24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
in Cerpen
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun.

Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku kotor oleh lumpur yang lengket, tetapi aku tidak peduli. Sekop kecil milik Ayah terasa berat di tanganku, meski gagangnya pendek dan sudah tumpul di ujungnya. Ketika kutancapkan ke tanah, sekop itu masuk dengan mudah, seolah tanah telah menunggu sentuhan itu sejak lama.

Tanahnya lembap dan mudah dibelah, seperti sudah sering disentuh tangan manusia. Setiap sodokan mengeluarkan bau yang tidak asing, bau tanah yang pernah basah oleh hujan, kering oleh matahari, lalu basah kembali oleh sesuatu yang lain. Aku tidak tahu apa itu saat itu. Aku hanya tahu tanah ini tidak keras, tidak menolak, seolah ia sudah siap sejak lama.

Aku menggali perlahan. Bukan karena lelah, tetapi karena aku ingin memastikan lubang itu rapi. Aku tidak tahu untuk apa rapi, tetapi rasanya lubang ini tidak boleh sembarangan. Setiap kali sekop mengenai batu kecil, bunyinya terdengar lebih keras dari seharusnya. Aku berhenti sebentar, memindahkan batu itu ke samping, lalu melanjutkan.

Ibu berdiri di kejauhan, di bawah pohon mangga. Pohon itu sudah tua dan daunnya lebat. Biasanya Ibu duduk di sana sore hari, memotong ujung daun kering atau sekadar menatap kebun. Hari itu ia berdiri, tidak bergerak, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Wajahnya sulit kuterjemahkan. Bukan marah, bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu selesai.

“Kau tidak perlu menggali terlalu dalam,” katanya akhirnya.

Suaranya tidak keras. Bahkan nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.

Aku mengangguk, meski aku terus menggali. Aku tidak tahu apa arti terlalu dalam. Aku hanya ingin lubang itu cukup. Cukup untuk apa, aku juga tidak tahu.

Kubur itu untuk adikku.

Ia meninggal dua hari sebelumnya. Malam sebelum ia pergi, aku masih mendengar napasnya berat dan pendek. Aku berpikir ia hanya sedang tidur dengan cara yang aneh. Paginya, tubuhnya terasa ringan ketika diangkat. Terlalu ringan untuk seseorang yang biasanya menarik selimutku ketika tidur.

Orang-orang dewasa berkata ia sakit. Mereka juga berkata Tuhan lebih sayang padanya. Aku tidak memahami dua kalimat itu. Jika Tuhan sayang, mengapa Ia mengambilnya. Jika sakit, mengapa tidak disembuhkan saja. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Mereka hanya mengusap kepalaku dan menyuruhku bermain.

Kubur itu, kata Ayah, seharusnya digali oleh orang dewasa. Tetapi entah mengapa, sekop itu diberikan kepadaku. Tangannya gemetar sedikit ketika menyerahkannya.

“Mungkin agar kau belajar,” katanya.

Aku tidak bertanya apa yang harus kupelajari. Aku juga tidak bertanya mengapa aku yang dipilih. Aku menerima sekop itu seperti menerima tugas sekolah yang tidak bisa ditolak.

Tanah itu terus terbelah. Akar-akar kecil muncul, sebagian terputus, sebagian bertahan. Aku menariknya satu per satu. Ada yang putus dengan mudah, ada yang membuat tanganku pegal. Aku tidak marah pada akar-akar itu. Aku hanya ingin lubang ini cukup besar.

Sesekali aku mengelap keringat dengan punggung tangan. Tanganku kotor, kukuku hitam oleh tanah. Aku melihat ke arah Ibu. Ia masih di sana. Kali ini matanya menatap tanah yang kugali, bukan wajahku. Aku berpikir mungkin ia sedang menghitung sesuatu. Atau mungkin ia sedang menghafal bentuk lubang itu.

Ketika akhirnya tubuh adikku dibaringkan di dalam tanah, aku memperhatikannya lama. Wajahnya tampak tenang, seperti sedang tidur siang. Bibirnya sedikit terbuka. Aku menunggu dadanya naik turun. Aku menunggu terlalu lama.

Tidak ada.

Ibu menangis tanpa suara. Air matanya jatuh satu-satu, mengenai tanah di dekat kakinya. Ayah berdiri kaku, lalu menutup tanah dengan cepat, seolah lubang itu harus segera hilang dari pandangannya. Tangannya bergerak terburu buru, tidak serapi galianku tadi.

Aku berdiri di sana lebih lama dari yang lain. Ketika semua orang mulai pergi, aku masih menatap tanah yang baru ditutup itu. Tanahnya tampak lebih gelap dari sekitarnya. Lebih basah. Lebih hidup.

Hari-hari berlalu. Hujan datang dan pergi. Matahari kembali mengeringkan tanah. Aku sering kembali ke tempat itu. Tidak untuk menangis. Tidak juga untuk berdoa. Aku hanya duduk, menatap tanah yang kini tampak lebih subur dari bagian kebun yang lain. Rumput tumbuh lebih hijau di atasnya. Cacing sering muncul setelah hujan. Tanah itu hidup.

Aku mulai berpikir mungkin adikku masih ada di sana, bukan di dalam tanah, tetapi di tanah itu sendiri.

Suatu sore, ketika hujan baru saja berhenti, aku membawa sekop lagi.

Aku menggali di samping kubur adikku. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Aku ingin membuat lubang lain. Aku tidak tahu untuk apa. Tanganku bergerak sendiri, seperti mengingat sesuatu yang belum pernah kupelajari.

Tanahnya tetap mudah digali.

Aku teringat kata-kata Ibu dulu. Kau tidak perlu menggali terlalu dalam.

Aku menggali lebih dalam.

Ketika lubang itu cukup besar, aku berhenti. Aku duduk di pinggirnya, kaki menggantung. Tanah lembap menempel di tumitku. Aku membayangkan jika suatu hari aku harus berbaring di sana. Apakah tanah akan sama ramahnya. Apakah ia akan menerimaku seperti menerima adikku.

Malam itu aku bermimpi.

Dalam mimpiku, adikku duduk di dalam lubang itu. Bukan kuburnya, tapi lubang yang kugali. Bajunya kotor oleh tanah. Tangannya hitam, tetapi wajahnya cerah seperti dulu, sebelum ia sering terbaring.

“Kau salah tempat,” katanya.

Suaranya ringan, seperti sedang mengingatkanku pada kesalahan kecil.

Aku terbangun dengan napas terengah. Tanganku mencari sekop di samping tempat tidur, tetapi yang kutemukan hanya udara dingin dan bau tanah yang masih menempel di hidungku.

Sejak malam itu, aku sering menggali.

Bukan setiap hari. Kadang dua hari sekali, kadang hanya ketika hujan turun dan tanah menjadi lunak. Aku tidak selalu membawa sekop. Terkadang aku hanya memakai tangan, mengorek tanah perlahan, membiarkan kuku dan telapak tanganku kotor. Rasanya lebih dekat. Seolah aku sedang menyentuh sesuatu yang tidak boleh terlalu keras diperlakukan.

Ibu beberapa kali melihatku dari jauh. Ia tidak melarang. Ia juga tidak mendekat. Hanya berdiri di ambang dapur atau di bawah pohon mangga, memperhatikanku seperti seseorang yang sedang menghitung sisa tenaga. Sesekali ia memanggilku masuk ketika hari mulai gelap.

“Kau sudah cukup bermain tanah hari ini, Nak,” katanya.

Aku menurut. Aku selalu menurut. Tetapi keesokan harinya aku kembali.

Lubang-lubang kecil mulai muncul di kebun. Tidak teratur. Tidak membentuk pola. Ada yang dangkal, ada yang dalam. Aku mengingat letaknya dengan baik. Aku tahu lubang mana yang kugali setelah hujan pertama, lubang mana yang kubuat saat matahari terlalu terik, dan lubang mana yang kugali sambil menangis tanpa suara.

Tanah tidak pernah menolakku.

Kadang aku berpikir tanah ini lebih mengerti aku daripada orang orang dewasa.

Ayah jarang bicara setelah adikku pergi. Ia tetap berangkat pagi, pulang sore, duduk di kursi kayu sambil menatap halaman. Ia tidak pernah menanyakan lubang lubang itu. Tidak juga menegurku ketika melihat sekop berpindah tempat.

Suatu sore, aku duduk di dekatnya. Tanganku masih berbau tanah.

“Ayah,” kataku.

Ia menoleh. Matanya tampak lebih dalam dari sebelumnya, seperti lubang yang tidak sempat diisi apa pun.

“Apa, Nak?”

“Kalau orang mati, mereka ke mana?”

Ayah terdiam cukup lama. Angin menggerakkan daun mangga di atas kami. Beberapa daun kering jatuh dan mengenai tanah.

“Mereka pulang,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. Aku tidak bertanya pulang ke mana. Aku sudah tahu jawabannya tidak akan membuatku lebih mengerti.

Musim berganti tanpa aku sadar. Hujan datang lebih jarang. Tanah mulai mengeras, tetapi tetap bisa dibelah. Rumput di atas kubur adikku tumbuh lebih tinggi dari rumput lain. Warnanya hijau pekat. Aku sering mencabutnya, lalu menyesal dan menanamnya kembali dengan hati-hati.

Aku mulai bermimpi tentang lubang-lubang itu tanpa melihat adikku lagi. Dalam mimpi, aku hanya berdiri di tepi lubang, menatap ke dalam, dan lubang itu menatap balik. Tidak ada suara. Tidak ada wajah. Hanya rasa bahwa aku sedang berada di tempat yang tepat.

Suatu hari, Ayah tidak pulang.

Ibu menunggu sampai malam. Lampu depan dinyalakan lebih awal. Aku duduk di lantai, menatap pintu. Ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah, aku berdiri, berharap Ayah masuk sambil membuka sepatu seperti biasa.

Yang masuk bukan Ayah.

Mereka bicara pelan. Ibu mengangguk, lalu duduk di kursi tanpa suara. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang dinding agar tidak jatuh. Kata kecelakaan terdengar beberapa kali. Kata cepat. Kata tidak sempat.

Tubuh Ayah dibawa pulang dalam peti yang lebih besar. Orang-orang dewasa menggali kali ini. Aku tidak diberi sekop. Aku hanya berdiri, menatap tanah yang kembali dibelah. Lubangnya lebih besar, lebih dalam, tetapi tanahnya sama. Lembap. Menurut.

Aku memperhatikan cara mereka menggali. Terburu buru. Tidak rapi. Aku ingin memperbaikinya, tetapi tanganku kosong.

Setelah pemakaman, aku kembali ke kebun sendirian.

Aku mengambil sekop yang kusimpan di belakang gudang. Tanganku gemetar ketika menggenggamnya. Aku menggali lubang lain. Lebih besar. Lebih dalam. Aku tidak berhenti ketika lenganku pegal. Aku tidak berhenti ketika tanah mulai runtuh ke dalam lubang. Aku terus menggali sampai napasku pendek.

Saat aku berhenti, lubang itu sudah cukup untuk seseorang yang lebih besar dariku.

Aku duduk di tepinya, menatap ke dalam. Tidak ada apa pun di sana. Tetapi aku tahu lubang itu tidak kosong.

Di situlah aku menyadari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata sederhana.

Aku tidak menggali untuk orang yang mati.

Aku menggali untuk diriku sendiri. Untuk bagian-bagian diriku yang ikut dikubur setiap kali seseorang pergi. Untuk pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Untuk suara adikku yang masih tersisa di kepalaku. Untuk Ayah yang tidak sempat mengajariku banyak hal.

Kubur-kubur itu tidak kosong.

Mereka penuh.

Penuh oleh ingatan.

Penuh oleh rasa bersalah.

Penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dikatakan oleh anak-anak.

Waktu berjalan tanpa meminta izin. Aku tumbuh. Tanganku membesar. Sekop itu akhirnya terasa kecil. Ibu menjadi semakin diam. Rumah terasa lebih luas dan lebih kosong.

Suatu hari, kebun itu dijual. Rumah diruntuhkan. Pohon mangga ditebang. Aku berdiri di pinggir tanah yang sudah rata, menatap bekas-bekas yang hanya bisa kulihat sendiri.

Aku tahu, di bawah tanah itu, lubang-lubang masih ada. Tidak tertutup. Tidak hilang. Tanahnya tetap subur. Selalu siap digali kembali.

Karena beberapa kubur tidak dibuat untuk mayat.

Beberapa kubur dibuat untuk menyimpan hidup yang terlalu cepat dipaksa dewasa. [T]

Penulis: Safir Ahyanuddin
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Next Post

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Safir Ahyanuddin

Safir Ahyanuddin

Penulis yang menaruh minat pada penulisan cerpen dan esai reflektif dengan fokus pada relasi keluarga, ingatan, tradisi, serta luka-luka sunyi yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Karyanya kerap bergerak dalam narasi pelan, menyorot hal-hal yang dianggap biasa namun menyimpan ketegangan batin dan persoalan kemanusiaan. Instagram: @safierahsfr

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co