20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
December 7, 2025
in Cerpen
Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co

LANGIT abu-abu tua, serupa warna tembok yang belum dicat. Angin membawa bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tajam, seperti aroma besi berkarat, atau darah yang belum mengering.

Seorang perempuan berdiri di pinggir hutan. Tangannya menggenggam seutas tali yang baru saja dia beli dari toko bangunan yang pelayannya tidak pernah menatap mata. Harga talinya murah. Tidak ada tawar-menawar saat membelinya.

Pohon yang dia pilih berdiri sendiri. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Cabangnya cukup kuat untuk menanggung sesuatu yang kira-kira seberat dirinya. Seutas tali, satu simpul, satu tarikan napas panjang, lalu semuanya akan selesai.

Tapi ada sesuatu di bawah pohon itu. Celeng. Hitam, besar, bulunya kasar, matanya bagai marmer yang dipoles tangan yang tidak sabar. Celeng itu diam, berdiri di sana, mengunyah sesuatu yang tidak terlihat. Giginya penuh lendir, moncongnya menyisakan liur yang jatuh perlahan ke tanah.

Perempuan itu berhenti. Celeng tidak bergerak. Mereka saling menatap. Perempuan itu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Kebingungan, mungkin. Sedikit jengkel, mungkin. Celeng itu ada di tempat yang salah, di waktu yang tidak tepat. Bukan urusannya. Tapi tetap saja mengganggu.

Perempuan itu menghela napas, melangkah ke pohon, meraba batangnya yang kasar, mencoba mencari tempat untuk mengikat tali. Celeng menggerakkan kepalanya perlahan. Hanya sedikit. Seolah menyaksikan sesuatu. Seakan menunggu sesuatu.

“Pergi!” kata perempuan itu. Suaranya pelan, tetapi cukup tegas.

Celeng tidak bergerak.

Dia mencoba lagi. “Pergi!”

Tidak ada reaksi. Celeng itu masih di sana, mengunyah sesuatu yang tak habis-habis. Perempuan itu mulai gelisah. Dia menarik napas panjang, mengencangkan genggamannya pada tali. Kalau dia pura-pura tidak peduli, mungkin celeng itu akan bosan dan pergi.

Dia mulai memanjat. Tidak terlalu tinggi, hanya cukup untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tangannya kuat, kakinya menekan batang dengan mantap. Setiap tarikan napas terasa lebih berat, tapi dia tetap naik. Celeng itu masih di bawah, matanya mengikuti setiap gerakannya.

Begitu dia sampai di cabang yang tepat, dia mengikat simpul di batang. Tali tergantung di udara, mengayun pelan tertiup angin. Ujungnya siap menunggu sesuatu untuk dimasukkan. Dia merasakan tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Mungkin hanya karena udara dingin.

Celeng masih di sana. Mengunyah sesuatu. Matanya tetap menatap ke atas. Perempuan itu meremas tali dengan lebih kuat. Dia harus mengabaikan celeng itu. Ini bukan urusannya. Dia memasukkan kepalanya ke dalam simpul.

Angin bertiup. Daun-daun bergetar. Celeng mendongak lebih tinggi. Perempuan itu menguatkan hati. Tangannya meraih cabang, tubuhnya mulai condong ke depan. Tapi sebelum dia bisa melepas pegangannya, celeng itu bergerak. Satu langkah maju. Lalu berhenti.

Mata perempuan itu melirik ke bawah.

Kaki celeng menginjak sesuatu yang basah. Ada genangan kecil di antara akar pohon. Merah. Bukan air. Celeng menunduk, menjilat permukaan genangan itu, seolah itu bukan sesuatu yang ganjil.

Tiba-tiba perempuan itu merasa ada yang berubah. Udara lebih berat. Suara hutan lebih tajam, lebih lambat. Bahkan tali di lehernya terasa jari-jari halus yang sedang membelai kulitnya, bukan sesuatu yang akan menariknya kepada ketiadaan.

Dia tidak tahu dari mana genangan itu berasal. Tidak hujan. Tidak ada luka di tubuhnya. Tapi genangan itu ada di sana. Merahnya mencolok, kental, seperti sesuatu yang sudah lama tertumpah tetapi tidak pernah mengering.

Celeng itu menatapnya. Tidak ada ekspresi. Celeng memang tidak punya ekspresi. Tapi sesuatu di matanya terasa lebih dalam dari sekadar binatang liar yang tersesat. Perempuan itu mulai ragu. Tidak tentang keputusannya, bukan itu. Tapi tentang kehadiran celeng. Seakan celeng itu selalu ada di sana. Selalu berdiri di bawah pohon ini, selalu mengunyah sesuatu yang tidak terlihat, selalu menunggu seseorang datang dengan tali di tangannya.

Dan perempuan itu merasa bukan yang pertama. Dunia terasa miring sedikit. Bukan karena kepalanya yang mulai pusing, tapi tampaknya gravitasi di tempat ini bekerja dengan cara yang berbeda. Dia menarik kepalanya dari simpul. Perlahan.

Angin masih berembus, tetapi sekarang terdengar sesuatu, suara napas panjang yang ditahan terlalu lama. Perempuan itu duduk di cabang, tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari celeng itu. Celeng tidak pergi. Tetap di sana.

Angin bertiup, membawa bau sesuatu yang lebih tajam dari daun-daun yang membusuk. Mirip bau kain yang terendam lama. Di bawah, genangan itu bertambah besar. Celeng tetap mengunyah.

Langit makin gelap. Perempuan itu tidak bisa lagi merasakan dingin. Lantas suara terdengar. Bukan dari celeng. Bukan dari angin. Namun langkah kaki, tidak hanya satu pasang. Banyak. Mereka datang dari dalam hutan. Tidak tergesa-gesa, tetapi yakin. Perempuan itu menajamkan pendengarannya. Mata-mata kecil mulai bermunculan di antara pepohonan. Satu, dua, tiga. Semakin banyak. Semuanya berkedip serempak.

Celeng itu mengangkat kepalanya. Gerakannya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menggeser udara yang lembap dan berlumut. Dari sela-sela pohon yang menjulang, cahaya remang menyelinap, pecah di punggungnya yang basah oleh lumpur. Angin di pinggir hutan tak berani bergerak terlalu keras. Daun-daun menahan napas. Ingin memberi tanda, tapi kepada siapa, tidak jelas. Entah kepada perempuan itu, entah kepada malam yang mulai menutup wajahnya.

Perempuan itu menggenggam tali lebih erat. Tangan kirinya terasa pegal, tapi ia tetap menekannya kuat-kuat, bukan karena ia ingin mengikat, menjerat, atau menariknya. Tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang. Di tempat itu, bahkan tanah pun terasa tidak bisa dipercaya. Napasnya pendek-pendek. Bukan karena takut, lebih karena tubuhnya menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dijelaskan. Segalanya terasa miring. Dataran, waktu, dan alasan.

Sesuatu akan terjadi. Ia tidak mengerti. Tapi tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya. Dan kali itu, dia bukan lagi satu-satunya saksi. Di semak sebelah kiri, ada gerak samar. Di belakangnya, suara ranting patah. Langit tertutup perlahan oleh kabut, seakan menutup layar terakhir sebuah pertunjukan yang tak pernah dimulai. Hutan mulai menyusutkan suara. Tidak untuk meredam, tapi untuk mendengar lebih jelas. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
 

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor | Gua Tempurung

Next Post

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co