2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Devy Gita by Devy Gita
November 28, 2025
in Ulas Pentas
Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Pementasan "Tubuh Kota yang Berlari" di Denpasar Bercerita

November, “Ber”nya apa? 

Berkutat dalam Denpasar Bercerita. 

Denpasar Bercerita digelar pada 22 November 2025 lalu di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar. Sebelumnya, rangkaian acara telah dibuka dengan Sayembara Cerpen bertema kota Denpasar, yang kemudian melahirkan para pemenangnya. Dalam acara utama, cerpen-cerpen pilihan dewan juri dibahas kembali, memberi ruang untuk percakapan tentang proses penjurian, pertimbangan dalam memilih pemenang, hingga berbagi beberapa kiat sederhana untuk para pengunjung yang hadir. Setelah itu, hadirin diajak menyaksikan Tubuh Kota yang Berlari, pertunjukan teater yang mengadaptasi sepuluh cerpen terpilih menjadi panggung yang penuh gerak, cahaya, dan imajinasi.

Dan tulisan ini? Saya anggap sebagai diary kecil, catatan pribadi tentang bagaimana rasanya mengikuti hampir seluruh proses Denpasar Bercerita, dari membaca ratusan cerpen sampai merubahnya menjadi sesuatu yang hidup di atas panggung. Semacam dokumentasi kehebohan kreatif yang terlalu sayang kalau hanya disimpan dalam kepala. Sedikit terlambat, tapi tidak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 

Kalau ditanya bagaimana rasanya ikut berproses dalam acara ini, jawaban sederhananya, tentu saja menantang dan menyenangkan. Klise, iya. Tapi rasanya jauh lebih pelik daripada dua kata itu. Yang membuatnya terasa penuh tantangan sekaligus begitu mengasyikkan adalah caranya memaksa saya masuk ke pusaran kreativitas yang tak pernah berhenti bergerak. Satu hari saya tenggelam dalam lautan cerpen, hari berikutnya saya harus menjahit ide-ide liar menjadi naskah, lalu tiba-tiba sudah berdiri di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar, mencoba menerjemahkan kata menjadi gerak. Semua berlangsung cepat, kacau, lucu, dan entah bagaimana justru membuat banyak kupu-kupu seperti beterbangan di dada, perut, dan kepala.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Cerpen bukan hal yang benar-benar asing bagi saya. Pernah, di tahun 2019, saya menerbitkan sebuah kumpulan cerpen, sebuah jejak kecil yang saya simpan sebagai penanda kalau saya pernah ada. Saya pun sempat kembali menulis dengan ikut serta dalam workshop penulisan cerpen Singaraja Berkisah tahun 2023.Tetapi setelah itu, ya, hidup berjalan seperti biasa, dan dunia cerpen tidak lagi saya sentuh sedekat dulu. Karena itu, ketika Penerbit Partikular mengajak saya menjadi juri Sayembara Cerpen Denpasar Bercerita, saya sempat ragu apakah saya cukup layak untuk berada di posisi itu? Kalau anak zaman sekarang bilang, insecure.

Juli Sastrawan, dengan tenangnya, meyakinkan saya bahwa saya mampu. Jadi saya pun menerima tugas itu, bukan sebagai cerpenis atau penulis kawakan seperti dua juri lainnya, Oka Rusmini dan Putu Supartika yang reputasinya sudah tak perlu dipertanyakan. Melainkan sebagai pembaca yang sungguh mencintai cerpen. Pembaca yang ingin merayakan setiap cerita dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan yang tulus. terutama rasa penasaran tentang bagaimana para peserta memandang Denpasar. Kota yang sama, tapi dilihat dari sudut yang begitu berbeda.

Namun tugas saya tidak berhenti di situ. Rangkaian Denpasar Bercerita tidak serta-merta selesai ketika nama-nama pemenang diumumkan. Sepuluh cerpen terpilih itu kemudian harus beralih wahana menjadi sebuah pertunjukan teater dan visual, berkolaborasi dengan Darklab Visual Art, kelompok seni kontemporer yang memanfaatkan OHP (Overhead Projector) untuk menciptakan visual-visual yang khas.

Cukup unik, bukan? OHP yang dulu dipakai untuk presentasi di kelas, sebelum proyektor modern mengambil alih, di tangan Darklab bisa berubah menjadi alat penghasil visual mapping yang ditembakkan ke permukaan ruang. Hasilnya menghadirkan suasana dramatis yang, jujur saja, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jenis pengalaman yang lebih mudah dirasakan daripada diterangkan.

Namun, begitu mulai menulis naskah, kabel-kabel dalam otak saya langsung menegang. Saya harus menyusun treatment yang merangkum narasi dari sepuluh cerpen pemenang: Perjodohan karya Ni Putu Rastiti, Lapak dan Jejak yang Tak Mengering karya Galuh Ginanti, Bunga Jepun dan Puding Rasa Pandan karya Jong Santiasa, Selayang Pandang dari Sudut Utara Kota Denpasar karya Gusti Ayu Dian Okta, Ajaran Bhagawan di Tengah Kota karya Maria Nilanti Ayomi, Bau Babi karya Aviv Nur Aida Aulia, Langit Sanur karya Tria Nin, Air Bah Kota Denpasar karya Kadek Agus Arya Pranata, Tempat-Tempat yang Sering Kami Kunjungi karya Jahe Biru, dan Perempuan di Balik Warung Sate karya Muhammad Rasyid.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Tantangan terbesarnya adalah menemukan benang merah yang dapat mengikat semua cerita ini, membentuk alur yang tidak hanya berdampingan, tetapi saling menyokong. Dari sanalah saya mulai mengelompokkan tema, nada, dan atmosfer masing-masing cerita menjadi fragmen-fragmen yang saling terhubung, sehingga tidak terasa seperti sepuluh kisah terpisah, melainkan satu tubuh narasi yang utuh.

Upaya mengikat kesepuluh cerpen ini ke dalam empat fragmen bukan hal yang mudah, apalagi dengan waktu yang begitu singkat. Rasanya seperti terus dikejar tanpa benar-benar punya ruang untuk berlari. Tapi justru di tengah desakan itulah saya mulai menemukan napas utama pementasan ini, sebuah perjalanan tentang kota, tubuh-tubuh yang hidup di dalamnya, dan segala yang mereka pertahankan maupun relakan. Dari proses itu pula judul pementasan kami akhirnya menemukan dirinya sendiri: Tubuh Kota yang Berlari.

Di saat yang sama, ini adalah kali pertama saya mengambil peran sebagai perajut naskah, dramaturg, sekaligus sutradara. Selama ini saya lebih sering menulis naskah untuk pertunjukan anak-anak, atau terlibat sebagai aktor dan pimpinan produksi. Lagipula, saya sudah vakum dari dunia teater hampir tiga tahun, cukup lama untuk membuat panggung terasa seperti dunia lama yang harus saya dekati pelan-pelan.

Mendadak harus memegang tiga peran sekaligus sempat membuat saya kecil hati. Pertanyaan seperti “mampukah saya?” atau “bagaimana kalau justru saya yang membuat pertunjukan ini berantakan?” muncul berulang, menggoyahkan kepercayaan diri yang sudah tipis sejak lama.

Namun, seperti biasa, Tuhan punya caranya sendiri. Semua ketakutan itu perlahan mereda ketika saya bertemu tim yang begitu ajaib, para aktor yang matang dalam olah tubuh. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelaku di panggung, tapi juga sebagai sumber kekuatan utama proses ini. Batang naskah yang saya susun kami bahas bersama, mencari bentuk gerak yang selaras dengan bayangan saya namun tetap setia pada sepuluh cerpen tersebut. Kami mencoba, menimbang, memperbaiki, dan merumuskannya pelan-pelan, hingga naskah itu menemukan tubuh dan napasnya sendiri.

Para musisi pun hanya butuh sedikit arahan untuk menangkap atmosfer cerita, sementara tim produksi bekerja dengan gesit, peka, dan selalu suportif dalam setiap detail proses, duo Muralis yang mengeksekusi ke sepuluh cerpen di atas kanvas. Dan tentu saja, para anggota tim Darklab, terutama Ketut Sedana, partner gedebag-gedebug yang selalu siap diajak berdiskusi, entah topiknya serius atau tiba-tiba nyelonong ke wilayah lain. Bersama merekalah naskah ini mulai menemukan bentuknya, pelan, pasti, dan penuh kepercayaan dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Pada akhirnya setelah semua selesai, set alat dan panggung sudah dirapikan, kaleng-kaleng cat ditutup, denyut hidup kembali ke dunia nyata bukan lagi cerpen-cerpen. Semua seperti mimpi yang usai, namun meninggalkan jejak dalam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kemampuan diri dan rasa insecure tadi, ternyata hanya ketakutan yang jika dieksploitasi dengan baik, bisa menjadi motivasi untuk menghasilkan sebuah karya. Kelemahan yang diputar balik menjadi kelebihan dibarengi dengan support dan kerja tim yang solid dan saling percaya. [T]

Tubuh Kota yang Berlari

  • Perajut naskah & Sutradara: Devy Gita
  • Penata Artistik: Ketut Sedana
  • Pimpinan Produksi: Renilayon
  • Aktor: Renilayon, Arya Krisna, Mahijasena, Oka Pratama
  • Penata Musik: SUKMADI (Pandu Sukma, Adhi Purnama)
  • Muralis: Varkoivark, Basme
  • Visual Mapping: Darklab Visual Art 
  • Visual Operator: Trip.Shroom
  • Videographer: Nicholas Menna
  • Photographer: Kevin Prilesmana
  • Runner: Satrya

Penulis: Devy Gita
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarPenerbit Partikularseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Next Post

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co