20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
in Esai
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya. Seolah-olah Tuhan, ketika menciptakan perempuan, lupa menyematkan martabat di dalam jiwanya, lalu menitipkannya pada selembar selaput yang bahkan tak pernah ditunjuk-Nya sebagai ukuran kemuliaan manusia. Maka tumbuhlah peradaban yang aneh: perempuan boleh berpendidikan tinggi, memiliki kepala yang penuh gagasan, tangan yang bekerja, dan hati yang sanggup menampung begitu banyak penderitaan, tetapi seluruh pencapaiannya mendadak tak berarti ketika seseorang mulai bertanya, “Kamu masih perawan, kan?”

Sialan sekali, betapa mudahnya kecerdasan perempuan dikalahkan oleh rasa ingin tahu yang bersembunyi di balik moralitas.

Dunia seperti tak pernah benar-benar selesai menjadikan perempuan sebagai benda. Dahulu ia diperdagangkan, kini ia diseleksi. Dahulu tubuhnya diperebutkan, kini riwayat tubuhnya diperiksa. Dahulu ia dianggap milik ayahnya, kemudian berpindah menjadi milik suaminya, seolah-olah hidup perempuan hanyalah sebuah akta kepemilikan yang berpindah tangan dari satu laki-laki kepada laki-laki lainnya. Dan di tengah semua itu, kita masih punya keberanian menyebutnya kehormatan.

Kehormatan macam apa yang begitu takut pada masa lalu seorang perempuan? Moralitas macam apa yang begitu gemetar menghadapi tubuh yang tidak bisa diklaim sebagai milik sendiri?

Keperawanan bukan mahkota. Selaput dara bukan sertifikat kesucian. Vagina bukan ruang arsip tempat masyarakat berhak memeriksa sejarah seorang perempuan.

Namun, berabad-abad lamanya, tubuh perempuan diperlakukan seperti halaman buku yang harus tetap kosong sebelum diserahkan kepada pembaca pertamanya. Seakan-akan laki-laki yang datang kemudian berhak kecewa jika menemukan bahwa kehidupan telah lebih dahulu menuliskan sesuatu di sana. Betapa congkaknya cara berpikir yang menganggap dirinya berhak menjadi bab pertama dalam hidup orang lain, lalu menyebut tuntutan itu sebagai cinta, adat, atau kehormatan keluarga.

Perempuan bukan buku yang harus tetap tak tersentuh agar layak dibaca. Ia manusia, bukan benda koleksi yang nilainya merosot setiap kali dunia gagal menjaganya tetap tersegel.

Dan jika kita masih bersikeras menggunakan tubuh perempuan sebagai ukuran moralitas, mengapa penggaris yang sama tidak pernah benar-benar diletakkan di hadapan laki-laki? Mengapa masa lalu perempuan diperlakukan seperti noda yang harus dihapus, sementara masa lalu laki-laki sering dirayakan sebagai pengalaman? Mengapa seorang perempuan harus membawa tubuh yang seolah-olah tak pernah mengenal kehidupan untuk membuktikan dirinya layak dicintai, sementara seorang laki-laki cukup datang dengan keyakinan bahwa ia pantas mendapatkan segalanya?

Jangan-jangan yang kita sebut kesucian selama ini hanyalah nama yang terdengar lebih sopan untuk sebuah ketimpangan. Jangan-jangan yang kita jaga mati-matian bukan kehormatan perempuan, melainkan hak istimewa laki-laki untuk merasa memiliki sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.

Lebih menyedihkan lagi, perempuan sendiri sering dipaksa menjadi penjaga penjara bagi tubuhnya. Ia diajari takut sebelum memahami, malu sebelum mengenal, dan merasa bersalah bahkan ketika tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang harus dipertahankan demi penilaian orang lain, bukan sesuatu yang patut dihormati karena ia sendiri adalah pemiliknya.

Lalu, ketika kekerasan seksual terjadi, masyarakat kembali menunjukkan kebusukannya. Alih-alih bertanya siapa yang melanggar persetujuan, mereka sibuk mempertanyakan apa yang tersisa dari tubuh korban. Seolah-olah penderitaan belum cukup menyakitkan hingga seorang perempuan harus pula menjalani pengadilan di hadapan manusia-manusia yang merasa lebih berhak atas kehormatannya daripada dirinya sendiri.

Kepada mereka yang masih mengukur nilai perempuan dari keperawanannya, pernahkah terpikir bahwa selaput dara bukan alat ukur moral, dan kondisi anatomi seseorang tidak dapat membuktikan riwayat seksualnya secara pasti? Bahwa tidak semua perempuan memiliki anatomi yang sama, dan tidak semua perubahan pada tubuh terjadi karena hubungan seksual? Bahwa tubuh manusia jauh lebih rumit daripada dongeng patriarki yang diwariskan turun-temurun?

Atau barangkali fakta memang bukan persoalannya. Sebab, bagi orang yang sudah telanjur jatuh cinta pada prasangka, kebenaran sering kali terasa seperti penghinaan.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus hidup dengan pilihan yang sama. Jika seorang perempuan memilih menjaga keperawanannya berdasarkan keyakinan dan kehendaknya sendiri, hormatilah. Tetapi jika ia memilih jalan hidup yang berbeda, menghormatinya seharusnya tidak menjadi perkara yang begitu sulit. Kebebasan seorang perempuan tidak diukur dari apakah ia memenuhi keinginan kita, melainkan dari apakah ia tetap memiliki hak untuk menentukan hidupnya tanpa kehilangan martabatnya.

Sebab, tubuh perempuan bukan kontrak yang harus disetujui masyarakat, bukan properti yang harus diserahkan dalam keadaan tertentu, dan bukan utang penjelasan yang wajib dibayarkan kepada calon suaminya.

Apa yang ada di dalam celananya bukan urusan tetangga. Bukan bahan pergunjingan keluarga. Bukan pula pertanyaan yang otomatis berhak diajukan seseorang hanya karena ia berniat menikahinya. Pernikahan bukan surat izin untuk menggeledah masa lalu. Cinta bukan lisensi untuk menginterogasi. Dan hubungan intim bukan pemindahan hak milik atas tubuh manusia.

Kalau kau ingin mencintai seorang perempuan, belajarlah menerima bahwa ia datang dengan keseluruhan hidupnya, bukan dengan formulir kosong yang menunggu persetujuanmu. Ia memiliki masa lalu yang mungkin tak kau ketahui, pengalaman yang mungkin tak ingin ia ceritakan, dan batas-batas yang tak wajib ia langgar hanya demi membuktikan bahwa ia mencintaimu. Kau boleh menentukan nilai-nilai yang ingin kau pegang dalam hubunganmu sendiri, tetapi kau tidak berhak merampas martabat orang lain hanya karena ia tidak memenuhi kriteriamu.

Kau boleh memilih pasangan. Kau tidak berhak mengubah manusia menjadi barang dagangan yang harus lolos pemeriksaan kualitas.

Dan kepada perempuan-perempuan yang selama ini dibuat merasa kurang berharga karena tubuhnya, dengarkan baik-baik: kau tidak perlu meminta maaf karena pernah hidup. Kau tidak perlu merendahkan dirimu untuk menenangkan ketakutan orang lain. Kau tidak perlu membuka seluruh sejarahmu agar dunia percaya bahwa kau layak dihormati.

Tubuhmu bukan dosa yang harus kau tebus. Masa lalumu bukan dakwaan yang harus kau bantah. Dan harga dirimu tidak menunggu pengesahan dari siapa pun.

Barangkali, suatu hari nanti, kita akan hidup dalam masyarakat yang tak lagi bertanya apakah seorang perempuan masih perawan, melainkan apakah ia merasa aman. Masyarakat yang tidak sibuk menghitung apa yang pernah terjadi pada tubuhnya, tetapi sungguh-sungguh peduli pada apakah tubuhnya pernah dilukai, dipaksa, atau dirampas haknya. Masyarakat yang mengerti bahwa kesetiaan bukan perkara siapa yang datang pertama, melainkan bagaimana dua manusia memilih untuk saling menghormati hari ini.

Sampai hari itu tiba, kita perlu terus mengatakan hal yang seharusnya tak perlu diperdebatkan sejak awal:

Perempuan tidak kehilangan kehormatan hanya karena tubuhnya tidak sesuai dengan mitos yang diciptakan untuk mengendalikannya.

Sebab, jika seluruh nilai seorang perempuan dapat diruntuhkan hanya oleh sesuatu yang tersembunyi di balik celananya, mungkin sejak awal bukan perempuan yang sedang kita nilai.

Mungkin kita sedang menyaksikan betapa miskinnya cara berpikir sebuah masyarakat yang mengaku bermoral, tetapi tak pernah benar-benar belajar menghormati manusia.

Dan sungguh, betapa menyedihkan sebuah dunia yang begitu takut pada selaput dara perempuan, tetapi sama sekali tidak takut pada selaput tebal kemunafian yang menutupi pikirannya sendiri. [T]

Tags: Perempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Next Post

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co