13 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Menunggu di Setia Darma 

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
in Tualang
Mereka Menunggu di Setia Darma 

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wisata menuntun langkah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan dua turis itu masih mengikuti.

“Ini tempatnya?” tanya si turis perempuan, berambut pirang dan bermata teduh. Sejak awal, ia lebih banyak diam, lebih banyak menyimak.

Sang pemandu, pria paruh baya dengan wajah ramah dan tenang, tersenyum kecil sambil mengangguk. “Ya. Ini namanya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma,” sahutnya pelan. “Tapi ini bukan sekadar museum. Tempat ini… hidup.”

Begitu mereka melewati gapura sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma”, suasana seketika berubah. Udara menjadi lebih sejuk. Aroma kayu tua dan tanah basah menyambut dari segala arah. Tak ada deru kendaraan. Tak ada musik. Hanya angin berdesir dan langkah kaki mereka yang pelan-pelan masuk ke pekarangan luas dan tenang.

Mereka berhenti di depan sebuah joglo besar. Sang pemandu melangkah masuk lebih dulu. Di dalamnya, ribuan mata menyambut dalam diam. Topeng-topeng menggantung di dinding, berdiri di panggung kecil, berjajar rapi di sudut-sudut ruangan. Wayang-wayang menunggu dalam kesunyian yang bukan kematian, melainkan jeda. Seolah menanti. Entah apa. Entah siapa. Tempat ini memang bukan sekadar rumah koleksi. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, adalah tempat masa lalu belum sepenuhnya berlalu. Di mana setiap benda seolah masih bernapas, menyimpan jiwa.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Rumah yang Bernapas

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma lahir dari cinta dan ketekunan Hadi Sunyoto bersama mendiang Agustinus Prayitno. Sejak 1996, mereka mengumpulkan topeng dan wayang dari pelosok Indonesia hingga berbagai belahan dunia. Pelan-pelan, koleksi itu tumbuh, dan akhirnya dibuka untuk umum pada 2006. “Saya mengumpulkan topeng dan wayang dari Indonesia dan dunia. Sekarang sudah ada 1.300 topeng dan 5.700 wayang,” kata Prayitno – pria kelahiran Kembangbahu, Jawa Timur, 23 Juli 1946 – dalam sebuah wawancara yang kini hanya bisa dikenang.

Bagi Prayitno, tempat ini bukan museum. Kata “museum” terdengar kaku, terlalu dingin. Ia lebih memilih kata “rumah”. Rumah adalah tempat di mana sesuatu masih terasa hidup.

“Banyak yang ingin menamainya museum, bahkan pejabat. Tapi saya mohon, biarkan ini tetap menjadi rumah. Karena di dalam rumah ada senyum. Di dalam rumah ada interaksi,” ujarnya, dikutip dari YouTube NetNews.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Kompleks ini terdiri atas sebelas bangunan. Tujuh di antaranya adalah joglo, rumah kayu tradisional yang hangat dan bersahaja, menjadi ruang pamer yang membawa kita berjalan ke masa lalu, menyusuri berbagai budaya dari dalam dan luar negeri. Di Joglo Plumpang, barong dari berbagai daerah menyambut dengan ekspresi penuh karakter. Di Joglo Boma, topeng-topeng Bali berjajar, dari dewa-dewi hingga raksasa, seolah masih ingin menari lagi.

Joglo Senori menjadi pertemuan budaya Nusantara: Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Sementara Joglo Keben menyimpan wayang dan gamelan Jawa. Di Joglo Bojonegoro, terdapat wayang golek dan boneka dari mancanegara. Paviliun Jepang menyuguhkan topeng-topeng khas Negeri Sakura. Dan di Joglo Blora, wajah-wajah dari Afrika hingga Eropa memandang dalam diam.

“Apakah semuanya pernah digunakan?” tanya si turis pria, bertubuh gempal dan berkacamata, dengan suara pelan.

Sang pemandu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Pernah,” sahutnya. “Ada yang pernah menari. Ada yang bercerita. Sekarang, mereka hanya menunggu.”

Ada satu joglo yang dibiarkan kosong. Namanya Joglo Tembakau. Tak ada penjelasan pasti. Mungkin memang belum waktunya ia bercerita. Atau, mungkin ia memang ditakdirkan tetap sunyi. Di salah satu sudut, berdiri amphitheater, ruang untuk pertunjukan, diskusi, dan perayaan budaya. Di sinilah rumah ini benar-benar bernapas. Bukan sekadar ruang pamer, tapi tempat berkumpul dan berbagi.

Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

Menunggu dalam Sunyi

Meskipun pintu-pintu joglo selalu terbuka, rumah ini tidak selalu ramai. Kadang hanya ada beberapa pelancong, keluarga kecil, atau rombongan pelajar. Sebagian besar datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan keheningan seperti semula.

“Kenapa tempat seperti ini tidak ramai, ya?” tanya si turis perempuan saat mereka duduk di bangku kayu depan Joglo Plumpang, memandang halaman hijau yang sejuk.

Sang pemandu tersenyum tipis. “Mungkin karena dia tidak berteriak. Tempat ini, hanya menunggu,” jawabnya.

Tak ada loket tiket, antrean, maupun mesin kasir. Rumah ini memberi tanpa menuntut. Tapi justru itu yang kadang terasa miris. Ribuan warisan budaya tersimpan di sini, tapi belum tentu masuk dalam kesadaran banyak orang.

Bukan karena tempat ini tidak menarik. Tapi mungkin karena kita terlalu sibuk mengejar yang baru, hingga lupa menengok cermin: siapa kita dan dari mana kita berasal. Di antara tempat-tempat wisata yang berlomba menawarkan atraksi dan sensasi, Setia Darma berdiri tenang. Tak memaksa. Tak membujuk. Ia hanya menawarkan ruang hening untuk merenung.

Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede

 

Topeng-topeng itu tidak meminta perhatian. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dikenang. Tapi hari-hari berlalu. Banyak yang lewat, sedikit yang betul-betul singgah.

Setiap topeng dan wayang di sini pernah “hidup”, “menari”, “bersuara”. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan kisah-kisah yang lebih panjang dari usia kita. Dan ketika sampai di sini, mereka tidak mati. Mereka hanya, menunggu. Menunggu pengunjung yang datang bukan hanya untuk memotret, tapi “melihat”. Menunggu mereka yang tak sekadar melintas, tapi benar-benar “mendengar”.

Waktu perlahan merayap menuju sore. Kedua turis itu duduk diam. Tak banyak bicara. Bahkan sang pemandu ikut larut dalam keheningan. Seolah semuanya sepakat: tempat ini lebih fasih berbicara lewat sunyi.

Sebelum melangkah pergi, si turis perempuan sempat menoleh lagi ke dalam. Lama. Seperti ingin mengingat setiap gurat wajah yang tergantung di sana. Lalu, perlahan, mereka pergi. Barangkali ada sesuatu dari tempat ini yang ikut mereka bawa pulang. Setia Darma kembali hening, tapi tak pernah benar-benar sepi. Karena mereka masih ada di sana. Menunggu. Sampai kisah mereka benar-benar selesai diceritakan.

Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).

Tags: Desa KemenuhGianyarMuseumRumah Topeng dan Wayang Setia Darmasukawatitopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Next Post

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails
Next Post
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co