27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Jaswanto by Jaswanto
July 6, 2026
in Khas
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. Layaknya permainan skateboard sungguhan, dua jari tangan itu sesekali melakukan gerakan lompatan di mana papan tetap melekat pada jari, membuat papan berputar 360 derajat, melakukan trik slide, sampai meluncurkan papan menggunakan truck bagian depan sementara bagian belakang papan terangkat di udara. Roda-roda kecilnya berderit halus ketika mendarat di atas sebuah rail besi mini, lalu meluncur turun menuju lantai meja kayu.

“Masuk!” Sorak tepuk tangan langsung pecah. Seorang pemain lain tak ingin kalah. Ia mengambil giliran, meletakkan fingerboard di atas meja kayu, lalu menjentikkannya dengan telunjuk dan jari tengah. Papan kecil itu berputar sebelum mendarat mulus di atas meja. Beberapa pemain lain mengangguk puas. Ada yang mengulang trik, ada pula yang saling memberi masukan mengenai posisi jari dan kecepatan hentakan.

Papan permainan fingerboard | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, pemandangan itu mungkin tampak seperti sekelompok orang dewasa―maaf, kurang kerjaan―sedang memainkan mainan anak-anak. Namun bagi penghobinya, setiap gerakan memiliki nama, teknik, dan tingkat kesulitan yang dipelajari bertahun-tahun. Bahkan mereka berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami sesama penghobi. Istilah-istilah macam “switch kickflip”, “nollie”, “crooked grind”, dan “tre flip” kerap keluar dari mulut mereka.

Di tengah keramaian itu, seorang lelaki muda bertopi sesekali menghentikan permainan. Ia mengambil fingerboard miliknya, lalu memperagakan sebuah trik di atas rail mini. Sekali hentak, papan kayu itu melayang, berputar, lalu mendarat nyaris tanpa cela. Dialah Sultonil Aqli, 26 tahun, Ketua Surabaya Fingerboard, komunitas figerboard yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur. Saya menemuinya di sebuah acara bertajuk “Kongsi Dagang” yang berlangsung di Moments Café & Space, Surabaya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Kepada saya Aqil―sapaan akrabnya―bercerita bahwa sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan swasta. Latar pendidikannya Diploma 1 Desain Bisnis Online Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Namun setiap kali berkumpul bersama komunitasnya, dunia kecil di atas papan sepanjang sepuluh sentimeter itulah yang paling menyita perhatiannya.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Bagi Aqli, fingerboard bukan lagi sekadar pengisi waktu luang. Hobi yang ditekuninya sejak duduk di bangku SMP, tepatnya pada 2014 silam, telah membawanya berkeliling mengikuti berbagai kompetisi, mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai kota, bahkan memberinya peluang menghasilkan uang.

Ya, di atas meja kayu itu, para pemain membangun dunia mereka sendiri. Banyak komunitas yang membuat tangga beton mini, handrail, manual pad, bank, hingga quarter pipe―semua dibuat sedetail mungkin menyerupai skatepark sungguhan. Hanya ukurannya yang diperkecil. Di situlah mereka berlatih bersama berjam-jam.

Pada Mulanya

Sulit dipercaya bahwa hobi yang kini memiliki komunitas di berbagai negara itu bermula dari eksperimen sederhana para pemain skateboard.

Jejak fingerboard dapat ditelusuri sejak akhir 1970-an di Amerika Serikat. Kala itu sejumlah skateboarder membuat miniatur papan luncur menggunakan potongan kayu, karton, bahkan stik pengaduk kopi. Tujuannya mengisi waktu ketika hujan turun atau cuaca buruk yang membuat mereka tidak bisa bermain skateboard di luar ruangan.

Momen penting terjadi pada 1985 ketika skateboarder profesional Lance Mountain memainkan fingerboard dalam video legendaris Future Primitive produksi Powell Peralta. Meski hanya muncul beberapa saat, adegan itu dianggap sebagai salah satu dokumentasi publik pertama yang memperlihatkan fingerboard dimainkan layaknya skateboard sungguhan.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Namun, ledakan terbesar baru terjadi pada 1998 ketika perusahaan X-Concepts meluncurkan Tech Deck: fingerboard plastik berkualitas dengan truk logam, roda yang dapat diganti, dan yang terpenting, grafis berlisensi resmi dari merek-merek skateboard sungguhan, seperti World Industries dan Powell Peralta. Fingerboard plastik dengan grafis resmi berbagai merek skateboard itu langsung menjadi fenomena di sekolah-sekolah Amerika dan Eropa. Meja belajar berubah menjadi skatepark dadakan. Buku pelajaran dijadikan ramp, sedangkan penghapus menjadi obstacle.

Popularitas fingerboard terus berkembang seiring hadirnya internet. Para pemain mulai saling berbagi video trik, teknik, hingga cara membuat fingerboard yang lebih presisi. Dari sekadar mainan, fingerboard perlahan berubah menjadi sebuah kultur urban yang memiliki komunitas, industri, dan kompetisi sendiri.

Jerman kemudian muncul sebagai salah satu pusat perkembangan fingerboard dunia. Di negara itu lahir berbagai produsen fingerboard profesional seperti Berlinwood dan Blackriver yang memperkenalkan papan kayu maple berlapis, truck logam presisi, roda dengan bearing, serta obstacle yang menyerupai skatepark sungguhan.

Sejak saat itu, fingerboard bukan lagi barang murah yang dijual di toko mainan. Ia berubah menjadi produk kerajinan dengan kualitas tinggi yang bahkan bisa bernilai ratusan dolar Amerika.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Dari dunia itu kemudian lahir para pemain profesional macam Mike Schneider, pendiri FlatFace Fingerboards, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan fingerboard modern. Bersama nama-nama seperti Elias Assmuth, Alex Christ, David Jones, dan Lasse Meckfessel, mereka memperlihatkan bahwa permainan dua jari ini mampu berkembang menjadi olahraga keterampilan dengan teknik yang sangat kompleks.

Tak butuh waktu lama hingga gelombang itu sampai ke Indonesia. Gelombang itu tiba di Indonesia pada awal 2000-an, ketika Tech Deck mulai dijual di sejumlah toko mainan dan pusat perbelanjaan. Banyak anak sekolah membawanya ke kelas. Meja belajar berubah menjadi arena bermain, sementara penggaris, buku, dan kotak pensil disulap menjadi tangga atau rail sederhana.

Awalnya, fingerboard hanya dianggap permainan sesaat. Namun internet membuat hobi itu menemukan peminatnya. Forum daring, media sosial, dan video-video di YouTube mempertemukan pemain dari berbagai kota yang sebelumnya bermain sendiri-sendiri.

Lebih dari Sekadar Permainan

Sekitar 2008, sejumlah komunitas mulai bermunculan. Mereka menggelar kopi darat, membuat obstacle sendiri, hingga mengadakan kompetisi kecil. Dari sana lahir berbagai komunitas, termasuk Surabaya Fingerboard, yang kini menjadi salah satu wadah penghobi fingerboard di Kota Pahlawan.

Namun, dari cerita Aqli, perjalanan komunitas itu tidak selalu mulus. “Setelah ramai pada era 2009, komunitas ini sempat vakum. Waktu pandemi Covid-19 juga makin sepi. Baru sekitar 2022 kami mulai menghidupkan lagi lewat event-event kolektif,” ujarnya.

Kini, setiap kali komunitas berkumpul, mereka saling bertukar teknik, mencoba rintangan baru, atau sekadar mengobrol tentang deck, truck, dan roda keluaran terbaru. Bagi Aqli, kebersamaan itu jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan pertandingan.

Meski demikian, prestasi Aqli di arena kompetisi tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada 2015 ia meraih juara kedua dalam sebuah kejuaraan di Jakarta. Tiga tahun kemudian, ia kembali naik podium setelah menjadi juara pertama kategori Game of Gap di Indonesia Fingerboard Championship. Kategori itu menuntut pemain melompat melewati celah dengan kombinasi trik yang bersih. Sedikit saja posisi jari meleset atau putaran papan tidak sempurna, poin akan hilang.

Selain Game of Gap, dunia fingerboard juga mengenal sejumlah nomor pertandingan lain. Game of Skate, misalnya, yang dimainkan layaknya permainan H-O-R-S-E dalam basket. Dua pemain saling menantang. Satu pemain melakukan trik, lawannya harus menirukan. Jika gagal, ia mendapat satu huruf. Pemain yang lebih dulu menyelesaikan kata “SKATE” dinyatakan kalah.

Ada pula Best Trick, ajang mencari satu trik paling sulit dan paling bersih. Sementara Full Park Run menguji konsistensi pemain memainkan seluruh rintangan dalam skatepark mini dalam satu rangkaian permainan tanpa banyak kesalahan. “Setiap kategori punya tantangannya sendiri,” kata Aqli.

Dari kiri ke kanan: Dava Alif, Rahmadani Candra, dan Sultonil Aqli, selaku penggerak Surabaya Fingerboard | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di samping Aqli berdiri, Rahmadani Candra juga bercerita kepada saya. Lelaki 26 tahun yang kini menjabat sebagai wakil ketua Surabaya Fingerboard itu mulai mengenal fingerboard ketika masih duduk di bangku SMP pada 2014. Ia satu sekolah dengan Aqli. Mereka bersahabat sejak lama. Kini ia menjalankan usaha penyewaan peralatan pesta. Setidaknya sebulan sekali ia selalu meluangkan waktu berkumpul bersama teman-teman komunitas. Baginya, fingerboard bukan hanya soal trik. “Yang paling berharga justru relasinya. Euforianya juga. Ketemu teman-teman dari berbagai kota, itu yang bikin betah,” ujarnya.

Prestasinya pun tak kalah membanggakan. Pada 2018, Candra meraih juara pertama kategori Game of Park di Jakarta, nomor yang mengharuskan peserta memainkan seluruh area skatepark mini dengan kreativitas dan alur permainan terbaik.

Malam itu juga ada Dava Alif—akrab dipanggil Dapek—selaku, boleh dibilang, sekretaris Surabaya Fingerboard. Pemuda ini mulai mengenal fingerboard sekitar 2016. Ia mengaku diracuni Aqil dan Candra. Mereka bertiga satu sekolah. Sehari-hari ia bekerja sebagai koki di sebuah restoran. Tidak ada pelatih yang mengajari mereka bertiga. Semua trik fingerboard dipelajari secara otodidak atau melalui video-video tutorial di YouTube.

“Kalau sekarang enak. Tinggal buka YouTube. Dulu juga banyak belajar dari teman-teman dan media sosial,” kata Aqli. Candra dan Dava mengiyakan.

Sementara itu, menurut Dava, banyak orang mengira fingerboard hanyalah versi mudah dari skateboard. Padahal, keduanya memiliki tantangan berbeda. “Skateboard jelas lebih sulit karena pakai seluruh badan dan tenaga lebih banyak. Tapi fingerboard juga enggak gampang. Gerakan dua jari harus benar-benar presisi.”

Latihan yang terus-menerus membawa Dava mengikuti berbagai kejuaraan di Surabaya dan sekitarnya. Tahun 2026 menjadi salah satu momen yang paling ia ingat setelah meraih juara pertama dalam kompetisi Inverst di Surabaya.

Bagi ketiga pemuda itu, fingerboard telah menjadi bagian dari hidup, lifestyle. Mereka datang dari latar belakang pekerjaan yang berbeda—karyawan swasta, pengusaha penyewaan alat pesta, hingga koki restoran—tetapi dipertemukan oleh papan kayu sepanjang kurang dari sepuluh sentimeter itu. Dan yang mereka bangun bukan sekadar komunitas bermain, melainkan ruang untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menjaga agar budaya fingerboard terus hidup di Indonesia, khususnya di Surabaya.

Sampai di sini, yang menarik dari pengakuan Aqli, Candra, dan Dava, fingerboard justru berkembang pada masa ketika gawai menawarkan hiburan yang nyaris tanpa batas. Di tengah derasnya permainan digital, papan kecil itu justru menghadirkan pengalaman yang sangat nyata. Tidak ada tombol yang bisa ditekan berulang-ulang untuk menang. Semua bergantung pada koordinasi mata, ketepatan jari, dan kesabaran.

Untuk menguasai satu kickflip yang bersih, seorang pemain bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Atau untuk membuat tre flip atau crooked grind yang konsisten, latihan dapat berlangsung berminggu-minggu―bahkan berbulan-bulan. Setiap kegagalan membuat pemain mengulang dari awal, memperbaiki posisi telunjuk, mengatur tekanan jari tengah, lalu mencoba lagi. Itulah yang membuat fingerboard berbeda. Permainan ini mengajarkan ketekunan melalui gerakan-gerakan kecil yang nyaris tak disadari.

Di sisi lain, fingerboard juga memberi ruang bagi kreativitas. Banyak pemain tidak puas hanya membeli perlengkapan jadi. Mereka membuat sendiri obstacle dari kayu, semen, besi, atau akrilik. Ada yang mengampelas dan mengecat handrail agar menyerupai yang ada di skatepark sungguhan. Ada pula yang memproduksi deck handmade menggunakan lapisan kayu maple, lengkap dengan grafis buatannya sendiri.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Fenomena itu ikut melahirkan pelaku usaha kecil di berbagai kota. Dengan begitu, fingerboard tidak lagi sekadar menjadi barang koleksi, tetapi juga bagian dari ekonomi kreatif. Para perajin membuat deck, truck, roda, grip tape, hingga obstacle dengan kualitas yang semakin baik. Sebagian bahkan telah dipasarkan ke luar negeri melalui media sosial dan marketplace.

Masa Depan Fingerboard

Media sosial menjadi panggung baru bagi para pemain. Video berdurasi belasan detik yang menampilkan satu trik bersih di atas rail mini bisa ditonton ribuan hingga jutaan kali. Sudut pengambilan gambar yang rendah membuat fingerboard tampak seperti skateboard sungguhan. Banyak orang baru menyadari bahwa papan kecil itu benar-benar dikendalikan oleh dua jari, bukan hasil rekayasa visual.

Di Surabaya, perubahan itu juga dirasakan oleh Sultonil Aqli dan kawan-kawan. Jika dulu anggota baru datang karena diajak teman, kini banyak yang mengenal fingerboard dari Instagram, TikTok, atau YouTube.

“Awalnya memang dari mulut ke mulut. Sekarang media sosial sangat membantu. Banyak yang datang karena melihat video dulu,” kata Candra.

Komunitas Surabaya Fingerboard pun terus berusaha menjaga semangat itu. Mereka rutin mengadakan sesi bermain bersama, membuat event kolektif, dan membuka ruang bagi siapa saja yang ingin belajar. Tidak ada syarat khusus. Siapa pun boleh datang, meminjam fingerboard, lalu mencoba melakukan ollie pertamanya.

Bagi Rahmadani Candra, komunitas inilah yang membuat fingerboard tetap bertahan. Ia mengingat bagaimana permainan itu pernah begitu ramai, lalu perlahan meredup. Namun setiap kali ada pertemuan, selalu muncul wajah-wajah baru yang penasaran. Ada pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan orang tua yang kembali memainkan fingerboard setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Fenomena itu membuat mereka optimistis. “Masih panjang umurnya. Peminatnya tetap ada,” ujar Candra.

Optimisme yang sama juga dirasakan Aqli. Baginya, selama masih ada orang yang menikmati proses belajar, fingerboard akan selalu memiliki tempat. Menang atau kalah dalam kompetisi hanyalah bonus. Yang lebih penting adalah menjaga komunitas agar terus hidup dan menjadi ruang bertemu bagi orang-orang dengan kegemaran yang sama.

Malam itu, Surabaya Fingerboard melakukan pertemuan bersama komunitas lain, salah satunya komunitas Pemburu Diecast Surabaya dan bahkan sempat bermain gim bersama. Tak ada sorak ribuan orang di sana. Hanya belasan penghobi yang tersenyum melihat satu trik mendarat dengan sempurna. Namun, dari papan skateboard mungil itu, mereka membuktikan bahwa sebuah komunitas tak selalu harus dibangun oleh sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari dua jari yang terus bergerak, dari kesabaran yang diulang berkali-kali, dan dari keyakinan bahwa permainan sekecil apa pun mampu mempertemukan orang-orang dalam sebuah dunia yang sama: dunia itu bernama fingerboard.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: FingerboardSurabaya Fingerboard
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails
Next Post
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co