6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Polanco S. Achri by Polanco S. Achri
April 11, 2026
in Cerpen
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan

I.

Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak bisa disentuh, tak bisa tersentuh. Jam berdering! Ibu sadar akan keadaan; dan melihat ke sebuah arah, lalu memanggil Zet. Zet terbangun dari semacam lamunan. Mereka pun berbincang—

Kamu harus jadi anak yang bisa melampaui Ibu, Nak; harus jadi orang sukses, ternama, dan dianggap oleh masyarakat semua.

Saya tak ingin melampaui siapa pun, Bu, jawab Zet tertunduk. Dan kalaupun saya ingin melampaui, saya hanya ingin melampaui diri sendiri; melampaui diri yang ada di masa lalu, kini, dan nanti.

Apa kamu yakin dengan melampaui diri sendiri bisa membuat sukses dan dianggap oleh masyarakat yang selama ini membuang kita?

Saya tidak tahu, Bu, dan belum benar-benar ingin tahu. Namun, apa dengan melampaui Ibu, saya bisa menjadi orang yang lebih baik?

Sebab itulah kamu harus bekerja keras! ucap Ibu tegas. Kamu mesti membuktikan pada orang-orang yang mengucilkan dan membuang kita.

Namun, Bu, bukankah semua itu hanya anggapan mereka?

Kamu memang harus banyak belajar dan bekerja keras, Nak. Ah, betapa ucapanmu itu penuh dengan kenaifan dan sesuatu yang kamu sendiri tidak memahaminya.

Mengapa saya harus melampaui Ibu? ucap Zet lirih. Saya merasa Ibu sudah baik, sudah sangat baik, sudah jadi manusia yang lebih manusia dibanding mereka yang mengecilkan Ibu—

Karena itu, sambar Ibu dengan menggebu, kamu harus bekerja keras…!

Apa cukup dengan bekerja keras, Bu?

Kamu harus belajar; sebab kerja keras saja belum bisa, hanya dianggap seolah-olah ada.

Apakah Ibu takut disebut ibu yang gagal?

Orangtua akan dianggap berhasil, jika bisa menjadikan anaknya lebih baik dari dirinya. Namun, Ibu tahu, Ibu memang sudah dianggap manusia gagal, yang hanya bisa menghasilkan manusia-manusia gagal.

Mengapa Ibu begitu peduli dengan anggapan mereka, anggapan orang yang nyatanya membuang Ibu? Mengapa Ibu masih memedulikan mereka?

Ibu terlalu lemah untuk menemukan jawaban tanyamu, Nak. Jadi, kamu harus bekerja keras! Kamu harus menemukan jawaban, dan membuat mereka mengajukan tanya kepada diri mereka sendiri, tanya mengapa mereka mengucilkan kita.

Ibu bukan manusia gagal! ucap Z sambil menatap dalam. Saya akan bekerja keras; akan belajar dengan giat dari pengalaman dan sejarah. Jujur, saya tak peduli dengan anggapan orang lain, Bu, apalagi dengan anggapan orang-orang yang tak menanggap kita—yang menganggap kita hanya seolah-olah ada. Saya tak peduli! Yang saya pedulikan adalah Ibu; hanya Ibu. Saya tak mau Ibu bersedih, sebab kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan saya. Saya berjanji, Bu. Saya berjanji…

II.

Tokoh-tokoh khayal muncul tiba-tiba, mendekati Zet; mereka seolah teman-teman yang sudah dekat. Dan Zet merasa dekat dengan mereka. Mereka berbicara masa depan dan harapan—

Lagi-lagi berbohong…, ucap salah satu dari mereka.

Memang sudah berapa banyak? sahut yang lain.

Banyak…? Tentu saja hanya satu!

Ibu?

Bodoh! Tentu saja bukan.

Lalu?

Ya sudah tentu, dan pasti—

Diri sendiri!

Mereka tertawa, menertawakan Zet!

Apa maksud kalian? bentak Zet. Aku tidak berbohong!

Lihat, kan, dia baru saja berbohong.

Menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.

Kalau aku berbohong memang kenapa? sahut Zet. Apa peduli kalian?

Kami tidak peduli.

Untuk apa kami peduli.

Salah satu di antara mereka menyahut:

Kebohongan tak bisa membohongi siapa pun, Zet—

Kecuali, dirinya sendiri, sahut yang lain lagi. Kecuali diri sendiri.

Mereka kembali tertawa bersama; sedang Zet terdiam.

Apa kamu masih ingat soal bahasa nomer 23? ucap salah satu.

Tentang puisi, ya?

Iya.

Kalau tidak salah bunyinya—

Hidup hanya menunda kekalahan…

Sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Apa maksud kalian? ucap Zet lekas.

Entahlah.

Waktu ujian kamu jawab apa memang?

Bodoh! Ujiannya itu hapalan. Jadi, tak ada tuntutan memahami puisi.

Betapa kering hati manusia sekarang…

Apa maksud kalian? ucap Zet mengejar. Aku tidak mengerti sama sekali.

Kenapa kamu berbohong? ucap salah satu dari mereka lagi. Bukankah kenyataannya kamu hanya membohongi diri sendiri?

Hanya membohongi diri sendiri—

Dan membohongi diri sendiri itu sangat sakit.

Aku hanya ingin membuat Ibu bahagia, sahut Zet lirih.

Apa bisa membuat bahagia dengan kebohongan?

Entahlah, sahut yang lain ketus.

Ada dua macam kebohongan, ucap salah satu di antara mereka dengan nada bijak. Yang pertama, untuk menutupi kebenaran; dan satu lagi, untuk kepentingan masa depan.

Ucapan orang hebat, ya?

Iya, tapi aku lupa dari siapa…

Apa kebohongan Zet termasuk kategori kedua? sahut salah satu di antara mereka.

Bisa jadi. Namun, apa baik memberi kebahagiaan lewat kebohongan?

Aku tidak berbohong! sentak Zet geram. Aku akan bekerja keras dan giat belajar untuk membahagiakan Ibu.

Meski pada akhirnya menyerah?

Zet menunduk—

Memang kenapa kamu mau membahagiakan ibumu?

Untuk membahagiakan Ibu, ucap Zet lirih, aku tak membutuhkan alasan apa pun.

Tanpa alasan?

Beberapa hal tidak membutuhkan alasan, ya, kan? sahut yang lain membela.

Tapi, apa untungnya bagimu?

Aku ingin membalas budi, jawab Zet.

Kamu yakin bisa membalas budi?

Aku dengar kebaikan seorang ibu tak bisa dibalas dengan apa pun.

Jika ibumu bukan ibumu, apa kamu mau membuatnya bahagia?

Aku…, ucap Zet terbata. Aku…

Sudahlah.

Aku yakin, niatmu itu baik; tapi aku juga pernah dengar—

Kalau tak salah, kebahagiaan ibu adalah saat bisa melihat anaknnya bahagia.

Apa dengan membuat ibumu bahagia, Zet, kamu bisa berbahagia?

Aku…, aku…, aku…, ucap Zet makin terbata. Akan berusaha keras dan rajin belajar! Aku akan menemukan jawabannya!

Belajar. Bekerja keras. Kenapa kamu mau melakukan itu di dunia yang membencimu?

Aku ingin membuktikan pada mereka! ucap Zet.

Bukankah kamu tidak peduli?

Aku ingin membuktikan pada Ibu, ucap Z pelan—

Membuktikan bahwa di dunia yang penuh kekalahan ini tak ada kebahagiaan?

Tidak ada kebahagiaan di dunia ini, sahut yang lain sambil tertawa.

Hanya ilusi! tambah yang lain lagi.

Aku akan bekerja keras! sahut Zet memotong. Aku akan menemukannya; dan kalaupun memang tak ada, aku akan menciptakannya! Aku akan tetap berusaha; meskipun, hasilnya nol; meskipun, hasilnya tak ada. Aku akan berusaha menemu kebahagiaan untukku dan Ibu!

Ya, kami percaya. Kami percaya.

Bukankah manusia itu adalah makhluk aneh? Ah, maksudku unik?

Sangat unik. Sangat-sangat unik.

Manusia sangat unik, sahut yang lain cekikikan. Unik, karena mereka adalah makhluk yang sangat biasa, benar-benar biasa.

Manusia itu terdiri dari…

Kenangan. Dan harapan!

Mungkin, karena itu, kamu masih mau berusaha, ya, kan? sahut sosok yang pertama.

Meski kekalahan dan kegagalan ada, tapi kamu masih memiliki harapan.

Tapi, aku takut, sahut Zet pelan.

Kamu tak boleh takut, Teman.

Kamu harus kuat, Zet.

Sebab apa-apa yang muncul dari kelemahan itu adalah kejahatan.

Ucapan orang hebat lagi, ya? sahut yang lain.

Barangkali. Aku lebih suka menyebutnya sebagai pemikir gila.

Kamu harus jadi orang kuat! sahut yang lain memotong.

Jadi tentara.

Jadi Power Ranger.

Jadi Ultraman!

Bodoh, sentak yang pertama. Dia harus jadi manusia!

Menjadi perempuan kuat.

Seperti Maria?

Lebih! Dia harus jadi dirinya sendiri!

Sudahlah, sahut yang lain lagi. Lebih baik, kita bermain petak umet saja.

Aku lelah, ucap Zet. Aku ingin tidur.

Tokoh-tokoh itu berbaris rapi, menyanyikan lagu penghantar tidur. Zet meringkuk dan perlahan terlelap dalam… [T]

(2017—2026)

Penulis: Polanco S. Achri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

Next Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Polanco S. Achri

Polanco S. Achri

Lahir dan tinggal di Yogyakarta. Ia menulis cerita, naskah drama, dan esai-esai seni dan sastra. Selain menulis, kadang ia jadi sutradara teater dan film dokumenter; juga kurator seni ruoa. Ia bisa dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan Instagram: polanco_achri.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co