11 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Stebby Julionatan by Stebby Julionatan
April 19, 2026
in Esai
Ruang Ketiga Peta Sastra Kebangsaan

Foto by Canva

Apa yang bisa dilakukan sastra?

Sebagai seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia setiap tahun pertanyaan tersebut selalu mengganggu benak saya. Mengapa sastra perlu saya ajarkan? Apakah sastra bisa menyelamatkan dunia? Apakah Sumatra bisa terbebas dari bahaya banjir karena sastra? Bagaimana sastra merespon kebencanaan? Atau… pertanyaan yang paling sederhana, apakah murid-murid saya (nantinya) bisa makan dari bersastra?

Ya, jika boleh sedikit kilas balik, dari yang sebelumnya sebagai bekerja sebagai staf Informasi Diskominfo Kota Probolinggo, saya mulai mengajar sebagai guru bahasa Indonesia SMA Asisi Jakarta pada bulan Agustus 2022. Pada tahun ajaran 2022/2023 tersebut saya mengajar di kelas 11. Saat itu kurikulum yang Asisi gunakan pada kelas 11 adalah Kurikulum 2013. Itulah tahun pertama saya (tentunya dibantu oleh Mbak Ayu Utami) memperkenalkan Peta Sastra Kebangsaan* kepada para murid saya. Pengalaman mengajarkan sastra dengan metode Peta Sastra tersebut telah saya tuangkan ke dalam tulisan berjudul Membaca Peta Sastra: Menghentikan Kekerasan oleh Anak (2024).

Selanjutnya, pada tahun ajaran 2023/2024 saya sempat berhenti. Pada tahun 2024 itulah Mbak Ayu menggelar Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan untuk Guru. Saya, Mbak Debra Yatim dan Bu Sri Astuti turut dilibatkan Mbak Ayu sebagai falilitator kegiatan tersebut untuk mendampingi 12 perwakilan guru Bahasa dan Sastra dari seluruh Indonesia.

Setelah setahun vakum mengajar di SMA, tahun ajaran berikutnya, 2024/2025 saya kembali diminta mengajar (tentunya masih Bahasa dan Sastra Indonesia) di Asisi dengan kurikulum yang sudah berbeda. Saat itu kurikulum yang dipakai sudah berganti menjadi Kurikulum Merdeka.

Pada tahun ajaran 2024/2025 tersebut saya masih mengajar kelas 11 tapi dengan jenis kelas yang berbeda. Saya mengampu Kelas Bahasa Indonesia Lanjutan, sedangkan Kelas Bahasa Indonesia Wajib diampu oleh kolega saya, Bu Tiara. Untuk yang masih asing dengan istilah Kelas Bahasa Indonesia Lanjutan, secara gampang kelas ini adalah kelas peminatan. Fokusnya yakni pada pendalaman teori, analisis kritis, dan praktik kreatif, misalnya analisis teks sastra, yang diharapkan lebih tinggi ketimbang kelas wajib.

Karena kata “Lanjutan” inilah maka CP-nya (baca: capaian pembelajaran) kebanyakan adalah memahami wacana-wacana sastra, termasuk teks-teks sastra yang arkais seperti pantun, syair, dan gurindam, hikayat. Maka, pikir saya ini adalah wahana yang bagus untuk menguji sekaligus mensubstitusi Peta Sastra Kebangsaan sebagai metode pembelajaran.

Di titik inilah saya merasa kelas tersebut, Bahasa Indonesia Lanjutan, merupakan ruang tepat untuk Kembali menguji sekaligus mempraktikkan Peta Sastra Kebangsaan sebagai metode belajar. Mengapa? Jika sebelumnya saya berpikir fungsi sastra dalam kerangka klasik sebagai dulce et utile, maka dengan semakin kompleksnya permasalahan bangsa yang tengah kita hadapi bersama, khususnya bencana banjir bandang Sumatra yang terjadi di awal Desember 2025, tentunya hal tersebut memantik keresahan saya…

Ya, bisakah sastra menyelesaikan masalah banjir tersebut?

Namanya Yessy Natalia

Namanya Yessy Natalia. Bukan karena peristiwa banjir di atas yang berdekatan dengan peristiwa Natal maka saya memakai nama lengkap Mbak Yessy sebagai judul di bagian awal subbab. Melainkan, karena perjumpaan dan kesediaannya untuk terlibat dalam kegiatan yang saya selenggarakan di sekolah-lah, yang menurut saya, nantinya membuka “ruang ketiga” –hal yang menjadi pembahasan dalam artikel ini.

Dalam praktik mengajarkan Peta Sastra, meski Mbak Ayu biasanya akan selalu menyarankan bahwa sebaiknya murid-murid diajak membaca bersama atau bermain peran. Mengaggap kurang seberapa signifikan kehadiran mentor-mentor lain untuk berpartisipasi di dalam kelas.  Namun saya merasa, sayalah yang lebih memamahi bagaimana karakter dan kebutuhan murid-murid saya. Tak seperti sekolah lain yang cukup aktif, saya merasa, murid-murid di kelas 11 Bahasa Indonesia Lanjutan saya tergolong murid yang kurang inisiatif. Mereka masih sangat sangat sangat perlu dan memerlukan dorongan untuk aktif dan terlibat. Karena itu, dalam kegiatan Peta Sastra Kebangsaan yang berlangsung di tahun tersebut, saya sengaja menghadirkan para penulis atau sastrawan lain sebagai bagian dari proses pembelajaran. Selain keterlibatan Mbak Yessy untuk kata kunci Identitas, di tahun itu saya mengajak serta Kak Nataya Bagya untuk kata kunci “Merdeka” dan Ayu Alfiah Jonas –yang akrab disapa Jojo, untuk membawakan kata kunci Perang Dingin.

Setidaknya, melalui kehadiran mereka, teman-teman saya itu, saya ingin menunjukkan pada murid-murid saya bahwa, kamu tak perlu (atau ketakutan) jadi sastrawan kok untuk suka dan mencintai Bahasa dan Sastra Indonesia.

Kembali ke Yessy Natalia, Mbak Yessy adalah Perempuan kelahiran Malang yang saat ini menetap di Jakarta. Meski hobi menulis, khususnya naskah panggung, rupanya sehari-hari ia berprofesi sebagai arsitek. Mbak Yessy sudah aktif di komunitas seni sejak 2007, dengan bergabung di D’ArtBeat. Dan puncaknya, sebagai sastrawan, pada 2022 ia memenangkan salah satu penghargaan penulisan naskah lakon yang paling bergengsi di negeri ini, yakni Rawayan Award untuk naskahnya “Tuhan, Tolong Bunuh Emak”.

Pada titik itulah saya meminjam dua gagasan yang saling beririsan, yakni konsep third space dari Homi K. Bhabha dan Ray Oldenburg. Bhabha, seorang pengkaji poskolonial asal India, memperkenalkan third space sebagai ruang hibrida; tempat identitas, pengalaman, dan makna dinegosiasikan di luar struktur yang kaku. Sementara itu, Oldenburg, sosiolog asal Amerika Serikat, menekankan pentingnya third place sebagai ruang sosial informal di luar rumah dan institusi formal, seperti kafe atau ruang pertemuan komunitas. Sebagaimana Peta Sastra adalah “ruang ketiga” untuk pembelajaran Bahasa dan Sastra di sekolah, atau café dan ruang-ruang diskusi informal adalah “ruang ketiga” agar kami tidak selalu belajar di ruang kelas yang rigid, maka… kehadiran Mbak Yessy, Kak Nataya dan Jojo tersebut adalah ruang ketiga bagi murid-murid saya agar mereka tidak selalu bertemu saya, gurunya yang monoton.

Kehadiran Mbak Yessy, misalnya, saat ia mengajak murid menulis tentang “siapa saya” dan menulis atau menampilkannya dalam bentuk visual sederhana di selembar kertas, dalam sesi tersebut saya menemukan hal-hal yang tak terduga. Dhimas dan Desfanya, keduanya nama murid saya di kelas lanjutan tersebut, ternyata adalah pembaca novel dan bahkan bisa menyebut nama karakter dan penulis favorit mereka.

Saya tertegun. Rupanya, selama ini, minat tersebut tidak pernah tampak di kelas saya!

Di minggu berikutnya giliran Kak Nataya yang masuk ke kelas. Rupanya, butuh kehadiran seorang Nataya Bagya agar para murid saya bisa berteriak “Merdeka!” dan mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini sudah menggumpal (dan bahkan mungkin berkarat) di benak mereka.

Beberapa minggu kemudian, untuk membahas kata kunci “Perang Dingin”, Jojo hadir dengan bahasan seputar budaya populer. Ia membuka sesi dengan pertanyaan sederhana, “Di sini ada yang K-Popers?” Seketika kelas menjadi riuh. Fio dan beberapa murid Perempuan yang duduk di pojok kanan belakang ternyata penggemar berat K-pop. Mereka menyebut grup favorit, membicarakan koreografi, bahkan mengutip lirik yang bermakna bagi mereka.

Di momen-momen seperti inilah saya semakin menyadari pentingnya ruang liminal tersebut. Bahwa pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari apa yang kita anggap penting sebagai guru, melainkan dari apa yang hidup dan dekat dalam keseharian murid. Ruang yang membuat murid-murid saya tak merasa sedang “dinilai” tetapi mereka didengar.

Namanya Melvin Christopher

Namanya Melvin. Lengkapnya, Melvin Christopher Sutandi. Ia adalah salah satu musisi berbakat yang (masih) dimiliki sekolah kami. Saya tulis kami karena saat ini Melvin sudah kelas XII dan dalam hitungan bulan dapat kupastikan ia akan lulus meninggalkan Asisi. Namun, kembali ke topik, dalam keseharian, di dalam kelas bahasa yang saya ampu, Melvin justru lebih sering menjadi penolong saya menghadapi kegagapan teknologi.

Kabel mana yang harus saya kaitkan agar tampilan dari laptop bisa berpindah ke screen, tombol mana yang perlu saya klik agar tayangan di screen ada suaranya, serta knop mana yang harus saya naikkan agar cahayanya lebih terang adalah hal-hal yang mudah bagi anak muda di generasinya tapi “keteteran” bagi sebagian besar orang di generasiku.

Selain itu, Melvin jugalah yang menemukan kata ajaib di kelas soal kata kunci apa pada Peta Sastra Kebangsaan yang dapat dipakai di generasinya. “Instan”, kata itulah yang Melvin tambahkan. Saya sempat tercekat. Ya, bagi saya yang memiliki keberpihakan pada Gen X atau Gen Alpha, semula saya tidak rela jika Kevin turut melabeli dirinya sendiri dengan kata “instan.”. Maka, kemudian saya pun bertanya mengapa ia memilih kata tersebut.

Ia pun menjawab bahwa sebagai musisi dirinya tahu betul bahwa musik membutuhkan proses. “Nada tak lahir tiba-tiba. Ia memerlukan pencarian, latihan yang panjang dan juga kontemplasi. Namun jujur aku kadang juga tergoda memakai AI. Agar cepat. Dan juga untuk main-main,” jawabnyua.

Dor! Apa yang Melvin rasakan di musik adalah apa yang kulihat di sastra dan bagaimana prosesku sendiri akhir-akhir ini. Aku pun kerap tergoda dengan kecepatan dan hasil yang instan. Di samping itu, aku pun aku pun lantas menyadari bahwa kata “instan” yang seringkali generasiku asosiasikan dengan sesuatu yang dangkal dan tergesa-gesa, tiba-tiba di saat itu, hadir sebagai katergori pengalaman generasional yang nyata. Instan bukan hanya sekadar soal kecepatan tetapi cara mengada di dunia dewasa ini.

Pada titik tersebut, lewat bantuan Melvin, saya mulai melihat bahwa “instan” bukan hanya karakter murid, melainkan juga bagian dari ekosistem yang membentuk mereka. Generasi yang sering disebut sebagai Generasi Alpha —yang lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam lanskap digital— mengalami dunia sebagai sesuatu yang serba segera. Informasi hadir dalam hitungan detik, respons diharapkan seketika, dan ekspresi diri berlangsung dalam format yang ringkas, visual, dan terfragmentasi.

Dalam praktiknya, saya menemukan bahwa murid-murid saya tetap mampu merasakan, merefleksikan, bahkan mengartikulasikan pengalaman secara mendalam—meski dalam bentuk yang berbeda. Mereka mungkin tidak menulis esai panjang, tetapi mampu merangkum pengalaman dalam satu baris yang mengguncang. Mereka mungkin tidak membaca teks klasik berlembar-lembar, tetapi mampu menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari secara intuitif.

Di sinilah saya mulai melihat kemungkinan lain: bahwa “instan” tidak selalu harus diposisikan sebagai lawan dari “mendalam”, melainkan sebagai bentuk lain dari ekspresi zaman.

Sebagaimana dikemukakan oleh Hartmut Rosa melalui konsep social acceleration, modernitas ditandai oleh percepatan dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Teknologi, komunikasi hingga ritme pengalaman manusia. Dalam kondisi seperti yang saya sebut di atas, “instan” bukan sekadar pilihan, melainkan konsekuensi struktural.

Jika pada perjumpaan dengan Mbak Yessy, Kak Nataya, dan Jojo saya melihat bagaimana “ruang ketiga” bekerja melalui kehadiran orang lain di dalam kelas, maka bersama Melvin saya menemukan bentuk lain dari ruang tersebut: ruang yang lahir dari tegangan zaman. Dalam relasi yang terbalik itu, saya kembali melihat bagaimana ruang belajar tidak pernah benar-benar tunggal. Saya belajar dari Melvin.

Namanya Kardinal Suharyo

Dalam perayaan Natal 2025, Kardinal Suharyo mengutip ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus. Untuk yang belum akrab, ensiklik adalah sebuah dokumen iman peting dalam tradisi Katolik yang berisikan ajaran moral atau disiplin gereja. Khusus Laudato Si’, ensiklik tersebut memberikan kritik tajam terhadap konsumerisme dan krisis ekologis global, yakni pembangunan yang tidak terkendali, yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan serta memperparah pemanasan global.

Dalam kutipannya, Kardinal Suharyo menyampaikan:

“Dunia ini adalah rumah bersama. Kerusakan yang dilakukan oleh kelompok kuat dan kaya, sering justru ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin. Kalau di suatu negara yang kuat, yang kaya merusak hutan, korbannya siapa? Korbannya saudara-saudara kita yang tidak punya kuasa apa pun untuk mencegahnya.”

Kutipan tersebut mungkin memang berhenti sebagai pernyataan moral, tetapi bagi saya, ia justru muncul dan menyeruak untuk menggugah kegelisahan yang tidak sederhana. Maka pertanyaan sebagaimana yang saya tulis di ataslah yang muncul: Bisakah sastra bergerak sejauh itu? Dalam konteks pembelajaran, pertanyaanya lantas bertansformasi menjadi: Apa yang sebenarnya bisa dilakukan murid-murid saya untuk merasakan dan mengolah persoalan moral sedalah itu?

Saya terhenyak. Dunia di sekitar saya mendadak hening. Saya tak lagi mendengar lagu-lagu Natal yang tengah didaraskan. Pikiran saya sepertinya tengah berusaha menjangkau sebuah simpulan sederhana, yakni: “Mungkin saja, sastra memang tidak bekerja sebagai solusi teknis. Ia tidak menghentikan banjir sebagaimana bendungan, atau mengatur distribusi sumber daya sebagaimana kebijakan publik. Sastra tidak “menyelamatkan dunia” dalam pengertian praktis. Namun…

Di situlah kekuatannya.

“… sastra sejatinya bekerja sebagai ruang penginderaan moral. Sebuah medium yang memungkinkan manusia merasakan, membayangkan, dan memahami dunia secara lebih mendadalam. Sastra, tidak pernah dan tak hendak memberikan jawaban final, melainkan memperluas dan memperdalam pertanyaan,”

“Sementara itu, dalam praktik pembelajaran, sastra rupanya bukan alat untuk menjelaskan dunia secara, tetapi perangkat yang membantu murid-murid saya  melihat dan menghadapi kompleksitas dunia.”

Kembali pada misa Natal, Ketika Kardinal Suharyo berbicara tentang “rumah bersama”, bagi saya ia tidak hanya menyampaikan pesan teologis, tetapi membuka sebuah horizon etis bahwa manusia hidup dalam keterhubungan, dan setiap tindakan memiliki konsekuensi yang melampaui dirinya. Di kelas sastra saya, gagasan tersebut tak perlu hadir sebagai doktrin. Ia hadir sebagaimana pengalaman baru yang perlu dirasakan tubuh, dinegosiasikan, bahkan dipertanyakan ulang oleh Melvin dan kawan-kawannya.

Di titik itulah konsep ruang ketiga tengah bekerja secara nyata.

Ya, Jika pada perjumpaan dengan Mbak Yessy, Kak Nataya, dan Jojo ruang ketiga hadir sebagai perjumpaan dengan “yang lain”, dan bersama Melvin ia muncul sebagai tegangan zaman, maka dalam refleksi atas gagasan Kardinal Suharyo, ruang ketiga menjelma sebagai ruang etis. Sebuah ruang di mana para murid saya mulai menempatkan dirinya di dalam dunia yang lebih luas. Dunia yang penuh relasi, konflik, dan tanggung jawab.

Dalam ruang tersebut, teks sastra, pengalaman personal, realitas sosial, dan wacana moral tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkelindan. Di titik-titik itulah pembelajaran bergerak melampaui transfer pengetahuan.

Sastra memang tidak bisa menghentikan banjir, tetapi tanpa sastra, kita mungkin tidak akan pernah benar-benar bertanya: “Siapa yang membuat air itu meluap? Dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?” [T]

Jakarta, 17 April 2024

Tags: Pendidikanpendidikan sastrasastraStebby Julionatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Rakyat Curang, Jangan-jangan Diajarkan oleh Negara dan Agama?

Next Post

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Stebby Julionatan

Stebby Julionatan

Tinggal di Probolinggo, Jawa Timur dan saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di Kajian Gender – Universitas Indonesia.

Related Posts

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails
Next Post
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Kata- kata pada Puisi 'Hatiku Selembar Daun' Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026
Panggung

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca
Esai

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

by Angga Wijaya
May 10, 2026
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi
Pameran

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co