24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
February 27, 2026
in Cerpen
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya.

Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini, aku tidak lagi membutuhkan alarm. Air habis, nasi matang, jemuran lupa diangkat, semua terdengar seperti kabar darurat nasional.

“Sudah! Ayo makan!” sahut istrinya tak kalah lantang.

Awalnya, kupikir mereka bertengkar. Nada yang melambung, suara yang saling bersahutan, membuat hari-hari terasa tegang. Namun, setelah dua minggu, aku mulai menyadari sesuatu yang mengejutkan. Itu bukan kemarahan. Bukan pula pertengkaran yang disengaja. Memang begitulah cara mereka berbicara.

Pak Aryo, tetanggaku.

Tepat dua minggu lalu aku pindah ke rumah ini. Bangunannya memang saling berhimpitan seperti deretan kos-kosan, hanya saja ini perumahan permanen. Tembok-tembok pembatas berdiri kokoh, seolah menjamin privasi tiap penghuninya. Seharusnya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tak akan tembus keluar.

“Waduh! Panas sekali!”

“Enak buat jemur baju. Cepat kering.”

Lagi dan lagi.

Siapa yang yang berteriak tentang cuaca dengan penuh gairah seperti itu? Nadanya tinggi, tetapi isinya ringan. Bahkan, sekadar membahas matahari pun terdengar seperti pidato di lapangan upacara.

Tembok rumah bukan lagi sekadar pembatas, melainkan pengeras suara alami. Aku bisa mengikuti alur hidup mereka tanpa perlu bersosialisasi. Aku tahu kapan anak mereka bangun, kapan ayam gorengnya terlalu asin, kapan kaus kakinya menghilang.

Bahkan… aku tahu kapan mereka berhubungan suami istri.

“Siapa yang pakai sandalku?” bentaknya tiba-tiba.

Aku refleks menunduk, mengecek kakiku sendiri. Terdiam sejenak. Lalu tersadar, aku bukan lawan bicaranya.

Masalahnya bukan hanya terjadi di pagi hari. Siang pun demikian. Bahkan malam. 

Suatu ketika, hari Sabtu pukul sebelas malam, aku sedang menonton drama Korea. Genrenya semi-horor. Adegan sedang menegangkan. Sosok hitam perlahan muncul dari balik pintu, diiringi musik yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah.

“Sayang! Kalau ada… sembilan nyawa, mau samamu saja, semuanya… ini dada… isinya kamu semua…”

Suaranya menyeruak. Aku terlonjak.

Bukan karena hantunya. Melainkan karena suara seorang suami yang sedang menggoda istrinya dengan volume seperti sedang orasi kampanye.

Hufft.

Sejak itu, film horor tak lagi terasa menakutkan. Justru ketika Pak Aryo berbicara pelan dan tak terdengar kabar darurat apa pun dari rumah sebelah, di situlah ketakutan terbesarku muncul. Itu pasti tanda sesuatu yang tidak beres.

Aku pernah berniat menegur. Tapi bagaimana caranya?

“Maaf, Pak, suaranya bisa dikecilkan sedikit?”

Kalimat itu terdengar sederhana. Sopan. Masuk akal. Namun, otakku lebih dulu memutar kemungkinan terburuk. Pak Aryo pasti menjawab dengan nada menanjak,

“Suara saya terlalu besar?”

“Segini masih besar?”

“Ini sudah pelan, lho!”

Tidak. Aku belum siap.

Akhirnya, aku memilih strategi bertahan hidup. Aku membeli headphone. Aku menyalakan kipas angin sebagai pengalih suara. Aku bahkan pernah mencoba berbicara dengan nada pelan sepanjang hari, berharap semesta memberi contoh.

Nihil.

Suatu sore, ketika aku sedang mencuci motor di halaman, Pak Aryo menyapaku.

“Selamat sore!”

Aku tersentak kecil. Selang hampir terlepas dari tangan, air nyaris menyiram kakiku sendiri.

“Eh… sore, Pak,” jawabku pelan, sedikit gelagapan.

Beliau mendekat.

“Waduh, lupa menutup pagar. Jadi, masuklah dia,” batinku.

Wajahnya ramah. Senyumnya lebar.

“Libur, nih?”

Aneh. Jarak kami hanya dua meter, suaranya tetap seperti memanggil orang di ujung lapangan.

“Saya kerja dari rumah, Pak.”

“Oh! Pantesan saya sering mendengar Bapak ngomong sendiri,” katanya mantap, tanpa sedikit pun menurunkan ketegangan suara.

Aku terdiam.

“Ngomong sendiri?” batinku.

Keningku berkerut. Lalu, seperti adegan kilas balik yang diputar paksa, satu per satu ingatan bermunculan. Presentasi daring. Rapat lewat layar laptop. Nada suaraku yang meninggi ketika menjelaskan grafik penjualan. Tawa yang kadang meledak tanpa sadar. Kalau sedang semangat, suaraku pun tak kalah lantang.

Aku teringat, beberapa kali terdengar pintu rumah sebelah ditutup agak keras saat aku sedang rapat. Aku juga teringat, suatu ketika, anak mereka pernah berteriak,

“Tuh, Yah. Tetangganya marah-marah lagi!”

Astaga.

Jangan-jangan selama ini mereka juga mengira aku berisik?

Aku memaksakan senyum menanggapi pernyataan Pak Aryo. Beliau mengangguk ringan, lalu pamit. Aku kembali mencuci motor.

Sejak hari itu, aku mulai lebih peka. Ternyata, suara di perumahan kecil ini saling memantul seperti bola pingpong. Tidak ada yang benar-benar pelan.

Seminggu kemudian, tepat di hari Rabu, aku terbangun pukul delapan lewat tiga puluh.

DELAPAN LEWAT TIGA PULUH.

Aku terduduk. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Aku panik. Apakah aku sakit? Apakah dunia kiamat? Atau… apakah mereka pindah? Pagi itu, tak ada teriakan nasi matang. Tak ada pengumuman air habis. Tak ada kabar jemuran yang lupa diangkat.

Sunyi.

Aku keluar rumah dengan rambut masih berantakan. Tanpa cuci muka, tanpa benar-benar sadar diri. Langkahku otomatis menuju rumah sebelah. Di depan rumah Pak Aryo terpasang tulisan kecil.

Mohon maaf jika selama ini suara kami mengganggu. Kami akan belajar berbicara lebih pelan.

Belajar?

Aku berdiri cukup lama di depan pagar itu. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Padahal aku tak pernah menegur. Tak pernah benar-benar mencoba memahami. Lalu kenapa justru mereka yang lebih dulu belajar?

Sore harinya, aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah mereka. Ketika pintu terbuka, Pak Aryo menyambut dengan senyuman lebar.

“Ada apa?” tanyanya spontan.

Ia berdeham, lalu mencoba mengecilkan volume.

“Ada apa?” ulangnya.

Aku spontan ikut berbisik.

“Tidak apa-apa, Pak. Cuma mau bilang… sebenarnya suara kalian tidak terlalu mengganggu.”

Beliau tertawa. Pelan.

Itu pertama kalinya, aku tahu beliau bisa tertawa tanpa efek gema.

“Memang dari dulu begini,” katanya dengan suara yang menurutnya normal. “Keluarga kami kalau bicara seperti sedang lomba pidato. Sudah bawaan,” lanjutnya.

Kami pun terkekeh.

Meski katanya sudah volume normal, tapi tetap saja menurutku itu setara pengumuman upacara hari Senin. Nadanya tinggi, penuh semangat, seperti sedang menegur anak kecil yang tak sengaja menghabiskan permen sebelum makan siang.

Sejak itu, tidak ada perubahan drastis. Suaranya masih keras. Aku pun masih kadang kesal. Tapi ada yang berbeda. Sekarang kami saling menyapa. Sesekali minum kopi bersama di depan rumah.

Dan anehnya, setelah mengenal mereka, suara-suara itu tak lagi terdengar seperti gangguan. Lebih seperti latar kehidupan, layaknya kokok ayam subuh, deru motor yang melintas, atau tawa anak kecil yang pecah tanpa alasan.

Barangkali, selama ini yang membuat segalanya terasa bising bukanlah volumenya, melainkan jarak. Kini, setiap pagi, ketika terdengar teriakan, “Bu, kopinya mana?”

Aku hanya tersenyum dan menjawab dalam hati, “Di dapur, Pak. Seperti biasa.” [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Next Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co