24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Baru Siap-siaplah Hadapi Basa-Basi Orientasi Kampus

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Dok BEM Undiksha

KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi kampus. Entah apa namanya sekarang. Mungkin Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), atau mungkin OKK (Orientasi Kehidupan Kampus), atau nama lain yang lebih akademis.

Yang jelas, nuansa perploncoan dari mahasiswa senior kepada mahasiswa baru tetap sulit dihilangkan. Meski setiap tahun selalu ada orang tua mahasiswa yang protes, meski setiap tahun pejabat di bidang pendidikan memberi peringatan dan arahan.

Ospek atau OKK atau apalah namanya, sepertinya hanya sebagai ajang hiburan kakak tingkat saja. Sering mendengar Orientasi dibuat untuk lebih mengenal lingkungan kampus, mengakrabkan diri dengan kakak kelas dan begitu juga dengan dosen. Tapi bagaimana kalau panitia orientasi kampus tidak bisa membedakan yang mana tugas kampus untuk pengenalan lingkungan, dan mana tugas yang membuat mahasiswa baru jadi tampak bodoh? Sangat disayangkan, jika mahasiswa yang katanya siswa paling maha tidak bisa membedakan itu.

Orientasi kampus bukanlah ajang untuk menunjukkan kamu seorang senior yang gagah kuat perkasa bak kesatria negeri dongeng. Bukan itu. Orientasi kampus juga bukan ajang untuk menunjukkan bahwa generasimu adalah Generational Superiority dimana kamu menunjukkan kalau generasimu paling kuat dan paling hebat dari generasi-generasi yang lain.

Bung, kita tidak sedang lomba lari karung, siapa cepat dia yang menang. Tidak. Ini masalah orientasi yang tidak sama sekali mengedukasi. Tidak adanya rasional-rasional yang jelas dengan tugas, pakaian, tas dan segala macamnya membuat orientasi ini seperti ajang hiburan untuk kakak tingkat yang maha cerdas (katanya). Bahkan belum tentu benar cerdas.

Kecerdasan mahasiswa tidak bisa dilihat dari gagah tidaknya saat menjadi panitia orientasi kampus. Atau seberapa besar megaphone yang dia bawa saat memberi arahan di depan mahasiswa baru. Tidak ada mahasiswa cerdas yang mencari perhatian dengan cara yang begitu.

Tentu saya harus berbicara diikuti dengan contoh, bukan? Saya ambil contoh yang dekat saja, di Bali. Ini terjadi. Bukan nerawang, apalagi mengarang. Salah satu kampus menugaskan mahasiswa barunya untuk mengumpulkan foto full body lengkap dengan seragam SD dan bergaya layaknya gadis kecil lucu. Jelas tidak ada yang rasional di sini. Apa guna mahasiswa berumur 18 tahun ke atas memakai seragam SD, difoto dan dikumpulkan. Hanya akan menjadi bahan banyolan dan tertawaan kakak tingkatnya saja.

Itu bukan Orientasi atas nama tetek bengek edukasi. Itu murni pembodohan. Ya mungkin saja panitianya itu kurang piknik. Orientasi dengan konsep piknik atau pergi ke suatu tempat yang enak buat piknik mungkin adalah hal yang aneh untuk dilakukan. Tapi ini lebih baik dari pembodohan pemberian tugas, pakaian dan lain-lain yang tidak dengan rasional yang jelas.

Orientasi kampus sambil piknik, di samping membuat orientasi bersifat lebih kekeluargaan juga akan membuat mahasiswa baru lebih akrab dengan kakak tingkatnya, tentu tanpa gojlokan. Jika pun ada permaian, semestinya permainan itu membuat mahasiswa baru senang dan mahasiswa senior juga senang.

Memang, kegiatan Ospek atau OKK susah dihilangkan sama sekali. Itu seperti tradisi yang dianggap adiluhung dan harus dilestarikan. Kegiatan Ospek di Indonesia bahkan sudah ada sejak zaman Belanda pada akhir abad ke-19 atau awal-awal abad ke-20. Ospek atau perploncoan dilakukan di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927), di mana siswa baru disuruh-suruh membersihkan ruang kelas oleh para seniornya.

Tradisi itu berlanjut pada era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942), STOVIA dan GHS – kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Bahkan kegiatan itu kemudian menjadi lebih formal dan resmi. Istilahnya saat itu adalah ontgroening atau “membuat tidak hijau lagi”. Tujuannya tentu saja untuk membuat mahasiswa-mahasiswa baru menjadi lebih dewasa.
Sejak itu, bahkan setelah Indonesia merdeka, tradisi perploncoan itu terus berkembang. Bahkan kemudian menjadi kegiatan wajib di sekolah-sekolah dan kampus. Sampai akhirnya dikenal istilah MOS atau Ospek atau OKK. Tujuannya sih baik, yakni untuk mengenalkan lingkungan sekolah atau kampus kepada siswa dan mahasiswa baru.

Namun belakangan kegiatan itu banyak menuai protes dari orang tua siswa dan mahasiswa, karena kegiatannya justru terkesan tidak mendidik bahkan terkesan aneh dan tidak masuk akal. Misalnya, ya, itu tadi, mahasiswa baru diminta mengumpulkan foto full body lengkap dengan seragam SD dan bergaya layaknya gadis kecil lucu

Padahal, banyak contoh sederhana yang bisa dan memungkinkan untuk dilakukan seperti lomba menggambar peta kampus. Kenapa peta kampus? Agar mahasiswa dan mahasiswi baru tahu di mana letak perpustakaan dimana letak kantin, sehingga mereka tidak bingung. Maksud hati ke perpustakaan apa daya arahnya ke kantin.

Akhirnya mahasiswa tidak pernah ke perpustakaan, perpustakaan menjadi sepi dan tiba-tiba membludak ramai diakhir karena skripsi. Iya, karena mencari refrensi skripsi tidak ada di kantin, hanya ada di perpustakaan. Lalu kenapa dilombakan dan mahasiswa disuruh membuat sendiri? Kalau disuruh membawa dari rumah mahasiswa bisa membeli, apalagi sudah ada toko yang menjual. Jadi membawa dan membuat itu artinya sudah beda.

Membuat tim kecil gerakan aksi sosial juga perlu, kalau memang benar mau dan peduli. Karena sifatnya sukarela, jadi harus suka dan rela. Katanya mahasiswa masa kini, bukankah mahasiswa masa kini adalah mahasiswa yang peka dan peduli dengan sekelilingnya? Cerdas ber-IPK tinggi saja tidak berguna, kalau tidak mau ikut peduli dan berbagi.

Lalu apa guna sekolah tinggi-tinggi? Kalau hanya untuk sanak dan family? Tentu mahasiswa harus membuat sebuah gerakan. Bicara gerakan sudah tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Dengan tim sosial seperti itu mahasiswa mahasiswi akan memcoba mencari berbagai solusi dari segudang permasalahan. Berbagi seragam sekolah, atau paling tidak buku tulis. Sehingga masyarakat sekeliling merasa terbantu. Dan kamu tetap menjadi mahasiswa masa kini. Yang perduli, peka dan berani.

Dengan model orientasi yang seperti itu pasti akan semakin banyak mahasiswa mahasiswi cerdas, adil, dan tidak dikerdilkan oleh konsep-konsep orientasi kampus yang sama sekali tidak mengedukasi, apalagi hanya menjadi ajang hiburan kakak tingkat. (T)

Tags: kampusOKKOspekPendidikan
Share246TweetSendShareSend
Previous Post

Nyawa “Buleleng Festival” itu Bernama Legong Tombol

Next Post

Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co