14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membela Cinlok saat KKN – Itu Pengamalan Tema Sosial Budaya

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Opini

Foto: koleksi penulis

BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya justru akan membela cinta lokasi yang kini sedang ramai didengung-dengungkan dalam hati para pelaksana mata kuliah yang menerjunkan mahasiswa ke lapangan secara langsung selama beberapa bulan.

Tujuannya tentu sangat mulia, seperti titah Tuhan selalu bermaksud mengamalkan niat baik dalam menjalankan kehidupan yang berdampingan, antar sesama mahluk hidup atau yang tidak hidup, misalnya sampah yang menjadi salah satu contoh hubungan akut dan harmonis manusia. Kita boleh saja sebut sampah masyarakat.

Jangan tersinggung dulu, itu saya ambil sekedar memaknai bahwa sampah masyarakat adalah sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Masalah pembaca memaknai “sampah” itu apa, monggo, saya silakan.

Baik, kita lupakan dulu soal sampah dan masyarakatnya. Kita kembali bicara soal cinlok. Bukan sesuatu yang tabu lagi sesungguhnya untuk didengar masalah cinta-cintaan yang bersemi dalam posko selama hitungan bulan ini.

Tapi membahas cinta lokasi di masa KKN tidak pernah menjadi basi diulang, baik dilakukan maupun digosipkan. Meski dengan beberapa pengulangan kisah, adegan, dan ending yang sama, hubungan ini selalu ditunggu dan disadari sepenuhnya oleh semua orang.

Lebih-lebih, cerita-cerita awal tentang hubungan singkat bak cinta satu malam atau satu jam saja layaknya Melynda, dan pengusung diangkatnya derajat itik yang kini diakui memiliki goyangan yakni Sazkia Gotik, bahkan dipersiapkan matang secara sadar jauh-jauh hari sebelum hari H tiba, untuk menghadapi desas-desus yang akan menjadi nyata.

Tulisan ini sesungguhnya saya buat untuk memulihkan rasa tersinggung pelaku cinta lokasi itu sendiri. Karena baru-baru ini para pelaku hubungan itu mendapat sentilan menggigit dari penulis muda yang gesit Putri Handayani.

Dalam tulisan itu, Putri mencoba membongkar kekeliruan tujuan KKN yang cenderung menjadikan cinlok sebagi program kerja wajib ulang dan utama. Protesnya Putri, cinlok dianggap tidak masuk dalam buku pedoman buku kuliah kerja nyata.  Tulisan ini pun akhirnya mendapat pembaca pemecah rekor terbanyak dan tercepat di media tatkala.co. Dalam beberapa jam saja, tulisan itu dibaca ribuan mahasiswa yang ber-KKN ria.

Termasuk saya dan beberapa teman di rumah singgah, juga asik membaca tulisan Putri. Mengharukan yang terjadi. Hari dimana tulisan itu dibaca oleh rekan wanita KKN saya. Ia membacanya dengan keras, dengan nada bercanda sambil menutupi niat jahatnya menyindir beberapa pelaku cinta lokasi di tempat kami. Beberapa tersangka mulai lebih diam dari biasanya, dengan wajah diperas santan (pucat tak segar) pelaku berusaha beralih tempat duduk dari sindiran yang menghujam jantung mereka.

Saya masih mendengarkan isi tulisan hingga selesai terbaca oleh teman. Tak perlu berpikir lama, memutuskan cinlok itu benar atau tidak bukan lagi persoalan bagi saya. Bagi saya, para pelaku hubungan itu cukup cerdas memaknai buku pedoman yang dicetak banyak oleh lembaga sebagai bekal bermasyarakat – buku pedoman yang disimpan rapi setelah dibuka daftar isi saja.

Siapa bilang cinlok tidak menjadi bagian dari buku pedoman KKN? Pelaku cinlok tampaknya cukup cerdas dan serius memaknai setiap panduan yang dicantumkan dalam pedoman.

Pada buku pedoman pelaksanaan lapangan, sub yang membahas tentang  kegiatan mahasiswa diberikan lima jenis pilihan tema kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa. Dari tema yang ada itu, tema nomor lima yakni tema sosial budaya rupanya paling dekat dengan mahasiswa dan mudah dipahami secara mendalam. Di situ tertera, membangun hubungan sosial dengan seluruh masyarakat desa, dan masyarakat posko. Dari hubungan baik itu terciptalah budaya yang menakjubkan.

Berbahagialah para pelaku cinlok. Sebab hubungan kalian adalah pengamalan pedoman yang tentu memiliki maksud mulia untuk menciptakan hubungan sosial yang baik dari budaya yang ada. Bagi saya, kesadaran para pelaku tentang pengamalan hubungan sosial yang baik itu, bukan sekedar bagaimana bicara pada kepala desa untuk pelurusn program kerja. Bukan juga bagaimana bicara pada kelompok pemuda agar dapat melakukan program bersama.

Atau bagaimana menjalin hubungan baik dengan keluarga asuh agar terkesan memberi bantuan dan santun meski sesungguhnya lebih banyak berpura-pura daripada rasa tulusnya. (Jangan bohong para pelaksana KKN. Kalian tidak akan melakukan semua ini jika bukan karena tiga SKS yang menentukan kalian “Kumlod” atau tidak.)

Rupa-rupanya pengamalan hubungan sosial yang baik itu juga teraplikasi secara baik di masyarakat posko antar sesama teman seperjuangan, dalam mengumpulkan nilai di mata masyarakat. Secara sadar, untuk menahan rasa jenuh dan bosan di moment seperti KKN, kita menciptakan hubungan yang harmonis dengan PDKT, dan itu memang sangat diperlukan.

Sekali lagi saya ingin mengucapkan selamat untuk para pelaku, selain mengaplikasikan hubungan yang harmonis, rupa-rupanya mereka telah menyelamatkan rasa sedih dan kesepian rekan kerjanya. Rasa kesepian akan jarak yang jauh dan kerinduan pada yang diharapkan dan tidak dapat tecapai, akhirnya terpenuhi oleh hubungan yang akrab. Jadi, niat PDKT sesungguhnya membahagiakan hati orang lain, dan itu adalah amal yang sangat mulia.

Kalau kita mengukur nilai kehidupan seseorang dengan SKS, mungkin cinlok yang bertujuan untuk mengobati hati yang sepi dan memberi kebahagiaan akan mendapat lebih dari tiga SKS.

Saya mohon maaf sebelumnya kepada siapa pun yang marah karena pembenaran saya akan hubungan ini. Murni, saya tidak termasuk yang mengalami cinlok. Karena saya ada di posisi yang tidak cinlok,  jadi tolonglah sedikit percaya pada apa yang saya ungkapkan. Setidaknya kita belajar menilai objektif dengan  tidak memihak apa yang menjadi pilihan kita.

Saya cukup dapat dipercaya dalam hal menilai yang pro-kontra. Kalau dicari salah dan benarnya toh semua memilikinya. Namun kita lihat bagaimana mereka memaknai setiap tindakannya, dan memaknai itu tidaklah cukup dari sisi kita yang merasa mengambil pilihan yang sama.

Sekali, sekali, dan sekali lagi saya mengucapkan selamat untuk semua. Semua yang sudah menjadi pelaku atas misi mulia yang dilakukan, dan akan berakhir secara baik karena sudah membawa bekal kesadaran. Sementara tak lupa juga saya mohon maaf sekali, dan sekali lagi, jika apa yang saya sampaikan mengecewakan para penolak cinlok.

Tetapi baik pelaku cinlok atau tidak, mari kita belajar bersama menghargai segala keputusan yang bisa mereka pertanggungjawabkan secara baik dan dewasa dengan berpedoman buku pedoman KKN yang penuh titah. Pedoman yang perlu dimaknai secara mendalam pada setiap tujuan yang dicantumkan, untuk menunjukan kita sedikit lebih kritis dalam mengungkap segala kemungkinan makna. Makna yang dapat dibuat berdasarkan pedoman yang ada. Tabik. (T)

Tags: cintakampusmahasiswa
Share366TweetSendShareSend
Previous Post

“Shortcut” Denpasar-Singaraja? Ah, Pemalas Bahagia Pilih Jalan Berliku

Next Post

Apa Bahasa Bali “Happy Birthday” & “Happy Anniversary”?

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post

Apa Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co