24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
December 7, 2025
in Cerpen
Celeng dan Tali | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co

LANGIT abu-abu tua, serupa warna tembok yang belum dicat. Angin membawa bau tanah lembap dan sesuatu yang lebih tajam, seperti aroma besi berkarat, atau darah yang belum mengering.

Seorang perempuan berdiri di pinggir hutan. Tangannya menggenggam seutas tali yang baru saja dia beli dari toko bangunan yang pelayannya tidak pernah menatap mata. Harga talinya murah. Tidak ada tawar-menawar saat membelinya.

Pohon yang dia pilih berdiri sendiri. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Cabangnya cukup kuat untuk menanggung sesuatu yang kira-kira seberat dirinya. Seutas tali, satu simpul, satu tarikan napas panjang, lalu semuanya akan selesai.

Tapi ada sesuatu di bawah pohon itu. Celeng. Hitam, besar, bulunya kasar, matanya bagai marmer yang dipoles tangan yang tidak sabar. Celeng itu diam, berdiri di sana, mengunyah sesuatu yang tidak terlihat. Giginya penuh lendir, moncongnya menyisakan liur yang jatuh perlahan ke tanah.

Perempuan itu berhenti. Celeng tidak bergerak. Mereka saling menatap. Perempuan itu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Kebingungan, mungkin. Sedikit jengkel, mungkin. Celeng itu ada di tempat yang salah, di waktu yang tidak tepat. Bukan urusannya. Tapi tetap saja mengganggu.

Perempuan itu menghela napas, melangkah ke pohon, meraba batangnya yang kasar, mencoba mencari tempat untuk mengikat tali. Celeng menggerakkan kepalanya perlahan. Hanya sedikit. Seolah menyaksikan sesuatu. Seakan menunggu sesuatu.

“Pergi!” kata perempuan itu. Suaranya pelan, tetapi cukup tegas.

Celeng tidak bergerak.

Dia mencoba lagi. “Pergi!”

Tidak ada reaksi. Celeng itu masih di sana, mengunyah sesuatu yang tak habis-habis. Perempuan itu mulai gelisah. Dia menarik napas panjang, mengencangkan genggamannya pada tali. Kalau dia pura-pura tidak peduli, mungkin celeng itu akan bosan dan pergi.

Dia mulai memanjat. Tidak terlalu tinggi, hanya cukup untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tangannya kuat, kakinya menekan batang dengan mantap. Setiap tarikan napas terasa lebih berat, tapi dia tetap naik. Celeng itu masih di bawah, matanya mengikuti setiap gerakannya.

Begitu dia sampai di cabang yang tepat, dia mengikat simpul di batang. Tali tergantung di udara, mengayun pelan tertiup angin. Ujungnya siap menunggu sesuatu untuk dimasukkan. Dia merasakan tubuhnya mulai gemetar. Bukan karena takut. Bukan karena ragu. Mungkin hanya karena udara dingin.

Celeng masih di sana. Mengunyah sesuatu. Matanya tetap menatap ke atas. Perempuan itu meremas tali dengan lebih kuat. Dia harus mengabaikan celeng itu. Ini bukan urusannya. Dia memasukkan kepalanya ke dalam simpul.

Angin bertiup. Daun-daun bergetar. Celeng mendongak lebih tinggi. Perempuan itu menguatkan hati. Tangannya meraih cabang, tubuhnya mulai condong ke depan. Tapi sebelum dia bisa melepas pegangannya, celeng itu bergerak. Satu langkah maju. Lalu berhenti.

Mata perempuan itu melirik ke bawah.

Kaki celeng menginjak sesuatu yang basah. Ada genangan kecil di antara akar pohon. Merah. Bukan air. Celeng menunduk, menjilat permukaan genangan itu, seolah itu bukan sesuatu yang ganjil.

Tiba-tiba perempuan itu merasa ada yang berubah. Udara lebih berat. Suara hutan lebih tajam, lebih lambat. Bahkan tali di lehernya terasa jari-jari halus yang sedang membelai kulitnya, bukan sesuatu yang akan menariknya kepada ketiadaan.

Dia tidak tahu dari mana genangan itu berasal. Tidak hujan. Tidak ada luka di tubuhnya. Tapi genangan itu ada di sana. Merahnya mencolok, kental, seperti sesuatu yang sudah lama tertumpah tetapi tidak pernah mengering.

Celeng itu menatapnya. Tidak ada ekspresi. Celeng memang tidak punya ekspresi. Tapi sesuatu di matanya terasa lebih dalam dari sekadar binatang liar yang tersesat. Perempuan itu mulai ragu. Tidak tentang keputusannya, bukan itu. Tapi tentang kehadiran celeng. Seakan celeng itu selalu ada di sana. Selalu berdiri di bawah pohon ini, selalu mengunyah sesuatu yang tidak terlihat, selalu menunggu seseorang datang dengan tali di tangannya.

Dan perempuan itu merasa bukan yang pertama. Dunia terasa miring sedikit. Bukan karena kepalanya yang mulai pusing, tapi tampaknya gravitasi di tempat ini bekerja dengan cara yang berbeda. Dia menarik kepalanya dari simpul. Perlahan.

Angin masih berembus, tetapi sekarang terdengar sesuatu, suara napas panjang yang ditahan terlalu lama. Perempuan itu duduk di cabang, tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari celeng itu. Celeng tidak pergi. Tetap di sana.

Angin bertiup, membawa bau sesuatu yang lebih tajam dari daun-daun yang membusuk. Mirip bau kain yang terendam lama. Di bawah, genangan itu bertambah besar. Celeng tetap mengunyah.

Langit makin gelap. Perempuan itu tidak bisa lagi merasakan dingin. Lantas suara terdengar. Bukan dari celeng. Bukan dari angin. Namun langkah kaki, tidak hanya satu pasang. Banyak. Mereka datang dari dalam hutan. Tidak tergesa-gesa, tetapi yakin. Perempuan itu menajamkan pendengarannya. Mata-mata kecil mulai bermunculan di antara pepohonan. Satu, dua, tiga. Semakin banyak. Semuanya berkedip serempak.

Celeng itu mengangkat kepalanya. Gerakannya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menggeser udara yang lembap dan berlumut. Dari sela-sela pohon yang menjulang, cahaya remang menyelinap, pecah di punggungnya yang basah oleh lumpur. Angin di pinggir hutan tak berani bergerak terlalu keras. Daun-daun menahan napas. Ingin memberi tanda, tapi kepada siapa, tidak jelas. Entah kepada perempuan itu, entah kepada malam yang mulai menutup wajahnya.

Perempuan itu menggenggam tali lebih erat. Tangan kirinya terasa pegal, tapi ia tetap menekannya kuat-kuat, bukan karena ia ingin mengikat, menjerat, atau menariknya. Tapi karena ia butuh sesuatu untuk dipegang. Di tempat itu, bahkan tanah pun terasa tidak bisa dipercaya. Napasnya pendek-pendek. Bukan karena takut, lebih karena tubuhnya menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dijelaskan. Segalanya terasa miring. Dataran, waktu, dan alasan.

Sesuatu akan terjadi. Ia tidak mengerti. Tapi tubuhnya tahu lebih dulu daripada pikirannya. Dan kali itu, dia bukan lagi satu-satunya saksi. Di semak sebelah kiri, ada gerak samar. Di belakangnya, suara ranting patah. Langit tertutup perlahan oleh kabut, seakan menutup layar terakhir sebuah pertunjukan yang tak pernah dimulai. Hutan mulai menyusutkan suara. Tidak untuk meredam, tapi untuk mendengar lebih jelas. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
 

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Acep Zamzam Noor | Gua Tempurung

Next Post

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Parenting: Investasi Karakter di Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co