24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
in Ulas Buku
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Buku 'Coming Up For Air'

  • Judul: Menghirup Udara Segar
  • Judul Asli: Coming Up For Air
  • Penulis: George Orwell
  • Penerjemah: Berliani M. Nugraha
  • Tahun Terbit: 2021
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 320 Halaman

Dulu, saya sangat sering mendengarkan ulasan buku-buku dari para penulis klasik seperti Fyodor Dostoevsky atau Franz Kafka. Walau saya belum membaca karya mereka, ada konsep yang membuat saya tertarik, konsep yang saya sebut sebagai “kerumitan manusia dalam memahami dunia”.

Kerumitan itu “mungkin” menjadi ciri khas dari buku-buku klasik. Tak hanya sebatas mengenai diri sendiri, tapi juga terkait bagaimana dunia berjalan bahkan tanpa diri kita. Bagi saya sendiri, konsep-konsep tersebut yang membuat karya klasik menjadi menarik. Selain mengangkat topik “abstrak”, ada topik lain yang membuat saya menyukai karya klasik, yaitu bagaimana seorang penulis klasik menuliskan sistem sosial pada era tertentu.

Topik tersebut (untuk sekarang) saya rasa adalah keunggulan dari penulis asal Inggris yang namanya sudah sangat terkenal di kalangan pembaca. Eric Arthur Blair dengan nama pena George Orwell merupakan seorang sastrawan Inggris yang sudah menciptakan karya fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang paling terkenal adalah “Animal Farm” dan “1984”.

Tentunya, saya sangat familiar akan namanya dan dua karya tersohornya. Namun saya memilih untuk membaca karya Orwell yang lainnya, salah satunya buku yang akan kita bahas sekarang.

“Coming Up For Air” atau “Menghirup Udara Segar” adalah sebuah buku novel yang dicetak pertama kali di Inggris pada tahun 1939. Buku ini ditulis melalui sudut pandang orang pertama dari seorang karakter bernama George Bowling. George adalah seorang salesman asuransi berumur 45 tahun yang tinggal di pinggir kota bersama istri dan dua anaknya.

Dicekik oleh rutinitas yang membuatnya sesak, George memutuskan kembali ke desanya untuk mencari angin segar. Namun George malah dikejutkan dengan desanya yang berubah total dan aksi pengeboman oleh Angkatan Udara Inggris di langit tempat kelahirannya.

Buku ini mengambil tema nostalgia. Namun jangan berharap mendapatkan potongan masa lalu yang indah dalam buku ini. Orwell justru menuliskan potongan masa lalu yang terasa tak bisa direlakan—masa lalu yang awalnya terasa membosankan, namun menjadi menyakitkan pada masa tua dari George sendiri.

Pada babak II dari buku ini saja (buku ini terdiri dari IV babak), keseluruhannya membahas tentang masa lalu George di desanya—Lower Binfield. Semula dari kehidupannya sebagai anak dari seorang penjual benih, aktivitasnya memancing dengan geng kakaknya, pengalaman pertama kali ia bekerja dan berkencan,  pengalamannya menjadi tentara pada perang dunia I. Hingga pasca perang yang meruntuhkan hidup keluarganya dan dirinya secara perlahan.

Kalau kita perhatikan cover buku versi penerbit Gramedia, terdapat gambar ikan, air dan sampah terpampang jelas. Ternyata ini berkaitan dengan hobi memancing dari George. Masa kecil George di Lower Binfield memang dihabiskan untuk memancing sebelum ia menginjak umur 16 tahun.

Hobi memancing dari George adalah gambaran yang digunakan Orwell untuk memperlihatkan perubahan pada Lower Binfield yang diakibatkan oleh kapitalisme dan era pasca perang. Misalkan, bagaimana kolam ikan yang dulu sangat besar dan dalam di daerah  Upper Binfield, berubah total menjadi lubang besar yang terisi sampah dari perumahan kelas atas.  Menarik bukan?

Orwell menggunakan pengalaman sehari-hari dari karakternya untuk mengkritik situasi sosial pada era itu. Dan tidak hanya dari hobi George saja, banyak hal dari kegiatan sehari-hari George yang ditulis oleh Orwell untuk menyentil sistem dengan menggunakan monolog dari karakter utama.

Karena buku ini mengambil latar waktu abad ke-20 di Inggris, saya menjadi tahu terkait situasi di Inggris pada era tersebut. Tentunya, apa yang ditulis Orwell terkait situasi di Inggris pada masa itu ada yang di “dramatisir”. Kendati demikian situasi di buku ini sendiri membuat saya merasa bahwa dunia yang digambarkan Orwell bukan hanya berlatar waktu pada abad ke-20, tetapi juga masih terasa relevan hingga saat ini.

Ketika George dewasa menghampiri desa yang sudah ia tinggalkan selama 30 tahun, ia terasa seperti “hantu” di tempat kelahirannya sendiri. Orang-orang yang ia temui adalah orang asing yang mengisi Lower Binfield. Mereka pindah ke kota Lower Binfield, menggantikan hutan menjadi perumahan, bekerja, dan menghidupi ekonomi disana. Sekaligus “mengotori” tempat itu, menurut sudut pandang dari George.

Sebagai pembaca, saya merasakan ketakutan dan kegelisahan dari George. Saya merasa sendiri melihat kota yang sudah saya tinggali selama 17 tahun lamanya, semakin hari semakin berkembang dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan atau perusahan-perusahaan lainnya. Tentu ada rasa kegembiraan melihat pusat belanja dan perusahaan makanan sekarang ada dimana-mana, tapi ada rasa ketakutan juga.

Bagaimana jika saya merasa asing di kota saya sendiri? Bahkan saya belum menyempatkan waktu mengelilingi kota dan mencari tahu cerita-cerita unik dari kota ini. Namun perubahannya semakin banyak. Aktivitas konsumtif juga makin terasa. Dan pastinya, saya tak bisa menyalahkan kota saya, sebab ada sistem tak kasat mata yang memegang kendali atas semuanya.

Ini yang membuat saya merasa, karakter George Bowling tidak hanya sebatas karakter utama atau kegelisahan Orwell terkait modernitas, tapi justru George adalah manusia modern itu sendiri! Bagaimana dengan efisiensi yang sudah dihadirkan, manusia terasa monoton. Kebosanan yang dihilangkan untuk melakukan pekerjaan tiada akhir, atau memperkaya perusahaan yang bahkan secara tidak langsung menginjak kita.

Perginya George ke Lower Binfield adalah langkah akhir untuk membuatnya bebas, untuk menghirup udara segar dari kegelisahaan atas perang dunia dan hidupnya. Namun berakhir terjebak di dalam sistem yang membunuhnya secara perlahan.

Awalnya saya mengalami kebosanan saat membaca buku ini, sebab gaya penulisan yang penuh monolog dari George. Sampai di babak kedua-keempat saya makin mendapatkan kedalaman dalam membaca buku ini.

Seolah Orwell seperti ingin memberitahu saya, bahwa saya harus menyadari betapa membosankannya hidup terlebih dahulu, baru saya bisa menggali kehidupan lebih bermakna lagi.

Pada akhirnya, Coming Up for Air bukan sekadar cerita tentang nostalgia, melainkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menakutkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya.

Bagi pembaca yang tertarik pada refleksi tentang kehidupan, perubahan, dan kegelisahan manusia modern, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto

Tags: Bukubuku terjemahanGeorge Orwellnovel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

Next Post

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Sepiring Opor, Sejuta Pesan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co