31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
December 7, 2025
in Cerpen
Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co

LANGIT abu-abu tua, serupa warna tembok yang belum dicat. Angin membawa bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tajam, seperti aroma besi berkarat, atau darah yang belum mengering.

Seorang perempuan berdiri di pinggir hutan. Tangannya menggenggam seutas tali yang baru saja dia beli dari toko bangunan yang pelayannya tidak pernah menatap mata. Harga talinya murah. Tidak ada tawar-menawar saat membelinya.

Pohon yang dia pilih berdiri sendiri. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Cabangnya cukup kuat untuk menanggung sesuatu yang kira-kira seberat dirinya. Seutas tali, satu simpul, satu tarikan napas panjang, lalu semuanya akan selesai.

Tapi ada sesuatu di bawah pohon itu. Celeng. Hitam, besar, bulunya kasar, matanya bagai marmer yang dipoles tangan yang tidak sabar. Celeng itu diam, berdiri di sana, mengunyah sesuatu yang tidak terlihat. Giginya penuh lendir, moncongnya menyisakan liur yang jatuh perlahan ke tanah.

Perempuan itu berhenti. Celeng tidak bergerak. Mereka saling menatap. Perempuan itu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Kebingungan, mungkin. Sedikit jengkel, mungkin. Celeng itu ada di tempat yang salah, di waktu yang tidak tepat. Bukan urusannya. Tapi tetap saja mengganggu.

Perempuan itu menghela napas, melangkah ke pohon, meraba batangnya yang kasar, mencoba mencari tempat untuk mengikat tali. Celeng menggerakkan kepalanya perlahan. Hanya sedikit. Seolah menyaksikan sesuatu. Seakan menunggu sesuatu.

“Pergi!” kata perempuan itu. Suaranya pelan, tetapi cukup tegas.

Celeng tidak bergerak.

Dia mencoba lagi. “Pergi!”

Tidak ada reaksi. Celeng itu masih di sana, mengunyah sesuatu yang tak habis-habis. Perempuan itu mulai gelisah. Dia menarik napas panjang, mengencangkan genggamannya pada tali. Kalau dia pura-pura tidak peduli, mungkin celeng itu akan bosan dan pergi.

Dia mulai memanjat. Tidak terlalu tinggi, hanya cukup untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tangannya kuat, kakinya menekan batang dengan mantap. Setiap tarikan napas terasa lebih berat, tapi dia tetap naik. Celeng itu masih di bawah, matanya mengikuti setiap gerakannya.

Begitu dia sampai di cabang yang tepat, dia mengikat simpul di batang. Tali tergantung di udara, mengayun pelan tertiup angin. Ujungnya siap menunggu sesuatu untuk dimasukkan. Dia merasakan tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Mungkin hanya karena udara dingin.

Celeng masih di sana. Mengunyah sesuatu. Matanya tetap menatap ke atas. Perempuan itu meremas tali dengan lebih kuat. Dia harus mengabaikan celeng itu. Ini bukan urusannya. Dia memasukkan kepalanya ke dalam simpul.

Angin bertiup. Daun-daun bergetar. Celeng mendongak lebih tinggi. Perempuan itu menguatkan hati. Tangannya meraih cabang, tubuhnya mulai condong ke depan. Tapi sebelum dia bisa melepas pegangannya, celeng itu bergerak. Satu langkah maju. Lalu berhenti.

Mata perempuan itu melirik ke bawah.

Kaki celeng menginjak sesuatu yang basah. Ada genangan kecil di antara akar pohon. Merah. Bukan air. Celeng menunduk, menjilat permukaan genangan itu, seolah itu bukan sesuatu yang ganjil.

Tiba-tiba perempuan itu merasa ada yang berubah. Udara lebih berat. Suara hutan lebih tajam, lebih lambat. Bahkan tali di lehernya terasa jari-jari halus yang sedang membelai kulitnya, bukan sesuatu yang akan menariknya kepada ketiadaan.

Dia tidak tahu dari mana genangan itu berasal. Tidak hujan. Tidak ada luka di tubuhnya. Tapi genangan itu ada di sana. Merahnya mencolok, kental, seperti sesuatu yang sudah lama tertumpah tetapi tidak pernah mengering.

Celeng itu menatapnya. Tidak ada ekspresi. Celeng memang tidak punya ekspresi. Tapi sesuatu di matanya terasa lebih dalam dari sekadar binatang liar yang tersesat. Perempuan itu mulai ragu. Tidak tentang keputusannya, bukan itu. Tapi tentang kehadiran celeng. Seakan celeng itu selalu ada di sana. Selalu berdiri di bawah pohon ini, selalu mengunyah sesuatu yang tidak terlihat, selalu menunggu seseorang datang dengan tali di tangannya.

Dan perempuan itu merasa bukan yang pertama. Dunia terasa miring sedikit. Bukan karena kepalanya yang mulai pusing, tapi tampaknya gravitasi di tempat ini bekerja dengan cara yang berbeda. Dia menarik kepalanya dari simpul. Perlahan.

Angin masih berembus, tetapi sekarang terdengar sesuatu, suara napas panjang yang ditahan terlalu lama. Perempuan itu duduk di cabang, tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari celeng itu. Celeng tidak pergi. Tetap di sana.

Angin bertiup, membawa bau sesuatu yang lebih tajam dari daun-daun yang membusuk. Mirip bau kain yang terendam lama. Di bawah, genangan itu bertambah besar. Celeng tetap mengunyah.

Langit makin gelap. Perempuan itu tidak bisa lagi merasakan dingin. Lantas suara terdengar. Bukan dari celeng. Bukan dari angin. Namun langkah kaki, tidak hanya satu pasang. Banyak. Mereka datang dari dalam hutan. Tidak tergesa-gesa, tetapi yakin. Perempuan itu menajamkan pendengarannya. Mata-mata kecil mulai bermunculan di antara pepohonan. Satu, dua, tiga. Semakin banyak. Semuanya berkedip serempak.

Celeng itu mengangkat kepalanya. Gerakannya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menggeser udara yang lembap dan berlumut. Dari sela-sela pohon yang menjulang, cahaya remang menyelinap, pecah di punggungnya yang basah oleh lumpur. Angin di pinggir hutan tak berani bergerak terlalu keras. Daun-daun menahan napas. Ingin memberi tanda, tapi kepada siapa, tidak jelas. Entah kepada perempuan itu, entah kepada malam yang mulai menutup wajahnya.

Perempuan itu menggenggam tali lebih erat. Tangan kirinya terasa pegal, tapi ia tetap menekannya kuat-kuat, bukan karena ia ingin mengikat, menjerat, atau menariknya. Tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang. Di tempat itu, bahkan tanah pun terasa tidak bisa dipercaya. Napasnya pendek-pendek. Bukan karena takut, lebih karena tubuhnya menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dijelaskan. Segalanya terasa miring. Dataran, waktu, dan alasan.

Sesuatu akan terjadi. Ia tidak mengerti. Tapi tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya. Dan kali itu, dia bukan lagi satu-satunya saksi. Di semak sebelah kiri, ada gerak samar. Di belakangnya, suara ranting patah. Langit tertutup perlahan oleh kabut, seakan menutup layar terakhir sebuah pertunjukan yang tak pernah dimulai. Hutan mulai menyusutkan suara. Tidak untuk meredam, tapi untuk mendengar lebih jelas. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
 

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor | Gua Tempurung

Next Post

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co