27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Jaswanto by Jaswanto
July 6, 2026
in Khas
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. Layaknya permainan skateboard sungguhan, dua jari tangan itu sesekali melakukan gerakan lompatan di mana papan tetap melekat pada jari, membuat papan berputar 360 derajat, melakukan trik slide, sampai meluncurkan papan menggunakan truck bagian depan sementara bagian belakang papan terangkat di udara. Roda-roda kecilnya berderit halus ketika mendarat di atas sebuah rail besi mini, lalu meluncur turun menuju lantai meja kayu.

“Masuk!” Sorak tepuk tangan langsung pecah. Seorang pemain lain tak ingin kalah. Ia mengambil giliran, meletakkan fingerboard di atas meja kayu, lalu menjentikkannya dengan telunjuk dan jari tengah. Papan kecil itu berputar sebelum mendarat mulus di atas meja. Beberapa pemain lain mengangguk puas. Ada yang mengulang trik, ada pula yang saling memberi masukan mengenai posisi jari dan kecepatan hentakan.

Papan permainan fingerboard | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya, pemandangan itu mungkin tampak seperti sekelompok orang dewasa―maaf, kurang kerjaan―sedang memainkan mainan anak-anak. Namun bagi penghobinya, setiap gerakan memiliki nama, teknik, dan tingkat kesulitan yang dipelajari bertahun-tahun. Bahkan mereka berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami sesama penghobi. Istilah-istilah macam “switch kickflip”, “nollie”, “crooked grind”, dan “tre flip” kerap keluar dari mulut mereka.

Di tengah keramaian itu, seorang lelaki muda bertopi sesekali menghentikan permainan. Ia mengambil fingerboard miliknya, lalu memperagakan sebuah trik di atas rail mini. Sekali hentak, papan kayu itu melayang, berputar, lalu mendarat nyaris tanpa cela. Dialah Sultonil Aqli, 26 tahun, Ketua Surabaya Fingerboard, komunitas figerboard yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur. Saya menemuinya di sebuah acara bertajuk “Kongsi Dagang” yang berlangsung di Moments Café & Space, Surabaya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Kepada saya Aqil―sapaan akrabnya―bercerita bahwa sehari-hari ia bekerja sebagai karyawan swasta. Latar pendidikannya Diploma 1 Desain Bisnis Online Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Namun setiap kali berkumpul bersama komunitasnya, dunia kecil di atas papan sepanjang sepuluh sentimeter itulah yang paling menyita perhatiannya.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Bagi Aqli, fingerboard bukan lagi sekadar pengisi waktu luang. Hobi yang ditekuninya sejak duduk di bangku SMP, tepatnya pada 2014 silam, telah membawanya berkeliling mengikuti berbagai kompetisi, mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai kota, bahkan memberinya peluang menghasilkan uang.

Ya, di atas meja kayu itu, para pemain membangun dunia mereka sendiri. Banyak komunitas yang membuat tangga beton mini, handrail, manual pad, bank, hingga quarter pipe―semua dibuat sedetail mungkin menyerupai skatepark sungguhan. Hanya ukurannya yang diperkecil. Di situlah mereka berlatih bersama berjam-jam.

Pada Mulanya

Sulit dipercaya bahwa hobi yang kini memiliki komunitas di berbagai negara itu bermula dari eksperimen sederhana para pemain skateboard.

Jejak fingerboard dapat ditelusuri sejak akhir 1970-an di Amerika Serikat. Kala itu sejumlah skateboarder membuat miniatur papan luncur menggunakan potongan kayu, karton, bahkan stik pengaduk kopi. Tujuannya mengisi waktu ketika hujan turun atau cuaca buruk yang membuat mereka tidak bisa bermain skateboard di luar ruangan.

Momen penting terjadi pada 1985 ketika skateboarder profesional Lance Mountain memainkan fingerboard dalam video legendaris Future Primitive produksi Powell Peralta. Meski hanya muncul beberapa saat, adegan itu dianggap sebagai salah satu dokumentasi publik pertama yang memperlihatkan fingerboard dimainkan layaknya skateboard sungguhan.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Namun, ledakan terbesar baru terjadi pada 1998 ketika perusahaan X-Concepts meluncurkan Tech Deck: fingerboard plastik berkualitas dengan truk logam, roda yang dapat diganti, dan yang terpenting, grafis berlisensi resmi dari merek-merek skateboard sungguhan, seperti World Industries dan Powell Peralta. Fingerboard plastik dengan grafis resmi berbagai merek skateboard itu langsung menjadi fenomena di sekolah-sekolah Amerika dan Eropa. Meja belajar berubah menjadi skatepark dadakan. Buku pelajaran dijadikan ramp, sedangkan penghapus menjadi obstacle.

Popularitas fingerboard terus berkembang seiring hadirnya internet. Para pemain mulai saling berbagi video trik, teknik, hingga cara membuat fingerboard yang lebih presisi. Dari sekadar mainan, fingerboard perlahan berubah menjadi sebuah kultur urban yang memiliki komunitas, industri, dan kompetisi sendiri.

Jerman kemudian muncul sebagai salah satu pusat perkembangan fingerboard dunia. Di negara itu lahir berbagai produsen fingerboard profesional seperti Berlinwood dan Blackriver yang memperkenalkan papan kayu maple berlapis, truck logam presisi, roda dengan bearing, serta obstacle yang menyerupai skatepark sungguhan.

Sejak saat itu, fingerboard bukan lagi barang murah yang dijual di toko mainan. Ia berubah menjadi produk kerajinan dengan kualitas tinggi yang bahkan bisa bernilai ratusan dolar Amerika.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Dari dunia itu kemudian lahir para pemain profesional macam Mike Schneider, pendiri FlatFace Fingerboards, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan fingerboard modern. Bersama nama-nama seperti Elias Assmuth, Alex Christ, David Jones, dan Lasse Meckfessel, mereka memperlihatkan bahwa permainan dua jari ini mampu berkembang menjadi olahraga keterampilan dengan teknik yang sangat kompleks.

Tak butuh waktu lama hingga gelombang itu sampai ke Indonesia. Gelombang itu tiba di Indonesia pada awal 2000-an, ketika Tech Deck mulai dijual di sejumlah toko mainan dan pusat perbelanjaan. Banyak anak sekolah membawanya ke kelas. Meja belajar berubah menjadi arena bermain, sementara penggaris, buku, dan kotak pensil disulap menjadi tangga atau rail sederhana.

Awalnya, fingerboard hanya dianggap permainan sesaat. Namun internet membuat hobi itu menemukan peminatnya. Forum daring, media sosial, dan video-video di YouTube mempertemukan pemain dari berbagai kota yang sebelumnya bermain sendiri-sendiri.

Lebih dari Sekadar Permainan

Sekitar 2008, sejumlah komunitas mulai bermunculan. Mereka menggelar kopi darat, membuat obstacle sendiri, hingga mengadakan kompetisi kecil. Dari sana lahir berbagai komunitas, termasuk Surabaya Fingerboard, yang kini menjadi salah satu wadah penghobi fingerboard di Kota Pahlawan.

Namun, dari cerita Aqli, perjalanan komunitas itu tidak selalu mulus. “Setelah ramai pada era 2009, komunitas ini sempat vakum. Waktu pandemi Covid-19 juga makin sepi. Baru sekitar 2022 kami mulai menghidupkan lagi lewat event-event kolektif,” ujarnya.

Kini, setiap kali komunitas berkumpul, mereka saling bertukar teknik, mencoba rintangan baru, atau sekadar mengobrol tentang deck, truck, dan roda keluaran terbaru. Bagi Aqli, kebersamaan itu jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan pertandingan.

Meski demikian, prestasi Aqli di arena kompetisi tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada 2015 ia meraih juara kedua dalam sebuah kejuaraan di Jakarta. Tiga tahun kemudian, ia kembali naik podium setelah menjadi juara pertama kategori Game of Gap di Indonesia Fingerboard Championship. Kategori itu menuntut pemain melompat melewati celah dengan kombinasi trik yang bersih. Sedikit saja posisi jari meleset atau putaran papan tidak sempurna, poin akan hilang.

Selain Game of Gap, dunia fingerboard juga mengenal sejumlah nomor pertandingan lain. Game of Skate, misalnya, yang dimainkan layaknya permainan H-O-R-S-E dalam basket. Dua pemain saling menantang. Satu pemain melakukan trik, lawannya harus menirukan. Jika gagal, ia mendapat satu huruf. Pemain yang lebih dulu menyelesaikan kata “SKATE” dinyatakan kalah.

Ada pula Best Trick, ajang mencari satu trik paling sulit dan paling bersih. Sementara Full Park Run menguji konsistensi pemain memainkan seluruh rintangan dalam skatepark mini dalam satu rangkaian permainan tanpa banyak kesalahan. “Setiap kategori punya tantangannya sendiri,” kata Aqli.

Dari kiri ke kanan: Dava Alif, Rahmadani Candra, dan Sultonil Aqli, selaku penggerak Surabaya Fingerboard | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di samping Aqli berdiri, Rahmadani Candra juga bercerita kepada saya. Lelaki 26 tahun yang kini menjabat sebagai wakil ketua Surabaya Fingerboard itu mulai mengenal fingerboard ketika masih duduk di bangku SMP pada 2014. Ia satu sekolah dengan Aqli. Mereka bersahabat sejak lama. Kini ia menjalankan usaha penyewaan peralatan pesta. Setidaknya sebulan sekali ia selalu meluangkan waktu berkumpul bersama teman-teman komunitas. Baginya, fingerboard bukan hanya soal trik. “Yang paling berharga justru relasinya. Euforianya juga. Ketemu teman-teman dari berbagai kota, itu yang bikin betah,” ujarnya.

Prestasinya pun tak kalah membanggakan. Pada 2018, Candra meraih juara pertama kategori Game of Park di Jakarta, nomor yang mengharuskan peserta memainkan seluruh area skatepark mini dengan kreativitas dan alur permainan terbaik.

Malam itu juga ada Dava Alif—akrab dipanggil Dapek—selaku, boleh dibilang, sekretaris Surabaya Fingerboard. Pemuda ini mulai mengenal fingerboard sekitar 2016. Ia mengaku diracuni Aqil dan Candra. Mereka bertiga satu sekolah. Sehari-hari ia bekerja sebagai koki di sebuah restoran. Tidak ada pelatih yang mengajari mereka bertiga. Semua trik fingerboard dipelajari secara otodidak atau melalui video-video tutorial di YouTube.

“Kalau sekarang enak. Tinggal buka YouTube. Dulu juga banyak belajar dari teman-teman dan media sosial,” kata Aqli. Candra dan Dava mengiyakan.

Sementara itu, menurut Dava, banyak orang mengira fingerboard hanyalah versi mudah dari skateboard. Padahal, keduanya memiliki tantangan berbeda. “Skateboard jelas lebih sulit karena pakai seluruh badan dan tenaga lebih banyak. Tapi fingerboard juga enggak gampang. Gerakan dua jari harus benar-benar presisi.”

Latihan yang terus-menerus membawa Dava mengikuti berbagai kejuaraan di Surabaya dan sekitarnya. Tahun 2026 menjadi salah satu momen yang paling ia ingat setelah meraih juara pertama dalam kompetisi Inverst di Surabaya.

Bagi ketiga pemuda itu, fingerboard telah menjadi bagian dari hidup, lifestyle. Mereka datang dari latar belakang pekerjaan yang berbeda—karyawan swasta, pengusaha penyewaan alat pesta, hingga koki restoran—tetapi dipertemukan oleh papan kayu sepanjang kurang dari sepuluh sentimeter itu. Dan yang mereka bangun bukan sekadar komunitas bermain, melainkan ruang untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan menjaga agar budaya fingerboard terus hidup di Indonesia, khususnya di Surabaya.

Sampai di sini, yang menarik dari pengakuan Aqli, Candra, dan Dava, fingerboard justru berkembang pada masa ketika gawai menawarkan hiburan yang nyaris tanpa batas. Di tengah derasnya permainan digital, papan kecil itu justru menghadirkan pengalaman yang sangat nyata. Tidak ada tombol yang bisa ditekan berulang-ulang untuk menang. Semua bergantung pada koordinasi mata, ketepatan jari, dan kesabaran.

Untuk menguasai satu kickflip yang bersih, seorang pemain bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Atau untuk membuat tre flip atau crooked grind yang konsisten, latihan dapat berlangsung berminggu-minggu―bahkan berbulan-bulan. Setiap kegagalan membuat pemain mengulang dari awal, memperbaiki posisi telunjuk, mengatur tekanan jari tengah, lalu mencoba lagi. Itulah yang membuat fingerboard berbeda. Permainan ini mengajarkan ketekunan melalui gerakan-gerakan kecil yang nyaris tak disadari.

Di sisi lain, fingerboard juga memberi ruang bagi kreativitas. Banyak pemain tidak puas hanya membeli perlengkapan jadi. Mereka membuat sendiri obstacle dari kayu, semen, besi, atau akrilik. Ada yang mengampelas dan mengecat handrail agar menyerupai yang ada di skatepark sungguhan. Ada pula yang memproduksi deck handmade menggunakan lapisan kayu maple, lengkap dengan grafis buatannya sendiri.

Anggota Surabaya Fingerboard sedang memainkan papan jari | Foto: Dok. Surabaya Fingerboard

Fenomena itu ikut melahirkan pelaku usaha kecil di berbagai kota. Dengan begitu, fingerboard tidak lagi sekadar menjadi barang koleksi, tetapi juga bagian dari ekonomi kreatif. Para perajin membuat deck, truck, roda, grip tape, hingga obstacle dengan kualitas yang semakin baik. Sebagian bahkan telah dipasarkan ke luar negeri melalui media sosial dan marketplace.

Masa Depan Fingerboard

Media sosial menjadi panggung baru bagi para pemain. Video berdurasi belasan detik yang menampilkan satu trik bersih di atas rail mini bisa ditonton ribuan hingga jutaan kali. Sudut pengambilan gambar yang rendah membuat fingerboard tampak seperti skateboard sungguhan. Banyak orang baru menyadari bahwa papan kecil itu benar-benar dikendalikan oleh dua jari, bukan hasil rekayasa visual.

Di Surabaya, perubahan itu juga dirasakan oleh Sultonil Aqli dan kawan-kawan. Jika dulu anggota baru datang karena diajak teman, kini banyak yang mengenal fingerboard dari Instagram, TikTok, atau YouTube.

“Awalnya memang dari mulut ke mulut. Sekarang media sosial sangat membantu. Banyak yang datang karena melihat video dulu,” kata Candra.

Komunitas Surabaya Fingerboard pun terus berusaha menjaga semangat itu. Mereka rutin mengadakan sesi bermain bersama, membuat event kolektif, dan membuka ruang bagi siapa saja yang ingin belajar. Tidak ada syarat khusus. Siapa pun boleh datang, meminjam fingerboard, lalu mencoba melakukan ollie pertamanya.

Bagi Rahmadani Candra, komunitas inilah yang membuat fingerboard tetap bertahan. Ia mengingat bagaimana permainan itu pernah begitu ramai, lalu perlahan meredup. Namun setiap kali ada pertemuan, selalu muncul wajah-wajah baru yang penasaran. Ada pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan orang tua yang kembali memainkan fingerboard setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Fenomena itu membuat mereka optimistis. “Masih panjang umurnya. Peminatnya tetap ada,” ujar Candra.

Optimisme yang sama juga dirasakan Aqli. Baginya, selama masih ada orang yang menikmati proses belajar, fingerboard akan selalu memiliki tempat. Menang atau kalah dalam kompetisi hanyalah bonus. Yang lebih penting adalah menjaga komunitas agar terus hidup dan menjadi ruang bertemu bagi orang-orang dengan kegemaran yang sama.

Malam itu, Surabaya Fingerboard melakukan pertemuan bersama komunitas lain, salah satunya komunitas Pemburu Diecast Surabaya dan bahkan sempat bermain gim bersama. Tak ada sorak ribuan orang di sana. Hanya belasan penghobi yang tersenyum melihat satu trik mendarat dengan sempurna. Namun, dari papan skateboard mungil itu, mereka membuktikan bahwa sebuah komunitas tak selalu harus dibangun oleh sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari dua jari yang terus bergerak, dari kesabaran yang diulang berkali-kali, dan dari keyakinan bahwa permainan sekecil apa pun mampu mempertemukan orang-orang dalam sebuah dunia yang sama: dunia itu bernama fingerboard.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: FingerboardSurabaya Fingerboard
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails
Next Post
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co