Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album konseptual The Wall. Lagu yang ditulis oleh Roger Waters ini segera menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan yang represif.
Dengan paduan suara anak-anak yang menyanyikan kalimat terkenal “We don’t need no education”, lagu ini menggemakan kritik tajam terhadap sekolah yang mematikan imajinasi, menindas individualitas, dan membentuk manusia menjadi sekadar “batu bata” dalam tembok konformitas.
Namun, setelah lebih dari empat dekade berlalu, dunia pendidikan menghadapi paradoks baru. Jika dahulu kritik diarahkan pada otoritarianisme guru dan sistem pendidikan yang menindas murid, kini dalam banyak konteks, termasuk di Indonesia muncul anomali lain: memudarnya rasa hormat dan respek terhadap guru.
Beberapa kasus bahkan memperlihatkan murid melaporkan guru ke penegak hukum atas konflik yang dahulu mungkin diselesaikan dalam ruang pedagogis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan tanda perubahan mendalam dalam relasi moral antara guru, murid, dan masyarakat.
Esai ini mencoba membaca ulang semangat kritik dalam Another Brick in the Wall secara kontemplatif, dalam terang realitas pendidikan kontemporer.
Tembok yang Dibangun oleh Otoritarianisme
Lagu Another Brick in the Wall lahir dari pengalaman masa kecil Roger Waters di sekolah Inggris pada 1950-an. Dalam sistem pendidikan yang sangat disipliner, guru sering dipandang sebagai figur otoritas absolut. Dalam liriknya muncul kritik terhadap “dark sarcasm in the classroom”, sebuah metafora untuk metode pengajaran yang merendahkan dan menekan murid.
Dalam konteks ini, tembok (the wall) menjadi simbol psikologis. Setiap pengalaman traumatis, termasuk pengalaman pendidikan yang represif,
menjadi “batu bata” yang membangun tembok isolasi dalam diri manusia. Murid yang diperlakukan sebagai objek akhirnya kehilangan suara, kreativitas, bahkan kemanusiaannya.
Pesan ini jelas: pendidikan yang otoriter melahirkan manusia yang terasing dari dirinya sendiri.
Karena itu, kritik lagu ini bukanlah penolakan terhadap pendidikan, melainkan seruan agar pendidikan membebaskan manusia, bukan menundukkannya.
Retaknya Tembok dari Arah Berlawanan
Namun realitas pendidikan kontemporer memperlihatkan perubahan dramatis. Jika dahulu guru terlalu dominan, kini dalam beberapa situasi otoritas moral guru justru melemah. Dalam berbagai kasus di Indonesia, termasuk di wilayah seperti di Lebak Banten atau beberapa daerah di Sulawesi beberapa waktu lalu, muncul peristiwa murid atau orang tua melaporkan guru kepada aparat hukum karena tindakan disiplin di kelas.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur relasi sosial pendidikan.
Di satu sisi, kesadaran terhadap hak-hak anak meningkat, sebuah perkembangan yang positif. Kekerasan fisik dan penghinaan terhadap murid memang tidak dapat dibenarkan. Namun di sisi lain, relasi pendidikan menjadi rapuh ketika otoritas moral guru sepenuhnya digantikan oleh mekanisme hukum formal.
Hubungan pedagogis yang semula bersifat etis dan dialogis berubah menjadi relasi yang penuh kecurigaan. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi dipandang sebagai figur pembimbing, melainkan sebagai pihak yang selalu berpotensi melakukan pelanggaran.
Pendidikan Tanpa Wibawa Moral
Dalam tradisi budaya Nusantara, guru selalu menempati posisi yang sangat terhormat. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “digugu lan ditiru”, guru dipercaya dan diteladani. Dalam budaya Sunda pun dikenal nilai hormat kepada guru sebagai bagian dari tata krama sosial.
Guru bukan hanya pengajar pengetahuan, tetapi pembentuk karakter. Namun modernitas membawa perubahan besar dalam struktur otoritas sosial. Globalisasi informasi, media sosial, serta pergeseran nilai keluarga membuat relasi antara murid dan guru semakin horizontal.
Dalam beberapa kasus, kritik terhadap guru bahkan muncul dalam bentuk yang agresif atau tidak proporsional. Murid atau orang tua menggunakan jalur hukum tanpa terlebih dahulu mencari ruang dialog.
Ketika hal ini terjadi, pendidikan kehilangan sesuatu yang sangat penting: wibawa moral. Padahal pendidikan tidak mungkin berjalan hanya dengan aturan formal. Ia membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan rasa tanggung jawab bersama.
Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab
Ironisnya, jika kita membaca kembali pesan dalam Another Brick in the Wall, kritik terhadap otoritarianisme sebenarnya bertujuan membebaskan manusia agar mampu berpikir secara mandiri.
Namun kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan moral.
Dalam dunia pendidikan, kebebasan murid seharusnya berjalan bersama dengan penghormatan kepada guru. Sebaliknya, otoritas guru juga harus disertai kebijaksanaan dan empati.
Jika salah satu hilang, keseimbangan pedagogis akan runtuh. Pendidikan yang baik tidak membangun tembok antara guru dan murid. Ia membangun jembatan.
Dari Tembok Menuju Ruang Pertemuan
Ketika lagu Pink Floyd menggambarkan murid sebagai “batu bata” dalam tembok konformitas, ia mengingatkan kita bahwa pendidikan yang menindas akan memisahkan manusia dari dirinya sendiri.
Namun pendidikan yang kehilangan wibawa juga dapat membangun tembok lain—tembok ketidakpercayaan antara generasi. Guru menjadi takut mendisiplinkan murid. Murid kehilangan figur teladan. Sekolah berubah menjadi ruang administratif yang dingin.
Padahal pendidikan sejatinya adalah ruang pertemuan manusia. Ruang di mana pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Renungan
Dalam keheningan lagu Another Brick in the Wall, kita mendengar suara anak-anak yang menolak pendidikan yang menindas. Suara itu penting, karena sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa kritik selalu berbahaya.
Namun dunia pendidikan hari ini mengajarkan pelajaran lain: kebebasan tanpa penghormatan juga dapat merusak fondasi pendidikan. Maka tantangan pendidikan kontemporer bukan sekadar meruntuhkan tembok lama, tetapi juga memastikan bahwa ruang baru yang kita bangun tetap dipenuhi etika, hormat, dan kebijaksanaan.
Karena pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan. Ia adalah perjumpaan manusia dengan manusia. Dan dalam perjumpaan itu, guru dan murid tidak seharusnya menjadi batu bata dalam tembok yang saling memisahkan, melainkan cahaya kecil yang saling menerangi perjalanan hidup. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole


![Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/sihab.-purple-360x180.png)




























