14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Devy Gita by Devy Gita
November 28, 2025
in Ulas Pentas
Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Pementasan "Tubuh Kota yang Berlari" di Denpasar Bercerita

November, “Ber”nya apa? 

Berkutat dalam Denpasar Bercerita. 

Denpasar Bercerita digelar pada 22 November 2025 lalu di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar. Sebelumnya, rangkaian acara telah dibuka dengan Sayembara Cerpen bertema kota Denpasar, yang kemudian melahirkan para pemenangnya. Dalam acara utama, cerpen-cerpen pilihan dewan juri dibahas kembali, memberi ruang untuk percakapan tentang proses penjurian, pertimbangan dalam memilih pemenang, hingga berbagi beberapa kiat sederhana untuk para pengunjung yang hadir. Setelah itu, hadirin diajak menyaksikan Tubuh Kota yang Berlari, pertunjukan teater yang mengadaptasi sepuluh cerpen terpilih menjadi panggung yang penuh gerak, cahaya, dan imajinasi.

Dan tulisan ini? Saya anggap sebagai diary kecil, catatan pribadi tentang bagaimana rasanya mengikuti hampir seluruh proses Denpasar Bercerita, dari membaca ratusan cerpen sampai merubahnya menjadi sesuatu yang hidup di atas panggung. Semacam dokumentasi kehebohan kreatif yang terlalu sayang kalau hanya disimpan dalam kepala. Sedikit terlambat, tapi tidak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 

Kalau ditanya bagaimana rasanya ikut berproses dalam acara ini, jawaban sederhananya, tentu saja menantang dan menyenangkan. Klise, iya. Tapi rasanya jauh lebih pelik daripada dua kata itu. Yang membuatnya terasa penuh tantangan sekaligus begitu mengasyikkan adalah caranya memaksa saya masuk ke pusaran kreativitas yang tak pernah berhenti bergerak. Satu hari saya tenggelam dalam lautan cerpen, hari berikutnya saya harus menjahit ide-ide liar menjadi naskah, lalu tiba-tiba sudah berdiri di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar, mencoba menerjemahkan kata menjadi gerak. Semua berlangsung cepat, kacau, lucu, dan entah bagaimana justru membuat banyak kupu-kupu seperti beterbangan di dada, perut, dan kepala.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Cerpen bukan hal yang benar-benar asing bagi saya. Pernah, di tahun 2019, saya menerbitkan sebuah kumpulan cerpen, sebuah jejak kecil yang saya simpan sebagai penanda kalau saya pernah ada. Saya pun sempat kembali menulis dengan ikut serta dalam workshop penulisan cerpen Singaraja Berkisah tahun 2023.Tetapi setelah itu, ya, hidup berjalan seperti biasa, dan dunia cerpen tidak lagi saya sentuh sedekat dulu. Karena itu, ketika Penerbit Partikular mengajak saya menjadi juri Sayembara Cerpen Denpasar Bercerita, saya sempat ragu apakah saya cukup layak untuk berada di posisi itu? Kalau anak zaman sekarang bilang, insecure.

Juli Sastrawan, dengan tenangnya, meyakinkan saya bahwa saya mampu. Jadi saya pun menerima tugas itu, bukan sebagai cerpenis atau penulis kawakan seperti dua juri lainnya, Oka Rusmini dan Putu Supartika yang reputasinya sudah tak perlu dipertanyakan. Melainkan sebagai pembaca yang sungguh mencintai cerpen. Pembaca yang ingin merayakan setiap cerita dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan yang tulus. terutama rasa penasaran tentang bagaimana para peserta memandang Denpasar. Kota yang sama, tapi dilihat dari sudut yang begitu berbeda.

Namun tugas saya tidak berhenti di situ. Rangkaian Denpasar Bercerita tidak serta-merta selesai ketika nama-nama pemenang diumumkan. Sepuluh cerpen terpilih itu kemudian harus beralih wahana menjadi sebuah pertunjukan teater dan visual, berkolaborasi dengan Darklab Visual Art, kelompok seni kontemporer yang memanfaatkan OHP (Overhead Projector) untuk menciptakan visual-visual yang khas.

Cukup unik, bukan? OHP yang dulu dipakai untuk presentasi di kelas, sebelum proyektor modern mengambil alih, di tangan Darklab bisa berubah menjadi alat penghasil visual mapping yang ditembakkan ke permukaan ruang. Hasilnya menghadirkan suasana dramatis yang, jujur saja, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jenis pengalaman yang lebih mudah dirasakan daripada diterangkan.

Namun, begitu mulai menulis naskah, kabel-kabel dalam otak saya langsung menegang. Saya harus menyusun treatment yang merangkum narasi dari sepuluh cerpen pemenang: Perjodohan karya Ni Putu Rastiti, Lapak dan Jejak yang Tak Mengering karya Galuh Ginanti, Bunga Jepun dan Puding Rasa Pandan karya Jong Santiasa, Selayang Pandang dari Sudut Utara Kota Denpasar karya Gusti Ayu Dian Okta, Ajaran Bhagawan di Tengah Kota karya Maria Nilanti Ayomi, Bau Babi karya Aviv Nur Aida Aulia, Langit Sanur karya Tria Nin, Air Bah Kota Denpasar karya Kadek Agus Arya Pranata, Tempat-Tempat yang Sering Kami Kunjungi karya Jahe Biru, dan Perempuan di Balik Warung Sate karya Muhammad Rasyid.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Tantangan terbesarnya adalah menemukan benang merah yang dapat mengikat semua cerita ini, membentuk alur yang tidak hanya berdampingan, tetapi saling menyokong. Dari sanalah saya mulai mengelompokkan tema, nada, dan atmosfer masing-masing cerita menjadi fragmen-fragmen yang saling terhubung, sehingga tidak terasa seperti sepuluh kisah terpisah, melainkan satu tubuh narasi yang utuh.

Upaya mengikat kesepuluh cerpen ini ke dalam empat fragmen bukan hal yang mudah, apalagi dengan waktu yang begitu singkat. Rasanya seperti terus dikejar tanpa benar-benar punya ruang untuk berlari. Tapi justru di tengah desakan itulah saya mulai menemukan napas utama pementasan ini, sebuah perjalanan tentang kota, tubuh-tubuh yang hidup di dalamnya, dan segala yang mereka pertahankan maupun relakan. Dari proses itu pula judul pementasan kami akhirnya menemukan dirinya sendiri: Tubuh Kota yang Berlari.

Di saat yang sama, ini adalah kali pertama saya mengambil peran sebagai perajut naskah, dramaturg, sekaligus sutradara. Selama ini saya lebih sering menulis naskah untuk pertunjukan anak-anak, atau terlibat sebagai aktor dan pimpinan produksi. Lagipula, saya sudah vakum dari dunia teater hampir tiga tahun, cukup lama untuk membuat panggung terasa seperti dunia lama yang harus saya dekati pelan-pelan.

Mendadak harus memegang tiga peran sekaligus sempat membuat saya kecil hati. Pertanyaan seperti “mampukah saya?” atau “bagaimana kalau justru saya yang membuat pertunjukan ini berantakan?” muncul berulang, menggoyahkan kepercayaan diri yang sudah tipis sejak lama.

Namun, seperti biasa, Tuhan punya caranya sendiri. Semua ketakutan itu perlahan mereda ketika saya bertemu tim yang begitu ajaib, para aktor yang matang dalam olah tubuh. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelaku di panggung, tapi juga sebagai sumber kekuatan utama proses ini. Batang naskah yang saya susun kami bahas bersama, mencari bentuk gerak yang selaras dengan bayangan saya namun tetap setia pada sepuluh cerpen tersebut. Kami mencoba, menimbang, memperbaiki, dan merumuskannya pelan-pelan, hingga naskah itu menemukan tubuh dan napasnya sendiri.

Para musisi pun hanya butuh sedikit arahan untuk menangkap atmosfer cerita, sementara tim produksi bekerja dengan gesit, peka, dan selalu suportif dalam setiap detail proses, duo Muralis yang mengeksekusi ke sepuluh cerpen di atas kanvas. Dan tentu saja, para anggota tim Darklab, terutama Ketut Sedana, partner gedebag-gedebug yang selalu siap diajak berdiskusi, entah topiknya serius atau tiba-tiba nyelonong ke wilayah lain. Bersama merekalah naskah ini mulai menemukan bentuknya, pelan, pasti, dan penuh kepercayaan dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Pada akhirnya setelah semua selesai, set alat dan panggung sudah dirapikan, kaleng-kaleng cat ditutup, denyut hidup kembali ke dunia nyata bukan lagi cerpen-cerpen. Semua seperti mimpi yang usai, namun meninggalkan jejak dalam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kemampuan diri dan rasa insecure tadi, ternyata hanya ketakutan yang jika dieksploitasi dengan baik, bisa menjadi motivasi untuk menghasilkan sebuah karya. Kelemahan yang diputar balik menjadi kelebihan dibarengi dengan support dan kerja tim yang solid dan saling percaya. [T]

Tubuh Kota yang Berlari

  • Perajut naskah & Sutradara: Devy Gita
  • Penata Artistik: Ketut Sedana
  • Pimpinan Produksi: Renilayon
  • Aktor: Renilayon, Arya Krisna, Mahijasena, Oka Pratama
  • Penata Musik: SUKMADI (Pandu Sukma, Adhi Purnama)
  • Muralis: Varkoivark, Basme
  • Visual Mapping: Darklab Visual Art 
  • Visual Operator: Trip.Shroom
  • Videographer: Nicholas Menna
  • Photographer: Kevin Prilesmana
  • Runner: Satrya

Penulis: Devy Gita
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarPenerbit Partikularseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Next Post

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co