26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Esha Tegar Putra by Esha Tegar Putra
October 8, 2018
in Tualang
Sarajevo, Setelah Tahun-Tahun Buruk

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo.

Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perbedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

Mata saya terus serasa kelimpanan dan pikiran melayang ketika melangkah keluar dari pintu pesawat, menuju pemeriksaan paspor dan mulai oyong ketika menyeret koper seberat 20 kg. Lelah perjalanan 11 jam dari Kuala Lumpur International Airport dan transit 16 jam di Istambul mulai terasa.

Ketika transit di Istanbul lelah itu tidak terasa. Barangkali karena terlalu menikmati tur gratis keliling Istambul yang disediakan oleh maskapai penerbangan yang saya tumpangi. Kondisi tersebut mungkin efek jet lag, kata mereka yang sering terbang dan melancong ke negeri-negeri jauh. Maklum, perjalanan paling jauh yang saya tempuh baru dari zona Waktu Indonesia barat (WIB) menuju Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Saya ditunggu di pintu kedatangan oleh salah seorang petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sarajevo. Di atas mobil berpelat CD (Corps Diplomatique) milik KBRI Sarajevo, saya terus menggosok-gosok mata, berusaha untuk tidak tertidur.

Di sepanjang jalan dari bandara ke tempat penginapan saya di daerah pekuburan Alivakovac membayang film Welcome to Sarajevo (1997) sutradara Michael Winterbotton. Juga instrumen musik GoranBregovic bertajuk Three Letter FromSarajevo yang dibagi dalam pembabakan “Surat Seorang Muslim”, “Surat Seorang Yahudi”, dan “Surat Seorang Kristiani”.

Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Entah kenapa suasana perang merundung setiap mendengar “Sarajevo”. Barangkali karena waktu kecil dari program-program berita televisi saya kerap melihat gambaran perang di Sarajevo. Juga mungkin karena pertanyaan orang-orang ketika saya mengatakan akanresidensi di Sarajevo: “Bukankah di sana terjadi perang?”

Sarajevo dalam Bingkai Pariwisata

Sampai di rumah tempat saya menginap saya disambut tuan rumah yang baik bernama Nadini. Jauh hari sebelumnya kami sudah berkomunikasi, ia sangat sopan dalam menyambut calon tamunya. Ia mengatakan bahwa saya tamu Indonesia-nya yang pertama. Ia menjelaskan sudut kamar hingga cara pemakaian barang-barang di ruangan yang akan saya huni. Nadini pamit pada saya, ia mengatakan tinggal di apartemen lain, karena ia baru punya bayi. Ia berpesan bahwa kalau saya butuh apa-apa bertanya saja pada ibunya.

“Ibuku hanya berbicara dalam bahasa Bosnia, ia tidak bisa bahasa Inggris, tapi percayalah kalian akan bisa berkomunikasi dengan baik. Ia ramah dan sangat baik,” kata Nadini.

Saya percaya itu. Sebelum tertidur, saya mengetuk kaca jendela Fadila karena mendengar suara azan, saat itu pukul 22.30 malam. Saya bertanya azan tersebut untuk salat apa? Fadila menjawab, meski dalam bahasa Bosnia, tapi saya mengerti jawabannya adalah salat Isya. Saya kembali ke kamar dan terdengar ketukaan dari luar pintu kamar. Rupanya Fadila mengantar sajadah untuk saya.

Bosnia-Herzegovina memang menjadi salah satu pilihan destinasi bagi mereka yang ingin berlibur musim panas. Juga tujuan bagi para peziarah muslim dan kristiani. Masjid, katedral, serta sinagog tua berdampingan dalam satu area kota tua (Bascarsija) Sarajevo. Di beberapa kota lain tata ruangnya juga hampir sama.

Di Mostar misalnya, kota yang berjarak kurang-lebih 130 kilometer dari Sarajevo itu saya melihat salib gigantik tertancap di atas sebuah bukit (Bukit Hum). Beberapa tempat di Bosnia dan Herzegovina memang pernah mengalami tahun-tahun buruk. Keragaman etnis dan keyakinan di negeri tersebut pernah bersabung intoleransi.

Begitu juga dengan Kota Mostar saya kira. Kota yang berdekatan dengan wilayah Kroasia tersebut tak luput dari perang saudara. Percik-percik intoleransi pernah saya baca dari sebuah catatan mengenai simbol keagamaan. Salib gigantik sebagai lambang umat Kristiani yang dibangun pada tahun 2000 dan Stari Most yang dibangun pada masa kekuasaan Ottoman 1557 sebagai perlambang Islam pernah memancing perdebatan.

Tapi dalam perjalanan saya, baik itu Sarajevo dan Mostar, sangat ramah bagi pengunjung. Dentang lonceng gereja bersabung suara azan dari masjid sama-sama terdengar bergema. Tidak ada tipuan bagi pelancong pada saat membeli barang–meski pengemis cukup banyak mangkal di beberapa tempat wisata.

Negara ini memang menjadi tujuan utama saya dalam residensi penulis yang diselenggarakan KBN. Sarajevo menjadi pilihan utama untuk tinggal selama sebulan. Perang periode 1992-1995 adalah ingatan yang mengendap dari masa kecil saya. Siaran berita televisi menyiarkan kehancuran Sarajevo dan daerah-daerah lain di Bosnia-Herzegovina. Bahkan hingga hari ini orang-orang masih memandang negara tersebut dalam masa perang. Terbukti ketika saya mengurus perpanjangan paspor dan pandangan kawan-kawan terhadap negara pilihan saya untuk residensi.

Kopi Sarajevo (Foto Esha Tegar Putra)

Negara tersebut sudah berbenah meskipun jejak-jejak bekas perang masih terlihat.Sektor pariwisata barangkali menjadi andalan utama mereka. Bangunan hancur terbiarkan dan tembok-tembok bekas hunjaman peluru masih terlihat di sana-sini–mungkin ini merupakan simbol untuk mengatak bahwa perang sangatlah buruk.

Bahkan di daerah sekitar Sarajevo masih ada himbauan untuk tidak melakukan perjalanan sendiri. Semisal daerah pegunungan Trebevic, Bjelasnica, Jahorina yang pernah menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 1984, ketika daerah ini masih dalam kesatuan Yugoslavia. Ada imbauan untuk melakukan perjalanan bersama profesional karena ditenggarai masih banyak tertanam ranjau darat sisa perang.

Dua puluh tiga tahun pasca Perjanjian Dayton (1-2 November 1995) yang mempertemukan Alija Izetbegovic (presiden Bosnia), Slobodon Milosevic (presiden Serbia), FranjoTudman (presiden Kroasia), dengan negosiator Richard Holbrooke dan Jenderal Wesley Clark (Amerika Serikat) telah membuat Sarajevo berbeda dalam gambaran masa perang.

Jalur-jalur tram dibangun kembali, gedung-gedung diperbaiki, serta situs-situs tua peninggalan Ottoman dan Austro-Hungaria direkonstruksi dari sumbangan berbagai negara lain. Turki, selain negara lain, saya kira banyak membantu perbaikan berbagai situs Ottoman yang hancur akibat perang. Terlihat dari bendera Turki terpatri di panel-panel, di spanduk, dan berkibar di depan beberapa bangunan sekitar Bascarsija.

Wisata sejarah digarap sedemikian rupa di Sarajevo. Tidak hanya mengenai perang 1992-1995 tapi juga mengenai Perang Dunia I. Di salah satu museum dekat Jembatan Latin, lokasi tertembaknya pangeran Austria Franz Ferdinand yang menjadi pemicu Perang Dunia I, foto-foto dipampangkan di bagian dinding. Setiap situs-situs bersejarah panel-panel dengan narasi kesejarahan dituliskan dengan baik. Bahkan beberapa ceruk sisa bahan eksplosif mortar saat Pengepuangan Sarajevo diabadikan dan diberi garis batas.

Konon untuk mengenang mereka yang menjadi korban di masa perang saudara. Wisata sejarah barangkali memang menjadi andalan utama Sarajevo selain wisata alam di daerah lain sekitar Bosnia dan Herzegovina. Semua petunjuk lokasi wisata digarap dengan baik, map-map bagi pengunjung, tur keliling kota gratis, bahkan petunjuk dalam aplikasi ponsel. Tinggal memindai kode QR di panel-panel lokasi makan semua informasi akan terpampang di layar ponsel.

Tak salah kota tersebut dimasukkan oleh Lonely Planet dalam 10 kota yang layak dan harus dikunjungi. Sarajevo memang menyajikan lapisan sejarah unik di mana berbagai simpul kebudayaan dan agam terikat dengan baik hingga kota tersebut disimbolkan sebagai “Jerusalem of The Balkan”.

Sarajevo dan Mostar dan beberapa lokasi sejarah lain di sekitar kota tersebut memang menjadi tujuan saya untuk melihat bagaimana Bosnia dan Herzegovina tumbuh dalam keragaman. Masih banyak lokasi lain pasca perang 1992-1995 yang hendak menjadi tujuan saya menulis. Sebrenica adalah salah satu di antaranya. Tempat di mana pembantaian terhadap 8.000 warga muslim daerah sanah pernah dibantai milisi Serbia di bawah pimpinan Jendral Ratko Mladic. (T)

Tags: PariwisataperjalananSarajevosastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekspresionisme

Next Post

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Esha Tegar Putra

Esha Tegar Putra

Sastrawan Indonesia dari Minangkabau, pengajar dan penggagas acara-acara sastra

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Catatan PPL: Menjadi Guru yang Memanusiakan Anak Didik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co