17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 6, 2026
in Esai
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang dianggap keliru. Semangat inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya Disobedience Day, yang setiap tahun diperingati pada 3 Juli. Meskipun bukan hari peringatan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah atau organisasi internasional, Disobedience Day telah dikenal luas sebagai momentum refleksi tentang pentingnya berpikir kritis, berani mempertanyakan kemapanan, dan tidak mengikuti aturan secara membabi buta ketika aturan tersebut bertentangan dengan keadilan, moralitas, atau hati nurani.

Akar filosofis Disobedience Day sesungguhnya jauh lebih tua daripada peringatannya sendiri. Gagasan tersebut bersumber dari konsep civil disobedience atau ketidakpatuhan sipil yang dipopulerkan oleh Henry David Thoreau melalui esainya Civil Disobedience pada tahun 1849. Thoreau berpendapat bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak bekerja sama dengan ketidakadilan. Menurutnya, ketika hukum bertentangan dengan suara hati, maka hati nurani harus menjadi kompas utama. Pemikiran ini kemudian menginspirasi gerakan damai Mahatma Gandhi dalam memperjuangkan kemerdekaan India, perjuangan hak-hak sipil Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat, hingga berbagai gerakan sosial di berbagai belahan dunia.

Disobedience Day bukanlah ajakan untuk melanggar hukum atau menciptakan kekacauan. Sebaliknya, hari ini mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat membutuhkan warga yang tidak hanya patuh, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk bertanya: Apakah kebijakan ini adil? Apakah pembangunan ini benar-benar berpihak kepada rakyat? Apakah kemajuan ekonomi sejalan dengan kelestarian lingkungan dan budaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadi fondasi demokrasi yang hidup. Sebuah bangsa tidak akan maju apabila seluruh warganya hanya menjadi pengikut yang pasif tanpa keberanian menggunakan akal sehat dan hati nurani.

Dalam konteks Bali, refleksi ini menjadi sangat relevan. Pulau yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas kini menghadapi dinamika pembangunan yang semakin kompleks. Investasi, pariwisata, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi membawa banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap tata ruang, lingkungan, budaya, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, keberanian menyampaikan kritik yang konstruktif bukanlah bentuk permusuhan terhadap pembangunan, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan tetap berjalan sesuai nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kearifan lokal.

Dari perspektif inilah, kita dapat memahami mengapa berbagai gerakan masyarakat sipil, termasuk Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali), memiliki arti penting dalam kehidupan demokrasi. Audiensi FOR HATI Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026 bukan sekadar penyampaian aspirasi, melainkan contoh bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai, argumentatif, dan konstitusional. Semangat seperti ini sesungguhnya sejalan dengan makna terdalam Disobedience Day: keberanian untuk tidak diam ketika melihat sesuatu yang perlu dikoreksi, sekaligus tetap mengedepankan dialog, etika, dan penghormatan terhadap hukum.

Melawan Arus Bukan Berarti Membenci Pembangunan

Setiap zaman memiliki orang-orang yang berani mempertanyakan arah perjalanan masyarakat. Mereka sering dicap sebagai pembangkang, pengganggu, bahkan musuh kemajuan. Namun sejarah justru menunjukkan bahwa hampir semua perubahan besar lahir dari mereka yang berani mengajukan pertanyaan yang tidak berani diajukan orang lain.

Socrates mempertanyakan kebijaksanaan masyarakat Athena, Galileo mempertanyakan pandangan kosmologi yang telah diterima selama berabad-abad. Gandhi mengajarkan bahwa melawan ketidakadilan tidak harus dengan kekerasan, tetapi dapat dilakukan melalui ketidakpatuhan sipil yang damai. Mereka bukan pemberontak demi pemberontakan. Mereka adalah pencari kebenaran.

Dalam kehidupan modern, semangat seperti itu tetap dibutuhkan. Demokrasi tidak hanya memberikan hak memilih pemimpin, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengingatkan ketika kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.

Karena itu, melawan arus tidak identik dengan membenci pembangunan. Justru terkadang, keberanian mengoreksi arah pembangunan merupakan bentuk tanggung jawab agar pembangunan tidak kehilangan tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesejahteraan manusia tanpa merusak alam dan nilai-nilai budaya.

Edgar Allan Poe dan Keberanian Berpikir Berbeda

Nama Edgar Allan Poe sering dijadikan simbol nonkonformitas. Ia memang bukan pencetus Disobedience Day, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan keberanian untuk berpikir berbeda.

Ketika sastra Amerika pada abad ke-19 didominasi cerita moral dan romantika, Poe justru menjelajahi wilayah psikologi manusia, misteri, ketakutan, dan sisi gelap kehidupan. Karya-karyanya seperti The Raven maupun The Murders in the Rue Morgue membuka jalan bagi lahirnya sastra detektif modern dan horor psikologis.

Pilihan hidupnya pun tidak mudah. Ia meninggalkan jalur karier yang aman demi menjadi penulis profesional, meskipun harus hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Keberanian itu menunjukkan bahwa kreativitas hampir selalu lahir dari keberanian menolak menjadi seragam.

Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah agar setiap orang menjadi pembangkang, melainkan agar setiap orang berani berpikir mandiri. Peradaban berkembang karena ada manusia yang berani bertanya, bukan hanya karena banyak orang patuh mengikuti arus.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali dan Rebellion yang Konstruktif

Refleksi tersebut mengingatkan kita pada langkah Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) ketika melakukan audiensi dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026.

Forum tersebut tidak hadir untuk menolak pembangunan secara membabi buta. Sebaliknya, mereka mengajak semua pihak memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai tata ruang, menghormati hukum, menjaga lingkungan, melindungi budaya Bali, dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas. Inilah makna rebellion yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Rebellion tidak harus diwujudkan melalui kemarahan atau tindakan anarkis. Rebellion dapat diwujudkan melalui kajian ilmiah, dialog, penyampaian aspirasi, pengawasan publik, dan keberanian menyampaikan kritik secara santun namun tegas.

Demokrasi justru memerlukan warga negara seperti ini. Pemerintah memerlukan masukan. DPRD memerlukan kontrol sosial. Investor memerlukan kepastian hukum. Masyarakat memerlukan ruang untuk menyampaikan kegelisahan mereka.

Ketika warga memilih diam terhadap persoalan yang mereka lihat, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya, yaitu partisipasi masyarakat. Sebaliknya, ketika kritik disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan etika, kritik tersebut menjadi energi positif yang memperkuat kualitas pembangunan.

Pemberontakan Terbesar adalah Melawan Keserakahan

Dalam berbagai buku dan ceramahnya, Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan ego yang hidup di dalam dirinya sendiri.

Karena itu, pemberontakan yang paling penting bukanlah melawan pemerintah ataupun kelompok tertentu, melainkan melawan keserakahan, ketidaksadaran, dan cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi. [T]

Bali sejak lama mengajarkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Apabila pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa menjaga keseimbangan tersebut, maka yang hilang bukan hanya sawah, pantai, hutan, atau sumber air, tetapi juga identitas Bali sebagai sebuah peradaban.

Keberanian untuk berkata, “Mari kita evaluasi kembali,” bukanlah tanda anti-investasi maupun anti-kemajuan. Sebaliknya, itulah bentuk cinta yang paling bertanggung jawab terhadap Bali.Karena cint a tidak selalu diwujudkan dengan persetujuan. Kadang-kadang cinta justru hadir dalam bentuk keberanian mengingatkan.

Masa Depan Bali Ditentukan oleh Keberanian Hati Nurani

Pada akhirnya, Disobedience Day mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hati nurani yang tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, tekanan sosial, maupun kepentingan sesaat. Bali hari ini menghadapi tantangan besar. Pertumbuhan ekonomi, investasi, pariwisata, urbanisasi, dan pembangunan infrastruktur membawa manfaat yang nyata, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap daya dukung lingkungan, tata ruang, sumber air, pertanian, serta warisan budaya.

Dalam situasi seperti itu, diperlukan keberanian moral dari semua pihak: pemerintah yang mau mendengar, investor yang menghormati kearifan lokal, akademisi yang menyajikan kajian objektif, media yang menjaga independensi, dan masyarakat yang aktif mengawasi jalannya pembangunan.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali menunjukkan bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai dan konstitusional. Mereka mengingatkan bahwa pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang paling cepat, melainkan pembangunan yang paling bijaksana.

Seperti diyakini Thoreau, Gandhi, dan Martin Luther King Jr., ketidakpatuhan terhadap ketidakadilan bukanlah tindakan melawan negara, melainkan penghormatan terhadap kebenaran dan martabat manusia. Dalam konteks Bali, keberanian mengajukan pertanyaan, memberikan kritik, dan menawarkan solusi bukanlah ekspresi kebencian terhadap pembangunan. Sebaliknya, itulah wujud cinta yang matang—cinta yang tidak membiarkan Pulau Dewata kehilangan jati dirinya demi keuntungan jangka pendek.

Inilah makna terdalam dari rebellion: bukan menghancurkan, melainkan menjaga; bukan menolak perubahan, melainkan memastikan perubahan tetap berpihak kepada manusia, alam, dan nilai-nilai luhur. Sebab sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang selalu mengikuti arus, tetapi oleh mereka yang berani mendengarkan suara hati nurani. Dalam konteks Bali, suara hati itu mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, melainkan membangun masa depan yang tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan, budaya, spiritualitas, dan kelestarian alam. Itulah pemberontakan yang paling mulia—pemberontakan hati nurani demi Bali yang lestari, bermartabat, dan diwariskan dengan utuh kepada generasi mendatang.

Tags: balicinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Next Post

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA "Kejar Sampah" di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co