tidak, kami bisa menjadi korban kampanye terselubung dari siaran TV, berita di koran, atau status-status di media sosial.

Malam dingin itu pun tiba tiba berubah perlahan menjadi lebih hangat dengan beberapa buah pikiran yang terus terngiang di kepala kami untuk mencoba menelaah kembali calon bahkan wakil-wakil rakyat yang sudah  kami pilih dalam perhelatan politik sebelumnya.

Namun pada akhirnya komang mengatakan, “Menurut Tan Malaka, kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda adalah idealism. Namun apakah hal ini juga berlaku bagi yang sudah bukan lagi pemuda?”

Malam itupun kami tertawa hingga lupa bahwa jam telah larut dan memutuskan untuk kembali ke rumah masing masing dengan bekal pemikiran yang cukup berat. (T)

Tags: desamedia sosialPolitik
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter

Next Post

Mengurus Hidup, Merawat Mati, di Bali

Bramasta Wira Bumi

Bramasta Wira Bumi

Bernama lengkap Ida Bagus Made Bramasta Wira Bumi. Pemuda tambun dengan kulit coklat, rambut ikal dan senyum menawan. Sedang kuliah di S1 Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Mengurus Hidup, Merawat Mati, di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co