2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulislah Sebelum Kamu Ditulis di Batu Nisan

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 3, 2019
in Khas
Menulislah Sebelum Kamu Ditulis di Batu Nisan

Diskusi Compok Basi, berbincang buku Hidup Adalah Komedi bagi Orang-Orang yang Mau Berpikir karya Jaswanto di sebuah kafe di Singaraja


“Kesuksesan itu diraih dengan mengembangkan kekuatan kita, bukan dengan mencoba menyingkirkan kelemahan kita” — (Marilyn Vos Savant)

Tulisan ini muncul setelah teman-teman dari Compok Basi selesai berbincang buku yang berjudul Hidup Adalah Komedi bagi Orang-Orang yang Mau Berpikir karya Jaswanto yang biasa juga dipanggil Aswan. Kegiatan bincang-bincang buku tersebut berlangsung pada hari Jum’at, 1 Maret 2019 di sebuah kafe yang kebetulan belum resmi menjadi sponsor kami.

Pembicara dalam bincang-bincang buku itu adalah Jaswanto sendiri yang kebetulan tidak sedang kencan bersama pacarnya,  (karena memang belum punya pacar). Sedangkan yang memoderatori adalah Ahmad Fanani, seorang lelaki tampan yang bercita-cita menjadi pembawa acara seperti Karni Ilyas-tidak apa-apa, karena pepatah Compok Basi sendiri mengatakan: tidak ada kata bisa kalau tidak mau berusaha, termasuk dalam mewujudkan cita-cita.

Buku Hidup Adalah Komedi bagi Orang-Orang yang Mau Berpikir ini merupakan kumpulan esai yang diterbitkan oleh Mahima dan tatkala.co pada akhir tahun 2018.

Berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh penulisnya, bahwa tulisan-tulisan yang kemudian menjadi sebuah buku itu, pada mulanya adalah tulisan-tulisan di status facebook. Oleh karena adanya saran dari penulis senior yang tidak diragukan lagi akan karya-karyanya, maka status-status di facebook itu kemudian dikumpulkan dan diperbaiki sehingga menjadi satu buku.

Jaswanto sendiri mengatakan kalau hidup sangat banyak sekali komedinya apabila dipikir-pikirkan. Tidak usah yang terlalu jauh-jauh, pengalaman hidup susah dan kemudian diusahakan untuk tidak susah saja adalah jalan dari perkomedian. Menjadi komedi karena kita terjebak di dalam kesusahan dan tidak percaya akan bisa terlepas dari kesusahan-kesusahan itu. Padahal selama ini kita sudah percaya kalau setelah susah pasti ada senang seperti kata pepatah: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, baru kemudian bersenang-senang. Kalau kita bisa percaya dengan pepatah itu, kenapa terlepas dari kesusahan saja kita tidak bisa percaya?

Komedi lain lagi yang sering muncul pada penulis-penulis pemula seperti saya ini, misalnya: kejadian susah, payah, gelisah, resah, ah sudahlah pasrah… Kejadian itu sering timbul pada saat saya menulis. Pada saat menulis, saya sering sekali menggonta-ganti kata, menggonta-ganti kalimat, seakan-akan bahasa saya harus harus harus bahasa luar biasa bahkan kalau bisa bahasa luar angkasa. Tidak hanya sekedar bahasanya saja yang harus luar biasa, tapi isinya pun saya wajibkan di luar perkara.

Setelah berjam-jam saya menulis, biasanya saya cuma mendapatkan hasil kurang lebih 3 sampai 4 paragraf. Karena hasil itu tidak memuaskan, kemudian saya mulai menyalahkan diri sendiri, stres, galau, menghinakan diri, bahkan kadang-kadang menginjak harga diri. Padahal selama ini saya lupa bahwa saya ini masih bisa menulis yang biasa-biasa saja seperti tulisan saya sekarang ini. Bukankah itu komedi banget jika dipikirkan?

Tulisan itu tidak menuntut kita menyampaikan yang susah-susah dan tidak menuntut kita menggunakan bahasa yang luar biasa gawat darurat. Tidak ada satu tulisan pun yang berbicara bahwa tulisan itu harus luar biasa. Tulisan tidak akan megutuk kita kalau seandainya kita tidak menggunakan bahasa “langit”. Tidak pernah ada wacana seperti itu di Sekolah Compok Basi. Kalau tidak percaya silahkan datang ke Sekolah Compok Basi sendiri…

Kita ini belum bisa dikatakan adil kalau terlalu sering menyalahkan diri secara berlebih-lebihan seperti apa yang saya alami itu. Kekurangan kita dalam hal bahasa dan keilmuan-keilmuan tertentu, saya rasa tidak harus kemudian dengan mengutuk-ngutuk diri sekehenak hati sendiri. Kekurangan itu pun penting ada pada diri kita. Ia sebagai antitesa dari kemampuan kita untuk terus berkembang dalam hidup ini. Bahkan seorang kolumnis, Marilyn Vos Savant berpendapat bahwa kesuksesan itu diraih dengan mengembangkan kekuatan kita, bukan dengan mencoba menyingkirkan kelemahan kita, lalu mengapa kita malah harus singkirkan kelemahan kita yang sebenarnya kita butuhkan itu?

Kegiatan bincang-bincang buku yang telah dilakukan oleh teman-teman dari Compok Basi tersebut memicu saya untuk mulai menulis. Saya mesti memulai dengan tulisan ini, yang mana sangat bisa saja tidak baik bagi para pembaca, tapi pasti sangat baik bagi ibu saya karena tulisan ini sudah menjadi cucunya. Berikut ini saya telah merangkum 3 masalah umum bagi penulis pemula ketika melakukan kegiatan menulis:

Terlalu Menuntut Diri

Masalah pertama yang membuat tulisan kita tidak selesai-selesai adalah karena terlalu menuntut diri supaya tulisan kita menjadi paling sempurna. Padahal rata-rata penduduk Indonesia sering sekali mengatakan: tidak ada satu pun di muka bumi ini yang sempurna. Masalah pertama ini bisa membuat tulisan tidak kunjung selesai karena mengharuskan diri untuk menulis persoalan yang di luar kempuan kita. Padahal masalah sepele sehari-hari seperti, cara sederhana menggosok gigi saja bisa kita tuliskan dengan bahasa yang biasa-biasa saja.

Tidak Suka Membaca

Masalah kedua yang membuat terhambat dalam menulis adalah tidak suka membaca. Ketidaksukaan membaca akan membuat kita kurangnya wawasan dan pengetahuan tentang karya tulis dan apa yang ingin kita tulis. Padahal ada istilah mengatakan bahwa guru dari menulis itu sendiri adalah membaca.

Tidak Percaya Diri

Masalah ketiga adalah kurangnya kepercayaan diri. Masalah ini bisa muncul karena masalah pertama dan kedua belum bisa terpenuhi. Terlalu menuntut diri untuk menghasilkan karya paling sempurna akan membuat tulisan kita tidak kunjung terselesaikan. Begitupun dengan masalah ketidaksukaan dalam membaca, itu bisa menghambat kita dalam proses menulis. Karena masalah pertama dan kedua belum kita lalui maka hasilnya sama seperti saya ini: tidak percaya diri kalau saya bisa melahirkan karya tulis.

Demikian pula saya memahami bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk bisa hidup lebih lama di muka bumi yang siklusnya tidak tentu ini. Tulisan yang kita buat akan masih bisa bertahan hidup meskipun kita sudah kalah dalam kehidupan. Seperti apa yang kemaren dikatakan oleh Ahmad Fanani alias moderator keunggulan dari Compok Basi: menulislah kamu sebelum kamu dituliskan di batu nisan. [T]

Tags: BukumahasiswamenulisPendidikanresensi
Share111TweetSendShareSend
Previous Post

Wabup Bagi-bagi Tas dan Saya Merenung Tentang Riwayat Pasar Tabanan

Next Post

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co