24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Dimas Sanubari by Dimas Sanubari
December 25, 2025
in Esai
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KATA Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca, jatuh cinta itu biasa saja. Tapi, bakal kurang relevan sama orang muda Katolik hari ini, lantaran cinta malah jadi hal yang kompleks dan sulit dicapai.

Belakangan ini lagu “Finding a Catholic Man to Love the Love of My Life”-nyaReality Club menjadi banyak perhatian. Lagu tersebut masuk dalam album keempat terbaru mereka yang bertajuk “Who Knows Where Life Will Take You?” dan dirilis pada 26 Agustus 2025.

Lagu itu mencuri perhatian sebagian orang karena Faiz sang gitaris menyampaikan kalau lagu ini soal perjuangan cinta beda agama dalam kanal YouTube Reality Club. Maka tak heran kalau lagu ini seolah menjadi anthem bagi mereka yang lagi pacaran namun terbentur perbedaan keyakinan.

Sementara, dalam pandangan orang muda Katolik, lagu itu justru menjadi semacam refleksi modern soal pergulatan mereka mencari pasangan yang seiman. Sehingga celotehan, “cari pacar sama-sama Katolik itu susah,” bukanlah sekadar lelucon melainkan realitanya begitu.

Antara Iman dan Realita

Vania (25), misalnya, ia salah satu anak muda Katolik dari Semarang yang mengaku kalau cari laki-laki Katolik itu susah. Sekalipun ia sudah aktif mengikuti beberapa komunitas yang ada di dalam gereja, namun jodohnya tak kunjung datang.

Itu baru soal agama. Belum lagi latar belakang keluarganya yang etnis Tionghoa, menuntunnya untuk sebisa mungkin menemukan laki-laki Katolik sekaligus Tionghoa. Bayangkan saja, sudah minoritas di agama ditambah etnis pula.

“Cari laki-laki Katolik itu susah, terutama yang chinese juga. Mereka itu kayak tersembunyi entah di mana,” katanya.

Meski susah menemukan jodohnya yang seiman, Vania tetap mengupayakan laki-laki itu karena ia enggan meninggalkan keyakinannya. “Aku sudah punya janji diri sendiri dengan Tuhan. Dan aku juga nggak mau meninggalkan Bunda Maria dan Sakramen Ekaristi. Jadi, kalau laki-lakinya dari agama lain, aku mending nggak, deh.” tuturnya.

Kompromi dengan Keadaan

Sedangkan, Bayu (25) asal Semarang juga, yang saat ini sedang merantau di Jakarta, beranggapan kalau mencari pasangan Katolik itu juga susah. Alih-alih mencari pasangan yang seiman, sementara ini ia malahan mencari pasangan yang secara kepribadiannya cocok dulu baru setelahnya agama.

“Padahal, kadang kita suka sama orang bukan karena kepribadiannya, bukan karena obrolannya nyambung, atau bukan cara pandangnya sama, tapi cuma karena satu agama aja. Jadi kalau ditanya sekarang, aku nggak ngeliat agama sebagai hal utama. Aku lebih fokus ke kecocokan karakter dan kepribadian.” terangnya.

“Aku sempat berusaha cari yang Katolik, yang Jawa, tapi ujung-ujungnya nggak pernah sesuai harapan. Malah yang beda agama atau beda suku justru sering ninggalin kesan mendalam. Apalagi yang Protestan, entah kenapa selalu punya kesan yang kuat banget buatku,” lanjutnya.

Persaingan Ketat

Pada kenyataannya, agama Katolik memang masih terbilang minoritas jika harus dibandingkan dengan Kristen Protestan. Kedua agama itu sering kali dianggap sama namun sebenarnya memiliki perbedaan, baik secara tradisi maupun berdoa.

Dalam urutannya, agama Islam masih menduduki populasi paling terbanyak yakni 245.973.915 jiwa (87,08%). Lalu disusul Kristen sebanyak 20.911.697 jiwa (7,40%), dan Katolik berjumlah 8.667.619 jiwa (3,07%).

Dari data itu, wajar saja kalau cari pasangan sama-sama Katolik itu memang terdengar susah. Dengan populasi yang hanya 3,07%, persaingan bisa terjadi bukan cuma secara “horizontal” sesama orang muda Katolik, tapi juga “vertikal” dengan mereka yang berbeda agama.

Maka, ketika ada yang berseloroh, “jangan ambil jatah orang Katolik,” itu lumrah saja karena cerminan dari realita kehidupan yang demikian.

Santo Rafael, Santo Pelindung Jomblo Katolik

Memperoleh jodoh yang sesuai diharapkan itu memang misteri. Namun, dalam tradisi Katolik, ada Santo Rafael yang dikenal sebagai pelindung untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh.

Dalam Kitab Tobit, Santo Rafael merupakan malaikat agung yang melayani Allah secara istimewa. Ia bukan hanya menyembuhkan orang terluka, namun juga mempertemukan dua insan yaitu Tobia dan Sara yang saat itu hidupnya sama-sama sedang dilanda masalah berat (dalam Tobit 12:1-22).

Maka, jika cintamu sulit ditebak, biarlah Santo Rafael yang bertindak. Sebab, Yesus sendiri pernah mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7).

Berikut teks doa Santo Rafael yang diyakini banyak orang Katolik untuk memperoleh jodoh:

Santo Rafael yang mulia, pelindung dan pecinta kaum muda. Aku datang padamu dan memohon dengan sangat pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan, aku membuka hatiku untuk memohon bimbingan dan bantuan dalam segala tugas penting merencanakan masa depanku.

Melalui doamu berilah kepadaku terang rahmat Allah agar aku dapat memutuskan dengan bijaksana siapa orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Malaikat para pencari pasangan hidup, semoga tanganmu membimbing kami agar dapat bertemu satu dengan lainnya, semoga segala perilaku kami dibimbing oleh terangmu dan diubah oleh sukacitamu.

Santo Rafael, pelindung terkasih bagi orang yang mencari pasangan hidup, tolonglah aku dalam mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupku ini.

Pertemukanlah aku dengan seseorang sebagai pasangan hidupku yang sifat-sifatnya mencerminkan beberapa sifat Yesus dan Maria. Semoga dia jujur, setia, murni, tulus dan mulia, sehingga dalam bekerja sama yang dilandasi kesucian dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri kami berdua dapat berusaha untuk menyempurnakan tubuh dan jiwa kami, dan juga anak-anak yang Allah percayakan kepada kami.

Santo Rafael, Malaikat suci para pencari pasangan hidup, berkatilah persahabatan dan cinta kami agar dosa tidak menodainya. Semoga cinta kasih kami berdua mengikat kami begitu erat sehingga rumah tangga kami dapat meneladani Keluarga Kudus dari Nazaret.

Persembahkanlah doa-doa kami kepada Allah agar kami berdua dapat memperoleh berkat-Nya dalam perkawinan kami, sebagaimana engkau menjadi bahtera berkat bagi perkawinan Tobia dan Sara.

Tunjukkanlah padaku orang yang dapat bekerja sama dalam melakukan Kehendak Allah, orang yang dapat hidup bersamaku dalam damai, cinta dan harmoni serta mencapai kebahagiaan dalam hidup kekal yang akan datang. Amin.

Santo Rafael, doakanlah kami. [T]

Artikel ini pernah dimuat di mojok.co

Penulis: Dimas Sanubari
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintajodohkatolik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Next Post

“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Dimas Sanubari

Dimas Sanubari

Alumnus mahasiswa jurnalistik. Suka baca kajian jurnalisme, dan sesekali sastra, sejarah, sosial-budaya

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

"Stagnation": Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co