FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Setiawan (Karanganyar) dan Wildan Kibi (Bandung), dengan Reizki Habibullah sebagai pembicara, serta dimoderatori oleh Joko S. Gombloh.
Pertemuan ini menjadi ruang bagi berbagai gagasan yang bergerak di antara tradisi, eksperimentasi bunyi, hingga respons terhadap lanskap sosial kontemporer. BMB sejak lama menjadi ruang yang memperbolehkan karya berada dalam kondisi tak selesai.
Karya-karya yang hadir di dalamnya sering kali bergerak seperti percakapan terbuka: dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan kadang ditabrakkan dengan ekspektasi pendengarnya sendiri. Forum ini terasa penting karena memberi tempat bagi gagasan-gagasan untuk diuji langsung di hadapan audiens.
Kraket: Rekat yang tidak lekat
Karya Budi Setiawan dibuka melalui bunyi klunthung yang perlahan membangun atmosfer ruang. Sesudahnya, lapisan permainan gambang mulai masuk dengan karakter resonansi yang terbuka dan menggantung. Budi bergerak dari upaya mereinterpretasikan wiletan gender debyang-debyung gaya Martopangrawit ke dalam medium gambang. Perpindahan ini terasa seperti usaha membongkar ulang tubuh musikal karawitan itu sendiri. Gender yang identik dengan kompleksitas pithetan, ukelan dan gaung yang panjang dihadirkan ulang melalui instrumen gambang yang memiliki gaung pendek.
Eksperimen itu diperluas melalui penggunaan malet marimba yang menghasilkan warna bunyi yang berbeda, hingga penciptaan instrumen bernama klunthung yang terbuat dari baja ulir dengan resonator kaleng susu. Beberapa gambang dengan laras berbeda dimainkan secara bersamaan sehingga seleh menjadi kabur dan pusat gravitasi musikal terasa terus bergeser.
Lapisan bunyi yang muncul terasa menggantung, seolah karya sengaja menjauh dari keinginan untuk segera menemukan titik selesai. Situasi itu membuat pendengar berada di wilayah ambang: antara mengenali jejak tradisi dan kehilangan pijakan terhadapnya. Karawitan tetap terasa hadir, tetapi arah musikalnya telah bergeser menuju kemungkinan bunyi yang lebih cair.
Memasuki bagian kedua, suasana musikal berubah cukup drastis. Bunyi krek-krek dari tarikan selotip mulai mendominasi. Gerakan menarik, menempel, dan melepaskan lakban membangun pola ritmis yang saling bersahutan seperti jalinan interlocking. Di bagian ini, tubuh para pemain menjadi pusat perhatian. Bunyi lahir dari tindakan-tindakan repetitif yang sederhana, tetapi mampu menghadirkan tegangan ritmis yang padat.

Di titik ini, karya Budi terasa seperti upaya memperluas pengalaman dengar karawitan melalui material-material sehari-hari yang sebelumnya berada di luar wilayah musikal.
Bagian kedua ini justru menjadi salah satu momen paling menarik dalam karya Budi. Musikalitas bergerak dari wilayah nada menuju gesekan, tekanan, dan energi tubuh di ruang pertunjukan. Selotip tidak terasa sebagai properti tambahan, tetapi berubah menjadi sumber bunyi yang memiliki karakter ritmis dan teatrikal yang kuat.
Bagian kedua ini memiliki potensi untuk berdiri sebagai komposisi mandiri. Eksplorasi bunyi selotip, tubuh, dan pola repetitif yang muncul di dalamnya membuka kemungkinan dramaturgi musikal yang lebih luas. Dibanding bagian-bagian lain yang masih bergerak mencari titik sambung, bagian kedua justru menghadirkan identitas bunyi yang paling kuat.
Pada bagian ketiga, karya kembali bergerak menuju wilayah musikal gambang dan kelonthong. Namun, perpindahan antarbagian masih menyisakan jarak tertentu pada wilayah sambungrapet. Judul Kraket yang mengacu pada makna rekat atau kerapatan terasa menarik ketika dihubungkan dengan bunyi selotip sebagai simbol kerekatan.
Akan tetapi, pada wilayah garap, kerekatan itu belum sepenuhnya terbangun. Peralihan antarbagian masih menyisakan jeda yang cukup renggang sehingga tegangan musikal sesekali kehilangan kontinuitasnya.
Situasi ini membuat gagasan tentang “rekat” justru bergerak dalam paradoksnya sendiri. Bunyi berusaha mendekatkan berbagai lapisan material dan tubuh, tetapi hubungan antarbagian komposisi belum sepenuhnya melekat secara organik. Kraket menghadirkan semacam “rekat yang tidak lekat”; sebuah upaya menyatukan fragmen-fragmen bunyi yang masih memperlihatkan celah di antaranya.
BU 1926: Trial and Error
Wildan Kibi membangun karya dari lanskap sosial urban yang penuh tekanan. Karyanya, BU 1926, lahir dari pengalaman empiris mengenai ruang tunggu di lampu merah Kiaracondong, Bandung. Bagi Kibi, ruang tersebut ialah “persimpangan nasib” yang memperlihatkan berbagai persoalan sosial kota: kesenjangan, diskriminasi, hingga eksploitasi anak di ruang urban.
Karya ini disajikan melalui set panggung yang cukup kompleks. Empat pemain terlibat di dalamnya, dengan tiga pemain telah berada di atas panggung sejak awal pertunjukan. Satu pemain lain masuk perlahan dari luar ruang sambil membawa lembaran seng dan melafalkan kalimat pendek: “aku, tubuh, tabah.” Kehadiran seng yang dibawa masuk dari luar ruang langsung membangun atmosfer industrial sekaligus memberi kesan tekanan psikologis yang berat.

Set panggung terdiri atas dua kotak transparan yang diisi oleh para pemusik dan disorot menggunakan LCD proyektor. Situasi visual ini membuat para pemain tampak seperti tubuh-tubuh yang dikurung di dalam ruang laboratorium bunyi. Persiapan teknis yang cukup rumit juga terasa sejak awal pertunjukan: tiga laptop, sistem audio reaktif, proyektor, suling Sunda, hingga kecapi modifikasi yang difungsikan seperti noise box improvisatif bekerja dalam satu sistem pertunjukan yang padat.
Berangkat dari gagasan Music in the Expanded Field milik Marco Ciciliani, Kibi memperluas batas musik melalui pertemuan bunyi, tubuh, dan instalasi visual. Noise, distorsi mekanis, suara, angin, serta soundscape jalanan disusun menjadi tekanan psikologis yang menyayat ruang dengar. Penonton diajak masuk ke dalam situasi bunyi yang fluktuatif, keras, dan penuh gangguan.
Yang menarik, Kibi secara terang-terangan menyebut logika TikTok sebagai salah satu cara berpikir dramaturginya: bagaimana memancing perhatian dalam hitungan detik melalui distraksi dan kejutan bunyi. Pernyataan ini terasa penting karena memperlihatkan bagaimana musik kontemporer hari ini mulai bernegosiasi dengan ritme perhatian digital. Struktur karya dibangun melalui ledakan-ledakan kecil yang terus menginterupsi fokus tubuh pendengar.
Keheningan, bunyi tajam, dan ledakan noise bekerja seperti gangguan yang sengaja dirancang untuk menjaga perhatian audiens tetap terjaga. Dalam situasi seperti ini, mendengar menjadi aktivitas tubuh yang melelahkan sekaligus menegangkan. Pendengar dipaksa terus siaga terhadap perubahan intensitas bunyi yang datang tiba-tiba.
Secara musikal, karya Kibi bergerak melalui lapisan noise, distorsi mekanis, suara angin, dan soundscape urban yang saling bertabrakan. Suling Sunda dan kecapi modifikasi sesekali muncul sebagai serpihan melodis di tengah tekanan bunyi elektronik yang kasar. Pada beberapa bagian bahkan terdengar lantunan vokal bernuansa Sunda yang melintas singkat di sela-sela ledakan bunyi.
Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa motif-motif musikal Sunda masih terus dihadirkan di tengah lanskap urban dan industrial yang dibangun karya ini? Kehadiran suling, kecapi, dan lantunan Sunda memang memberi identitas kultural tertentu, tetapi hubungan dramaturgisnya dengan gagasan “persimpangan nasib” urban belum sepenuhnya terasa kuat.
Motif-motif tersebut sesekali muncul seperti fragmen identitas yang belum benar-benar melebur dengan dunia noise dan tekanan visual yang dibangun karya. Alih-alih memperkuat tegangan antara tradisi dan urbanitas, beberapa bagian justru menghadirkan kesan bahwa unsur Sunda masih hadir sebagai penanda identitas yang berdiri sendiri. Padahal, apabila dieksplorasi lebih jauh, benturan antara sensibilitas musikal Sunda dan atmosfer industrial urban ini sebenarnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat.
Di tengah intensitas penyajian tersebut, muncul pula persoalan teknis pada wilayah visual. Salah satu perangkat lunak yang seharusnya mengolah respons audio reaktif mengalami kendala dan tidak dapat berjalan saat pementasan berlangsung. Wildan Kibi pun mengonfirmasi bahwa sistem visual yang dirancang untuk merespons dinamika bunyi memang mengalami error teknis di tengah pertunjukan.
Situasi ini membuat visualisasi raut wajah urban yang semestinya berubah mengikuti tekanan bunyi tidak bekerja sepenuhnya sesuai rancangan awal. Akibatnya, hubungan antara lapisan bunyi dan respons visual sesekali terasa terputus sehingga ketegangan dramaturgi yang dibangun melalui media audio-visual belum mencapai intensitas maksimalnya.
Meski demikian, kegagalan teknis tersebut justru menghadirkan kesan laboratorium eksperimental yang cukup kuat. Fluktuasi, ketidaksiapan, dan kemungkinan gagal terasa sejalan dengan semangat karya BU 1926 yang memang bergerak di wilayah ketidakstabilan. Dalam konteks itu, error teknis tidak sepenuhnya melemahkan karya, tetapi memperlihatkan rapuhnya hubungan antara tubuh, teknologi, dan sistem bunyi yang sedang diuji secara langsung di ruang pertunjukan.
Lontaran Pikiran
Reizki Habibullah memantik pertanyaan mengenai kesadaran dan otoritas komponis dalam karyanya. Pertanyaan itu menarik karena kedua komposer menunjukkan cara yang berbeda dalam memosisikan diri terhadap karya mereka sendiri. Budi membuka ruang negosiasi dengan pemain melalui proses workshop yang kolektif, sementara Kibi membangun dramaturgi yang lebih intensional.
Meski bergerak melalui pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa musik hari ini semakin dekat dengan pengalaman peristiwa. Tubuh pemain, material, ruang, dan respons audiens ikut membentuk cara bunyi bekerja. Komposisi tidak lagi terasa sebagai bentuk tertutup yang selesai sebelum dipertunjukkan, tetapi terus berubah ketika dimainkan dan didengar.

Catatan penting malam itu datang dari Halim HD. Ia menegaskan bahwa ruang seperti BMB penting untuk menampung “lontaran pikiran, betapapun ngawurnya.” Pernyataan itu terasa seperti penanda tentang posisi BMB hari ini. Forum ini tampaknya memang tidak sedang mencari kesempurnaan bentuk. Yang dirawat justru kemungkinan: bunyi yang tak selesai, metode yang masih rapuh, dan gagasan yang terus dilempar ke hadapan tubuh-tubuh yang mendengarnya. [T]
Penulis: Wahyu Thoyyib Pambayun
Editor: Adnyana Ole





























