25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
in Cerpen
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu dan ibumu menutup tirai kamarnya, menurunkan kelambu dan tidur bersama bantal guling. Meskipun mereka tetap saling melayani: rantang bekal makanan untuk dibawah bapakmu ke sawah selalu sedia di pagi hari, bau peapi[1] dan sayur bening tetap tersaji di nampan pada waktu malam, dan air di kamar mandi selalu penuh karena bapakmu pada dini hari tetap menimba air dari sumur. Mereka tetap memberi penghargaan yang layak kendati enggan memulai percakapan. Ini karena ego bapakmu yang masih memuncak dan ketika ua’ dari pihak ibumu datang menyaksikan keanehan itu dan bertanya pada ibumu soal sebabnya apa, ibumu hanya diam dan tak memberi jawaban apa-apa.

Semua itu bermula ketika adikmu Saiding, S.E.—sarjana pertama dan satu-satunya di kampung Ata’—datang. Sepekan yang lalu dia pulang dari tanah rantau setelah enam tahun berkuliah. Betapa girangnya bapak dan ibumu ketika kepulanganmu yang penuh haru itu disambut meriah warga kampung. Kebahagiaan yang akhirnya terejawantah menjadi hajatan syukuran. Orang tuamu mengambil tabungan hasil panen tiga bulan lalu. Ia memotong satu ekor sapi untuk warga kampung dan mengundang ustad di kota kecamatan untuk memberi ceramah di acara itu dan memberi ceramah dengan topik pentingnya pendidikan.

Adikmu kini jadi tolok ukur kesuksesan di kampung Ata’. Mereka bahkan ketika pulang dari rumahmu, meminta saran dan kiat-kiat apa biar anak mereka juga mampu sekolah tinggi sebab mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang tetapi anak-anak mereka terbatas kemampuannya—mereka bisa membaca, tetapi susah memahami isi bacaanya—meskipun keterampilan bertahan hidupnya tidak usah ditanya. Bapakmu sekadar menjawab dengan singkat agar tidak dikira sombong, “cuman doa saja”, dan ibumu menimpali, “yang kami panjatkan setiap malam”.

Selepas acara meriah itu, adikmu mendudukkan orang tuamu. Kamu berada di tempat itu juga. Tepatnya di depan televisi. Kau tidak tertarik mendengarkan cerita adikmu yang tidak kamu mengerti dan lebih memilih bermain mainan.

“pokoknya, dalam waktu tiga bulan itu uang ibu kembali tiga kalilipat, tiga juta yang kita masukkan, tiga bulan kemudian jadi tiga puluh juta, bahkan bisa langsung jadi seratus juta,” ucap Saiding dengan sangat meyakinknan.

“Apa itu, Nak? Kamu tidak jadi lintah darat kan?” tanya ibumu

“Astaga tidak, Amma. Ini yang disebut investasi. Semakin banyak yang kita investasikan, semakin banyak pula keuntungan yang kita peroleh”

Bapakmu tidak begitu terkesan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya memudar. Ia ingat sekali ibunya dulu terkena tipu PT. Untung Tabung—semacam koperasi simpan pinjam yang beroperasi mencari nasabah di desa-desa. Mereka menjanjikan nenekmu tiket umroh gratis jika berhasil mencari nasabah sebanyak tiga puluh orang. Nenekmu berhasil, mudah saja ia dapatkan orang-orang yang ingin menabung. Sebagai anak kepala desa nenekmu itu pernah disekolahkan di kota kecamatan jadi dia punya kemampuan komunikasi yang bagus.

Nahas. Saat nenekmu ingin mencairkan hadiah tiket umroh, gedung kantor PT. Untung Tabung itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa selain gorden yang bergoyang dan ratusan kertas yang tergeletak di lantai berpindah-bepindah tertiup angin. Nenekmulah akhirnya yang jadi amuk sasaran. Dia diarak keliling kampung, dihujat dan dihinakan. Bapakmu yang baru saja menerima kabar kelulusannya di universitas melalui jalur prestasi olahraga di kota kecamatan pulang ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa dia tidak mungkin melanjutkan kuliah. Isi rumah bapakmu dijarah oleh warga yang tidak mau rugi. Paling tidak ada yang bisa jadi uang dari perkakas dan perabotan dalam rumahmu. Korban penipuan yang paling banyak kerugiannya melampiaskan amarahnya dengan membakar rumahmu. Begitulah mengapa kamu kini tinggal di kampung Ata’ kampung dari ibumu.

Inilah yang membentuk watak bapakmu. Dia tidak percaya lagi sama uang yang didapat tanpa mengeluarkan keringat. Ingatan traumatis yang membuat bapakmu menjadi pendiam dan pekerja keras. Baginya, uang itu hanya bisa ada kalau kerja keras dalam arti sebenarnya, bukan khiasan. Kalau keringatmu tidak keluar, tidak mungkin itu uang ada. Apatah lagi, saat adikmu sampai pada ujung pembahasannya, bahwa dia butuh sertifikat sawah untuk jadi modal investasinya. Namun, ibumu punya pandangan lain.

“Itulah kenapa Saiding kita suruh sekolah tinggi biar ia tidak perlu kerja keras seperti kita supaya kalau dia jadi pegawai negeri, dia bisa urus Kambu.” Sembari bicara Ibumu menengok ke arahmu.

“Kita tidak mungkin mengurus Kambu terus.”

Kamu dijadikan alasan supaya bapakmu melembutkan hatinya. Namun bapakmu bertahan, bahwa pantang sawah itu digadai. Pamali. Bapakmu masih ingat pesan-pesan dari kakekmu, kalau jadi orang itu jangan suka jual barang-barang, nanti surukawu[2]. Tapi Ibumu bersikeras. Ini karena adikmu juga tidak berhenti merajuk ibumu. Kamu tahu kan seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Saat bapakmu terlelap, di malam sebelum besoknya adikmu ke ibu kota, ibumu mengambil sertifikat sawah dan memasukkannya ke dalam tas Saiding. Ibumu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian ini, bahkan adikmupun tidak. Ibumu hanya menulis pesan dalam secarik kertas:

Tolong nak, kembalikan sertifikat ini jika sudah berhasil investasimu itu. Jangan kecewakan kasih sayang amma dan abbamu. Dan ingat Kambu. Jangan pernah lupakan dia.

Adikmu pamit. Mobil panther sudah berada di halaman rumah. Bapakmu memeluk adikmu dan setelahnya ibumu memelukmu lebih erat, mencium keningmu lalu membisikkan nasehat: “Ingat Kambu, Nak”. Sebelum beranjak giliran kamu yang dipeluk oleh adikmu sembari mengusap rambutmu. Kamu sesenggukan dan suaramu meracau seperti hendak mengatakan jangan pergi.

Suara deru kendaraan pelan menghilang bersamaan dengan mobil yang tak lagi nampak. Ibumu memberi tahu bapakmu, bahwa ia telah memberi sertifikat sawah itu ke adikmu secara diam-diam. Dan kamu menatap raut wajah ayahmu yang merah. Tangannya mengepal. Matanya berbinar. Dia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu kemudian mengusap ekor matanya. Sejak hari itu bapak dan ibumu tidak lagi saling menegur.

Satu bulan kemudian investasi adikmu gagal total. Dia kena tipu investasi bodong. Uang 200 juta hasil gadai sertifikat itu raib dalam hitungan jam. Adikmu terlena prospek bahwa orang bisa kaya raya dalam waktu ringkas. Ia terpukau dengan ucapan: “daripada ternak hewan lebih baik ternak uang”. Adikmu menghilang tanpa ada kabar.

Dua orang petugas bank ditemani dua orang aparat keamanan mendatangi rumahmu. Mereka menyita sawah, satu-satunya sumber penghasilan dari orang tuamu. Bapakmu terdiam, dia tidak bisa apa-apa setelah menunjukkan dokumen bahwa, sertifikat sawah ini telah digadai dan adikmu tidak dapat membayar tagihan bulananya. Ibumu meraung memohon maaf kepada bapakmu yang sejak saat itu tidak lagi dapat bicara. Dia diam untuk selamanya.

Kabar berembus secepat kilat. Satu kampung langsung tahu apa yang terjadi. Mereka yang tadinya mengelu-elukan adikmu kini berbalik menghujatnya. Mereka pikir sekolah tinggi menjadikan orang makin bisa membahagiakan orang tuanya, bukan sebaliknya bikin sengsara. Apa yang didera nenekmu kini terjadi padamu. Kedua orangtuamu menjadi tertutup. Malu yang sedemikian menyakitkan membuat orang tuamu berhenti berinteraksi dengan warga di kampung. Begitulah ceritanya mengapa kamu kini menggelandang di kota dengan pakaian compang camping, kulit hitam legam dengan aroma yang menyengat.


[1] Ikan Kuah Kuning khas Mandar, Sulawesi Barat

[2] Pamali. Kualat.

Penulis: Syafri Arifuddin Masser
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Next Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser

Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia dan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Fajar. Cerpennya telah tayang di Omong-omong.com, Kurungbuka.id, Janang.id, dan Semutapi.id

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co