Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah (risalah) sebagai penulis yang berjenis kelamin perempuan, yang dimaknai mewakili bumi/ibu, sebagai tanah, variasi, jenis, campuran, turunannya dalam bentuk, rupa, sifatnya sebagai “tembikar”, wadah dari tanah liat yang dibuat atau “diciptakan” oleh manusia yang berbentuk wadah (mengandung ruang dalam waktu) dengan budi dan dayanya, dengan memanfaatkan bantuan air, api, orang lain, unsur alam lain, alat sederhana maupun mesin. Tembikar sebagai hasil karya manusia, bisa berarti satu, dua, banyak juga bagian, pecahan, dari yang utuh, besar, kecil sampai yang terkecil, penting, sangat penting, tidak penting, sampai yang sangat tidak penting.
Masalah perempuan bagi penyair (Mahindu) seberapa pun penting dan tidak pentingnya, harus dicatat dan semuanya dapat tempat (meminjam istilah Chairil Anwar dalam puisi “Catatan Tahun 1946”). Keluasan bahasan membuat penulis membagi bidang-bidang bahasannya menjadi lima tema besar: Perempuan dan Air, Perempuan dan Udara, Perempuan dan Eter, Perempuan dan Tanah, dan Perempuan dan Api.

Lima Subtema
Pembagian tema menjadi lima (5) subtema ini pada akhirnya tidaklah bisa berlaku secara mutlak karena unsur-unsur masalah yang dihadapi penulis (sebagai perempuan) dan perempuan-perempuan lainnya tak pernah terbangun dari hanya satu unsur yang berdiri sendiri, tetapi selalu saling bersinggungan dan saling kait-mengait dengan unsur-unsur lainnya. Hal ini terbaca, terlihat, dan terpahami dari puisi Mahindu, baik secara sendiri-sendiri maupun keseluruhan.
Memudahkan Pembaca
Dalam hal pembagian lima subtema itu marilah kita pahami sebagai usaha penulis memudahkan pembaca dalam memasuki, memahami, mengkaji dan menghayati puisinya. Pembagian ini menjadi penting bagi pembaca pemula, tetapi akan menghambat pembebasan bagi pembaca yang sesungguhnya.
Pembagian subtema ini sebaiknya kita pahami dalam kaitan dengan posisi pengarang yang selain sebagai pencipta, juga seorang guru yang merasa memiliki tanggung jawab pada murid “pembaca” agar tak tersesat. Selain itu, juga merupakan “rambu” mengenai masalah perempuan yang disajikan oleh perempuan (Mahindu) dan ditujukan oleh perempuan-perempuan lainnya.
Secara umum puisi-puisi yang ditulis Mahindu itu sangat kuat dan mendalam dengan pilihan diksi yang singkat, padat, indah dan penuh makna. Pada puisi-puisi pendeknya karya Mahindu menunjukkan jenis puisi ekspresif (menuliskan apa yang dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan oleh penyair terhadap seseorang tokoh (diri/orang lain) terhadap suatu masalah, kondisi, peristiwa dan lain-lain.
Perempuan dan Air
Pada puisi dengan subtema “Perempuan dan Air”, ada puisi di bawah ini:
Lelap
Ibu dobrak pintu lelapku
Terjaga ruas dini berserakan waktu
Siksa dingin nalar nafas bau
Sampah mendesak ingin menenggelamkanku
menutup langit-langit berselimut salju
menggelegar ungu di atas tungku
kuda madu kaki mata beradu
menekan dagu jendela atas suhu
tepuk lutut ibu
terjaga mata kaku
usap tugu buku
Ayo keluar pintu
Suara tertahan pilu
Esensi puisi “Lelap” itu terletak pada dua baris akhir puisi: “….Ayo keluar pintu.Suara tertahan pintu. “
Puisi menarik lainnya adalah puisi berjudul “Risalah Perempuan Tembikar” , seperti berikut:
Perempuan itu lahir dari tembikar pecah
Atas jukung-jukung arwah
Serpihan darah dan nadinya adalah lautan sekam merah
Menumpuk di atas bara kolektor penjelajah
Samudra liar angin mereda arah
Tinggalkan jangkar keinginan bersekolah
Suara bergemuruh bocah karang-karang celah
Mengarah jangkar menimbun ikan, garam lembah
Di palung kayu ini saja kau belajar menghitung curah
Berapa lubang kepiting kau hafal jumlah
Sudahkah rumput laut berbiak alkisah
Semangat menulis upah
Ceria camar bernyanyi anugerah
Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya, “….. Ceria camar bernyanyi anugerah. “
Perempuan dan Udara
Pada puisi subtema “Perempuan dan Udara”, ada puisi berjudul “Antara Tabanan Denpasar. ” :
Lewati tumpukan tembikar
Kilatan cahaya mekar menebar
Udara pengap memar
Saringan pembuangan mencakar liar
Bukan kucing sangar
Tutupi tinja belukar
Bukan monyet rambat kubur
Saudara senyap lumpur
Namun wangi tapak jailmu
Tanjaki tangki septik tuna debu
Apatah hidupmu penuh jentik jalur kuru
Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya;…. Apakah hidupmu penuh jentik jalur kuru.
Perempuan dan Eter
Pada puisi subtema “Perempuan dan Eter”, ada puisi berjudul:
‘Langkah Kaki”
Sepak kerikil
Kaki-kaki jail
Langkah degil
Anak-anak bedil
Suara-suara batil
Baris mengupil
Debu-debu bintil
Lewati bambu-bambu bugil
Sungai-sungai bangil
Jatuh pagi memanggil
Esensi dari puisi ini terletak pada kalimat penutupnya;…. Jatuh pagi memanggil.
Perempuan dan Tanah
Pada puisi subtema “Perempuan dan Tanah”, ada puisi berikut ini:
Lembar Museum Sejati
Tujuhbelas perempuan beruban
Kenakan pantalon panjang merah bata
Bersimpuh bibir putri malu pinggir sawah
Didampingi sesosok laki-laki
pintal mentari penuhi kuali
putih benang sari
kuning benang sesaji
hitam benang amunisi
merah benang tradisi
abu-abu benang tak pasti
Tenun setiap hari
Lembar museum sejati
Penaka bocah kunyah gulali
Semangka, melon ini hari
Padi tak ada lagi
Esok lusa ambil tembikar, pasir, atau rumput cabuti
Petik angkut bawa pedati
Kepala sangga sambil bernyayi
Kaki menapak lekuk menari
Lembar museum sejati
Esensi dari puisi ini terletak judulnya yang diulang pada kalimat penutupnya;”….Lembar museum sejati.”
Perempuan dan Api
Pada puisi subtema “Perempuan dan Api”, ada puisi seperti ini: “Api”
Api Lebur Diri
Api Suara Hati
Api Sakti Suci
Api Durga Api Kali
Api Brahma Api Agni
Api Asap Api Tembikar
Esensi dari puisi ini terletak pada dua kata dan kalimat penutupnya;” …. Api Sumbu penyangga alam semesta.

Juga bisa dibaca pada pusi berjenis narasi yang lebih panjang berjudul “Mesatya”
Mesatya
Tiga ribu langkah kaki kuda aku menapak Orang-orang sudah penuh sesak
Ada juga abdi yang sudah di sini di hari ke tujuh sebelum pengabenan Menghaturkan beras, kopi, tembakau, janur, kelapa, pisang,
Manggis, Durian, Rambutan, Duku, Langsat, Salak, Binjai, Nanas, Alpukat, Jambu Biji, Jambu Mawar, Jamblang, Kecapi, Kedondong, Kepundung, Mangga, Gowok, Buni, talas, ketela, jagung, seisi kebun Penuhi jineng-jineng di ujung Barat Daya bencingah Kerajaan
Saksikan pelaksanaan pesucian atau upacara ngeringkes, ngelelet, Pangeringkesan, Singaskara, mapegat terkhusus keluarga, mapag toya, persiapan Bade dan lembu, sehari sebelum pengabenan
Sambil menghayati alunan kidung-kidung Pitra Yadnya kidung ketenangan roh, lancarkan prosesi penyucian
Kidung Tantri persiapan dan penurunan jenazah
Kidung Wasenari, kidung Ranggalawe, apa yang bisa dilantunkan
Parasatya dipingit, kaki tak boleh menapak, hiburan disuguhkan, wejangan kerohanian diberikan, didampingi selalu pendeta perempuan sebelum hari penghakiman
Jempiring, kau takutkah akan kematianmu nantiJepun, tidak, karena ini awal keabadian hidupku, derajatku akan meninggi, martabat keluargaku dipertaruhkan di sini Jempiring, bukankah ini pamrih, bukankah ini konyol, aku tak ingin mati sia-sia, hidupku masih panjang
Jepun, pamrih, bukan, keiklasan menuju kesucian, ketenaran, kemasyuran, kewibawaan, sulit ditemukan, sekarang saatnya mengubah darah hitamku jadi biru langit, aku bisa naik Bade Tumpang Pitu, aku tak mau mayatku diusung dengan hanya bambu, ditutupi kasa saja Jempiring, aku tak mau ditikam punggawa, dan didorong ke api, pasti kesakitan, kepanasan, aku tak rela
Jepun, makanya ikuti saja prosesi ini, hidup atau mati, kita pasti ditikam, tidak kita tidak ditikam sebelum terbakar, bayangkan romantisnya, bukankah Dewi Madri, adik Salya Raja Madra membakar dirinya bersama jenazah Pandu, ayah Nakula-Sadewa, bukankah Sita membakar dirinya demi kesucian cintanya pada Rama bukan Alengka Rahwana Jempiring, tidak ini konyol, tidak ini diam, tidak ini jebakan, dari awal sudah terjebakJepun, tidak ini diam, tidak ini sunyi, menarilah buatlah Dewa Krisna senang, buatlah Dewa Siwa bahagia Jempiring, jangan bawa nama-nama dewaPendeta perempuan mendengar percakapan mata batin mereka, tapa kalian, tapa suara, yoga suara, yoga brata, yoga pengendalian diri, tak ada kata untuk diri sendiri, hanya kesucian, keikhlasan, kebenaran sejati
Perapian telah menyala mulai pagi tiba di hari Mesatya Redite Wage Wuku Landep Bade Tumpang Solas karya Pelebonan Nyawa Ngasti Wedana Bade menara pengusung jenazah Bangkiang tempat transisi jiwa, istana tingkatan roh sementara sampai peristirahatan terakhir Kemegahan, keseimbangan Karang Boma penyucian roh, penghancuran energi negatif Burung Garuda di atasnyaLembu wadah pembakaran Diusung, melingkar tiga kali saat sampai di Catus Pata persimpangan jalan, kuburan, haturkan Purwa daksina, gambelan Baleganjur, alunannya semakin energik, Gambang, Angklung, Selonding, Gender Wayang
Jepun, Raja Bulan mangkat jenazahnya telah diturunkan dari Bade Tumpang Solas, kita juga turun dari bade kita, katanya di sela-sela tarian Baris Memedi, Baris Dadap, Baris BidugJempiring, kita mau diarak ke mana, sesekali meraba pecahan tembikar di balik kain putihnya
Jepun, ketika burung perkutut yang nanti disematkan di atas kepala kita lepas, kita pasti tidak sadarkan diri, kita akan terjun ke tungku segi empat itu, setelah jenazah Raja Bulan dimasukkan ke lembu dan raga beliau habis dibakarJempiring, memejamkan mata, api tetap berkobar, Gender Wayang membuat terhanyut, kita akan naik di tangga bambu itu dan menunggu dalam rumah yang sudah disediakan di tengah tangga itu Jepun, betul, kita ganti dulu kain warna putih kuning ini jadi putih-putih, biarkan pendeta perempuan itu memakaikan selendang ikat putih di dahi, biarkan perkutut menuntun Masing-masing burung perkutut digenggam atas kepala terlepas, raga pun lemas. Suara gedebug nyaring bergantian terdengar, api pembakaran membiru, bau kulit terbakar, retakan kering mendesing ringan di udara
Hancurkan pilar kekuasaannya, pasukan caping anyaman daun kelapa siapkan laras panjang ketegasan, Mesatya sudah tak layak, sepatu kekuasaan baru harus ditegakkan, kuasa akan bertumpu kepadaku, akhiri peradaban cacing tanah api yang tak pernah mau menyerah
Esensi dari puisi ini terletak pada bait terakhirnya;”…..Hancurkan pilar kekuasaannya, pasukan caping anyaman dauh kelapa siapkan laras panjang ketegasan, Mesatya sudah tak layak, sepatu kekuasaan baru harus ditegakkan, kuasa akan bertumpu kepadaku, akhiri peradaban cacing tanah api yang tak pernah mau menyerah. “
Selain puisi berjudul “Api” yang saya kutip di atas, Mahindu juga menuliskan puisi lain yang baris-barisnya juga hanya terdiri dari satu kata, seperti terlihat pada puisi berjudul “Air, “Udara” dan “Tanah”.
Saya sangat menghargai usaha pengarang untuk memperpanjang kata, kalimat dalam bait-baitnya untuk berbagi isi sajak agar bisa dipahami lebih dalam bagi lebih banyak orang dan kalangan.

Untuk kepentingan yang lebih luas, sebagai penyair, sebagai mahasiswa, sebagai guru, untuk pembaca, untuk kampus dan pembelajaran, Mahindu (penyair pendiam ini, nyaris seperti Umbu Landu Paranggi, sebagai batu bisu), semoga kumpulan puisi ini akhirnya mampu lebih bersuara panjang dan lantang, tanpa meninggalkan jati diri penyairnya sebagai perempuan dan kesejatiannya sebagai tembikar yang tegar untuk menjadi lebih berguna dan bermakna. [T]
- Kumpulan Puisi berjudul “Risalah Perempuan- Perempuan Tembikar” karya I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini disampaikan dalam Ujian Tugas Akhir Proyek Inovatif Karya Sastra Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.































