25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umpan | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
March 22, 2026
in Cerpen
Umpan | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang.

***

Halaman rumah salah satu bibiku telah disulap menyerupai panggung pentas seni: rangkaian janur melengkung di pintu masuk, kain prada membungkus tiang dengan bunga-bunga palsu di beberapa titik. Musik instrumental mengalun dengan volume kecil, nyaris tanpa jeda. Para pagar ayu berdiri di depan meja tempat dulang-dulang berisi makanan ringan dan minuman penyambut tamu. Di dekat balai banten, foto pengantin berbusana adat dipajang. Indah dan sakral. Di mataku, itu hanya semacam pameran kebahagiaan yang dibingkai.

Jika bukan karena paksaan Meme, aku tidak akan datang ke acara ini. Untuk menghargai keluarga, katanya. Dan atas nama kesopanan pula, aku terpaksa duduk di antara kerabat jauh yang sebentar lagi pasti merasa cukup dekat untuk bertanya banyak hal padaku.

Benar saja, usai menikmati sate lilit terakhir di piring, seorang bibi bertubuh gemuk menepuk lenganku.

“Tu Eni, kan, ya?”

Aku mengangguk.

“Sudah nikah, kan?”

“Belum.”

“Terus yang dulu nikah itu siapa?”

“Kadek, adik saya.”

Pertanyaan lain mengalir lagi dengan wawancara seputar adikku. Suaminya orang mana? Kerjanya apa? Tinggal di mana? Sungguh basa-basi yang memuakkan. Hingga tibalah pada pertanyaan yang sebenarnya menjadi sebab adikku enggan pulang. Pertanyaan yang membuatnya memilih berbohong pada Meme, beralasan sang suami tidak bisa libur.

“Anaknya Kadek sudah berapa?”

“Belum punya.”

“Wah… padahal sudah setahun lebih, ya? Kalau mau cepat, suruh aja pakai anak pancingan. Bisa pinjem anak saudara sementara. Kayak ibumu dulu, kan, juga begitu.” Bibi berkebaya merah itu berkata seperti menyarankan orang memilih merk dupa, sungguh tanpa beban dan rasa sungkan.

Entah sudah beberapa kali saran seperti itu kudengar sejak dulu. Momen pertemuan keluarga besar seperti ini memang sering dijadikan ajang bertanya sekaligus berbagi tips seputar kehidupan. Saat Galungan, di acara adat, bahkan di tengah acara pengabenan pun selingan pembicaraan seperti ini hadir menjadi ritual tambahan wajib.

Salah satu pembahasan yang populer selain petuah jodoh adalah perihal anak pancingan. Di daerah tempat tinggalku, metode tersebut masih dipelihara sampai hari ini. Jika ada satu rumah belum terjamah tangis bayi, anak orang lain akan dibawa masuk, diasuh dan disayang. Konon, agar tertular, agar semesta membaca kesiapan si calon orang tua. Sialnya, aku dilahirkan dengan cara melewati semua itu.

Meme pernah mengasuh seorang anak, jauh sebelum aku ada. Seorang anak yang sampai hari ini harus kupanggil “Mbok”. Anak yang dulu digendong orang tuaku penuh harap dan mereka besarkan dengan doa. Tak lama setelahnya, Meme mengandungku. Orang-orang menyebutnya keberhasilan. Bukti bahwa hidup bisa dipancing. Bahwa takdir bisa menular asal tahu caranya. Namun bagiku, aku tak ubahnya hanya bayang cahaya sang umpan.

“Kapan nyusul, Tu?” Bibi itu kembali mengganggu.

“Nanti.”

“Eh, dulu sebelum adikmu nikah udah ngasih pelangkah, kan? Biar nggak bantug.”

Aku mengangguk. Pelangkah, uang atau barang yang diberikan adik kepada kakak sebagai permintaan izin karena menikah lebih dulu. Konon, tradisi itu bisa membuatku terhindar dari kesialan takdir jodoh. Sayang, cara itu tak berhasil padaku.

“Jangan terlalu memilih, Tu, nanti keburu jadi daa tua!” Kalimat itu melayang di antara tawa, diucapkan setengah bercanda seolah-olah usia perempuan pantas dijadikan lelucon di hari bahagia orang lain.

Aku tersenyum. Senyum yang sudah kupelajari sejak lama. Senyum orang yang hidupnya sering dibuka seperti lontar lama: dibaca sekilas lalu disimpulkan tergesa-gesa.

Andai bibi di sebelahku ini tahu, aku sudah melewati cara-cara yang dianggap wajar: beberapa kali berpacaran dan putus. Aku juga sudah mencoba peruntungan lewat aplikasi kencan, berharap ada obrolan berujung pada sesuatu yang lebih dari sekadar salam penutup. Namun, semua sia-sia. Jodohku seperti tersembunyi dalam gelap.

“Eh, itu bukannya Luh Eka?” Tepukan Bibi lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Benar, dia Mbok Luh Eka. Sepupu jauh yang dulu menjadi umpan kelahiranku itu tampaknya baru tiba. Kebaya ungu juwet model sabrina dipadukan kamen berwarna senada membuat kulit kuning langsatnya tampak semakin menyala. Selendang moscrepe warna maroon seolah-olah sengaja dipilih untuk menyembunyikan lemak di area pinggang.  Dia tampak lebih berisi dari terakhir kali kami bertemu.

Demi menjaga adab seorang adik angkat, aku menghampirinya. Kami duduk dan berbincang, bertanya tentang kabar, tentang pekerjaan, juga membahas beberapa hal terkait masa lalu. Semula obrolan kami terasa sesejuk angin pantai, sebelum Mbok Luh Eka mengulang beberapa pertanyaan bibi tadi.

“Kamu udah ada calon, Tu?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Cepetin cari pacar! Nikah itu enak tau.”

Mbok Luh Eka lalu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya: bayi lucu, suami perhatian, dan mertua yang sangat memanjakannya. Bagi orang lain itu mungkin cerita biasa atau bahkan istimewa. Tapi di telingaku, itu adalah jenis narasi kombinasi: pamer sekaligus ejekan.

“Mau Mbok bantu cariin pacar?” Mata bulatnya tampak berbinar.

Belum sempat aku menjawab, Mbok Luh Eka melambaikan tangan. Seorang laki-laki tersenyum dari kejauhan. Dia berjalan ke arah kami dengan gagah dalam balutan busana adat Bali yang terlihat sempurna. Aku tahu dia, pernah ketemu meski tidak sering.

Mbok Luh kembali bercerita tentang lelaki yang kini duduk di sebelahnya. Lewat ocehannya aku jadi tau kalau suaminya itu juga menyukai anime dan bermain game online yang sama denganku. Pembicaraan kemudian terasa sangat seru dan menyenangkan saat aku dan suaminya mengambil alih topik.

Hingga pada satu waktu jantungku tiba-tiba berdebar. Ada ide yang tiba-tiba menyala. Aku mengalihkan pandangan ke arah Mbok Luh Eka yang asyik memakan kacang kapri. Percakapan dengan Meme terlintas di kepala.

“Meme khawatir sama Kadek, Tu. Dari dulu wanita di sini memang lama punya anak. Kadek itu bengkung, Meme saranin pakai anak pancingan katanya nggak mau.”

“Ya biarin aja, Me. Baru juga setahun lebih dia nikah. Kadek udah program hamil juga ke dokter, kan? Mungkin memang belum dikasih aja,” sahutku santai.

“Alah, tau apa kamu? Pakai anak pancingan lebih manjur ketimbang dokter. Meme itu udah duluan ngalamin, Tu. Buktinya, kamu lahir setelah Luh Eka  tinggal di rumah, kan?”

Aku diam saat itu karena mendebat Meme sama saja memancing pertengkaran. Meme sangat meyakini aku bukti mitos, tidak akan terima jika ada yang mengatakan semua hanya kebetulan. Bagi Meme, Mbok Luh Eka adalah pembawa keberuntungan, berjasa dalam kehidupanku. Namun sekarang aku mulai berpikir, mungkinkah Meme benar? Akhirnya, aku memilih membuktikan sendiri.

Bunyi notifikasi Whatsapp menarikku kembali dari mesin waktu. Satu pesan datang dari kekasihku.

“Sayang… lagi apa? Aku kangen.”

“Sabar… nanti sore juga ketemu.”

“Hehe, iya. Nanti dandan yang cantik, ya!” Emoticon kecupan mengikuti kalimat itu.

“Iya…. Udah, nggak usah balas lagi. Aku mau bantu Meme. Jangan lupa hapus chat!”

Aku menghapus percakapan itu lalu menuju dapur, membantu Meme memasak makanan kesukaan Mbok Luh Eka, tentu saja bersama suaminya, yang akan berkunjung sore ini. [T]

Catatan:

  • Meme = Ibu
  • Mbok = kakak perempuan
  • balai banten = bangunan untuk tempat sarana upacara
  • daa tua = perawan tua
  • bantug = sial
  • bengkung = keras kepala, selalu menolak
  • pengabenan = upacara kematian

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Anaknya Bajang Sudah Pandai Merawat Bumi

Next Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co