November, “Ber”nya apa?
Berkutat dalam Denpasar Bercerita.
Denpasar Bercerita digelar pada 22 November 2025 lalu di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar. Sebelumnya, rangkaian acara telah dibuka dengan Sayembara Cerpen bertema kota Denpasar, yang kemudian melahirkan para pemenangnya. Dalam acara utama, cerpen-cerpen pilihan dewan juri dibahas kembali, memberi ruang untuk percakapan tentang proses penjurian, pertimbangan dalam memilih pemenang, hingga berbagi beberapa kiat sederhana untuk para pengunjung yang hadir. Setelah itu, hadirin diajak menyaksikan Tubuh Kota yang Berlari, pertunjukan teater yang mengadaptasi sepuluh cerpen terpilih menjadi panggung yang penuh gerak, cahaya, dan imajinasi.
Dan tulisan ini? Saya anggap sebagai diary kecil, catatan pribadi tentang bagaimana rasanya mengikuti hampir seluruh proses Denpasar Bercerita, dari membaca ratusan cerpen sampai merubahnya menjadi sesuatu yang hidup di atas panggung. Semacam dokumentasi kehebohan kreatif yang terlalu sayang kalau hanya disimpan dalam kepala. Sedikit terlambat, tapi tidak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Kalau ditanya bagaimana rasanya ikut berproses dalam acara ini, jawaban sederhananya, tentu saja menantang dan menyenangkan. Klise, iya. Tapi rasanya jauh lebih pelik daripada dua kata itu. Yang membuatnya terasa penuh tantangan sekaligus begitu mengasyikkan adalah caranya memaksa saya masuk ke pusaran kreativitas yang tak pernah berhenti bergerak. Satu hari saya tenggelam dalam lautan cerpen, hari berikutnya saya harus menjahit ide-ide liar menjadi naskah, lalu tiba-tiba sudah berdiri di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar, mencoba menerjemahkan kata menjadi gerak. Semua berlangsung cepat, kacau, lucu, dan entah bagaimana justru membuat banyak kupu-kupu seperti beterbangan di dada, perut, dan kepala.

Cerpen bukan hal yang benar-benar asing bagi saya. Pernah, di tahun 2019, saya menerbitkan sebuah kumpulan cerpen, sebuah jejak kecil yang saya simpan sebagai penanda kalau saya pernah ada. Saya pun sempat kembali menulis dengan ikut serta dalam workshop penulisan cerpen Singaraja Berkisah tahun 2023.Tetapi setelah itu, ya, hidup berjalan seperti biasa, dan dunia cerpen tidak lagi saya sentuh sedekat dulu. Karena itu, ketika Penerbit Partikular mengajak saya menjadi juri Sayembara Cerpen Denpasar Bercerita, saya sempat ragu apakah saya cukup layak untuk berada di posisi itu? Kalau anak zaman sekarang bilang, insecure.
Juli Sastrawan, dengan tenangnya, meyakinkan saya bahwa saya mampu. Jadi saya pun menerima tugas itu, bukan sebagai cerpenis atau penulis kawakan seperti dua juri lainnya, Oka Rusmini dan Putu Supartika yang reputasinya sudah tak perlu dipertanyakan. Melainkan sebagai pembaca yang sungguh mencintai cerpen. Pembaca yang ingin merayakan setiap cerita dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan yang tulus. terutama rasa penasaran tentang bagaimana para peserta memandang Denpasar. Kota yang sama, tapi dilihat dari sudut yang begitu berbeda.
Namun tugas saya tidak berhenti di situ. Rangkaian Denpasar Bercerita tidak serta-merta selesai ketika nama-nama pemenang diumumkan. Sepuluh cerpen terpilih itu kemudian harus beralih wahana menjadi sebuah pertunjukan teater dan visual, berkolaborasi dengan Darklab Visual Art, kelompok seni kontemporer yang memanfaatkan OHP (Overhead Projector) untuk menciptakan visual-visual yang khas.
Cukup unik, bukan? OHP yang dulu dipakai untuk presentasi di kelas, sebelum proyektor modern mengambil alih, di tangan Darklab bisa berubah menjadi alat penghasil visual mapping yang ditembakkan ke permukaan ruang. Hasilnya menghadirkan suasana dramatis yang, jujur saja, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jenis pengalaman yang lebih mudah dirasakan daripada diterangkan.
Namun, begitu mulai menulis naskah, kabel-kabel dalam otak saya langsung menegang. Saya harus menyusun treatment yang merangkum narasi dari sepuluh cerpen pemenang: Perjodohan karya Ni Putu Rastiti, Lapak dan Jejak yang Tak Mengering karya Galuh Ginanti, Bunga Jepun dan Puding Rasa Pandan karya Jong Santiasa, Selayang Pandang dari Sudut Utara Kota Denpasar karya Gusti Ayu Dian Okta, Ajaran Bhagawan di Tengah Kota karya Maria Nilanti Ayomi, Bau Babi karya Aviv Nur Aida Aulia, Langit Sanur karya Tria Nin, Air Bah Kota Denpasar karya Kadek Agus Arya Pranata, Tempat-Tempat yang Sering Kami Kunjungi karya Jahe Biru, dan Perempuan di Balik Warung Sate karya Muhammad Rasyid.

Tantangan terbesarnya adalah menemukan benang merah yang dapat mengikat semua cerita ini, membentuk alur yang tidak hanya berdampingan, tetapi saling menyokong. Dari sanalah saya mulai mengelompokkan tema, nada, dan atmosfer masing-masing cerita menjadi fragmen-fragmen yang saling terhubung, sehingga tidak terasa seperti sepuluh kisah terpisah, melainkan satu tubuh narasi yang utuh.
Upaya mengikat kesepuluh cerpen ini ke dalam empat fragmen bukan hal yang mudah, apalagi dengan waktu yang begitu singkat. Rasanya seperti terus dikejar tanpa benar-benar punya ruang untuk berlari. Tapi justru di tengah desakan itulah saya mulai menemukan napas utama pementasan ini, sebuah perjalanan tentang kota, tubuh-tubuh yang hidup di dalamnya, dan segala yang mereka pertahankan maupun relakan. Dari proses itu pula judul pementasan kami akhirnya menemukan dirinya sendiri: Tubuh Kota yang Berlari.
Di saat yang sama, ini adalah kali pertama saya mengambil peran sebagai perajut naskah, dramaturg, sekaligus sutradara. Selama ini saya lebih sering menulis naskah untuk pertunjukan anak-anak, atau terlibat sebagai aktor dan pimpinan produksi. Lagipula, saya sudah vakum dari dunia teater hampir tiga tahun, cukup lama untuk membuat panggung terasa seperti dunia lama yang harus saya dekati pelan-pelan.
Mendadak harus memegang tiga peran sekaligus sempat membuat saya kecil hati. Pertanyaan seperti “mampukah saya?” atau “bagaimana kalau justru saya yang membuat pertunjukan ini berantakan?” muncul berulang, menggoyahkan kepercayaan diri yang sudah tipis sejak lama.
Namun, seperti biasa, Tuhan punya caranya sendiri. Semua ketakutan itu perlahan mereda ketika saya bertemu tim yang begitu ajaib, para aktor yang matang dalam olah tubuh. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelaku di panggung, tapi juga sebagai sumber kekuatan utama proses ini. Batang naskah yang saya susun kami bahas bersama, mencari bentuk gerak yang selaras dengan bayangan saya namun tetap setia pada sepuluh cerpen tersebut. Kami mencoba, menimbang, memperbaiki, dan merumuskannya pelan-pelan, hingga naskah itu menemukan tubuh dan napasnya sendiri.
Para musisi pun hanya butuh sedikit arahan untuk menangkap atmosfer cerita, sementara tim produksi bekerja dengan gesit, peka, dan selalu suportif dalam setiap detail proses, duo Muralis yang mengeksekusi ke sepuluh cerpen di atas kanvas. Dan tentu saja, para anggota tim Darklab, terutama Ketut Sedana, partner gedebag-gedebug yang selalu siap diajak berdiskusi, entah topiknya serius atau tiba-tiba nyelonong ke wilayah lain. Bersama merekalah naskah ini mulai menemukan bentuknya, pelan, pasti, dan penuh kepercayaan dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Pada akhirnya setelah semua selesai, set alat dan panggung sudah dirapikan, kaleng-kaleng cat ditutup, denyut hidup kembali ke dunia nyata bukan lagi cerpen-cerpen. Semua seperti mimpi yang usai, namun meninggalkan jejak dalam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kemampuan diri dan rasa insecure tadi, ternyata hanya ketakutan yang jika dieksploitasi dengan baik, bisa menjadi motivasi untuk menghasilkan sebuah karya. Kelemahan yang diputar balik menjadi kelebihan dibarengi dengan support dan kerja tim yang solid dan saling percaya. [T]

Tubuh Kota yang Berlari
- Perajut naskah & Sutradara: Devy Gita
- Penata Artistik: Ketut Sedana
- Pimpinan Produksi: Renilayon
- Aktor: Renilayon, Arya Krisna, Mahijasena, Oka Pratama
- Penata Musik: SUKMADI (Pandu Sukma, Adhi Purnama)
- Muralis: Varkoivark, Basme
- Visual Mapping: Darklab Visual Art
- Visual Operator: Trip.Shroom
- Videographer: Nicholas Menna
- Photographer: Kevin Prilesmana
- Runner: Satrya
Penulis: Devy Gita
Editor: Adnyana Ole



























