2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takdir Ustaz Barseso

Kambali Zutas by Kambali Zutas
December 16, 2018
in Cerpen
Takdir Ustaz Barseso


Aku sempoyongan digelandang warga. Mereka memukul dan menendang. Sri tampak terdiam di atas kasur dipan bambu itu. Diluar rumah Mbah Man sudah berkumpul orang-orang sekampung. Malam penghakiman.

“Ustaz Barseso! Ustaz Barseso! Bakar, bakar hidup-hidup! Pancung! Ustaz tidak tahu malu!”

***

Pagi beranjak pergi, ketika aku tiba dipengadilan. Sidang demi sidang berbagai agenda telah kulewati. Di ruangan tampak pengunjung penuh dan berjubel. Ada yang berdiri di samping kanan-kiri. Hari ini, sidang penentuan nasib. Sidang vonis. Suasana riuk hampir terjadi di setiap sidang. Teriakan hujatan dan gunjingan terdengar nyaring di telingaku.

“Ustaz edan, ustaz gila, ustaz kurangajar. Hukum mati saja Pak Hakim. Dia tidak layak hidup lagi. Melecehkan agama, ceramah hanya kedok.”

Hatiku berdebar, namun aku berusaha tenang, memposisi diri duduk di kursi terdakwa. Di depan majelis hakim penentu nasibku.Vonis hukumanseumur hidup atau mati. Tetapi aku berharap bebas dari semua dakwaan,perzinahan, penipuan, hingga pembunuhan berencana.

Aku memandang langit-langit. Bayangan rangkaian peristiwa dan pertanyaan yang sama ketika aku termenung di pojok kamar rumah tahanan. Pantat mulai terasa panas ketika para hakim memasuki ruangan. Kursi itu seakan-akan menyempit. Hampir setengah jam lebih menunggu. Dari belakang masih terdengar.

“Sudah Pak Hakim, hukum mati saja orang seperti Ustaz Barseso ini! Tembak saja Pak Polisi! Ustaz Barseso tidak layak hidup lagi!”

Satu per satu para hakim menempati kursinya. Pandanganku menoleh ke kiri dan kanan. Dan tanpa sengaja aku menoleh ke belakang. Mataku menangkap ada Dhahar. Orang yang sangat kukenal. Dia yang mengenalkanku dengan Sri dan tokoh yang mengangkat namaku pada puncak ketenaran.

*****

Subuh berlalu, aku melanggengkan diri dengan berdzikir hingga matahari terbit. Setelah tiba waktunya, kusambung dengan salat Duha dan sujud syukur. Suasana hening istimewa. Belum pernah merasakan seperti pagi itu. Di saat kening menempel di atas sajadah, sayup-sayup terdengar suara sesenggukan. Kuangkat kepala. Kucari sumber suara itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang bersila di saf depan samping selatan. Seorang bapak muda yang kuperkirakan umurnya lebih muda atau sepantar begitu khusyuk beribadah. Tangisan seolah penuh penyesalan, taubat sepenuh hati. Kuperhatikan mencoba mengenalinya. Bukan orang sini dan bukan santriku.

“Antum dari mana?” kusapa tamu itu.
“Maaf, maaf, maaf, jika kedatangan saya mengganggu ibadah Ustaz Darmin. Saya datang dari kota.”

Aku masih heran dengan tindak-tanduk dan tutur kata tamu itu. Terkesima dengan semangat dan kekhusyukanya. Tamu itu mengaku bernama Dhahar.

“Saya telah durhaka, menelantarkan bapak dan ibu, tidak pernah membalas budi keduanya. Jangankan memberi sesuatu, menjenguk dan mengunjungi pun tidak pernah hingga keduanya meninggal dunia.”

Dhahar berbicara dan bercerita banyak. Ia sedikit demi sedikit memberikan jawaban mengapa ia bisa melakukan taubat seperti itu.

“Satu lagi Ustaz Darmin, saya menghamili orang, lalu membiarkannya, tidak mau bertanggung jawab. Perbuatan itu, bukan kali pertama namun berkali-kali. Foya-foya, lupa Tuhan. Hidup saya penuh dosa.”

“Saya bertemu dengan seorang teman. Ia memberikan saran agar saya taubat dengan sepenuh hati dan diberitahu tempatnya di masjid Ustaz Darmin ini. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan dan melaksanakan semuanya. Betul-betul saya merasakan disini hati tenang, damai, dan tentram.”

Kemudian aku memberikan penjelasan dan Dhahar sesekali mengganggukkan kepala. Aku tertarik karena ia mencapai taubatnasuha yang sulit diperoleh banyak orang, termasuk diriku. Namun jelas tidak mungkin jika aku harus melakukan seperti semua yang dikerjakan Dhahar. Aku tahu itu adalah perbuatan dosa. “Bukan dosa kecil lagi, tetapi dosa besar,” pikirku.

Lalu Dhahar menawarkan gagasan. Mulanya aku menolak, namun akhirnya aku luluh dan mengiyakan.

“Sudah Ustaz, nanti saya yang mengatur. Ustaz Darmin dakwah sama seperti apa yang sudah berjalan di sini. ”Sehari kemudian kamipun berangkat ke kota.

“Satu, dua, tiga, mulai!”

Awalnya aku begitu canggung di depan kamera. Namun berlalu dengan cepat. Aku tak canggung lagi membaca, menghafal, dan menjelaskan ayat-ayat dan isi kitab. Bahkan,sekarang mengisi acara-acaraceramah di tiga televisi dengan kontrak durasi lama.

“Ustaz, ustaz.Ustaz Darmin.”

Begitulah, ketika orang bertemu atau berpapasan denganku. Di pasar dan di mal-mal tak jarang mereka memanggil dan sekadarmenyapa. Begitu juga, di mana pun siaran langsung maupun off air di luar studio, masjid dan panggung terbuka pengunjung selalupenuh. Merekarela datang jauh dari luar kota. Mengerubutiku ingin berjabat, mencium tangan, dan foto bersama.

“Ceramahnya Ustaz Darmin enak didengar dan orangnya juga tampan,” kata beberapa orang.

“Masyaallah, apakah ini jemaah atau penggemarku?”

Aku menikmati hari-hari mengisi ceramah di televisi. Aku telah sejajar dengan ustaz-ustaz yang lebih dulu keluar masuk studio televisi. Jangan tanya berapa honor yang kudapat. Setiap kali tampil ditelevisi Rp 25 juta. Siaran langsung dan undangan tarif Rp 75 juta hingga Rp 100 juta bersih. Seluruh akomodasi dan transportasi ditanggung panitia. Hanya beberapa bulan kekayaanku melesat. Rumah di kotadan mobil mewah berjejer di garasiku.

Namun aku tidak lupa ibadah sosial. Memberikan sumbangan, mendirikan yayasan, panti asuhan, membangun masjid, musala, dan sekolah. Pesantrenku berkembang pesat. Beasiswa tidak hanya untuk studi ke Timur Tengah, namun ke Mesir, Amerika, dan bahkan beberapa negara di Eropa. “Ini berkah dakwah, orang berilmu semakin ditinggikan derajatnya.”

*****

Aku masih memandanginya, dan Dhahar tersenyum kecil.

“Saat inilah waktunya. Hukum tetap jalan. Jika Anda mengikutiku, maka Anda selamat, tetapi jika tidak, maka hukuman menanti.”

Aku ingat betul kata-kata Dhahar waktu itu. Tepat setelah aku digelandang ratusan orang. Aku sempoyongan. Mereka memukul dan menendangku. Sri tampak terdiam di atas kasur dipan bambu itu. Di luar rumah Mbah Man sudah berkumpulorang-orang sekampung. Malam penghakiman.

“Ustaz Barseso! Ustaz Barseso! Bakar, bakar! Bakar, bakar hidup-hidup! Hukum Pancung! Ustaz tidak tahu malu!”

Dhahar seperti juru selamat. Ia tiba-tiba berdiri tepat di depanku. Aku menahan rasa sakit tak terkira. Tubuhku tak mampu digerakkan. Aku terkapar tak berdaya. Sayup-sayup suara riuh malam itu menghilang. Beberapa saat, aku tak ingat apa yang sebenarnya terjadi.

Sebulan lebih menjalani perawatan, aku pulih sedia kala. Aku diasingkan dan memilih diam di rumah. Menolak undangan mengisiceramah dan memutuskan semua kontrak dengan televisi. Handphone lebih banyak kunonaktifkan. Aku juga mematikan televisi. Sejak kejadian itu, hampirseluruh televisi memberitakan diriku dari berbagai sudut pandang. Banyak menyayangkan dan mencemoohku.

“Tidak ada kebaikan dalam diriku. Semuanya telah sirna. Aku taubat.”

Malam telah larut, aku masih terjaga. Kepedihan mendalam dan penyesalan luar biasa. Kegelisahan menyelimuti malam-malamku hingga tak bisa memejamkan mata. Pertanyaan-pertanyaan terlintas. Aku mencoba merunutnya.

“Aku tidak mungkin berbuat sebodoh itu. Aku yakin, aku tidak melakukannya.”

Aku melihat Dhahar mengirim pesan singkat. Tanganku gemetar ketika membuka isi pesan itu. Rasa trauma belum sepenuhnya hilang.

“Sri minta pertanggungjawaban!”

“Ngawur kau! Tidak mungkin. Kau mengada-ada.”

Dhahar menelepon. Ia panjang lebar menceritakan kondisi Sri setelah peristiwa itu. Aku harus bertanggung jawab, termasuk janin dalam rahimnya jika dia hamil. Aib-aib baru akan ramai dibicarakan. Aku semakin tertekan dan kalut membayangkan apa yang bakal terjadi. Masalah belum selesai, kini bertambah pelik. Bingung, bimbang. Dhahar pun menawarkan solusi.

“Kau sudah gila! Tidak, tidak!”

“Semuanya akan berjalan mulus. Yakinlah semuanya aman. Ustaz tidak usah berpikir yang bukan-bukan. Tenang saja Ustaz,semuanya akan baik-baik saja.”

Dua hari kemudian, Sri datang ke rumah. Sekilas kuperhatikan wajahnya pucat. Ia sepertinya dilanda rasa kecemasan. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Aku belum sempat berbicara banyak.

Aku berikan segelas teh hangat. Kupersilakania minum. Tak lama setelah itu, “Sri! Sri!” ia terjatuh. Akumencoba mengangkatnya dan teriak sekuat tenaga. Warga berdatangan. Mereka berusaha menolong Sri. Namun, Sri meninggal dunia. Ia tewas di rumahku. Tanpa diperintah, tiba-tiba warga menghakimiku. Mereka membawa dan melaporkanku. Dan kini aku jadi terdakwa.

*****

Seketika aku sadar di ujung putusan. Detakjantung berdebar semakinkencang. Dalam pikiran membayangkan mereka yang lebih dulu divonis hukuman matidan dieksekusi. Matidi tangan regu tembak. Cerita-cerita panjang merekayang dieksekusi mati. Dipancung, diseret dengan kuda, dilempar menjadi makanan buaya, diracun, hingga ditembus peluru regu tembak.

Aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sesungguhnya. Namun, ini adalah perlintasan. Jalan hidup yang harus kutempuh. Aku sadar betul semua perbuatanku datang dari diriku sendiri, bukan orang lain, apalagi takdir Tuhan. Biarkan kutempuh. Aku ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, fitrah manusia. Aku sepertinya menemukan jawaban-jawaban tentang kebenaran itu.

Tiba saat yang ditunggu-tunggu. Ruang sidang yang semula hening mulai riuh lagi. Petugas menenangkan suasana. Aku dengan seksama mendengarkan amar putusan vonis yang dibacakan Yang Mulia. Dan: “Mengadili, menyatakan terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindakpidana. Membebaskan terdakwa dari semua dakwaan serta memulihkanhak-hak, harkat, dan kedudukannya.”

Tanpa kusadari tubuh menjatuhkan diri darikursi. Kedua kedua telapak tanganmenghempasdan kening menempel di lantai. Suara-suara hujatan terdengar begitu keras. Namun aku tak peduli. “Apaka hini jawabannya? Biarkan takdir Barseso seperti dalam cerita itu. Sebuah tamsil yang melegenda.” (T)

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buku “Aku Radio Bagi Mamaku”: Naya Berani Sekali

Next Post

“Memanen Hujan”, Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
“Memanen Hujan”,  Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

“Memanen Hujan”, Membagi Narasi Kecil Sebelum Ditelan Pesta Kembang Api Akhir Tahun.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co