23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

Andre Syahreza by Andre Syahreza
August 24, 2026
in Kritik Sastra
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Andre Syahreza

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa menerbitkan buku, tanpa seleksi, tanpa penolakan, tanpa harus meyakinkan editor bahwa naskahnya layak. Penulis cukup mengunggah naskah, menentukan harga, dan buku itu tersedia untuk dipesan. Cetakan baru dibuat hanya ketika ada pesanan, satu eksemplar pun diterima.

Empat tahun kemudian, Nulisbuku memiliki sekitar 100.000 anggota, koleksi 10.000 judul, dengan tambahan 100 hingga 150 judul baru setiap bulan. Enam puluh persen di antaranya berupa fiksi.

Angka itu terdengar seperti pencapaian. Dalam satu pengertian ia memang pencapaian, bahwa hasrat menulis yang selama ini terhalang oleh tembok seleksi penerbit kini menemukan jalan keluarnya. Bahwa seseorang yang ditolak lebih dari sepuluh penerbit bisa tetap menerbitkan karyanya dan menemukan pembacanya.

Tetapi angka itu juga mengundang pertanyaan yang tidak nyaman: dari 10.000 judul itu, berapa yang pernah dibaca oleh seseorang yang tidak mengenal penulisnya?

Pertanyaan itu menyentuh fungsi kurasi dalam ekosistem sastra. Sistem penerbitan konvensional yang lama memang penuh masalah. Editor bisa salah. Penerbit bisa bias. Karya-karya penting ditolak bukan karena lemah, melainkan karena tidak cocok dengan selera pasar tertentu, atau karena penulisnya tidak memiliki jaringan yang tepat.

Tetapi sistem yang tidak sepenuhnya adil itu setidaknya masih membuat sebuah naskah melewati pembacaan manusia. Seorang editor bisa saja keliru menolak karya yang baik, tetapi ia juga menjadi batas terakhir bagi naskah yang belum matang. Karya yang mengandalkan luapan emosi tanpa ketelitian bahasa, atau mengira pengalaman pribadi saja sudah cukup untuk menjadi sastra, belum tentu lolos di mata editor.           

Print on demand menghapus penyaring itu. Sepenuhnya dan tanpa diskriminasi.

Sebagai gantinya, pasar. Sebuah penerbit mandiri tidak akan menolak naskah, tapi juga tidak akan mencoba menemukannya. Siklus yang dulu penulis-penerbit-pembeli kini menjadi penulis-pembeli, tanpa perantara yang bertanggung jawab atas kualitas. Dalam ekosistem itu, yang menentukan apakah sebuah karya ditemukan bukan lagi kekuatan estetiknya, melainkan kemampuan penulisnya memasarkan diri.

Kemampuan memasarkan diri tidak berkorelasi dengan kemampuan menulis.

Platform penerbitan mandiri tidak hanya membuka pintu bagi penulis berbakat yang sebelumnya ditolak penerbit mapan. Ia juga membuka pintu bagi mereka yang belum pernah membaca cukup banyak untuk mengetahui bahwa menulis adalah keahlian yang perlu dipelajari, bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat yang mengalir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Tidak sembarang orang layak menulis. Mungkin terkesan elitis, tapi ini adalah pengamatan tentang apa yang terjadi ketika sebuah keahlian kehilangan mekanisme pembentuknya. Seorang dokter tidak menjadi dokter hanya karena ia peduli pada kesehatan orang lain dan pernah sakit parah. Seorang arsitek tidak menjadi arsitek hanya karena ia memiliki imajinasi spasial yang kuat dan ingin membangun rumah. Keduanya perlu melalui proses panjang yang memaksa mereka belajar dari yang lebih tahu, dan membangun kemampuan secara bertahap di bawah bimbingan.

 Sastra tidak berbeda. Menulis secara profesional membutuhkan pembacaan yang luas. Karena dari sanalah penulis belajar apa yang membuat sebuah kalimat hidup, sebuah cerita berdiri tegak, dan emosi terasa sungguh-sungguh alih-alih murahan.

Ketika 150 judul baru terbit setiap bulan dari satu platform saja, dan ketika tidak ada satu pun mekanisme yang membantu pembaca membedakan mana yang layak dicari, yang terjadi bukan demokratisasi sastra, melainkan dilusi percakapan. Kerumunan yang semakin besar, suara yang semakin ramai, tetapi semakin sedikit cara untuk menemukan mana yang penting di dalamnya.

Enam puluh persen dari 10.000 judul di Nulisbuku berupa fiksi. Sebagian besar dari fiksi itu bergerak dalam tema yang sangat sempit: percintaan remaja, romansa kampus, drama keluarga, kisah cinta islami. Itu terjadi karena tema itulah yang paling mudah ditulis tanpa bekal pembacaan yang luas, dan paling mudah menemukan pembacanya tanpa dukungan kurasi.

Sebuah novel tentang gadis pendiam yang jatuh cinta pada senior yang dingin tidak membutuhkan riset, tidak membutuhkan pengetahuan tentang sejarah atau struktur sosial, tidak membutuhkan kemampuan membangun dunia yang kompleks. Ia hanya membutuhkan empati emosional yang cukup dan kemampuan menyusun dialog yang mengalir. Tapi itu tidak cukup untuk menghasilkan sastra yang membuka sesuatu yang baru dalam cara manusia memahami dirinya sendiri.

Pada titik inilah dua krisis dalam esai ini bertemu secara eksplisit.

Krisis pertama adalah krisis produksi. Terlalu banyak yang ditulis dari dorongan yang terlalu dangkal, diterbitkan melalui infrastruktur yang tidak menuntut apa-apa kecuali naskah yang selesai.

Krisis kedua adalah krisis kurasi. Tidak ada lagi mekanisme yang cukup dipercaya untuk membantu pembaca menavigasi kerumunan itu. Kritik sastra melemah, sebagian karena ekosistem digital membuat kritik jujur terasa seperti komen haters, sebagian karena tidak ada lagi institusi yang kuat untuk memberi kritik itu otoritas.

 Tetapi menyadari krisis kurasi tidak berarti merindukan kurasi lama. Kurasi lama, seperti yang sudah ditunjukkan oleh pengalaman Cantik Itu Luka, tidak selalu benar. Ia bisa menolak karya penting karena alasan yang salah, dan meloloskan karya mediokre karena alasan yang juga salah. Sastra Indonesia tidak membutuhkan gatekeeper yang sama dengan kekuasaan yang sama, melainkan bentuk kurasi yang berbeda. Kurasi yang lebih terbuka dalam hal siapa yang boleh masuk, tetapi tetap berani dalam hal menilai apakah yang masuk itu sungguh-sungguh layak diperhatikan.

Kritik sastra yang jujur, komunitas pembaca yang tidak hanya saling mengafirmasi, dan institusi kebudayaan yang berani memaparkan perbedaan kualitas secara terbuka. Semua itu adalah bentuk-bentuk kurasi yang tidak bergantung pada monopoli penerbit besar, tapi juga tidak menyerah pada logika pasar bebas yang menganggap semua suara setara hanya karena semua suara ada.[T]

Penulis: Andre Syahreza
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL SEBELUMNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

BACA ARTIKEL SELANJUTNYA:

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca
Tags: algoritmaAndre Syahrezakritik sastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renungan Meja Makan

Next Post

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Andre Syahreza

Andre Syahreza

Penulis Indonesia yang pernah diundang ke negeri Belanda sebagai fellow researcher di The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies untuk meneliti sejumlah karya Sastra Indonesia. Ia mengawali karier sebagai editor majalah djakarta! Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “The Innocent Rebel” (Gagas Media—2006), “Black Interview” (Gagas Media—2008) dan “City of Fiction” (Gramedia—2010). Pada tahun 2023, ia merilis “Prosa Gerilya”, sebuah karya travel writing yang berkaitan dengan kisah hidup I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 2025 ia merilis “Semua Karena Nirankara?” (Penerbit Buku Kompas) yang merupakan karya perdananya dalam penulisan novel. Disusul karya sastra “Semesta Nekra” (Penerbit Buku Kompas) di tahun 2026.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

Read moreDetails
Next Post
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co