LANGIT abu-abu tua, serupa warna tembok yang belum dicat. Angin membawa bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tajam, seperti aroma besi berkarat, atau darah yang belum mengering.
Seorang perempuan berdiri di pinggir hutan. Tangannya menggenggam seutas tali yang baru saja dia beli dari toko bangunan yang pelayannya tidak pernah menatap mata. Harga talinya murah. Tidak ada tawar-menawar saat membelinya.
Pohon yang dia pilih berdiri sendiri. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Cabangnya cukup kuat untuk menanggung sesuatu yang kira-kira seberat dirinya. Seutas tali, satu simpul, satu tarikan napas panjang, lalu semuanya akan selesai.
Tapi ada sesuatu di bawah pohon itu. Celeng. Hitam, besar, bulunya kasar, matanya bagai marmer yang dipoles tangan yang tidak sabar. Celeng itu diam, berdiri di sana, mengunyah sesuatu yang tidak terlihat. Giginya penuh lendir, moncongnya menyisakan liur yang jatuh perlahan ke tanah.
Perempuan itu berhenti. Celeng tidak bergerak. Mereka saling menatap. Perempuan itu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Kebingungan, mungkin. Sedikit jengkel, mungkin. Celeng itu ada di tempat yang salah, di waktu yang tidak tepat. Bukan urusannya. Tapi tetap saja mengganggu.
Perempuan itu menghela napas, melangkah ke pohon, meraba batangnya yang kasar, mencoba mencari tempat untuk mengikat tali. Celeng menggerakkan kepalanya perlahan. Hanya sedikit. Seolah menyaksikan sesuatu. Seakan menunggu sesuatu.
“Pergi!” kata perempuan itu. Suaranya pelan, tetapi cukup tegas.
Celeng tidak bergerak.
Dia mencoba lagi. “Pergi!”
Tidak ada reaksi. Celeng itu masih di sana, mengunyah sesuatu yang tak habis-habis. Perempuan itu mulai gelisah. Dia menarik napas panjang, mengencangkan genggamannya pada tali. Kalau dia pura-pura tidak peduli, mungkin celeng itu akan bosan dan pergi.
Dia mulai memanjat. Tidak terlalu tinggi, hanya cukup untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tangannya kuat, kakinya menekan batang dengan mantap. Setiap tarikan napas terasa lebih berat, tapi dia tetap naik. Celeng itu masih di bawah, matanya mengikuti setiap gerakannya.
Begitu dia sampai di cabang yang tepat, dia mengikat simpul di batang. Tali tergantung di udara, mengayun pelan tertiup angin. Ujungnya siap menunggu sesuatu untuk dimasukkan. Dia merasakan tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Mungkin hanya karena udara dingin.
Celeng masih di sana. Mengunyah sesuatu. Matanya tetap menatap ke atas. Perempuan itu meremas tali dengan lebih kuat. Dia harus mengabaikan celeng itu. Ini bukan urusannya. Dia memasukkan kepalanya ke dalam simpul.
Angin bertiup. Daun-daun bergetar. Celeng mendongak lebih tinggi. Perempuan itu menguatkan hati. Tangannya meraih cabang, tubuhnya mulai condong ke depan. Tapi sebelum dia bisa melepas pegangannya, celeng itu bergerak. Satu langkah maju. Lalu berhenti.
Mata perempuan itu melirik ke bawah.
Kaki celeng menginjak sesuatu yang basah. Ada genangan kecil di antara akar pohon. Merah. Bukan air. Celeng menunduk, menjilat permukaan genangan itu, seolah itu bukan sesuatu yang ganjil.
Tiba-tiba perempuan itu merasa ada yang berubah. Udara lebih berat. Suara hutan lebih tajam, lebih lambat. Bahkan tali di lehernya terasa jari-jari halus yang sedang membelai kulitnya, bukan sesuatu yang akan menariknya kepada ketiadaan.
Dia tidak tahu dari mana genangan itu berasal. Tidak hujan. Tidak ada luka di tubuhnya. Tapi genangan itu ada di sana. Merahnya mencolok, kental, seperti sesuatu yang sudah lama tertumpah tetapi tidak pernah mengering.
Celeng itu menatapnya. Tidak ada ekspresi. Celeng memang tidak punya ekspresi. Tapi sesuatu di matanya terasa lebih dalam dari sekadar binatang liar yang tersesat. Perempuan itu mulai ragu. Tidak tentang keputusannya, bukan itu. Tapi tentang kehadiran celeng. Seakan celeng itu selalu ada di sana. Selalu berdiri di bawah pohon ini, selalu mengunyah sesuatu yang tidak terlihat, selalu menunggu seseorang datang dengan tali di tangannya.
Dan perempuan itu merasa bukan yang pertama. Dunia terasa miring sedikit. Bukan karena kepalanya yang mulai pusing, tapi tampaknya gravitasi di tempat ini bekerja dengan cara yang berbeda. Dia menarik kepalanya dari simpul. Perlahan.
Angin masih berembus, tetapi sekarang terdengar sesuatu, suara napas panjang yang ditahan terlalu lama. Perempuan itu duduk di cabang, tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari celeng itu. Celeng tidak pergi. Tetap di sana.
Angin bertiup, membawa bau sesuatu yang lebih tajam dari daun-daun yang membusuk. Mirip bau kain yang terendam lama. Di bawah, genangan itu bertambah besar. Celeng tetap mengunyah.
Langit makin gelap. Perempuan itu tidak bisa lagi merasakan dingin. Lantas suara terdengar. Bukan dari celeng. Bukan dari angin. Namun langkah kaki, tidak hanya satu pasang. Banyak. Mereka datang dari dalam hutan. Tidak tergesa-gesa, tetapi yakin. Perempuan itu menajamkan pendengarannya. Mata-mata kecil mulai bermunculan di antara pepohonan. Satu, dua, tiga. Semakin banyak. Semuanya berkedip serempak.
Celeng itu mengangkat kepalanya. Gerakannya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menggeser udara yang lembap dan berlumut. Dari sela-sela pohon yang menjulang, cahaya remang menyelinap, pecah di punggungnya yang basah oleh lumpur. Angin di pinggir hutan tak berani bergerak terlalu keras. Daun-daun menahan napas. Ingin memberi tanda, tapi kepada siapa, tidak jelas. Entah kepada perempuan itu, entah kepada malam yang mulai menutup wajahnya.
Perempuan itu menggenggam tali lebih erat. Tangan kirinya terasa pegal, tapi ia tetap menekannya kuat-kuat, bukan karena ia ingin mengikat, menjerat, atau menariknya. Tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang. Di tempat itu, bahkan tanah pun terasa tidak bisa dipercaya. Napasnya pendek-pendek. Bukan karena takut, lebih karena tubuhnya menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dijelaskan. Segalanya terasa miring. Dataran, waktu, dan alasan.
Sesuatu akan terjadi. Ia tidak mengerti. Tapi tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya. Dan kali itu, dia bukan lagi satu-satunya saksi. Di semak sebelah kiri, ada gerak samar. Di belakangnya, suara ranting patah. Langit tertutup perlahan oleh kabut, seakan menutup layar terakhir sebuah pertunjukan yang tak pernah dimulai. Hutan mulai menyusutkan suara. Tidak untuk meredam, tapi untuk mendengar lebih jelas. [T]
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole



























