4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
in Cerpen
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu dan ibumu menutup tirai kamarnya, menurunkan kelambu dan tidur bersama bantal guling. Meskipun mereka tetap saling melayani: rantang bekal makanan untuk dibawah bapakmu ke sawah selalu sedia di pagi hari, bau peapi[1] dan sayur bening tetap tersaji di nampan pada waktu malam, dan air di kamar mandi selalu penuh karena bapakmu pada dini hari tetap menimba air dari sumur. Mereka tetap memberi penghargaan yang layak kendati enggan memulai percakapan. Ini karena ego bapakmu yang masih memuncak dan ketika ua’ dari pihak ibumu datang menyaksikan keanehan itu dan bertanya pada ibumu soal sebabnya apa, ibumu hanya diam dan tak memberi jawaban apa-apa.

Semua itu bermula ketika adikmu Saiding, S.E.—sarjana pertama dan satu-satunya di kampung Ata’—datang. Sepekan yang lalu dia pulang dari tanah rantau setelah enam tahun berkuliah. Betapa girangnya bapak dan ibumu ketika kepulanganmu yang penuh haru itu disambut meriah warga kampung. Kebahagiaan yang akhirnya terejawantah menjadi hajatan syukuran. Orang tuamu mengambil tabungan hasil panen tiga bulan lalu. Ia memotong satu ekor sapi untuk warga kampung dan mengundang ustad di kota kecamatan untuk memberi ceramah di acara itu dan memberi ceramah dengan topik pentingnya pendidikan.

Adikmu kini jadi tolok ukur kesuksesan di kampung Ata’. Mereka bahkan ketika pulang dari rumahmu, meminta saran dan kiat-kiat apa biar anak mereka juga mampu sekolah tinggi sebab mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang tetapi anak-anak mereka terbatas kemampuannya—mereka bisa membaca, tetapi susah memahami isi bacaanya—meskipun keterampilan bertahan hidupnya tidak usah ditanya. Bapakmu sekadar menjawab dengan singkat agar tidak dikira sombong, “cuman doa saja”, dan ibumu menimpali, “yang kami panjatkan setiap malam”.

Selepas acara meriah itu, adikmu mendudukkan orang tuamu. Kamu berada di tempat itu juga. Tepatnya di depan televisi. Kau tidak tertarik mendengarkan cerita adikmu yang tidak kamu mengerti dan lebih memilih bermain mainan.

“pokoknya, dalam waktu tiga bulan itu uang ibu kembali tiga kalilipat, tiga juta yang kita masukkan, tiga bulan kemudian jadi tiga puluh juta, bahkan bisa langsung jadi seratus juta,” ucap Saiding dengan sangat meyakinknan.

“Apa itu, Nak? Kamu tidak jadi lintah darat kan?” tanya ibumu

“Astaga tidak, Amma. Ini yang disebut investasi. Semakin banyak yang kita investasikan, semakin banyak pula keuntungan yang kita peroleh”

Bapakmu tidak begitu terkesan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya memudar. Ia ingat sekali ibunya dulu terkena tipu PT. Untung Tabung—semacam koperasi simpan pinjam yang beroperasi mencari nasabah di desa-desa. Mereka menjanjikan nenekmu tiket umroh gratis jika berhasil mencari nasabah sebanyak tiga puluh orang. Nenekmu berhasil, mudah saja ia dapatkan orang-orang yang ingin menabung. Sebagai anak kepala desa nenekmu itu pernah disekolahkan di kota kecamatan jadi dia punya kemampuan komunikasi yang bagus.

Nahas. Saat nenekmu ingin mencairkan hadiah tiket umroh, gedung kantor PT. Untung Tabung itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa selain gorden yang bergoyang dan ratusan kertas yang tergeletak di lantai berpindah-bepindah tertiup angin. Nenekmulah akhirnya yang jadi amuk sasaran. Dia diarak keliling kampung, dihujat dan dihinakan. Bapakmu yang baru saja menerima kabar kelulusannya di universitas melalui jalur prestasi olahraga di kota kecamatan pulang ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa dia tidak mungkin melanjutkan kuliah. Isi rumah bapakmu dijarah oleh warga yang tidak mau rugi. Paling tidak ada yang bisa jadi uang dari perkakas dan perabotan dalam rumahmu. Korban penipuan yang paling banyak kerugiannya melampiaskan amarahnya dengan membakar rumahmu. Begitulah mengapa kamu kini tinggal di kampung Ata’ kampung dari ibumu.

Inilah yang membentuk watak bapakmu. Dia tidak percaya lagi sama uang yang didapat tanpa mengeluarkan keringat. Ingatan traumatis yang membuat bapakmu menjadi pendiam dan pekerja keras. Baginya, uang itu hanya bisa ada kalau kerja keras dalam arti sebenarnya, bukan khiasan. Kalau keringatmu tidak keluar, tidak mungkin itu uang ada. Apatah lagi, saat adikmu sampai pada ujung pembahasannya, bahwa dia butuh sertifikat sawah untuk jadi modal investasinya. Namun, ibumu punya pandangan lain.

“Itulah kenapa Saiding kita suruh sekolah tinggi biar ia tidak perlu kerja keras seperti kita supaya kalau dia jadi pegawai negeri, dia bisa urus Kambu.” Sembari bicara Ibumu menengok ke arahmu.

“Kita tidak mungkin mengurus Kambu terus.”

Kamu dijadikan alasan supaya bapakmu melembutkan hatinya. Namun bapakmu bertahan, bahwa pantang sawah itu digadai. Pamali. Bapakmu masih ingat pesan-pesan dari kakekmu, kalau jadi orang itu jangan suka jual barang-barang, nanti surukawu[2]. Tapi Ibumu bersikeras. Ini karena adikmu juga tidak berhenti merajuk ibumu. Kamu tahu kan seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Saat bapakmu terlelap, di malam sebelum besoknya adikmu ke ibu kota, ibumu mengambil sertifikat sawah dan memasukkannya ke dalam tas Saiding. Ibumu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian ini, bahkan adikmupun tidak. Ibumu hanya menulis pesan dalam secarik kertas:

Tolong nak, kembalikan sertifikat ini jika sudah berhasil investasimu itu. Jangan kecewakan kasih sayang amma dan abbamu. Dan ingat Kambu. Jangan pernah lupakan dia.

Adikmu pamit. Mobil panther sudah berada di halaman rumah. Bapakmu memeluk adikmu dan setelahnya ibumu memelukmu lebih erat, mencium keningmu lalu membisikkan nasehat: “Ingat Kambu, Nak”. Sebelum beranjak giliran kamu yang dipeluk oleh adikmu sembari mengusap rambutmu. Kamu sesenggukan dan suaramu meracau seperti hendak mengatakan jangan pergi.

Suara deru kendaraan pelan menghilang bersamaan dengan mobil yang tak lagi nampak. Ibumu memberi tahu bapakmu, bahwa ia telah memberi sertifikat sawah itu ke adikmu secara diam-diam. Dan kamu menatap raut wajah ayahmu yang merah. Tangannya mengepal. Matanya berbinar. Dia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu kemudian mengusap ekor matanya. Sejak hari itu bapak dan ibumu tidak lagi saling menegur.

Satu bulan kemudian investasi adikmu gagal total. Dia kena tipu investasi bodong. Uang 200 juta hasil gadai sertifikat itu raib dalam hitungan jam. Adikmu terlena prospek bahwa orang bisa kaya raya dalam waktu ringkas. Ia terpukau dengan ucapan: “daripada ternak hewan lebih baik ternak uang”. Adikmu menghilang tanpa ada kabar.

Dua orang petugas bank ditemani dua orang aparat keamanan mendatangi rumahmu. Mereka menyita sawah, satu-satunya sumber penghasilan dari orang tuamu. Bapakmu terdiam, dia tidak bisa apa-apa setelah menunjukkan dokumen bahwa, sertifikat sawah ini telah digadai dan adikmu tidak dapat membayar tagihan bulananya. Ibumu meraung memohon maaf kepada bapakmu yang sejak saat itu tidak lagi dapat bicara. Dia diam untuk selamanya.

Kabar berembus secepat kilat. Satu kampung langsung tahu apa yang terjadi. Mereka yang tadinya mengelu-elukan adikmu kini berbalik menghujatnya. Mereka pikir sekolah tinggi menjadikan orang makin bisa membahagiakan orang tuanya, bukan sebaliknya bikin sengsara. Apa yang didera nenekmu kini terjadi padamu. Kedua orangtuamu menjadi tertutup. Malu yang sedemikian menyakitkan membuat orang tuamu berhenti berinteraksi dengan warga di kampung. Begitulah ceritanya mengapa kamu kini menggelandang di kota dengan pakaian compang camping, kulit hitam legam dengan aroma yang menyengat.


[1] Ikan Kuah Kuning khas Mandar, Sulawesi Barat

[2] Pamali. Kualat.

Penulis: Syafri Arifuddin Masser
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Next Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Syafri Arifuddin Masser

Syafri Arifuddin Masser

Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia dan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Fajar. Cerpennya telah tayang di Omong-omong.com, Kurungbuka.id, Janang.id, dan Semutapi.id

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co