30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 6, 2026
in Esai
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang dianggap keliru. Semangat inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya Disobedience Day, yang setiap tahun diperingati pada 3 Juli. Meskipun bukan hari peringatan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah atau organisasi internasional, Disobedience Day telah dikenal luas sebagai momentum refleksi tentang pentingnya berpikir kritis, berani mempertanyakan kemapanan, dan tidak mengikuti aturan secara membabi buta ketika aturan tersebut bertentangan dengan keadilan, moralitas, atau hati nurani.

Akar filosofis Disobedience Day sesungguhnya jauh lebih tua daripada peringatannya sendiri. Gagasan tersebut bersumber dari konsep civil disobedience atau ketidakpatuhan sipil yang dipopulerkan oleh Henry David Thoreau melalui esainya Civil Disobedience pada tahun 1849. Thoreau berpendapat bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak bekerja sama dengan ketidakadilan. Menurutnya, ketika hukum bertentangan dengan suara hati, maka hati nurani harus menjadi kompas utama. Pemikiran ini kemudian menginspirasi gerakan damai Mahatma Gandhi dalam memperjuangkan kemerdekaan India, perjuangan hak-hak sipil Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat, hingga berbagai gerakan sosial di berbagai belahan dunia.

Disobedience Day bukanlah ajakan untuk melanggar hukum atau menciptakan kekacauan. Sebaliknya, hari ini mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat membutuhkan warga yang tidak hanya patuh, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk bertanya: Apakah kebijakan ini adil? Apakah pembangunan ini benar-benar berpihak kepada rakyat? Apakah kemajuan ekonomi sejalan dengan kelestarian lingkungan dan budaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadi fondasi demokrasi yang hidup. Sebuah bangsa tidak akan maju apabila seluruh warganya hanya menjadi pengikut yang pasif tanpa keberanian menggunakan akal sehat dan hati nurani.

Dalam konteks Bali, refleksi ini menjadi sangat relevan. Pulau yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas kini menghadapi dinamika pembangunan yang semakin kompleks. Investasi, pariwisata, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi membawa banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap tata ruang, lingkungan, budaya, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, keberanian menyampaikan kritik yang konstruktif bukanlah bentuk permusuhan terhadap pembangunan, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan tetap berjalan sesuai nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kearifan lokal.

Dari perspektif inilah, kita dapat memahami mengapa berbagai gerakan masyarakat sipil, termasuk Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali), memiliki arti penting dalam kehidupan demokrasi. Audiensi FOR HATI Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026 bukan sekadar penyampaian aspirasi, melainkan contoh bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai, argumentatif, dan konstitusional. Semangat seperti ini sesungguhnya sejalan dengan makna terdalam Disobedience Day: keberanian untuk tidak diam ketika melihat sesuatu yang perlu dikoreksi, sekaligus tetap mengedepankan dialog, etika, dan penghormatan terhadap hukum.

Melawan Arus Bukan Berarti Membenci Pembangunan

Setiap zaman memiliki orang-orang yang berani mempertanyakan arah perjalanan masyarakat. Mereka sering dicap sebagai pembangkang, pengganggu, bahkan musuh kemajuan. Namun sejarah justru menunjukkan bahwa hampir semua perubahan besar lahir dari mereka yang berani mengajukan pertanyaan yang tidak berani diajukan orang lain.

Socrates mempertanyakan kebijaksanaan masyarakat Athena, Galileo mempertanyakan pandangan kosmologi yang telah diterima selama berabad-abad. Gandhi mengajarkan bahwa melawan ketidakadilan tidak harus dengan kekerasan, tetapi dapat dilakukan melalui ketidakpatuhan sipil yang damai. Mereka bukan pemberontak demi pemberontakan. Mereka adalah pencari kebenaran.

Dalam kehidupan modern, semangat seperti itu tetap dibutuhkan. Demokrasi tidak hanya memberikan hak memilih pemimpin, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengingatkan ketika kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.

Karena itu, melawan arus tidak identik dengan membenci pembangunan. Justru terkadang, keberanian mengoreksi arah pembangunan merupakan bentuk tanggung jawab agar pembangunan tidak kehilangan tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesejahteraan manusia tanpa merusak alam dan nilai-nilai budaya.

Edgar Allan Poe dan Keberanian Berpikir Berbeda

Nama Edgar Allan Poe sering dijadikan simbol nonkonformitas. Ia memang bukan pencetus Disobedience Day, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan keberanian untuk berpikir berbeda.

Ketika sastra Amerika pada abad ke-19 didominasi cerita moral dan romantika, Poe justru menjelajahi wilayah psikologi manusia, misteri, ketakutan, dan sisi gelap kehidupan. Karya-karyanya seperti The Raven maupun The Murders in the Rue Morgue membuka jalan bagi lahirnya sastra detektif modern dan horor psikologis.

Pilihan hidupnya pun tidak mudah. Ia meninggalkan jalur karier yang aman demi menjadi penulis profesional, meskipun harus hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Keberanian itu menunjukkan bahwa kreativitas hampir selalu lahir dari keberanian menolak menjadi seragam.

Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah agar setiap orang menjadi pembangkang, melainkan agar setiap orang berani berpikir mandiri. Peradaban berkembang karena ada manusia yang berani bertanya, bukan hanya karena banyak orang patuh mengikuti arus.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali dan Rebellion yang Konstruktif

Refleksi tersebut mengingatkan kita pada langkah Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) ketika melakukan audiensi dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026.

Forum tersebut tidak hadir untuk menolak pembangunan secara membabi buta. Sebaliknya, mereka mengajak semua pihak memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai tata ruang, menghormati hukum, menjaga lingkungan, melindungi budaya Bali, dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas. Inilah makna rebellion yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Rebellion tidak harus diwujudkan melalui kemarahan atau tindakan anarkis. Rebellion dapat diwujudkan melalui kajian ilmiah, dialog, penyampaian aspirasi, pengawasan publik, dan keberanian menyampaikan kritik secara santun namun tegas.

Demokrasi justru memerlukan warga negara seperti ini. Pemerintah memerlukan masukan. DPRD memerlukan kontrol sosial. Investor memerlukan kepastian hukum. Masyarakat memerlukan ruang untuk menyampaikan kegelisahan mereka.

Ketika warga memilih diam terhadap persoalan yang mereka lihat, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya, yaitu partisipasi masyarakat. Sebaliknya, ketika kritik disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan etika, kritik tersebut menjadi energi positif yang memperkuat kualitas pembangunan.

Pemberontakan Terbesar adalah Melawan Keserakahan

Dalam berbagai buku dan ceramahnya, Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan ego yang hidup di dalam dirinya sendiri.

Karena itu, pemberontakan yang paling penting bukanlah melawan pemerintah ataupun kelompok tertentu, melainkan melawan keserakahan, ketidaksadaran, dan cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi. [T]

Bali sejak lama mengajarkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Apabila pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa menjaga keseimbangan tersebut, maka yang hilang bukan hanya sawah, pantai, hutan, atau sumber air, tetapi juga identitas Bali sebagai sebuah peradaban.

Keberanian untuk berkata, “Mari kita evaluasi kembali,” bukanlah tanda anti-investasi maupun anti-kemajuan. Sebaliknya, itulah bentuk cinta yang paling bertanggung jawab terhadap Bali.Karena cint a tidak selalu diwujudkan dengan persetujuan. Kadang-kadang cinta justru hadir dalam bentuk keberanian mengingatkan.

Masa Depan Bali Ditentukan oleh Keberanian Hati Nurani

Pada akhirnya, Disobedience Day mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hati nurani yang tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, tekanan sosial, maupun kepentingan sesaat. Bali hari ini menghadapi tantangan besar. Pertumbuhan ekonomi, investasi, pariwisata, urbanisasi, dan pembangunan infrastruktur membawa manfaat yang nyata, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap daya dukung lingkungan, tata ruang, sumber air, pertanian, serta warisan budaya.

Dalam situasi seperti itu, diperlukan keberanian moral dari semua pihak: pemerintah yang mau mendengar, investor yang menghormati kearifan lokal, akademisi yang menyajikan kajian objektif, media yang menjaga independensi, dan masyarakat yang aktif mengawasi jalannya pembangunan.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali menunjukkan bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai dan konstitusional. Mereka mengingatkan bahwa pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang paling cepat, melainkan pembangunan yang paling bijaksana.

Seperti diyakini Thoreau, Gandhi, dan Martin Luther King Jr., ketidakpatuhan terhadap ketidakadilan bukanlah tindakan melawan negara, melainkan penghormatan terhadap kebenaran dan martabat manusia. Dalam konteks Bali, keberanian mengajukan pertanyaan, memberikan kritik, dan menawarkan solusi bukanlah ekspresi kebencian terhadap pembangunan. Sebaliknya, itulah wujud cinta yang matang—cinta yang tidak membiarkan Pulau Dewata kehilangan jati dirinya demi keuntungan jangka pendek.

Inilah makna terdalam dari rebellion: bukan menghancurkan, melainkan menjaga; bukan menolak perubahan, melainkan memastikan perubahan tetap berpihak kepada manusia, alam, dan nilai-nilai luhur. Sebab sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang selalu mengikuti arus, tetapi oleh mereka yang berani mendengarkan suara hati nurani. Dalam konteks Bali, suara hati itu mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, melainkan membangun masa depan yang tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan, budaya, spiritualitas, dan kelestarian alam. Itulah pemberontakan yang paling mulia—pemberontakan hati nurani demi Bali yang lestari, bermartabat, dan diwariskan dengan utuh kepada generasi mendatang.

Tags: balicinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Next Post

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA "Kejar Sampah" di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co