23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takdir Ustaz Barseso

Kambali Zutas by Kambali Zutas
December 16, 2018
in Cerpen
Takdir Ustaz Barseso


Aku sempoyongan digelandang warga. Mereka memukul dan menendang. Sri tampak terdiam di atas kasur dipan bambu itu. Diluar rumah Mbah Man sudah berkumpul orang-orang sekampung. Malam penghakiman.

“Ustaz Barseso! Ustaz Barseso! Bakar, bakar hidup-hidup! Pancung! Ustaz tidak tahu malu!”

***

Pagi beranjak pergi, ketika aku tiba dipengadilan. Sidang demi sidang berbagai agenda telah kulewati. Di ruangan tampak pengunjung penuh dan berjubel. Ada yang berdiri di samping kanan-kiri. Hari ini, sidang penentuan nasib. Sidang vonis. Suasana riuk hampir terjadi di setiap sidang. Teriakan hujatan dan gunjingan terdengar nyaring di telingaku.

“Ustaz edan, ustaz gila, ustaz kurangajar. Hukum mati saja Pak Hakim. Dia tidak layak hidup lagi. Melecehkan agama, ceramah hanya kedok.”

Hatiku berdebar, namun aku berusaha tenang, memposisi diri duduk di kursi terdakwa. Di depan majelis hakim penentu nasibku.Vonis hukumanseumur hidup atau mati. Tetapi aku berharap bebas dari semua dakwaan,perzinahan, penipuan, hingga pembunuhan berencana.

Aku memandang langit-langit. Bayangan rangkaian peristiwa dan pertanyaan yang sama ketika aku termenung di pojok kamar rumah tahanan. Pantat mulai terasa panas ketika para hakim memasuki ruangan. Kursi itu seakan-akan menyempit. Hampir setengah jam lebih menunggu. Dari belakang masih terdengar.

“Sudah Pak Hakim, hukum mati saja orang seperti Ustaz Barseso ini! Tembak saja Pak Polisi! Ustaz Barseso tidak layak hidup lagi!”

Satu per satu para hakim menempati kursinya. Pandanganku menoleh ke kiri dan kanan. Dan tanpa sengaja aku menoleh ke belakang. Mataku menangkap ada Dhahar. Orang yang sangat kukenal. Dia yang mengenalkanku dengan Sri dan tokoh yang mengangkat namaku pada puncak ketenaran.

*****

Subuh berlalu, aku melanggengkan diri dengan berdzikir hingga matahari terbit. Setelah tiba waktunya, kusambung dengan salat Duha dan sujud syukur. Suasana hening istimewa. Belum pernah merasakan seperti pagi itu. Di saat kening menempel di atas sajadah, sayup-sayup terdengar suara sesenggukan. Kuangkat kepala. Kucari sumber suara itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang bersila di saf depan samping selatan. Seorang bapak muda yang kuperkirakan umurnya lebih muda atau sepantar begitu khusyuk beribadah. Tangisan seolah penuh penyesalan, taubat sepenuh hati. Kuperhatikan mencoba mengenalinya. Bukan orang sini dan bukan santriku.

“Antum dari mana?” kusapa tamu itu.
“Maaf, maaf, maaf, jika kedatangan saya mengganggu ibadah Ustaz Darmin. Saya datang dari kota.”

Aku masih heran dengan tindak-tanduk dan tutur kata tamu itu. Terkesima dengan semangat dan kekhusyukanya. Tamu itu mengaku bernama Dhahar.

“Saya telah durhaka, menelantarkan bapak dan ibu, tidak pernah membalas budi keduanya. Jangankan memberi sesuatu, menjenguk dan mengunjungi pun tidak pernah hingga keduanya meninggal dunia.”

Dhahar berbicara dan bercerita banyak. Ia sedikit demi sedikit memberikan jawaban mengapa ia bisa melakukan taubat seperti itu.

“Satu lagi Ustaz Darmin, saya menghamili orang, lalu membiarkannya, tidak mau bertanggung jawab. Perbuatan itu, bukan kali pertama namun berkali-kali. Foya-foya, lupa Tuhan. Hidup saya penuh dosa.”

“Saya bertemu dengan seorang teman. Ia memberikan saran agar saya taubat dengan sepenuh hati dan diberitahu tempatnya di masjid Ustaz Darmin ini. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan dan melaksanakan semuanya. Betul-betul saya merasakan disini hati tenang, damai, dan tentram.”

Kemudian aku memberikan penjelasan dan Dhahar sesekali mengganggukkan kepala. Aku tertarik karena ia mencapai taubatnasuha yang sulit diperoleh banyak orang, termasuk diriku. Namun jelas tidak mungkin jika aku harus melakukan seperti semua yang dikerjakan Dhahar. Aku tahu itu adalah perbuatan dosa. “Bukan dosa kecil lagi, tetapi dosa besar,” pikirku.

Lalu Dhahar menawarkan gagasan. Mulanya aku menolak, namun akhirnya aku luluh dan mengiyakan.

“Sudah Ustaz, nanti saya yang mengatur. Ustaz Darmin dakwah sama seperti apa yang sudah berjalan di sini. ”Sehari kemudian kamipun berangkat ke kota.

“Satu, dua, tiga, mulai!”

Awalnya aku begitu canggung di depan kamera. Namun berlalu dengan cepat. Aku tak canggung lagi membaca, menghafal, dan menjelaskan ayat-ayat dan isi kitab. Bahkan,sekarang mengisi acara-acaraceramah di tiga televisi dengan kontrak durasi lama.

“Ustaz, ustaz.Ustaz Darmin.”

Begitulah, ketika orang bertemu atau berpapasan denganku. Di pasar dan di mal-mal tak jarang mereka memanggil dan sekadarmenyapa. Begitu juga, di mana pun siaran langsung maupun off air di luar studio, masjid dan panggung terbuka pengunjung selalupenuh. Merekarela datang jauh dari luar kota. Mengerubutiku ingin berjabat, mencium tangan, dan foto bersama.

“Ceramahnya Ustaz Darmin enak didengar dan orangnya juga tampan,” kata beberapa orang.

“Masyaallah, apakah ini jemaah atau penggemarku?”

Aku menikmati hari-hari mengisi ceramah di televisi. Aku telah sejajar dengan ustaz-ustaz yang lebih dulu keluar masuk studio televisi. Jangan tanya berapa honor yang kudapat. Setiap kali tampil ditelevisi Rp 25 juta. Siaran langsung dan undangan tarif Rp 75 juta hingga Rp 100 juta bersih. Seluruh akomodasi dan transportasi ditanggung panitia. Hanya beberapa bulan kekayaanku melesat. Rumah di kotadan mobil mewah berjejer di garasiku.

Namun aku tidak lupa ibadah sosial. Memberikan sumbangan, mendirikan yayasan, panti asuhan, membangun masjid, musala, dan sekolah. Pesantrenku berkembang pesat. Beasiswa tidak hanya untuk studi ke Timur Tengah, namun ke Mesir, Amerika, dan bahkan beberapa negara di Eropa. “Ini berkah dakwah, orang berilmu semakin ditinggikan derajatnya.”

*****

Aku masih memandanginya, dan Dhahar tersenyum kecil.

“Saat inilah waktunya. Hukum tetap jalan. Jika Anda mengikutiku, maka Anda selamat, tetapi jika tidak, maka hukuman menanti.”

Aku ingat betul kata-kata Dhahar waktu itu. Tepat setelah aku digelandang ratusan orang. Aku sempoyongan. Mereka memukul dan menendangku. Sri tampak terdiam di atas kasur dipan bambu itu. Di luar rumah Mbah Man sudah berkumpulorang-orang sekampung. Malam penghakiman.

“Ustaz Barseso! Ustaz Barseso! Bakar, bakar! Bakar, bakar hidup-hidup! Hukum Pancung! Ustaz tidak tahu malu!”

Dhahar seperti juru selamat. Ia tiba-tiba berdiri tepat di depanku. Aku menahan rasa sakit tak terkira. Tubuhku tak mampu digerakkan. Aku terkapar tak berdaya. Sayup-sayup suara riuh malam itu menghilang. Beberapa saat, aku tak ingat apa yang sebenarnya terjadi.

Sebulan lebih menjalani perawatan, aku pulih sedia kala. Aku diasingkan dan memilih diam di rumah. Menolak undangan mengisiceramah dan memutuskan semua kontrak dengan televisi. Handphone lebih banyak kunonaktifkan. Aku juga mematikan televisi. Sejak kejadian itu, hampirseluruh televisi memberitakan diriku dari berbagai sudut pandang. Banyak menyayangkan dan mencemoohku.

“Tidak ada kebaikan dalam diriku. Semuanya telah sirna. Aku taubat.”

Malam telah larut, aku masih terjaga. Kepedihan mendalam dan penyesalan luar biasa. Kegelisahan menyelimuti malam-malamku hingga tak bisa memejamkan mata. Pertanyaan-pertanyaan terlintas. Aku mencoba merunutnya.

“Aku tidak mungkin berbuat sebodoh itu. Aku yakin, aku tidak melakukannya.”

Aku melihat Dhahar mengirim pesan singkat. Tanganku gemetar ketika membuka isi pesan itu. Rasa trauma belum sepenuhnya hilang.

“Sri minta pertanggungjawaban!”

“Ngawur kau! Tidak mungkin. Kau mengada-ada.”

Dhahar menelepon. Ia panjang lebar menceritakan kondisi Sri setelah peristiwa itu. Aku harus bertanggung jawab, termasuk janin dalam rahimnya jika dia hamil. Aib-aib baru akan ramai dibicarakan. Aku semakin tertekan dan kalut membayangkan apa yang bakal terjadi. Masalah belum selesai, kini bertambah pelik. Bingung, bimbang. Dhahar pun menawarkan solusi.

“Kau sudah gila! Tidak, tidak!”

“Semuanya akan berjalan mulus. Yakinlah semuanya aman. Ustaz tidak usah berpikir yang bukan-bukan. Tenang saja Ustaz,semuanya akan baik-baik saja.”

Dua hari kemudian, Sri datang ke rumah. Sekilas kuperhatikan wajahnya pucat. Ia sepertinya dilanda rasa kecemasan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku belum sempat berbicara banyak.

Aku berikan segelas teh hangat. Kupersilakania minum. Tak lama setelah itu, “Sri! Sri!” ia terjatuh. Akumencoba mengangkatnya dan teriak sekuat tenaga. Warga berdatangan. Mereka berusaha menolong Sri. Namun, Sri meninggal dunia. Ia tewas di rumahku. Tanpa diperintah, tiba-tiba warga menghakimiku. Mereka membawa dan melaporkanku. Dan kini aku jadi terdakwa.

*****

Seketika aku sadar di ujung putusan. Detakjantung berdebar semakinkencang. Dalam pikiran membayangkan mereka yang lebih dulu divonis hukuman matidan dieksekusi. Matidi tangan regu tembak. Cerita-cerita panjang merekayang dieksekusi mati. Dipancung, diseret dengan kuda, dilempar menjadi makanan buaya, diracun, hingga ditembus peluru regu tembak.

Aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sesungguhnya. Namun, ini adalah perlintasan. Jalan hidup yang harus kutempuh. Aku sadar betul semua perbuatanku datang dari diriku sendiri, bukan orang lain, apalagi takdir Tuhan. Biarkan kutempuh. Aku ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, fitrah manusia. Aku sepertinya menemukan jawaban-jawaban tentang kebenaran itu.

Tiba saat yang ditunggu-tunggu. Ruang sidang yang semula hening mulai riuh lagi. Petugas menenangkan suasana. Aku dengan seksama mendengarkan amar putusan vonis yang dibacakan Yang Mulia. Dan: “Mengadili, menyatakan terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindakpidana. Membebaskan terdakwa dari semua dakwaan serta memulihkanhak-hak, harkat, dan kedudukannya.”

Tanpa kusadari tubuh menjatuhkan diri darikursi. Kedua kedua telapak tanganmenghempasdan kening menempel di lantai. Suara-suara hujatan terdengar begitu keras. Namun aku tak peduli. “Apaka hini jawabannya? Biarkan takdir Barseso seperti dalam cerita itu. Sebuah tamsil yang melegenda.” (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buku “Aku Radio Bagi Mamaku”: Naya Berani Sekali

Next Post

“Memanen Hujan”, Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
“Memanen Hujan”,  Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

“Memanen Hujan”, Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co