26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Wahyu Thoyyib Pambayun by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
in Ulas Musik
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban ---Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Setiawan (Karanganyar) dan Wildan Kibi (Bandung), dengan Reizki Habibullah sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Joko S. Gombloh.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi berbagai gagasan yang bergerak di antara tradisi, eksperimentasi bunyi, hingga respons terhadap lanskap sosial kontemporer. BMB sejak lama menjadi ruang yang memperbolehkan karya berada dalam kondisi tak selesai.

Karya-karya yang hadir di dalamnya sering kali bergerak seperti percakapan terbuka: dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan kadang ditabrakkan dengan ekspektasi pendengarnya sendiri. Forum ini terasa penting karena memberi tempat bagi gagasan-gagasan untuk diuji langsung di hadapan audiens.

Kraket: Rekat yang tidak lekat

Karya Budi Setiawan dibuka melalui bunyi klunthung yang perlahan membangun atmosfer ruang. Sesudahnya, lapisan permainan gambang mulai masuk dengan karakter resonansi yang terbuka dan menggantung. Budi bergerak dari upaya mereinterpretasikan wiletan gender debyang-debyung gaya Martopangrawit ke dalam medium gambang. Perpindahan ini terasa seperti usaha membongkar ulang tubuh musikal karawitan itu sendiri. Gender yang identik dengan kompleksitas pithetan, ukelan dan gaung yang panjang dihadirkan ulang melalui instrumen gambang yang memiliki gaung pendek.

Eksperimen itu diperluas melalui penggunaan malet marimba yang menghasilkan warna bunyi yang berbeda, hingga penciptaan instrumen bernama klunthung yang terbuat dari baja ulir dengan resonator kaleng susu. Beberapa gambang dengan laras berbeda dimainkan secara bersamaan sehingga seleh menjadi kabur dan pusat gravitasi musikal terasa terus bergeser.

 Lapisan bunyi yang muncul terasa menggantung, seolah karya sengaja menjauh dari keinginan untuk segera menemukan titik selesai. Situasi itu membuat pendengar berada di wilayah ambang: antara mengenali jejak tradisi dan kehilangan pijakan terhadapnya. Karawitan tetap terasa hadir, tetapi arah musikalnya telah bergeser menuju kemungkinan bunyi yang lebih cair.

Memasuki bagian kedua, suasana musikal berubah cukup drastis. Bunyi krek-krek dari tarikan selotip mulai mendominasi. Gerakan menarik, menempel, dan melepaskan lakban membangun pola ritmis yang saling bersahutan seperti jalinan interlocking. Di bagian ini, tubuh para pemain menjadi pusat perhatian. Bunyi lahir dari tindakan-tindakan repetitif yang sederhana, tetapi mampu menghadirkan tegangan ritmis yang padat.

Karya Budi Setiawan | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Di titik ini, karya Budi terasa seperti upaya memperluas pengalaman dengar karawitan melalui material-material sehari-hari yang sebelumnya berada di luar wilayah musikal.

Bagian kedua ini justru menjadi salah satu momen paling menarik dalam karya Budi. Musikalitas bergerak dari wilayah nada menuju gesekan, tekanan, dan energi tubuh di ruang pertunjukan. Selotip tidak terasa sebagai properti tambahan, tetapi berubah menjadi sumber bunyi yang memiliki karakter ritmis dan teatrikal yang kuat.

Bagian kedua ini memiliki potensi untuk berdiri sebagai komposisi mandiri. Eksplorasi bunyi selotip, tubuh, dan pola repetitif yang muncul di dalamnya membuka kemungkinan dramaturgi musikal yang lebih luas. Dibanding bagian-bagian lain yang masih bergerak mencari titik sambung, bagian kedua justru menghadirkan identitas bunyi yang paling kuat.

Pada bagian ketiga, karya kembali bergerak menuju wilayah musikal gambang dan kelonthong. Namun, perpindahan antarbagian masih menyisakan jarak tertentu pada wilayah sambungrapet. Judul Kraket yang mengacu pada makna rekat atau kerapatan terasa menarik ketika dihubungkan dengan bunyi selotip sebagai simbol kerekatan.

Akan tetapi, pada wilayah garap, kerekatan itu belum sepenuhnya terbangun. Peralihan antarbagian masih menyisakan jeda yang cukup renggang sehingga tegangan musikal sesekali kehilangan kontinuitasnya.

Situasi ini membuat gagasan tentang “rekat” justru bergerak dalam paradoksnya sendiri. Bunyi berusaha mendekatkan berbagai lapisan material dan tubuh, tetapi hubungan antarbagian komposisi belum sepenuhnya melekat secara organik. Kraket menghadirkan semacam “rekat yang tidak lekat”; sebuah upaya menyatukan fragmen-fragmen bunyi yang masih memperlihatkan celah di antaranya.

BU 1926: Trial and Error

Wildan Kibi membangun karya dari lanskap sosial urban yang penuh tekanan. Karyanya, BU 1926, lahir dari pengalaman empiris mengenai ruang tunggu di lampu merah Kiaracondong, Bandung. Bagi Kibi, ruang tersebut ialah “persimpangan nasib” yang memperlihatkan berbagai persoalan sosial kota: kesenjangan, diskriminasi, hingga eksploitasi anak di ruang urban.

Karya ini disajikan melalui set panggung yang cukup kompleks. Empat pemain terlibat di dalamnya, dengan tiga pemain telah berada di atas panggung sejak awal pertunjukan. Satu pemain lain masuk perlahan dari luar ruang sambil membawa lembaran seng dan melafalkan kalimat pendek: “aku, tubuh, tabah.” Kehadiran seng yang dibawa masuk dari luar ruang langsung membangun atmosfer industrial sekaligus memberi kesan tekanan psikologis yang berat.

Karya Wildan Kibi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming BMB #111

Set panggung terdiri atas dua kotak transparan yang diisi oleh para pemusik dan disorot menggunakan LCD proyektor. Situasi visual ini membuat para pemain tampak seperti tubuh-tubuh yang dikurung di dalam ruang laboratorium bunyi. Persiapan teknis yang cukup rumit juga terasa sejak awal pertunjukan: tiga laptop, sistem audio reaktif, proyektor, suling Sunda, hingga kecapi modifikasi yang difungsikan seperti noise box improvisatif bekerja dalam satu sistem pertunjukan yang padat.

Berangkat dari gagasan Music in the Expanded Field milik Marco Ciciliani, Kibi memperluas batas musik melalui pertemuan bunyi, tubuh, dan instalasi visual. Noise, distorsi mekanis, suara, angin, serta soundscape jalanan disusun menjadi tekanan psikologis yang menyayat ruang dengar. Penonton diajak masuk ke dalam situasi bunyi yang fluktuatif, keras, dan penuh gangguan.

Yang menarik, Kibi secara terang-terangan menyebut logika TikTok sebagai salah satu cara berpikir dramaturginya: bagaimana memancing perhatian dalam hitungan detik melalui distraksi dan kejutan bunyi. Pernyataan ini terasa penting karena memperlihatkan bagaimana musik kontemporer hari ini mulai bernegosiasi dengan ritme perhatian digital. Struktur karya dibangun melalui ledakan-ledakan kecil yang terus menginterupsi fokus tubuh pendengar.

Keheningan, bunyi tajam, dan ledakan noise bekerja seperti gangguan yang sengaja dirancang untuk menjaga perhatian audiens tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, mendengar menjadi aktivitas tubuh yang melelahkan sekaligus menegangkan. Pendengar dipaksa terus siaga terhadap perubahan intensitas bunyi yang datang tiba-tiba.

Secara musikal, karya Kibi bergerak melalui lapisan noise, distorsi mekanis, suara angin, dan soundscape urban yang saling bertabrakan. Suling Sunda dan kecapi modifikasi sesekali muncul sebagai serpihan melodis di tengah tekanan bunyi elektronik yang kasar. Pada beberapa bagian bahkan terdengar lantunan vokal bernuansa Sunda yang melintas singkat di sela-sela ledakan bunyi.

Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa motif-motif musikal Sunda masih terus dihadirkan di tengah lanskap urban dan industrial yang dibangun karya ini? Kehadiran suling, kecapi, dan lantunan Sunda memang memberi identitas kultural tertentu, tetapi hubungan dramaturgisnya dengan gagasan “persimpangan nasib” urban belum sepenuhnya terasa kuat.

Motif-motif tersebut sesekali muncul seperti fragmen identitas yang belum benar-benar melebur dengan dunia noise dan tekanan visual yang dibangun karya. Alih-alih memperkuat tegangan antara tradisi dan urbanitas, beberapa bagian justru menghadirkan kesan bahwa unsur Sunda masih hadir sebagai penanda identitas yang berdiri sendiri. Padahal, apabila dieksplorasi lebih jauh, benturan antara sensibilitas musikal Sunda dan atmosfer industrial urban ini sebenarnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat.

Di tengah intensitas penyajian tersebut, muncul pula persoalan teknis pada wilayah visual. Salah satu perangkat lunak yang seharusnya mengolah respons audio reaktif mengalami kendala dan tidak dapat berjalan saat pementasan berlangsung. Wildan Kibi pun mengonfirmasi bahwa sistem visual yang dirancang untuk merespons dinamika bunyi memang mengalami error teknis di tengah pertunjukan.

Situasi ini membuat visualisasi raut wajah urban yang semestinya berubah mengikuti tekanan bunyi tidak bekerja sepenuhnya sesuai rancangan awal. Akibatnya, hubungan antara lapisan bunyi dan respons visual sesekali terasa terputus sehingga ketegangan dramaturgi yang dibangun melalui media audio-visual belum mencapai intensitas maksimalnya.

Meski demikian, kegagalan teknis tersebut justru menghadirkan kesan laboratorium eksperimental yang cukup kuat. Fluktuasi, ketidaksiapan, dan kemungkinan gagal terasa sejalan dengan semangat karya BU 1926 yang memang bergerak di wilayah ketidakstabilan. Dalam konteks itu, error teknis tidak sepenuhnya melemahkan karya, tetapi memperlihatkan rapuhnya hubungan antara tubuh, teknologi, dan sistem bunyi yang sedang diuji secara langsung di ruang pertunjukan.

Lontaran Pikiran

Reizki Habibullah memantik pertanyaan mengenai kesadaran dan otoritas komponis dalam karyanya. Pertanyaan itu menarik karena kedua komposer menunjukkan cara yang berbeda dalam memosisikan diri terhadap karya mereka sendiri. Budi membuka ruang negosiasi dengan pemain melalui proses workshop yang kolektif, sementara Kibi membangun dramaturgi yang lebih intensional.

Meski bergerak melalui pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa musik hari ini semakin dekat dengan pengalaman peristiwa. Tubuh pemain, material, ruang, dan respons audiens ikut membentuk cara bunyi bekerja. Komposisi tidak lagi terasa sebagai bentuk tertutup yang selesai sebelum dipertunjukkan, tetapi terus berubah ketika dimainkan dan didengar.

Sesi Diskusi | Gambar: Tangkapan Layar Streaming Youtube BMB #111

Catatan penting malam itu datang dari Halim HD. Ia menegaskan bahwa ruang seperti BMB penting untuk menampung “lontaran pikiran, betapapun ngawurnya.” Pernyataan itu terasa seperti penanda tentang posisi BMB hari ini. Forum ini tampaknya memang tidak sedang mencari kesempurnaan bentuk. Yang dirawat justru kemungkinan: bunyi yang tak selesai, metode yang masih rapuh, dan gagasan yang terus dilempar ke hadapan tubuh-tubuh yang mendengarnya. [T]

Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole

Tags: musikSurakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kota Tua Tak Pernah Mati

Next Post

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Wahyu Thoyyib Pambayun

Wahyu Thoyyib Pambayun

Komponis dan Pengajar Gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co