24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
in Ulas Buku
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
  • Judul Buku: 23:59
  • Penulis Buku: Brian Khrisna
  • Penerbit: Media Kita
  • Tahun Terbit: 2023
  • Halaman: 232 hlm

“Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang berakhir dengan penuh tanda tanya.” Kutipan ini berasal dari sinopsis buku novel berjudul “23:59”. Buku itu ditulis oleh penulis Brian Khrisna — penulis yang sama dengan buku “Seporsi Mie  Ayam Sebelum Mati” dan “Sisi Tergelap Surga”.

Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Ami, yang akan menikahi pria yang sangat mencintainya. Namun dia masih mencintai mantannya dengan banyak pertanyaan dalam hatinya. Raga — Si Mantan, hadir di keadaan yang membuat Ami hampir menjadi gila.

Cinta Ami kepada Raga adalah kisah cinta ironis. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ami sangat mencintai Raga. Sampai-sampai gosip terkait guna-guna dan pelet dilontarkan ke pria bajingan yang tega meninggalkan sosok perempuan sempurna itu. Istilah “Pria Bajingan” bukanlah sebatas kata-kata hinaan semata. Kata itu adalah akibat dari pilihan Raga yang harus diterimanya.

Keputusasaan membawa Ami pada sebuah perjalanan imajinasi. Dimana  Ami justru menikah dengan Raga, dan bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Perjalanan dunia paralel ini menciptakan nostalgia, rasa haru, serta jawaban dari atas kepergian Raga darinya.

Judul 23:59 tidak hanya judul buku biasa, ia adalah konsep yang lahir dengan makna. Pukul 23;59 diibaratkan dengan sebuah arti dari pergantian hari dan perpisahan di hari kemarin. Seperti Ami dan Raga yang harus berpisah di hubungan kemarin, dan terus bangun di hubungan hari ini.

Banyak pembaca yang menyadari konsep ini dari judul buku dan detail-detail angka yang diselipkan oleh Brian Khrisna. Namun bagi saya, buku ini memiliki satu konsep yang sangat menginspirasi. Yaitu “belajar menerima konsekuensi.”

Pilihan dan kehidupan sangat berkaitan erat. Dikatakan, manusia membuat keputusan setiap harinya. Keputusan untuk bangun dari tidur, keputusan untuk makan di jam tertentu, keputusan untuk bekerja dan belajar, dll. Keputusan adalah pilihan-pilihan yang berhasil “putus”. Menjadikan pilihan akhir sebagai Ke”putus”an.

Pilihan membentuk 2 aspek, takdir dan konsekuensi. Takdir bergerak sebagai “ketetapan Tuhan” yang menjadi realita. Dan konsekuensi bekerja sebagai “hukuman realita”.

Ketika kita memilih sebuah pilihan, maka takdir akan terbentuk diikuti dengan konsekuensi. Konsekuensi adalah proses manusia dalam menjalani pilihannya. Dan itu tidak bisa dihindari.

Dalam buku “23:59”, Raga memutuskan hubungan dengan wanita yang ia  cintai. Walaupun dia tahu apa resiko dari keputusannya itu, dia gagal dalam menjalani konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia mendapati Ami akan menikah dengan pria lain, Raga makin menjadi pecundang dengan terus menghindari Ami tanpa memikirkan perasaannya sendiri — bahwa ia masih mencintai Ami.

Konsep “belajar menerima konsekuensi” makin ditekankan ketika Brian Khrisna membawa konsep dunia paralel di cerita. Bagi saya, itu tidak hanya gambaran rasa rindu Ami, namun juga sebagai gambaran  bagaimana pilihan bisa mempengaruhi takdir sekaligus konsekuensi dari masing-masing individu.

Di dunia paralel, walaupun mereka bersama, ada pihak-pihak yang menolak hubungan mereka. Menjadikan perjalan rumah tangga mereka tak semulus yang dipikirkan. Raga mengalami diskriminasi dari pihak-pihak yang tak menyukai hubungan itu.

Namun Ami dan Raga di dunia paralel menerima konsekuensi itu. Menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri pada umumnya. Berbelanja, menanam buah strawberry, hingga bisa membangun rumah impian. Mereka menjalani konsekuensi, karena itulah pilihan yang mereka ambil.

Tentu dunia nyata dan paralel itu memiliki perbedaan dari pilihan mereka dalam memilih dan mengorbankan sesuatu. Tentu ada harga dari sebuah pilihan.  Nasib dari hubungan Ami dan Raga ada di pilihan yang mereka pilih, sama halnya dengan kita—manusia pada umumnya.

Manusia sebagian besar tidak memikirkan pilihan mereka, dan akhirnya tenggelam dalam lautan air mata dari penyesalan mereka. Masalahnya, cakupan pilihan tersebut sangat luas. Menciptakan sebuah paradoks (paradox of choice), sehingga banyak pilihan justru malah membuat kegelisahan dan ketidakpuasan.

Dalam konteks percintaan, ada sebuah pola yang menentukan nasib dari pasangan tersebut. Sepasang kekasih adalah dua orang yang memilih keputusan untuk saling mencintai dan merobohkan tembok masing-masing. Sehingga sudah dipastikan akan ada keterlanjangan yang menciptakan ketidaksinambungan dalam hubungan tersebut. Ketidaksambungan ini akan memunculkan reasksi, dan reaksi akan menimbulkan sebuah tegangan dalam hubungan.

Ketegangan ini akan menciptakan pilihan — melanjutkan atau selesai. Dan dari dua pilihan, akan banyak konsekuensi yang dipikirkan. Banyak pikiran membuat rasa kepercayaan diri seseorang menjadi menurun.  Dan rasa percaya diri yang menurun akan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Pola ini tidak hanya berlaku pada hubungan percintaan, tapi hubungan lainnya seperti kemitraan, keluarga, bahkan dengan lingkungan. Keraguan akan menciptakan keputusan yang tak maksimal.

Ini yang membuat manusia mengalami keputusasaan dari keputusan yang mereka ambil. Selain karena tekanan, banyaknya konsekuensi yang terjadi terasa seperti “hantu” yang menggentayangi. Bukannya menciptakan kebebasan, namun malah membuat kurungan baru bagi diri kita.

Namun berita baiknya, dari buku novel ini, kita bisa memahami perspektif menerima konsekuensi atau bahkan hidup berdampingan dengan konsekuensi. Apa yang sudah Ami dan Raga lakukan dalam menerima konsekuensi dari pilihan masing-masing sangat menginspirasi. Walaupun dengan hasrat cinta yang membara dan intensitas seksual yang cukup mengganggu saya, buku ini tetap memberikan sebuah refleksi mendalam bagi saya. Terkait bagaimana memikirkan pilihan dan menerima konsekuensinya. [T]

Penulis: Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: BukucintaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Next Post

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co