24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
in Tualang
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Gerbang “Arbeit Macht Frei” menyambut pengunjung ke kamp Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, tersimpan memori kelam peninggalan Perang Dunia II.

Setelah sempat mengulik sejarah Holokaus melalui internet, terbesit keinginan kuat untuk napak tilas ke lokasi operasi Nazi, tempat jutaan orang ditahan dan menderita. Di sela kesibukan exchange, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan terbesar milik Nazi di dunia: Auschwitz.

Meskipun Agustus biasanya membawa kehangatan musim panas di Eropa, sore itu, suasananya dingin dan mencekam. Tepat pukul 16.30 ketika saya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi Auschwitz I setelah menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan bus dari Krakow, Polandia. Gerbang terkenal bertuliskan “Arbeit Macht Frei” (berarti “Kerja Membuatmu Bebas”) yang dulunya menyambut jutaan orang yang dijanjikan hidup baru, kini menyambut puluhan pengunjung yang tergabung dalam satu guided tour, termasuk saya.

Kamp konsentrasi Auschwitz dibagi menjadi tiga: Auschwitz I (kamp utama), Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Pada tur ini, saya berkesempatan mengunjungi kamp Auschwitz I dan II, dengan terlebih dahulu membeli tiket dari jauh-jauh hari mengingat banyaknya orang yang berebut ingin berziarah kemanusiaan di kamp konsentrasi tersebut.  Tiket masuk ke Auschwitz untuk harga pelajar yakni 160 Złoty atau sekitar Rp750.000,00 yang bisa diperoleh secara daring.

Auschwitz I terdiri dari 28 blok bangunan bata merah yang tersusun rapi dan kokoh. Kamp ini dulunya digunakan sebagai pusat administrasi. Masing-masing blok diberi nomor 1–28 dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa blok yang terkenal, di antaranya blok 10 (tempat dilakukannya eksperimen medis yang kejam oleh dokter-dokter Nazi) dan blok 11 (terdapat sel-sel penjara sempit untuk hukuman berat).

Blok lain yang meninggalkan kesan mendalam adalah blok 4 dan 5, di mana disimpan peninggalan asli korban kekejaman Nazi, seperti tumpukan rambut manusia, sepatu, kacamata, koper, dan sebagainya. Sungguh miris melihat bukti-bukti fisik tersebut, terbayang penderitaan yang dialami korban.

Blok bangunan di kamp Auschwitz I yang rapi dan kokoh

Sepenggal kisah yang diceritakan oleh pemandu membekas di benak saya: awalnya, orang-orang yang dijanjikan pekerjaan dan hidup baru itu tidak diminta untuk memberi identitas pada koper mereka. Namun, mereka mulai curiga dan bertanya bagaimana barang-barang tersebut bisa kembali jika tidak ada identitasnya?

Lantas, guna meyakinkan rombongan selanjutnya bahwa mereka benar-benar akan dipindahkan ke tempat tinggal baru, Nazi memerintahkan mereka menuliskan nama dan alamat selengkap mungkin pada koper. Sebuah upaya untuk memberi harapan palsu, padahal koper-koper itu tidak akan pernah kembali ke tangan pemiliknya.

Tur berlanjut ke kamp Auschwitz II-Birkenau menggunakan shuttle bus yang disediakan setiap 15 menit. Rombongan pengunjung disambut gerbang kematian alias “Gate of Death”, lengkap dengan rel kereta api yang masuk langsung ke dalam kamp. Dulunya, jutaan orang yang baru tiba lantas berbaris untuk diseleksi di peron. Di sinilah keputusan antara hidup dan mati ditentukan secara kilat: apabila dianggap dapat bekerja, mereka dijadikan tahanan, sementara anak-anak, lansia, dan orang yang sakit dikirim langsung ke kamar gas, tempat eksekusi dilakukan.

Gate of Death”, pintu masuk menuju kamp Auschwitz II-Birkenau

Awalnya, saya mengira kondisi hidup di sel penjara kamp Auschwitz I sudah sangat buruk. Ternyata, di kamp Auschwitz II jauh lebih memprihatinkan: kamar tanpa jendela berisi puluhan tempat tidur sempit bertingkat tiga, masing-masing tingkatnya untuk enam orang. Tanpa alas tidur apalagi bantal, sulit membayangkan bagaimana mereka bertahan di tengah ruang sesak itu, terutama saat musim dingin tiba.

Tur berakhir dengan kunjungan ke kamar gas tempat eksekusi dulunya dilakukan. Tidak jauh dari sana, terdapat monumen berisi deretan plakat batu dalam berbagai bahasa untuk memperingati tragedi Holokaus. Dalam bahasa Indonesia, terbaca “Biarlah tempat ini selamanya menjadi jeritan keputusasaan dan peringatan bagi umat manusia, di mana Nazi membantai sekitar satu setengah juta laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terutama kaum Yahudi, dari berbagai negara di Eropa. Auschwitz-Birkenau 1940-1945.”

Monumen Internasional untuk Para Korban Fasisme

Sepanjang perjalanan, saya merasa sesak setiap mencoba memposisikan diri saya di sepatu korban, membayangkan seberapa besar penderitaan yang mereka rasakan. Sungguh pengalaman yang sangat emosional berziarah ke tempat yang menjadi saksi titik rendah kemanusiaan.

Miris rasanya menyadari tragedi ini bukan masa prasejarah yang jauh, melainkan baru 80 tahun yang lalu, zaman di mana kemanusiaan seharusnya sudah dijunjung tinggi. Saya pulang dengan hati yang berat, tetapi mendapatkan pelajaran berharga terkait pentingnya memahami sejarah dan lebih menghargai arti kebebasan yang kita miliki sekarang. [T]

Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia
Tags: catatan perjalananNaziPolandia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Next Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co