- Judul: Menghirup Udara Segar
- Judul Asli: Coming Up For Air
- Penulis: George Orwell
- Penerjemah: Berliani M. Nugraha
- Tahun Terbit: 2021
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tebal: 320 Halaman
Dulu, saya sangat sering mendengarkan ulasan buku-buku dari para penulis klasik seperti Fyodor Dostoevsky atau Franz Kafka. Walau saya belum membaca karya mereka, ada konsep yang membuat saya tertarik, konsep yang saya sebut sebagai “kerumitan manusia dalam memahami dunia”.
Kerumitan itu “mungkin” menjadi ciri khas dari buku-buku klasik. Tak hanya sebatas mengenai diri sendiri, tapi juga terkait bagaimana dunia berjalan bahkan tanpa diri kita. Bagi saya sendiri, konsep-konsep tersebut yang membuat karya klasik menjadi menarik. Selain mengangkat topik “abstrak”, ada topik lain yang membuat saya menyukai karya klasik, yaitu bagaimana seorang penulis klasik menuliskan sistem sosial pada era tertentu.
Topik tersebut (untuk sekarang) saya rasa adalah keunggulan dari penulis asal Inggris yang namanya sudah sangat terkenal di kalangan pembaca. Eric Arthur Blair dengan nama pena George Orwell merupakan seorang sastrawan Inggris yang sudah menciptakan karya fiksi maupun non-fiksi. Karyanya yang paling terkenal adalah “Animal Farm” dan “1984”.
Tentunya, saya sangat familiar akan namanya dan dua karya tersohornya. Namun saya memilih untuk membaca karya Orwell yang lainnya, salah satunya buku yang akan kita bahas sekarang.
“Coming Up For Air” atau “Menghirup Udara Segar” adalah sebuah buku novel yang dicetak pertama kali di Inggris pada tahun 1939. Buku ini ditulis melalui sudut pandang orang pertama dari seorang karakter bernama George Bowling. George adalah seorang salesman asuransi berumur 45 tahun yang tinggal di pinggir kota bersama istri dan dua anaknya.
Dicekik oleh rutinitas yang membuatnya sesak, George memutuskan kembali ke desanya untuk mencari angin segar. Namun George malah dikejutkan dengan desanya yang berubah total dan aksi pengeboman oleh Angkatan Udara Inggris di langit tempat kelahirannya.
Buku ini mengambil tema nostalgia. Namun jangan berharap mendapatkan potongan masa lalu yang indah dalam buku ini. Orwell justru menuliskan potongan masa lalu yang terasa tak bisa direlakan—masa lalu yang awalnya terasa membosankan, namun menjadi menyakitkan pada masa tua dari George sendiri.
Pada babak II dari buku ini saja (buku ini terdiri dari IV babak), keseluruhannya membahas tentang masa lalu George di desanya—Lower Binfield. Semula dari kehidupannya sebagai anak dari seorang penjual benih, aktivitasnya memancing dengan geng kakaknya, pengalaman pertama kali ia bekerja dan berkencan, pengalamannya menjadi tentara pada perang dunia I. Hingga pasca perang yang meruntuhkan hidup keluarganya dan dirinya secara perlahan.
Kalau kita perhatikan cover buku versi penerbit Gramedia, terdapat gambar ikan, air dan sampah terpampang jelas. Ternyata ini berkaitan dengan hobi memancing dari George. Masa kecil George di Lower Binfield memang dihabiskan untuk memancing sebelum ia menginjak umur 16 tahun.
Hobi memancing dari George adalah gambaran yang digunakan Orwell untuk memperlihatkan perubahan pada Lower Binfield yang diakibatkan oleh kapitalisme dan era pasca perang. Misalkan, bagaimana kolam ikan yang dulu sangat besar dan dalam di daerah Upper Binfield, berubah total menjadi lubang besar yang terisi sampah dari perumahan kelas atas. Menarik bukan?
Orwell menggunakan pengalaman sehari-hari dari karakternya untuk mengkritik situasi sosial pada era itu. Dan tidak hanya dari hobi George saja, banyak hal dari kegiatan sehari-hari George yang ditulis oleh Orwell untuk menyentil sistem dengan menggunakan monolog dari karakter utama.
Karena buku ini mengambil latar waktu abad ke-20 di Inggris, saya menjadi tahu terkait situasi di Inggris pada era tersebut. Tentunya, apa yang ditulis Orwell terkait situasi di Inggris pada masa itu ada yang di “dramatisir”. Kendati demikian situasi di buku ini sendiri membuat saya merasa bahwa dunia yang digambarkan Orwell bukan hanya berlatar waktu pada abad ke-20, tetapi juga masih terasa relevan hingga saat ini.
Ketika George dewasa menghampiri desa yang sudah ia tinggalkan selama 30 tahun, ia terasa seperti “hantu” di tempat kelahirannya sendiri. Orang-orang yang ia temui adalah orang asing yang mengisi Lower Binfield. Mereka pindah ke kota Lower Binfield, menggantikan hutan menjadi perumahan, bekerja, dan menghidupi ekonomi disana. Sekaligus “mengotori” tempat itu, menurut sudut pandang dari George.
Sebagai pembaca, saya merasakan ketakutan dan kegelisahan dari George. Saya merasa sendiri melihat kota yang sudah saya tinggali selama 17 tahun lamanya, semakin hari semakin berkembang dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan atau perusahan-perusahaan lainnya. Tentu ada rasa kegembiraan melihat pusat belanja dan perusahaan makanan sekarang ada dimana-mana, tapi ada rasa ketakutan juga.
Bagaimana jika saya merasa asing di kota saya sendiri? Bahkan saya belum menyempatkan waktu mengelilingi kota dan mencari tahu cerita-cerita unik dari kota ini. Namun perubahannya semakin banyak. Aktivitas konsumtif juga makin terasa. Dan pastinya, saya tak bisa menyalahkan kota saya, sebab ada sistem tak kasat mata yang memegang kendali atas semuanya.
Ini yang membuat saya merasa, karakter George Bowling tidak hanya sebatas karakter utama atau kegelisahan Orwell terkait modernitas, tapi justru George adalah manusia modern itu sendiri! Bagaimana dengan efisiensi yang sudah dihadirkan, manusia terasa monoton. Kebosanan yang dihilangkan untuk melakukan pekerjaan tiada akhir, atau memperkaya perusahaan yang bahkan secara tidak langsung menginjak kita.
Perginya George ke Lower Binfield adalah langkah akhir untuk membuatnya bebas, untuk menghirup udara segar dari kegelisahaan atas perang dunia dan hidupnya. Namun berakhir terjebak di dalam sistem yang membunuhnya secara perlahan.
Awalnya saya mengalami kebosanan saat membaca buku ini, sebab gaya penulisan yang penuh monolog dari George. Sampai di babak kedua-keempat saya makin mendapatkan kedalaman dalam membaca buku ini.
Seolah Orwell seperti ingin memberitahu saya, bahwa saya harus menyadari betapa membosankannya hidup terlebih dahulu, baru saya bisa menggali kehidupan lebih bermakna lagi.
Pada akhirnya, Coming Up for Air bukan sekadar cerita tentang nostalgia, melainkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sebuah pengingat bahwa terkadang, yang paling menakutkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kita tidak memiliki kendali atasnya.
Bagi pembaca yang tertarik pada refleksi tentang kehidupan, perubahan, dan kegelisahan manusia modern, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk direnungkan. [T]
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Jaswanto





























