13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Devy Gita by Devy Gita
November 28, 2025
in Ulas Pentas
Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Pementasan "Tubuh Kota yang Berlari" di Denpasar Bercerita

November, “Ber”nya apa? 

Berkutat dalam Denpasar Bercerita. 

Denpasar Bercerita digelar pada 22 November 2025 lalu di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar. Sebelumnya, rangkaian acara telah dibuka dengan Sayembara Cerpen bertema kota Denpasar, yang kemudian melahirkan para pemenangnya. Dalam acara utama, cerpen-cerpen pilihan dewan juri dibahas kembali, memberi ruang untuk percakapan tentang proses penjurian, pertimbangan dalam memilih pemenang, hingga berbagi beberapa kiat sederhana untuk para pengunjung yang hadir. Setelah itu, hadirin diajak menyaksikan Tubuh Kota yang Berlari, pertunjukan teater yang mengadaptasi sepuluh cerpen terpilih menjadi panggung yang penuh gerak, cahaya, dan imajinasi.

Dan tulisan ini? Saya anggap sebagai diary kecil, catatan pribadi tentang bagaimana rasanya mengikuti hampir seluruh proses Denpasar Bercerita, dari membaca ratusan cerpen sampai merubahnya menjadi sesuatu yang hidup di atas panggung. Semacam dokumentasi kehebohan kreatif yang terlalu sayang kalau hanya disimpan dalam kepala. Sedikit terlambat, tapi tidak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 

Kalau ditanya bagaimana rasanya ikut berproses dalam acara ini, jawaban sederhananya, tentu saja menantang dan menyenangkan. Klise, iya. Tapi rasanya jauh lebih pelik daripada dua kata itu. Yang membuatnya terasa penuh tantangan sekaligus begitu mengasyikkan adalah caranya memaksa saya masuk ke pusaran kreativitas yang tak pernah berhenti bergerak. Satu hari saya tenggelam dalam lautan cerpen, hari berikutnya saya harus menjahit ide-ide liar menjadi naskah, lalu tiba-tiba sudah berdiri di Hall 2B Graha Yowana Suci, Denpasar, mencoba menerjemahkan kata menjadi gerak. Semua berlangsung cepat, kacau, lucu, dan entah bagaimana justru membuat banyak kupu-kupu seperti beterbangan di dada, perut, dan kepala.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Cerpen bukan hal yang benar-benar asing bagi saya. Pernah, di tahun 2019, saya menerbitkan sebuah kumpulan cerpen, sebuah jejak kecil yang saya simpan sebagai penanda kalau saya pernah ada. Saya pun sempat kembali menulis dengan ikut serta dalam workshop penulisan cerpen Singaraja Berkisah tahun 2023.Tetapi setelah itu, ya, hidup berjalan seperti biasa, dan dunia cerpen tidak lagi saya sentuh sedekat dulu. Karena itu, ketika Penerbit Partikular mengajak saya menjadi juri Sayembara Cerpen Denpasar Bercerita, saya sempat ragu apakah saya cukup layak untuk berada di posisi itu? Kalau anak zaman sekarang bilang, insecure.

Juli Sastrawan, dengan tenangnya, meyakinkan saya bahwa saya mampu. Jadi saya pun menerima tugas itu, bukan sebagai cerpenis atau penulis kawakan seperti dua juri lainnya, Oka Rusmini dan Putu Supartika yang reputasinya sudah tak perlu dipertanyakan. Melainkan sebagai pembaca yang sungguh mencintai cerpen. Pembaca yang ingin merayakan setiap cerita dengan rasa ingin tahu dan kegembiraan yang tulus. terutama rasa penasaran tentang bagaimana para peserta memandang Denpasar. Kota yang sama, tapi dilihat dari sudut yang begitu berbeda.

Namun tugas saya tidak berhenti di situ. Rangkaian Denpasar Bercerita tidak serta-merta selesai ketika nama-nama pemenang diumumkan. Sepuluh cerpen terpilih itu kemudian harus beralih wahana menjadi sebuah pertunjukan teater dan visual, berkolaborasi dengan Darklab Visual Art, kelompok seni kontemporer yang memanfaatkan OHP (Overhead Projector) untuk menciptakan visual-visual yang khas.

Cukup unik, bukan? OHP yang dulu dipakai untuk presentasi di kelas, sebelum proyektor modern mengambil alih, di tangan Darklab bisa berubah menjadi alat penghasil visual mapping yang ditembakkan ke permukaan ruang. Hasilnya menghadirkan suasana dramatis yang, jujur saja, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jenis pengalaman yang lebih mudah dirasakan daripada diterangkan.

Namun, begitu mulai menulis naskah, kabel-kabel dalam otak saya langsung menegang. Saya harus menyusun treatment yang merangkum narasi dari sepuluh cerpen pemenang: Perjodohan karya Ni Putu Rastiti, Lapak dan Jejak yang Tak Mengering karya Galuh Ginanti, Bunga Jepun dan Puding Rasa Pandan karya Jong Santiasa, Selayang Pandang dari Sudut Utara Kota Denpasar karya Gusti Ayu Dian Okta, Ajaran Bhagawan di Tengah Kota karya Maria Nilanti Ayomi, Bau Babi karya Aviv Nur Aida Aulia, Langit Sanur karya Tria Nin, Air Bah Kota Denpasar karya Kadek Agus Arya Pranata, Tempat-Tempat yang Sering Kami Kunjungi karya Jahe Biru, dan Perempuan di Balik Warung Sate karya Muhammad Rasyid.

Pementasan “Tubuh Kota yang Berlari” di Denpasar Bercerita

Tantangan terbesarnya adalah menemukan benang merah yang dapat mengikat semua cerita ini, membentuk alur yang tidak hanya berdampingan, tetapi saling menyokong. Dari sanalah saya mulai mengelompokkan tema, nada, dan atmosfer masing-masing cerita menjadi fragmen-fragmen yang saling terhubung, sehingga tidak terasa seperti sepuluh kisah terpisah, melainkan satu tubuh narasi yang utuh.

Upaya mengikat kesepuluh cerpen ini ke dalam empat fragmen bukan hal yang mudah, apalagi dengan waktu yang begitu singkat. Rasanya seperti terus dikejar tanpa benar-benar punya ruang untuk berlari. Tapi justru di tengah desakan itulah saya mulai menemukan napas utama pementasan ini, sebuah perjalanan tentang kota, tubuh-tubuh yang hidup di dalamnya, dan segala yang mereka pertahankan maupun relakan. Dari proses itu pula judul pementasan kami akhirnya menemukan dirinya sendiri: Tubuh Kota yang Berlari.

Di saat yang sama, ini adalah kali pertama saya mengambil peran sebagai perajut naskah, dramaturg, sekaligus sutradara. Selama ini saya lebih sering menulis naskah untuk pertunjukan anak-anak, atau terlibat sebagai aktor dan pimpinan produksi. Lagipula, saya sudah vakum dari dunia teater hampir tiga tahun, cukup lama untuk membuat panggung terasa seperti dunia lama yang harus saya dekati pelan-pelan.

Mendadak harus memegang tiga peran sekaligus sempat membuat saya kecil hati. Pertanyaan seperti “mampukah saya?” atau “bagaimana kalau justru saya yang membuat pertunjukan ini berantakan?” muncul berulang, menggoyahkan kepercayaan diri yang sudah tipis sejak lama.

Namun, seperti biasa, Tuhan punya caranya sendiri. Semua ketakutan itu perlahan mereda ketika saya bertemu tim yang begitu ajaib, para aktor yang matang dalam olah tubuh. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelaku di panggung, tapi juga sebagai sumber kekuatan utama proses ini. Batang naskah yang saya susun kami bahas bersama, mencari bentuk gerak yang selaras dengan bayangan saya namun tetap setia pada sepuluh cerpen tersebut. Kami mencoba, menimbang, memperbaiki, dan merumuskannya pelan-pelan, hingga naskah itu menemukan tubuh dan napasnya sendiri.

Para musisi pun hanya butuh sedikit arahan untuk menangkap atmosfer cerita, sementara tim produksi bekerja dengan gesit, peka, dan selalu suportif dalam setiap detail proses, duo Muralis yang mengeksekusi ke sepuluh cerpen di atas kanvas. Dan tentu saja, para anggota tim Darklab, terutama Ketut Sedana, partner gedebag-gedebug yang selalu siap diajak berdiskusi, entah topiknya serius atau tiba-tiba nyelonong ke wilayah lain. Bersama merekalah naskah ini mulai menemukan bentuknya, pelan, pasti, dan penuh kepercayaan dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Pada akhirnya setelah semua selesai, set alat dan panggung sudah dirapikan, kaleng-kaleng cat ditutup, denyut hidup kembali ke dunia nyata bukan lagi cerpen-cerpen. Semua seperti mimpi yang usai, namun meninggalkan jejak dalam. Pertanyaan-pertanyaan tentang kemampuan diri dan rasa insecure tadi, ternyata hanya ketakutan yang jika dieksploitasi dengan baik, bisa menjadi motivasi untuk menghasilkan sebuah karya. Kelemahan yang diputar balik menjadi kelebihan dibarengi dengan support dan kerja tim yang solid dan saling percaya. [T]

Tubuh Kota yang Berlari

  • Perajut naskah & Sutradara: Devy Gita
  • Penata Artistik: Ketut Sedana
  • Pimpinan Produksi: Renilayon
  • Aktor: Renilayon, Arya Krisna, Mahijasena, Oka Pratama
  • Penata Musik: SUKMADI (Pandu Sukma, Adhi Purnama)
  • Muralis: Varkoivark, Basme
  • Visual Mapping: Darklab Visual Art 
  • Visual Operator: Trip.Shroom
  • Videographer: Nicholas Menna
  • Photographer: Kevin Prilesmana
  • Runner: Satrya

Penulis: Devy Gita
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarPenerbit Partikularseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catur Varna dalam Konteks Nasional & Global: Perjalanan Manusia Menuju Kesempurnaan Hidup

Next Post

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co