26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
in Ulas Buku
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
  • Judul Buku: 23:59
  • Penulis Buku: Brian Khrisna
  • Penerbit: Media Kita
  • Tahun Terbit: 2023
  • Halaman: 232 hlm

“Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang berakhir dengan penuh tanda tanya.” Kutipan ini berasal dari sinopsis buku novel berjudul “23:59”. Buku itu ditulis oleh penulis Brian Khrisna — penulis yang sama dengan buku “Seporsi Mie  Ayam Sebelum Mati” dan “Sisi Tergelap Surga”.

Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Ami, yang akan menikahi pria yang sangat mencintainya. Namun dia masih mencintai mantannya dengan banyak pertanyaan dalam hatinya. Raga — Si Mantan, hadir di keadaan yang membuat Ami hampir menjadi gila.

Cinta Ami kepada Raga adalah kisah cinta ironis. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ami sangat mencintai Raga. Sampai-sampai gosip terkait guna-guna dan pelet dilontarkan ke pria bajingan yang tega meninggalkan sosok perempuan sempurna itu. Istilah “Pria Bajingan” bukanlah sebatas kata-kata hinaan semata. Kata itu adalah akibat dari pilihan Raga yang harus diterimanya.

Keputusasaan membawa Ami pada sebuah perjalanan imajinasi. Dimana  Ami justru menikah dengan Raga, dan bersikap seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Perjalanan dunia paralel ini menciptakan nostalgia, rasa haru, serta jawaban dari atas kepergian Raga darinya.

Judul 23:59 tidak hanya judul buku biasa, ia adalah konsep yang lahir dengan makna. Pukul 23;59 diibaratkan dengan sebuah arti dari pergantian hari dan perpisahan di hari kemarin. Seperti Ami dan Raga yang harus berpisah di hubungan kemarin, dan terus bangun di hubungan hari ini.

Banyak pembaca yang menyadari konsep ini dari judul buku dan detail-detail angka yang diselipkan oleh Brian Khrisna. Namun bagi saya, buku ini memiliki satu konsep yang sangat menginspirasi. Yaitu “belajar menerima konsekuensi.”

Pilihan dan kehidupan sangat berkaitan erat. Dikatakan, manusia membuat keputusan setiap harinya. Keputusan untuk bangun dari tidur, keputusan untuk makan di jam tertentu, keputusan untuk bekerja dan belajar, dll. Keputusan adalah pilihan-pilihan yang berhasil “putus”. Menjadikan pilihan akhir sebagai Ke”putus”an.

Pilihan membentuk 2 aspek, takdir dan konsekuensi. Takdir bergerak sebagai “ketetapan Tuhan” yang menjadi realita. Dan konsekuensi bekerja sebagai “hukuman realita”.

Ketika kita memilih sebuah pilihan, maka takdir akan terbentuk diikuti dengan konsekuensi. Konsekuensi adalah proses manusia dalam menjalani pilihannya. Dan itu tidak bisa dihindari.

Dalam buku “23:59”, Raga memutuskan hubungan dengan wanita yang ia  cintai. Walaupun dia tahu apa resiko dari keputusannya itu, dia gagal dalam menjalani konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia mendapati Ami akan menikah dengan pria lain, Raga makin menjadi pecundang dengan terus menghindari Ami tanpa memikirkan perasaannya sendiri — bahwa ia masih mencintai Ami.

Konsep “belajar menerima konsekuensi” makin ditekankan ketika Brian Khrisna membawa konsep dunia paralel di cerita. Bagi saya, itu tidak hanya gambaran rasa rindu Ami, namun juga sebagai gambaran  bagaimana pilihan bisa mempengaruhi takdir sekaligus konsekuensi dari masing-masing individu.

Di dunia paralel, walaupun mereka bersama, ada pihak-pihak yang menolak hubungan mereka. Menjadikan perjalan rumah tangga mereka tak semulus yang dipikirkan. Raga mengalami diskriminasi dari pihak-pihak yang tak menyukai hubungan itu.

Namun Ami dan Raga di dunia paralel menerima konsekuensi itu. Menjalani kehidupan mereka sebagai suami istri pada umumnya. Berbelanja, menanam buah strawberry, hingga bisa membangun rumah impian. Mereka menjalani konsekuensi, karena itulah pilihan yang mereka ambil.

Tentu dunia nyata dan paralel itu memiliki perbedaan dari pilihan mereka dalam memilih dan mengorbankan sesuatu. Tentu ada harga dari sebuah pilihan.  Nasib dari hubungan Ami dan Raga ada di pilihan yang mereka pilih, sama halnya dengan kita—manusia pada umumnya.

Manusia sebagian besar tidak memikirkan pilihan mereka, dan akhirnya tenggelam dalam lautan air mata dari penyesalan mereka. Masalahnya, cakupan pilihan tersebut sangat luas. Menciptakan sebuah paradoks (paradox of choice), sehingga banyak pilihan justru malah membuat kegelisahan dan ketidakpuasan.

Dalam konteks percintaan, ada sebuah pola yang menentukan nasib dari pasangan tersebut. Sepasang kekasih adalah dua orang yang memilih keputusan untuk saling mencintai dan merobohkan tembok masing-masing. Sehingga sudah dipastikan akan ada keterlanjangan yang menciptakan ketidaksinambungan dalam hubungan tersebut. Ketidaksambungan ini akan memunculkan reasksi, dan reaksi akan menimbulkan sebuah tegangan dalam hubungan.

Ketegangan ini akan menciptakan pilihan — melanjutkan atau selesai. Dan dari dua pilihan, akan banyak konsekuensi yang dipikirkan. Banyak pikiran membuat rasa kepercayaan diri seseorang menjadi menurun.  Dan rasa percaya diri yang menurun akan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan.

Pola ini tidak hanya berlaku pada hubungan percintaan, tapi hubungan lainnya seperti kemitraan, keluarga, bahkan dengan lingkungan. Keraguan akan menciptakan keputusan yang tak maksimal.

Ini yang membuat manusia mengalami keputusasaan dari keputusan yang mereka ambil. Selain karena tekanan, banyaknya konsekuensi yang terjadi terasa seperti “hantu” yang menggentayangi. Bukannya menciptakan kebebasan, namun malah membuat kurungan baru bagi diri kita.

Namun berita baiknya, dari buku novel ini, kita bisa memahami perspektif menerima konsekuensi atau bahkan hidup berdampingan dengan konsekuensi. Apa yang sudah Ami dan Raga lakukan dalam menerima konsekuensi dari pilihan masing-masing sangat menginspirasi. Walaupun dengan hasrat cinta yang membara dan intensitas seksual yang cukup mengganggu saya, buku ini tetap memberikan sebuah refleksi mendalam bagi saya. Terkait bagaimana memikirkan pilihan dan menerima konsekuensinya. [T]

Penulis: Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: BukucintaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Keluarga sebagai Arsitek Gizi Generasi Muda —Refleksi Lapangan dalam Bingkai Teoretis

Next Post

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Ujian Terbuka Disertasi Cokorda Alit Artawan: Kosmologi Topeng Singapadu Menemui Ruang Baru dalam Narasi Visual Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co