4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
in Cerpen
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu dan ibumu menutup tirai kamarnya, menurunkan kelambu dan tidur bersama bantal guling. Meskipun mereka tetap saling melayani: rantang bekal makanan untuk dibawah bapakmu ke sawah selalu sedia di pagi hari, bau peapi[1] dan sayur bening tetap tersaji di nampan pada waktu malam, dan air di kamar mandi selalu penuh karena bapakmu pada dini hari tetap menimba air dari sumur. Mereka tetap memberi penghargaan yang layak kendati enggan memulai percakapan. Ini karena ego bapakmu yang masih memuncak dan ketika ua’ dari pihak ibumu datang menyaksikan keanehan itu dan bertanya pada ibumu soal sebabnya apa, ibumu hanya diam dan tak memberi jawaban apa-apa.

Semua itu bermula ketika adikmu Saiding, S.E.—sarjana pertama dan satu-satunya di kampung Ata’—datang. Sepekan yang lalu dia pulang dari tanah rantau setelah enam tahun berkuliah. Betapa girangnya bapak dan ibumu ketika kepulanganmu yang penuh haru itu disambut meriah warga kampung. Kebahagiaan yang akhirnya terejawantah menjadi hajatan syukuran. Orang tuamu mengambil tabungan hasil panen tiga bulan lalu. Ia memotong satu ekor sapi untuk warga kampung dan mengundang ustad di kota kecamatan untuk memberi ceramah di acara itu dan memberi ceramah dengan topik pentingnya pendidikan.

Adikmu kini jadi tolok ukur kesuksesan di kampung Ata’. Mereka bahkan ketika pulang dari rumahmu, meminta saran dan kiat-kiat apa biar anak mereka juga mampu sekolah tinggi sebab mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang tetapi anak-anak mereka terbatas kemampuannya—mereka bisa membaca, tetapi susah memahami isi bacaanya—meskipun keterampilan bertahan hidupnya tidak usah ditanya. Bapakmu sekadar menjawab dengan singkat agar tidak dikira sombong, “cuman doa saja”, dan ibumu menimpali, “yang kami panjatkan setiap malam”.

Selepas acara meriah itu, adikmu mendudukkan orang tuamu. Kamu berada di tempat itu juga. Tepatnya di depan televisi. Kau tidak tertarik mendengarkan cerita adikmu yang tidak kamu mengerti dan lebih memilih bermain mainan.

“pokoknya, dalam waktu tiga bulan itu uang ibu kembali tiga kalilipat, tiga juta yang kita masukkan, tiga bulan kemudian jadi tiga puluh juta, bahkan bisa langsung jadi seratus juta,” ucap Saiding dengan sangat meyakinknan.

“Apa itu, Nak? Kamu tidak jadi lintah darat kan?” tanya ibumu

“Astaga tidak, Amma. Ini yang disebut investasi. Semakin banyak yang kita investasikan, semakin banyak pula keuntungan yang kita peroleh”

Bapakmu tidak begitu terkesan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya memudar. Ia ingat sekali ibunya dulu terkena tipu PT. Untung Tabung—semacam koperasi simpan pinjam yang beroperasi mencari nasabah di desa-desa. Mereka menjanjikan nenekmu tiket umroh gratis jika berhasil mencari nasabah sebanyak tiga puluh orang. Nenekmu berhasil, mudah saja ia dapatkan orang-orang yang ingin menabung. Sebagai anak kepala desa nenekmu itu pernah disekolahkan di kota kecamatan jadi dia punya kemampuan komunikasi yang bagus.

Nahas. Saat nenekmu ingin mencairkan hadiah tiket umroh, gedung kantor PT. Untung Tabung itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa selain gorden yang bergoyang dan ratusan kertas yang tergeletak di lantai berpindah-bepindah tertiup angin. Nenekmulah akhirnya yang jadi amuk sasaran. Dia diarak keliling kampung, dihujat dan dihinakan. Bapakmu yang baru saja menerima kabar kelulusannya di universitas melalui jalur prestasi olahraga di kota kecamatan pulang ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa dia tidak mungkin melanjutkan kuliah. Isi rumah bapakmu dijarah oleh warga yang tidak mau rugi. Paling tidak ada yang bisa jadi uang dari perkakas dan perabotan dalam rumahmu. Korban penipuan yang paling banyak kerugiannya melampiaskan amarahnya dengan membakar rumahmu. Begitulah mengapa kamu kini tinggal di kampung Ata’ kampung dari ibumu.

Inilah yang membentuk watak bapakmu. Dia tidak percaya lagi sama uang yang didapat tanpa mengeluarkan keringat. Ingatan traumatis yang membuat bapakmu menjadi pendiam dan pekerja keras. Baginya, uang itu hanya bisa ada kalau kerja keras dalam arti sebenarnya, bukan khiasan. Kalau keringatmu tidak keluar, tidak mungkin itu uang ada. Apatah lagi, saat adikmu sampai pada ujung pembahasannya, bahwa dia butuh sertifikat sawah untuk jadi modal investasinya. Namun, ibumu punya pandangan lain.

“Itulah kenapa Saiding kita suruh sekolah tinggi biar ia tidak perlu kerja keras seperti kita supaya kalau dia jadi pegawai negeri, dia bisa urus Kambu.” Sembari bicara Ibumu menengok ke arahmu.

“Kita tidak mungkin mengurus Kambu terus.”

Kamu dijadikan alasan supaya bapakmu melembutkan hatinya. Namun bapakmu bertahan, bahwa pantang sawah itu digadai. Pamali. Bapakmu masih ingat pesan-pesan dari kakekmu, kalau jadi orang itu jangan suka jual barang-barang, nanti surukawu[2]. Tapi Ibumu bersikeras. Ini karena adikmu juga tidak berhenti merajuk ibumu. Kamu tahu kan seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Saat bapakmu terlelap, di malam sebelum besoknya adikmu ke ibu kota, ibumu mengambil sertifikat sawah dan memasukkannya ke dalam tas Saiding. Ibumu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian ini, bahkan adikmupun tidak. Ibumu hanya menulis pesan dalam secarik kertas:

Tolong nak, kembalikan sertifikat ini jika sudah berhasil investasimu itu. Jangan kecewakan kasih sayang amma dan abbamu. Dan ingat Kambu. Jangan pernah lupakan dia.

Adikmu pamit. Mobil panther sudah berada di halaman rumah. Bapakmu memeluk adikmu dan setelahnya ibumu memelukmu lebih erat, mencium keningmu lalu membisikkan nasehat: “Ingat Kambu, Nak”. Sebelum beranjak giliran kamu yang dipeluk oleh adikmu sembari mengusap rambutmu. Kamu sesenggukan dan suaramu meracau seperti hendak mengatakan jangan pergi.

Suara deru kendaraan pelan menghilang bersamaan dengan mobil yang tak lagi nampak. Ibumu memberi tahu bapakmu, bahwa ia telah memberi sertifikat sawah itu ke adikmu secara diam-diam. Dan kamu menatap raut wajah ayahmu yang merah. Tangannya mengepal. Matanya berbinar. Dia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu kemudian mengusap ekor matanya. Sejak hari itu bapak dan ibumu tidak lagi saling menegur.

Satu bulan kemudian investasi adikmu gagal total. Dia kena tipu investasi bodong. Uang 200 juta hasil gadai sertifikat itu raib dalam hitungan jam. Adikmu terlena prospek bahwa orang bisa kaya raya dalam waktu ringkas. Ia terpukau dengan ucapan: “daripada ternak hewan lebih baik ternak uang”. Adikmu menghilang tanpa ada kabar.

Dua orang petugas bank ditemani dua orang aparat keamanan mendatangi rumahmu. Mereka menyita sawah, satu-satunya sumber penghasilan dari orang tuamu. Bapakmu terdiam, dia tidak bisa apa-apa setelah menunjukkan dokumen bahwa, sertifikat sawah ini telah digadai dan adikmu tidak dapat membayar tagihan bulananya. Ibumu meraung memohon maaf kepada bapakmu yang sejak saat itu tidak lagi dapat bicara. Dia diam untuk selamanya.

Kabar berembus secepat kilat. Satu kampung langsung tahu apa yang terjadi. Mereka yang tadinya mengelu-elukan adikmu kini berbalik menghujatnya. Mereka pikir sekolah tinggi menjadikan orang makin bisa membahagiakan orang tuanya, bukan sebaliknya bikin sengsara. Apa yang didera nenekmu kini terjadi padamu. Kedua orangtuamu menjadi tertutup. Malu yang sedemikian menyakitkan membuat orang tuamu berhenti berinteraksi dengan warga di kampung. Begitulah ceritanya mengapa kamu kini menggelandang di kota dengan pakaian compang camping, kulit hitam legam dengan aroma yang menyengat.


[1] Ikan Kuah Kuning khas Mandar, Sulawesi Barat

[2] Pamali. Kualat.

Penulis: Syafri Arifuddin Masser
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Next Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser

Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia dan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Fajar. Cerpennya telah tayang di Omong-omong.com, Kurungbuka.id, Janang.id, dan Semutapi.id

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co