25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
in Cerpen
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu dan ibumu menutup tirai kamarnya, menurunkan kelambu dan tidur bersama bantal guling. Meskipun mereka tetap saling melayani: rantang bekal makanan untuk dibawah bapakmu ke sawah selalu sedia di pagi hari, bau peapi[1] dan sayur bening tetap tersaji di nampan pada waktu malam, dan air di kamar mandi selalu penuh karena bapakmu pada dini hari tetap menimba air dari sumur. Mereka tetap memberi penghargaan yang layak kendati enggan memulai percakapan. Ini karena ego bapakmu yang masih memuncak dan ketika ua’ dari pihak ibumu datang menyaksikan keanehan itu dan bertanya pada ibumu soal sebabnya apa, ibumu hanya diam dan tak memberi jawaban apa-apa.

Semua itu bermula ketika adikmu Saiding, S.E.—sarjana pertama dan satu-satunya di kampung Ata’—datang. Sepekan yang lalu dia pulang dari tanah rantau setelah enam tahun berkuliah. Betapa girangnya bapak dan ibumu ketika kepulanganmu yang penuh haru itu disambut meriah warga kampung. Kebahagiaan yang akhirnya terejawantah menjadi hajatan syukuran. Orang tuamu mengambil tabungan hasil panen tiga bulan lalu. Ia memotong satu ekor sapi untuk warga kampung dan mengundang ustad di kota kecamatan untuk memberi ceramah di acara itu dan memberi ceramah dengan topik pentingnya pendidikan.

Adikmu kini jadi tolok ukur kesuksesan di kampung Ata’. Mereka bahkan ketika pulang dari rumahmu, meminta saran dan kiat-kiat apa biar anak mereka juga mampu sekolah tinggi sebab mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang tetapi anak-anak mereka terbatas kemampuannya—mereka bisa membaca, tetapi susah memahami isi bacaanya—meskipun keterampilan bertahan hidupnya tidak usah ditanya. Bapakmu sekadar menjawab dengan singkat agar tidak dikira sombong, “cuman doa saja”, dan ibumu menimpali, “yang kami panjatkan setiap malam”.

Selepas acara meriah itu, adikmu mendudukkan orang tuamu. Kamu berada di tempat itu juga. Tepatnya di depan televisi. Kau tidak tertarik mendengarkan cerita adikmu yang tidak kamu mengerti dan lebih memilih bermain mainan.

“pokoknya, dalam waktu tiga bulan itu uang ibu kembali tiga kalilipat, tiga juta yang kita masukkan, tiga bulan kemudian jadi tiga puluh juta, bahkan bisa langsung jadi seratus juta,” ucap Saiding dengan sangat meyakinknan.

“Apa itu, Nak? Kamu tidak jadi lintah darat kan?” tanya ibumu

“Astaga tidak, Amma. Ini yang disebut investasi. Semakin banyak yang kita investasikan, semakin banyak pula keuntungan yang kita peroleh”

Bapakmu tidak begitu terkesan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya memudar. Ia ingat sekali ibunya dulu terkena tipu PT. Untung Tabung—semacam koperasi simpan pinjam yang beroperasi mencari nasabah di desa-desa. Mereka menjanjikan nenekmu tiket umroh gratis jika berhasil mencari nasabah sebanyak tiga puluh orang. Nenekmu berhasil, mudah saja ia dapatkan orang-orang yang ingin menabung. Sebagai anak kepala desa nenekmu itu pernah disekolahkan di kota kecamatan jadi dia punya kemampuan komunikasi yang bagus.

Nahas. Saat nenekmu ingin mencairkan hadiah tiket umroh, gedung kantor PT. Untung Tabung itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa selain gorden yang bergoyang dan ratusan kertas yang tergeletak di lantai berpindah-bepindah tertiup angin. Nenekmulah akhirnya yang jadi amuk sasaran. Dia diarak keliling kampung, dihujat dan dihinakan. Bapakmu yang baru saja menerima kabar kelulusannya di universitas melalui jalur prestasi olahraga di kota kecamatan pulang ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa dia tidak mungkin melanjutkan kuliah. Isi rumah bapakmu dijarah oleh warga yang tidak mau rugi. Paling tidak ada yang bisa jadi uang dari perkakas dan perabotan dalam rumahmu. Korban penipuan yang paling banyak kerugiannya melampiaskan amarahnya dengan membakar rumahmu. Begitulah mengapa kamu kini tinggal di kampung Ata’ kampung dari ibumu.

Inilah yang membentuk watak bapakmu. Dia tidak percaya lagi sama uang yang didapat tanpa mengeluarkan keringat. Ingatan traumatis yang membuat bapakmu menjadi pendiam dan pekerja keras. Baginya, uang itu hanya bisa ada kalau kerja keras dalam arti sebenarnya, bukan khiasan. Kalau keringatmu tidak keluar, tidak mungkin itu uang ada. Apatah lagi, saat adikmu sampai pada ujung pembahasannya, bahwa dia butuh sertifikat sawah untuk jadi modal investasinya. Namun, ibumu punya pandangan lain.

“Itulah kenapa Saiding kita suruh sekolah tinggi biar ia tidak perlu kerja keras seperti kita supaya kalau dia jadi pegawai negeri, dia bisa urus Kambu.” Sembari bicara Ibumu menengok ke arahmu.

“Kita tidak mungkin mengurus Kambu terus.”

Kamu dijadikan alasan supaya bapakmu melembutkan hatinya. Namun bapakmu bertahan, bahwa pantang sawah itu digadai. Pamali. Bapakmu masih ingat pesan-pesan dari kakekmu, kalau jadi orang itu jangan suka jual barang-barang, nanti surukawu[2]. Tapi Ibumu bersikeras. Ini karena adikmu juga tidak berhenti merajuk ibumu. Kamu tahu kan seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Saat bapakmu terlelap, di malam sebelum besoknya adikmu ke ibu kota, ibumu mengambil sertifikat sawah dan memasukkannya ke dalam tas Saiding. Ibumu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian ini, bahkan adikmupun tidak. Ibumu hanya menulis pesan dalam secarik kertas:

Tolong nak, kembalikan sertifikat ini jika sudah berhasil investasimu itu. Jangan kecewakan kasih sayang amma dan abbamu. Dan ingat Kambu. Jangan pernah lupakan dia.

Adikmu pamit. Mobil panther sudah berada di halaman rumah. Bapakmu memeluk adikmu dan setelahnya ibumu memelukmu lebih erat, mencium keningmu lalu membisikkan nasehat: “Ingat Kambu, Nak”. Sebelum beranjak giliran kamu yang dipeluk oleh adikmu sembari mengusap rambutmu. Kamu sesenggukan dan suaramu meracau seperti hendak mengatakan jangan pergi.

Suara deru kendaraan pelan menghilang bersamaan dengan mobil yang tak lagi nampak. Ibumu memberi tahu bapakmu, bahwa ia telah memberi sertifikat sawah itu ke adikmu secara diam-diam. Dan kamu menatap raut wajah ayahmu yang merah. Tangannya mengepal. Matanya berbinar. Dia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu kemudian mengusap ekor matanya. Sejak hari itu bapak dan ibumu tidak lagi saling menegur.

Satu bulan kemudian investasi adikmu gagal total. Dia kena tipu investasi bodong. Uang 200 juta hasil gadai sertifikat itu raib dalam hitungan jam. Adikmu terlena prospek bahwa orang bisa kaya raya dalam waktu ringkas. Ia terpukau dengan ucapan: “daripada ternak hewan lebih baik ternak uang”. Adikmu menghilang tanpa ada kabar.

Dua orang petugas bank ditemani dua orang aparat keamanan mendatangi rumahmu. Mereka menyita sawah, satu-satunya sumber penghasilan dari orang tuamu. Bapakmu terdiam, dia tidak bisa apa-apa setelah menunjukkan dokumen bahwa, sertifikat sawah ini telah digadai dan adikmu tidak dapat membayar tagihan bulananya. Ibumu meraung memohon maaf kepada bapakmu yang sejak saat itu tidak lagi dapat bicara. Dia diam untuk selamanya.

Kabar berembus secepat kilat. Satu kampung langsung tahu apa yang terjadi. Mereka yang tadinya mengelu-elukan adikmu kini berbalik menghujatnya. Mereka pikir sekolah tinggi menjadikan orang makin bisa membahagiakan orang tuanya, bukan sebaliknya bikin sengsara. Apa yang didera nenekmu kini terjadi padamu. Kedua orangtuamu menjadi tertutup. Malu yang sedemikian menyakitkan membuat orang tuamu berhenti berinteraksi dengan warga di kampung. Begitulah ceritanya mengapa kamu kini menggelandang di kota dengan pakaian compang camping, kulit hitam legam dengan aroma yang menyengat.


[1] Ikan Kuah Kuning khas Mandar, Sulawesi Barat

[2] Pamali. Kualat.

Penulis: Syafri Arifuddin Masser
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Next Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser

Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia dan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Fajar. Cerpennya telah tayang di Omong-omong.com, Kurungbuka.id, Janang.id, dan Semutapi.id

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co