25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Inno Koten by Inno Koten
March 22, 2026
in Ulas Buku
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Buku 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,  yang dilindas sejarah besar. Namun sastra, seperti juga sejarah, kadang tidak pernah bebas dari paradoks. Di dalamnya selalu ada retakan. Dan setidaknya itu terbaca dalam “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.”

Saya menemukan kembali buku ini pada awal 2026, setelah pembacaan pertama yang terhenti pada 2015. Sejak awal, naskah ini terasa ganjil. Pram seperti menempatkan bukunya  di antara karya sastra dan laporan sejarah. Cerita berjalan, tetapi kerap terputus oleh kesaksian; tokoh hadir, tetapi tidak sepenuhnya digarap dengan kedalaman psikis. Yang tersisa adalah fragmen, ingatan tentang perempuan yang yang terseret kedalam pusaran kolonialisme Jepang.

Dalam jarak lebih dari sepuluh tahun, teks yang sama terasa membuka wajah  lain. Pada pembacaan pertama, perhatian saya tertuju pada kegagalan negara mengingat mereka. Sejarah resmi memilih diam terhadap penderitaan yang dianggap memalukan. Perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi jugun ianfu itu seperti lenyap dari ingatan kolektif. Maka lewat buku ini, Pram tampak berdiri sebagai saksi yang mencoba mengembalikan suara mereka.

Pembacaan kedua membawa saya ke arah berbeda. Kali ini yang mengemuka adalah cara narasi bekerja; bagaimana bahasa membentuk gambaran tentang tubuh-tubuh perempuan di dalamnya. Mereka adalah korban sejarah, dipaksa keluar dari kehidupannya, diimingi propaganda dan janji Sendenbu lewat bupati, lurah, dan orang tua mereka sendiri.

Pram menyebut setidaknya tiga alasan yang membuat para gadis itu mudah terjerat. Pertama, cita-cita untuk maju dan berbakti pada masyarakat yang membuat mereka mudah terpikat oleh janji kemajuan. Kedua, keadaan hidup yang mencekik sehingga harapan-harapan yang ditawarkan propaganda terasa seperti jalan keluar. Ketiga, peran orang tua yang bekerja dalam struktur administrasi Jepang dan dengan patuh mengirim anak-anak mereka demi memenuhi perintah kekuasaan.

Penjelasan ini memberi konteks sosial bagi tragedi yang dialami para perempuan. Mereka hadir sebagai korban dari jaringan kekuasaan kolonial, birokrasi lokal, dan himpitan kondisi ekonomi. Akan tetapi, semakin jauh  membaca, semakin terasa bahwa narasi tidak berhenti pada peristiwa sejarah. Di dalamnya tersusung cara tertentu dalam memandang tubuh perempuan. Hal ini tampak pada bagian lima, “Para Perawan Remaja Buangan di Pulau Buru.”

Tubuh-tubuh Alfuru ditempatkan dalam posisi yang timpang. Pram membangun gambaran kolektif tentang tubuh pedalaman yang kasar, keras dan akrab dengan penyakit kulit (kaskado) dan elephantiasis (penyakit kaki gajah). Mekanisme ini dikenal sebagai othering, pembentukan identitas kelompok lain melalui generalisasi yang menempatkan orang di luar standar. Standar itu tidak pernah disebutkan, tetapi dapat diduga hadir dalam ingatan tubuh perempuan Jawa. Sebab ketika perempuan Jawa muncul, deskripsi Pram menjadi berubah.

Misalnya, Sutinah digambarkan memiliki kulit kuning sawo matang, bersih dan tidak terserang penyakit kulit. Pada bagian lain, muncul lagi seorang perempuan bertubuh tinggi semampai yang datang ke ladang Wanasurya. Pram menulis bahwa tubuhnya berbeda dari bangun tubuh wanita Alfuru pada umumnya. Bahkan, ketika usia telah meninggalkan keriput pada wajah mereka, dengan jujur Pram mengakui bahwa masih ada bekas-bekas kecantikan yang tertinggal.

Serangkaian deskripsi ini memberi batas estitika estetika secara tegas. Tubuh Jawa tampil sebagai  bersih, sehat, indah dan proporsional. Tubuh Alfuru hadir dalam perbandingan yang membuatnya terlihat lebih kasar, pendek, dan dekat dengan kondisi alam yang keras. Dari sini terbentuk hierarki secara halus tetapi konsisten. Yang satu menjadi ukuran, yang lain menjadi pembanding.

Selain tubuh, bahasa turut memperkuat susunan itu. Dalam satu adegan, Pram terkejut ketika dua perempuan Jawa yang dibuang ke Alfuru dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik. Ia menulis bahwa jawaban itu datang “tanpa saya duga”.  Keterkejutan ini mengandung asumsi yang cukup jelas. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak dibayangkan melekat pada mereka yang hidup di pinggiran.

Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi penanda tingkat peradaban. Kemampuan berbicara bahasa nasional diasosiasikan dengan kedekatan pada pusat kebudayan. Kelompok yang hidup di pinggiran diasumsikan lebih jauh dari standar tersebut. Maka dalam konteks narasi ini, tubuh dan bahasa bekerja bersama membentuk peta simbolik. Jawa sebagai pusat kebudayaan, sementara Alfuru berada di wilayah pinggiran.

Di sinilah paradoks itu muncul. Buku ini ditulis sebagai kesaksian tentang perempuan-perempuan yang dirampas martabat oleh kolonialisme. Pram hendak mengangkat kisah mereka dari penghapusan sejarah, memastikan bahwa tragedi ini layak dikenang dan dibicarakan. Namun pada saat yang sama, bahasa yang digunakan dalam narasi masih memantulkan imajinasi sosial tentang pusat dan pinggiran.

Secara politik, Pram tentu berada di pihak korban. Ia memberi ruang bagi suara yang didiamkan dalam sejarah. Tapi dalam tataran diskursif, narasi yang sama masih membawa jejak hierarki kultural dalam cara memandang tubuh dan kebudayaan. Kontradiksi semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Pram saja. Banyak penulis yang mungkin berjuang melawan ketidakdilan sejarah tetap membawa warisan cara pandang zamannya.

Maka membaca kembali “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” menghadirkan dua  kesadaran sekaligus. Kesadaran akan keberanian moral seorang penulis yang mampu membuka luka sejarah lama yang disembunyikan. Dan kesadaran lain tentang bahasa yang dipakai untuk membela perempuan kadang masih menyimpan bayangan tentang ketidaksederjatan sosial-kultural yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengarang sendiri.

Namun, penilaian ini tidak serta-merta menghapus perjuangan Pram lewat “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Sebaliknya, buku itu hampir selalu memiliki lapisan makna yang tidak sepenuhnya stabil. Di dalamnya, selalu terjadi kontestasi antara niat pembelaan kemanusiaan dan struktur bahasa yang membawa warisan sejarah.  “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer” tetap penting untuk dibaca. Tapi pada saat yang sama, ada kemungkinan lain untuk melihat hierarki etnis, estetika tubuh, dan imajinasi pusat-pinggiran.

Dengan cara ini, ada pelajaran penting dari pembacaan ulang terhadap “Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer”. Seorang pengarang besar yang sepanjang karya membela martabat manusia tidak sepenuhnya bebas dari struktur wacana zamannya. Catatan ini tidak pernah benar-benar steril dari sejarah yang melahirkannya. Tapi justru di dalam ketegangan itulah teks terus bergema, mengingatkan bahwa perjuangan untuk melihat perempuan secara setara selalu harus dimulai kembali, bahkan ketika kita membaca sebuah karya dengan spirit kemanusiaan yang paling tulus sekalipun. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukunovelPramoedya Ananta ToersastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Next Post

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Petani Maestro — Ketika Seni Bukanlah Label, Melainkan Pengabdian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co