25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Umpan | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
March 22, 2026
in Cerpen
Umpan | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering disarankan orang-orang.

***

Halaman rumah salah satu bibiku telah disulap menyerupai panggung pentas seni: rangkaian janur melengkung di pintu masuk, kain prada membungkus tiang dengan bunga-bunga palsu di beberapa titik. Musik instrumental mengalun dengan volume kecil, nyaris tanpa jeda. Para pagar ayu berdiri di depan meja tempat dulang-dulang berisi makanan ringan dan minuman penyambut tamu. Di dekat balai banten, foto pengantin berbusana adat dipajang. Indah dan sakral. Di mataku, itu hanya semacam pameran kebahagiaan yang dibingkai.

Jika bukan karena paksaan Meme, aku tidak akan datang ke acara ini. Untuk menghargai keluarga, katanya. Dan atas nama kesopanan pula, aku terpaksa duduk di antara kerabat jauh yang sebentar lagi pasti merasa cukup dekat untuk bertanya banyak hal padaku.

Benar saja, usai menikmati sate lilit terakhir di piring, seorang bibi bertubuh gemuk menepuk lenganku.

“Tu Eni, kan, ya?”

Aku mengangguk.

“Sudah nikah, kan?”

“Belum.”

“Terus yang dulu nikah itu siapa?”

“Kadek, adik saya.”

Pertanyaan lain mengalir lagi dengan wawancara seputar adikku. Suaminya orang mana? Kerjanya apa? Tinggal di mana? Sungguh basa-basi yang memuakkan. Hingga tibalah pada pertanyaan yang sebenarnya menjadi sebab adikku enggan pulang. Pertanyaan yang membuatnya memilih berbohong pada Meme, beralasan sang suami tidak bisa libur.

“Anaknya Kadek sudah berapa?”

“Belum punya.”

“Wah… padahal sudah setahun lebih, ya? Kalau mau cepat, suruh aja pakai anak pancingan. Bisa pinjem anak saudara sementara. Kayak ibumu dulu, kan, juga begitu.” Bibi berkebaya merah itu berkata seperti menyarankan orang memilih merk dupa, sungguh tanpa beban dan rasa sungkan.

Entah sudah beberapa kali saran seperti itu kudengar sejak dulu. Momen pertemuan keluarga besar seperti ini memang sering dijadikan ajang bertanya sekaligus berbagi tips seputar kehidupan. Saat Galungan, di acara adat, bahkan di tengah acara pengabenan pun selingan pembicaraan seperti ini hadir menjadi ritual tambahan wajib.

Salah satu pembahasan yang populer selain petuah jodoh adalah perihal anak pancingan. Di daerah tempat tinggalku, metode tersebut masih dipelihara sampai hari ini. Jika ada satu rumah belum terjamah tangis bayi, anak orang lain akan dibawa masuk, diasuh dan disayang. Konon, agar tertular, agar semesta membaca kesiapan si calon orang tua. Sialnya, aku dilahirkan dengan cara melewati semua itu.

Meme pernah mengasuh seorang anak, jauh sebelum aku ada. Seorang anak yang sampai hari ini harus kupanggil “Mbok”. Anak yang dulu digendong orang tuaku penuh harap dan mereka besarkan dengan doa. Tak lama setelahnya, Meme mengandungku. Orang-orang menyebutnya keberhasilan. Bukti bahwa hidup bisa dipancing. Bahwa takdir bisa menular asal tahu caranya. Namun bagiku, aku tak ubahnya hanya bayang cahaya sang umpan.

“Kapan nyusul, Tu?” Bibi itu kembali mengganggu.

“Nanti.”

“Eh, dulu sebelum adikmu nikah udah ngasih pelangkah, kan? Biar nggak bantug.”

Aku mengangguk. Pelangkah, uang atau barang yang diberikan adik kepada kakak sebagai permintaan izin karena menikah lebih dulu. Konon, tradisi itu bisa membuatku terhindar dari kesialan takdir jodoh. Sayang, cara itu tak berhasil padaku.

“Jangan terlalu memilih, Tu, nanti keburu jadi daa tua!” Kalimat itu melayang di antara tawa, diucapkan setengah bercanda seolah-olah usia perempuan pantas dijadikan lelucon di hari bahagia orang lain.

Aku tersenyum. Senyum yang sudah kupelajari sejak lama. Senyum orang yang hidupnya sering dibuka seperti lontar lama: dibaca sekilas lalu disimpulkan tergesa-gesa.

Andai bibi di sebelahku ini tahu, aku sudah melewati cara-cara yang dianggap wajar: beberapa kali berpacaran dan putus. Aku juga sudah mencoba peruntungan lewat aplikasi kencan, berharap ada obrolan berujung pada sesuatu yang lebih dari sekadar salam penutup. Namun, semua sia-sia. Jodohku seperti tersembunyi dalam gelap.

“Eh, itu bukannya Luh Eka?” Tepukan Bibi lagi-lagi membuyarkan lamunanku.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Benar, dia Mbok Luh Eka. Sepupu jauh yang dulu menjadi umpan kelahiranku itu tampaknya baru tiba. Kebaya ungu juwet model sabrina dipadukan kamen berwarna senada membuat kulit kuning langsatnya tampak semakin menyala. Selendang moscrepe warna maroon seolah-olah sengaja dipilih untuk menyembunyikan lemak di area pinggang.  Dia tampak lebih berisi dari terakhir kali kami bertemu.

Demi menjaga adab seorang adik angkat, aku menghampirinya. Kami duduk dan berbincang, bertanya tentang kabar, tentang pekerjaan, juga membahas beberapa hal terkait masa lalu. Semula obrolan kami terasa sesejuk angin pantai, sebelum Mbok Luh Eka mengulang beberapa pertanyaan bibi tadi.

“Kamu udah ada calon, Tu?”

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Cepetin cari pacar! Nikah itu enak tau.”

Mbok Luh Eka lalu bercerita tentang kehidupan rumah tangganya: bayi lucu, suami perhatian, dan mertua yang sangat memanjakannya. Bagi orang lain itu mungkin cerita biasa atau bahkan istimewa. Tapi di telingaku, itu adalah jenis narasi kombinasi: pamer sekaligus ejekan.

“Mau Mbok bantu cariin pacar?” Mata bulatnya tampak berbinar.

Belum sempat aku menjawab, Mbok Luh Eka melambaikan tangan. Seorang laki-laki tersenyum dari kejauhan. Dia berjalan ke arah kami dengan gagah dalam balutan busana adat Bali yang terlihat sempurna. Aku tahu dia, pernah ketemu meski tidak sering.

Mbok Luh kembali bercerita tentang lelaki yang kini duduk di sebelahnya. Lewat ocehannya aku jadi tau kalau suaminya itu juga menyukai anime dan bermain game online yang sama denganku. Pembicaraan kemudian terasa sangat seru dan menyenangkan saat aku dan suaminya mengambil alih topik.

Hingga pada satu waktu jantungku tiba-tiba berdebar. Ada ide yang tiba-tiba menyala. Aku mengalihkan pandangan ke arah Mbok Luh Eka yang asyik memakan kacang kapri. Percakapan dengan Meme terlintas di kepala.

“Meme khawatir sama Kadek, Tu. Dari dulu wanita di sini memang lama punya anak. Kadek itu bengkung, Meme saranin pakai anak pancingan katanya nggak mau.”

“Ya biarin aja, Me. Baru juga setahun lebih dia nikah. Kadek udah program hamil juga ke dokter, kan? Mungkin memang belum dikasih aja,” sahutku santai.

“Alah, tau apa kamu? Pakai anak pancingan lebih manjur ketimbang dokter. Meme itu udah duluan ngalamin, Tu. Buktinya, kamu lahir setelah Luh Eka  tinggal di rumah, kan?”

Aku diam saat itu karena mendebat Meme sama saja memancing pertengkaran. Meme sangat meyakini aku bukti mitos, tidak akan terima jika ada yang mengatakan semua hanya kebetulan. Bagi Meme, Mbok Luh Eka adalah pembawa keberuntungan, berjasa dalam kehidupanku. Namun sekarang aku mulai berpikir, mungkinkah Meme benar? Akhirnya, aku memilih membuktikan sendiri.

Bunyi notifikasi Whatsapp menarikku kembali dari mesin waktu. Satu pesan datang dari kekasihku.

“Sayang… lagi apa? Aku kangen.”

“Sabar… nanti sore juga ketemu.”

“Hehe, iya. Nanti dandan yang cantik, ya!” Emoticon kecupan mengikuti kalimat itu.

“Iya…. Udah, nggak usah balas lagi. Aku mau bantu Meme. Jangan lupa hapus chat!”

Aku menghapus percakapan itu lalu menuju dapur, membantu Meme memasak makanan kesukaan Mbok Luh Eka, tentu saja bersama suaminya, yang akan berkunjung sore ini. [T]

Catatan:

  • Meme = Ibu
  • Mbok = kakak perempuan
  • balai banten = bangunan untuk tempat sarana upacara
  • daa tua = perawan tua
  • bantug = sial
  • bengkung = keras kepala, selalu menolak
  • pengabenan = upacara kematian

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Anaknya Bajang Sudah Pandai Merawat Bumi

Next Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
0
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co