12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Baru Siap-siaplah Hadapi Basa-Basi Orientasi Kampus

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Dok BEM Undiksha

KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi kampus. Entah apa namanya sekarang. Mungkin Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), atau mungkin OKK (Orientasi Kehidupan Kampus), atau nama lain yang lebih akademis.

Yang jelas, nuansa perploncoan dari mahasiswa senior kepada mahasiswa baru tetap sulit dihilangkan. Meski setiap tahun selalu ada orang tua mahasiswa yang protes, meski setiap tahun pejabat di bidang pendidikan memberi peringatan dan arahan.

Ospek atau OKK atau apalah namanya, sepertinya hanya sebagai ajang hiburan kakak tingkat saja. Sering mendengar Orientasi dibuat untuk lebih mengenal lingkungan kampus, mengakrabkan diri dengan kakak kelas dan begitu juga dengan dosen. Tapi bagaimana kalau panitia orientasi kampus tidak bisa membedakan yang mana tugas kampus untuk pengenalan lingkungan, dan mana tugas yang membuat mahasiswa baru jadi tampak bodoh? Sangat disayangkan, jika mahasiswa yang katanya siswa paling maha tidak bisa membedakan itu.

Orientasi kampus bukanlah ajang untuk menunjukkan kamu seorang senior yang gagah kuat perkasa bak kesatria negeri dongeng. Bukan itu. Orientasi kampus juga bukan ajang untuk menunjukkan bahwa generasimu adalah Generational Superiority dimana kamu menunjukkan kalau generasimu paling kuat dan paling hebat dari generasi-generasi yang lain.

Bung, kita tidak sedang lomba lari karung, siapa cepat dia yang menang. Tidak. Ini masalah orientasi yang tidak sama sekali mengedukasi. Tidak adanya rasional-rasional yang jelas dengan tugas, pakaian, tas dan segala macamnya membuat orientasi ini seperti ajang hiburan untuk kakak tingkat yang maha cerdas (katanya). Bahkan belum tentu benar cerdas.

Kecerdasan mahasiswa tidak bisa dilihat dari gagah tidaknya saat menjadi panitia orientasi kampus. Atau seberapa besar megaphone yang dia bawa saat memberi arahan di depan mahasiswa baru. Tidak ada mahasiswa cerdas yang mencari perhatian dengan cara yang begitu.

Tentu saya harus berbicara diikuti dengan contoh, bukan? Saya ambil contoh yang dekat saja, di Bali. Ini terjadi. Bukan nerawang, apalagi mengarang. Salah satu kampus menugaskan mahasiswa barunya untuk mengumpulkan foto full body lengkap dengan seragam SD dan bergaya layaknya gadis kecil lucu. Jelas tidak ada yang rasional di sini. Apa guna mahasiswa berumur 18 tahun ke atas memakai seragam SD, difoto dan dikumpulkan. Hanya akan menjadi bahan banyolan dan tertawaan kakak tingkatnya saja.

Itu bukan Orientasi atas nama tetek bengek edukasi. Itu murni pembodohan. Ya mungkin saja panitianya itu kurang piknik. Orientasi dengan konsep piknik atau pergi ke suatu tempat yang enak buat piknik mungkin adalah hal yang aneh untuk dilakukan. Tapi ini lebih baik dari pembodohan pemberian tugas, pakaian dan lain-lain yang tidak dengan rasional yang jelas.

Orientasi kampus sambil piknik, di samping membuat orientasi bersifat lebih kekeluargaan juga akan membuat mahasiswa baru lebih akrab dengan kakak tingkatnya, tentu tanpa gojlokan. Jika pun ada permaian, semestinya permainan itu membuat mahasiswa baru senang dan mahasiswa senior juga senang.

Memang, kegiatan Ospek atau OKK susah dihilangkan sama sekali. Itu seperti tradisi yang dianggap adiluhung dan harus dilestarikan. Kegiatan Ospek di Indonesia bahkan sudah ada sejak zaman Belanda pada akhir abad ke-19 atau awal-awal abad ke-20. Ospek atau perploncoan dilakukan di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927), di mana siswa baru disuruh-suruh membersihkan ruang kelas oleh para seniornya.

Tradisi itu berlanjut pada era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942), STOVIA dan GHS – kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Bahkan kegiatan itu kemudian menjadi lebih formal dan resmi. Istilahnya saat itu adalah ontgroening atau “membuat tidak hijau lagi”. Tujuannya tentu saja untuk membuat mahasiswa-mahasiswa baru menjadi lebih dewasa.
Sejak itu, bahkan setelah Indonesia merdeka, tradisi perploncoan itu terus berkembang. Bahkan kemudian menjadi kegiatan wajib di sekolah-sekolah dan kampus. Sampai akhirnya dikenal istilah MOS atau Ospek atau OKK. Tujuannya sih baik, yakni untuk mengenalkan lingkungan sekolah atau kampus kepada siswa dan mahasiswa baru.

Namun belakangan kegiatan itu banyak menuai protes dari orang tua siswa dan mahasiswa, karena kegiatannya justru terkesan tidak mendidik bahkan terkesan aneh dan tidak masuk akal. Misalnya, ya, itu tadi, mahasiswa baru diminta mengumpulkan foto full body lengkap dengan seragam SD dan bergaya layaknya gadis kecil lucu

Padahal, banyak contoh sederhana yang bisa dan memungkinkan untuk dilakukan seperti lomba menggambar peta kampus. Kenapa peta kampus? Agar mahasiswa dan mahasiswi baru tahu di mana letak perpustakaan dimana letak kantin, sehingga mereka tidak bingung. Maksud hati ke perpustakaan apa daya arahnya ke kantin.

Akhirnya mahasiswa tidak pernah ke perpustakaan, perpustakaan menjadi sepi dan tiba-tiba membludak ramai diakhir karena skripsi. Iya, karena mencari refrensi skripsi tidak ada di kantin, hanya ada di perpustakaan. Lalu kenapa dilombakan dan mahasiswa disuruh membuat sendiri? Kalau disuruh membawa dari rumah mahasiswa bisa membeli, apalagi sudah ada toko yang menjual. Jadi membawa dan membuat itu artinya sudah beda.

Membuat tim kecil gerakan aksi sosial juga perlu, kalau memang benar mau dan peduli. Karena sifatnya sukarela, jadi harus suka dan rela. Katanya mahasiswa masa kini, bukankah mahasiswa masa kini adalah mahasiswa yang peka dan peduli dengan sekelilingnya? Cerdas ber-IPK tinggi saja tidak berguna, kalau tidak mau ikut peduli dan berbagi.

Lalu apa guna sekolah tinggi-tinggi? Kalau hanya untuk sanak dan family? Tentu mahasiswa harus membuat sebuah gerakan. Bicara gerakan sudah tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Dengan tim sosial seperti itu mahasiswa mahasiswi akan memcoba mencari berbagai solusi dari segudang permasalahan. Berbagi seragam sekolah, atau paling tidak buku tulis. Sehingga masyarakat sekeliling merasa terbantu. Dan kamu tetap menjadi mahasiswa masa kini. Yang perduli, peka dan berani.

Dengan model orientasi yang seperti itu pasti akan semakin banyak mahasiswa mahasiswi cerdas, adil, dan tidak dikerdilkan oleh konsep-konsep orientasi kampus yang sama sekali tidak mengedukasi, apalagi hanya menjadi ajang hiburan kakak tingkat. (T)

Tags: kampusOKKOspekPendidikan
Share246TweetSendShareSend
Previous Post

Nyawa “Buleleng Festival” itu Bernama Legong Tombol

Next Post

Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co