EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida Bagus Candra Yana, I Gede Jaya Putra, dan Made Bendi Yuda, membentuk sebuah percakapan yang kaya tentang bagaimana seni Bali hari ini dimaknai.
Perhelatan yang digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, berlangsung pada 19 Juni hingga 8 September 2026. Pameran ini memperlihatkan bagaimana seni Bali mengartikulasikan etika, spiritualitas, tubuh, dan sabda melalui bahasa abstraksi maupun figurasi.
Masing-masing seniman menghadirkan pendekatan yang berbeda. Namun, secara bersama-sama mereka memperlihatkan spektrum eksplorasi yang menegaskan bahwa seni Bali kontemporer tidak pernah sekadar persoalan estetika formal, melainkan juga laku reflektif yang berakar pada kosmologi, tradisi, dan pengalaman manusia.
Menilik Karya I Made Ruta: “Abstraksi” sebagai “Etika” dan “Kosmogoni” dalam karya Awal Cipta Kehidupan dan Tulus, I Made Ruta menghadirkan abstraksi yang berlapis, penuh warna, dan berdenyut oleh energi primordial.
Abstraksi di sini bukan sekadar permainan bentuk dan warna, melainkan pernyataan batin, sebuah sikap hidup yang ditransformasikan ke dalam medium visual.

Melalui Awal Cipta Kehidupan, Ruta berbicara mengenai genesis, momen ketika energi kosmik menjelma menjadi organisme pertama.
Karya Awal Cipta Kehidupan (2026) menampilkan energi visual yang berlapis, seolah-olah kehidupan itu sendiri sedang mekar dari pusat kosmos menuju ruang yang lebih luas.
Lengkung-lengkung warna yang saling bertaut—kuning, merah, biru, hijau, dan oranye—menciptakan kesan gerak spiral, seperti denyut awal sebuah organisme atau tarikan napas pertama semesta.
Tekstur latar hijau menghadirkan nuansa kesuburan, seakan menjadi tanah tempat segala kemungkinan bertumbuh.
Jika dikaitkan dengan gagasan Tulus, karya ini dapat dibaca sebagai pernyataan tentang kelahiran yang jernih dan tanpa pamrih: ciptaan yang hadir bukan karena kehendak ego, melainkan sebagai aliran alami energi kehidupan.
Dengan demikian, Awal Cipta Kehidupan dan Tulus dapat dipahami sebagai metafora mengenai asal-usul kehidupan: bagaimana kehidupan berdenyut dari pusat yang sederhana, kemudian berkembang menjadi kompleksitas yang penuh warna, tetapi tetap menyimpan inti ketulusan sebagai sumber daya hidup.

Sementara itu, karya Tulus menekankan dimensi etis. Ketulusan diposisikan sebagai energi yang mengikat relasi manusia.
Abstraksi Ruta memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi bahasa untuk mengartikulasikan kosmogoni sekaligus etika, menjadikan warna dan bentuk sebagai metafora kehidupan sekaligus sikap batin.
Dalam Tulus, lapisan-lapisan geometris yang saling bertaut dengan warna-warna terang membangun struktur visual yang kompleks, tetapi tetap memancarkan energi keterbukaan.
Judul karya ini memberi arah pembacaan: ketulusan sebagai fondasi relasi manusia, sebagai energi yang mengikat di tengah kerumitan sosial.
Tekstur sapuan kuas yang ekspresif menegaskan bahwa kejujuran tidak selalu tampil halus. Ia dapat hadir dengan intensitas, bahkan kekasaran, tetapi tetap jujur.

Jika karya ini ditempatkan dalam dialog dengan abstraksi Bali kontemporer lainnya, tampak benang merah yang menarik. Misalnya, karya-karya Suklu melalui panel-panel naratifnya sering mengartikulasikan spiritualitas lewat bentuk-bentuk yang berulang, layaknya mantra visual.
Dalam konteks tersebut, Tulus menghadirkan dimensi etis. Ia bukan hanya berbicara tentang kosmos ataupun mitos, melainkan juga mengenai sikap manusia yang jujur di tengah kompleksitas dunia.
Dialog itu memperlihatkan bahwa abstraksi Bali kontemporer bergerak pada tiga poros utama, yaitu kosmogoni (penciptaan dan energi awal), spiritualitas (hubungan manusia dengan yang transenden), dan etika (sikap hidup yang jujur, terbuka, dan tulus).
Tulus berdiri pada poros etika, tetapi tetap beresonansi dengan dua poros lainnya. Warna-warna yang menyala mengingatkan pada vitalitas kosmik, sedangkan struktur geometris yang berlapis menyiratkan kedalaman spiritual.
Menurut saya, ketulusan di sini bukan sekadar nilai personal, melainkan bagian dari kosmologi Bali yang menekankan harmoni.
Dengan demikian, karya ini dapat dibaca sebagai contoh bagaimana abstraksi mampu mengartikulasikan nilai-nilai etis dan spiritual secara bersamaan, menjadikan seni bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga laku hidup.
Karya Tulus dapat diposisikan sebagai titik temu yang menghubungkan abstraksi kosmogoni dan energi spiritual yang tampak pada karya-karya Suklu dengan dimensi etis yang lebih personal.
Melalui pembacaan tersebut, audiens dapat melihat bahwa abstraksi Bali kontemporer bukanlah bahasa visual yang steril dan universal, melainkan bahasa yang sarat nilai. Warna, bentuk, dan tekstur menjadi medium untuk mengartikulasikan etika sekaligus spiritualitas.

Selanjutnya, seri Jejak Ritus dalam Daun karya Ida Bagus Candra Yana menghadirkan ikonografi ritual Bali pada permukaan daun kering. Pilihan medium ini menegaskan kefanaan tradisi sekaligus kekuatan memori alam. Figur-figur bertopeng dan busana upacara yang ditransfer ke atas daun menjadi arsip ekologis: tradisi yang hidup, tetapi juga rapuh, sehingga selalu membutuhkan perawatan agar tidak lenyap.
Candra Yana memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi arsip yang tidak permanen, melainkan sebuah meditasi tentang keberlanjutan budaya dan alam.
Seri Jejak Ritus dalam Daun menghadirkan pertemuan yang tidak lazim antara medium alamiah dan ikonografi ritual Bali. Dengan menjadikan daun—yang rapuh, fana, dan senantiasa berada dalam siklus kehidupan—sebagai bidang bagi citra ritual, seniman menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku, melainkan jejak yang terus-menerus ditinggalkan, diingat, sekaligus terancam hilang.

Dalam karya ini, wajah-wajah bertopeng, kostum upacara, dan figur-figur mitologis ditransfer ke permukaan daun awar-awar maupun daun kupu-kupu. Pilihan medium tersebut bukan sekadar eksperimen formal, melainkan sebuah pernyataan konseptual. Ritus Bali, yang biasanya berlangsung dalam ruang sakral, kini dihadirkan pada tubuh alam itu sendiri.
Daun menjadi arsip ekologis yang mengingatkan bahwa tradisi dan alam saling meninggalkan jejak serta saling mengikat.
Menurut saya, karya ini memperlihatkan keterhubungan dengan praktik seni ekologis kontemporer di Bali. Sejumlah seniman lain, seperti Made Bayak melalui proyek Plasticology, menyoroti relasi budaya dan lingkungan dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai medium.
Sementara itu, Ida Bagus Candra Yana memilih medium yang jauh lebih subtil, yakni daun yang rapuh. Justru di dalam kefanaannya itulah tersimpan kekuatan simbolik.

Jika Made Bayak menekankan kritik ekologis, Candra Yana menawarkan meditasi ekologis: bagaimana ritus dan alam saling mengingat serta saling membekas.
Dalam konteks arsip budaya, karya ini juga berbicara mengenai cara tradisi direkam dan diwariskan. Alih-alih menggunakan kertas ataupun kanvas, seniman memilih medium yang memang akan hancur seiring waktu.
Dengan demikian, Jejak Ritus dalam Daun menolak gagasan arsip sebagai sesuatu yang permanen. Sebaliknya, karya ini menegaskan bahwa memori budaya selalu rapuh, selalu membutuhkan perawatan, dan selalu berisiko hilang.
Ketika daun itu perlahan-lahan hancur, ia menjelma menjadi metafora bagi tradisi yang harus terus diperbarui agar tidak ikut lenyap.
Menurut interpretasi saya, karya-karya ini dapat diposisikan berdampingan dengan praktik seni kontemporer yang menyoal keberlanjutan, baik dari sisi lingkungan maupun budaya.

Dengan demikian, audiens akan melihat bahwa seni Bali kontemporer tidak hanya berbicara mengenai estetika, tetapi juga tentang memori, kefanaan, dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, Jejak Ritus dalam Daun merupakan sebuah meditasi visual. Karya ini mengajak kita merenungkan bagaimana ritus meninggalkan jejak pada alam, dan bagaimana alam menyimpan jejak ritus.
Dalam rapuhnya daun, kita menemukan kekuatan tradisi. Dalam kefanaan medium, kita justru menemukan keabadian makna.
Berikutnya, mari mencermati seri Kisah Kasih yang Berlanjut karya I Gede Jaya Putra. Menurut saya, Gede sedang membahas penempatan tubuh dalam ornamentasi kosmologis.
Gagasan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menjadikan tubuh bukan sekadar objek representasi, melainkan bagian dari jaringan simbolik yang menyatukan manusia dengan kosmos.

Dalam tradisi Bali, tubuh kerap dipahami sebagai miniatur jagat raya (bhuana alit) yang merefleksikan bhuana agung, yakni alam semesta. Karena itu, ketika tubuh ditempatkan dalam ornamentasi kosmologis, ia berubah menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan tatanan kosmik melalui garis, lengkung, dan pola yang menyerupai mandala ataupun rajah.
Ornamen kosmologis bukan sekadar dekorasi, melainkan struktur visual yang menata energi. Tubuh yang hadir di dalamnya seolah larut dalam ritme kosmos. Garis-garis melingkar menjadi pernapasan, warna-warna berlapis menjadi denyut darah, sedangkan pusat komposisi menjelma sebagai jantung semesta.
Dengan demikian, tubuh tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari harmoni kosmik yang lebih besar.
Singkatnya, penempatan tubuh dalam ornamentasi kosmologis merupakan cara untuk menegaskan bahwa eksistensi manusia selalu tertanam dalam pola semesta. Tubuh adalah ornamentasi hidup dari kosmos itu sendiri.

Menurut saya, sudut pandang dari atas menjadikan tubuh manusia sebagai pusat perhatian yang dikelilingi berbagai pola visual. Arah tatapan ke atas maupun gestur kaki yang ditampilkan memperlihatkan kerentanan sekaligus keintiman. Tubuh tidak lagi menjadi objek semata, melainkan subjek yang membawa kisah kasih, sebuah narasi personal yang terus berlanjut.
Motif geometris merah-putih pada permadani menghadirkan nuansa ornamentasi yang sarat makna budaya. Permadani itu dapat dibaca sebagai ruang kosmologis, semacam mandala, tempat tubuh manusia diposisikan sebagai bagian dari tatanan yang lebih besar.
Karena itu, karya ini tidak hanya berbicara mengenai figur manusia, tetapi juga mengenai relasi antara tubuh dan ruang simbolik yang melingkupinya.
Teknik arang yang realistis dipertemukan dengan pola-pola geometris yang dekoratif. Pertemuan keduanya menciptakan sebuah tegangan visual: tubuh yang nyata berhadapan dengan ruang yang abstrak.
Di sinilah muncul dimensi intermedial. Karya ini mempertemukan bahasa figuratif dengan bahasa ornamentasi sehingga narasi kasih tidak lagi berhenti pada pengalaman personal, melainkan berkembang menjadi pengalaman kultural.

Judul Kisah Kasih yang Berlanjut juga menarik karena menegaskan gagasan tentang kesinambungan. Kasih di sini bukan sekadar perasaan individual, melainkan sesuatu yang terus mengalir melintasi ruang dan waktu, melintasi tubuh dan simbol.
Permadani menjadi metafora kesinambungan tradisi, sedangkan tubuh menjadi metafora kesinambungan pengalaman manusia.
Melalui karya ini, I Gede Jaya Putra memperlihatkan bahwa tubuh bukan sekadar bentuk biologis, melainkan ruang tempat sejarah, budaya, kasih, dan kosmologi saling bertemu. Justru pada pertemuan itulah karya ini memperoleh daya pikat konseptualnya.
Pembahasan berikutnya mengarah pada karya Manunggaling Sabda karya Made Bendi Yuda. Menurut saya, karya ini dapat dibaca sebagai sebuah pernyataan lintas medium yang menegaskan bahwa bahasa tidak pernah berhenti pada teks, melainkan selalu mencari tubuh baru untuk menyalurkan energinya.
Kanvas berukuran monumental ini menjadi ruang tempat sabda—yang dalam tradisi Jawa merujuk pada ucapan, firman, atau suara kosmik—menjelma menjadi vibrasi visual.
Sapuan akrilik yang berlapis-lapis menghadirkan ritme, intensitas, dan gema, seolah-olah kuas berfungsi sebagai tipografi gestural yang menuliskan kata-kata melalui warna.

Karya ini beresonansi dengan tradisi visual poetry Barat, ketika kata diperlakukan sebagai gambar, huruf menjadi lanskap, dan teks hadir sebagai ruang yang dapat sekaligus dilihat dan dibaca.
Eksperimen tipografi Guillaume Apollinaire maupun gerakan puisi konkret Brasil memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjelma menjadi rupa. Dalam Manunggaling Sabda, kita menemukan resonansi yang serupa. Warna menggantikan fonem, sedangkan ritme sapuan kuas menggantikan tata letak teks.
Namun, karya ini juga berdialog dengan tradisi kaligrafi kontemporer Asia. Dalam tradisi kaligrafi Islam, Tiongkok, maupun Jepang, huruf bukan sekadar tanda, melainkan tubuh yang menyalurkan batin.
Made Bendi Yuda menghadirkan vibrasi yang sejenis. Sabda yang divisualisasikan bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan energi yang memenuhi ruang kanvas sebagai pengalaman transenden.
Dengan demikian, Manunggaling Sabda dapat diposisikan sebagai jembatan intermedial yang mempertemukan materialitas teks dalam tradisi Barat dengan spiritualitas sabda dalam tradisi Asia.

Pada saat yang sama, karya ini menegaskan bahwa bahasa, dalam segala bentuknya, selalu memiliki tubuh: tubuh tipografis, tubuh gestural, maupun tubuh spiritual.
Melalui karya tersebut, seni rupa kontemporer Indonesia ditempatkan dalam percakapan lintas budaya. Ia memperlihatkan bahwa praktik artistik lokal mampu membuka dialog global mengenai hubungan antara sabda, rupa, dan energi.
Keempat perupa Bali yang tampil dalam Jogja Annual Art #11 sesungguhnya tidak hanya menghadirkan karya-karya yang berbeda secara visual, tetapi juga menawarkan empat cara membaca seni Bali kontemporer.
I Made Ruta mengajak kita menelusuri kosmogoni dan etika melalui abstraksi yang penuh energi kehidupan. Ida Bagus Candra Yana menghadirkan meditasi ekologis dengan menjadikan daun sebagai arsip rapuh bagi ritus dan memori budaya. I Gede Jaya Putra menempatkan tubuh sebagai bagian dari tatanan kosmologis yang menyatukan manusia dengan ruang simbolik. Sementara itu, Made Bendi Yuda membawa sabda memasuki ruang visual sehingga bahasa memperoleh tubuh baru melalui warna dan gestur.
Keempatnya memperlihatkan bahwa seni Bali kontemporer tidak berhenti pada persoalan bentuk. Ia terus bergerak sebagai ruang perjumpaan antara tradisi dan pembaruan, antara lokalitas dan wacana global, antara pengalaman personal dan kesadaran spiritual.
Akhir kata, saya menyimpulkan bahwa Manunggaling Sabda merupakan ruang tempat bahasa menemukan tubuhnya kembali. Bersama tiga karya lainnya, ia menegaskan posisi seni rupa Bali kontemporer sebagai bagian dari percakapan seni rupa dunia yang tetap berpijak pada akar budaya dan kosmologi Nusantara.[T]
Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto







![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-360x180.jpg)
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-360x180.png)






















