13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Dimas Sanubari by Dimas Sanubari
December 25, 2025
in Esai
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KATA Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca, jatuh cinta itu biasa saja. Tapi, bakal kurang relevan sama orang muda Katolik hari ini, lantaran cinta malah jadi hal yang kompleks dan sulit dicapai.

Belakangan ini lagu “Finding a Catholic Man to Love the Love of My Life”-nyaReality Club menjadi banyak perhatian. Lagu tersebut masuk dalam album keempat terbaru mereka yang bertajuk “Who Knows Where Life Will Take You?” dan dirilis pada 26 Agustus 2025.

Lagu itu mencuri perhatian sebagian orang karena Faiz sang gitaris menyampaikan kalau lagu ini soal perjuangan cinta beda agama dalam kanal YouTube Reality Club. Maka tak heran kalau lagu ini seolah menjadi anthem bagi mereka yang lagi pacaran namun terbentur perbedaan keyakinan.

Sementara, dalam pandangan orang muda Katolik, lagu itu justru menjadi semacam refleksi modern soal pergulatan mereka mencari pasangan yang seiman. Sehingga celotehan, “cari pacar sama-sama Katolik itu susah,” bukanlah sekadar lelucon melainkan realitanya begitu.

Antara Iman dan Realita

Vania (25), misalnya, ia salah satu anak muda Katolik dari Semarang yang mengaku kalau cari laki-laki Katolik itu susah. Sekalipun ia sudah aktif mengikuti beberapa komunitas yang ada di dalam gereja, namun jodohnya tak kunjung datang.

Itu baru soal agama. Belum lagi latar belakang keluarganya yang etnis Tionghoa, menuntunnya untuk sebisa mungkin menemukan laki-laki Katolik sekaligus Tionghoa. Bayangkan saja, sudah minoritas di agama ditambah etnis pula.

“Cari laki-laki Katolik itu susah, terutama yang chinese juga. Mereka itu kayak tersembunyi entah di mana,” katanya.

Meski susah menemukan jodohnya yang seiman, Vania tetap mengupayakan laki-laki itu karena ia enggan meninggalkan keyakinannya. “Aku sudah punya janji diri sendiri dengan Tuhan. Dan aku juga nggak mau meninggalkan Bunda Maria dan Sakramen Ekaristi. Jadi, kalau laki-lakinya dari agama lain, aku mending nggak, deh.” tuturnya.

Kompromi dengan Keadaan

Sedangkan, Bayu (25) asal Semarang juga, yang saat ini sedang merantau di Jakarta, beranggapan kalau mencari pasangan Katolik itu juga susah. Alih-alih mencari pasangan yang seiman, sementara ini ia malahan mencari pasangan yang secara kepribadiannya cocok dulu baru setelahnya agama.

“Padahal, kadang kita suka sama orang bukan karena kepribadiannya, bukan karena obrolannya nyambung, atau bukan cara pandangnya sama, tapi cuma karena satu agama aja. Jadi kalau ditanya sekarang, aku nggak ngeliat agama sebagai hal utama. Aku lebih fokus ke kecocokan karakter dan kepribadian.” terangnya.

“Aku sempat berusaha cari yang Katolik, yang Jawa, tapi ujung-ujungnya nggak pernah sesuai harapan. Malah yang beda agama atau beda suku justru sering ninggalin kesan mendalam. Apalagi yang Protestan, entah kenapa selalu punya kesan yang kuat banget buatku,” lanjutnya.

Persaingan Ketat

Pada kenyataannya, agama Katolik memang masih terbilang minoritas jika harus dibandingkan dengan Kristen Protestan. Kedua agama itu sering kali dianggap sama namun sebenarnya memiliki perbedaan, baik secara tradisi maupun berdoa.

Dalam urutannya, agama Islam masih menduduki populasi paling terbanyak yakni 245.973.915 jiwa (87,08%). Lalu disusul Kristen sebanyak 20.911.697 jiwa (7,40%), dan Katolik berjumlah 8.667.619 jiwa (3,07%).

Dari data itu, wajar saja kalau cari pasangan sama-sama Katolik itu memang terdengar susah. Dengan populasi yang hanya 3,07%, persaingan bisa terjadi bukan cuma secara “horizontal” sesama orang muda Katolik, tapi juga “vertikal” dengan mereka yang berbeda agama.

Maka, ketika ada yang berseloroh, “jangan ambil jatah orang Katolik,” itu lumrah saja karena cerminan dari realita kehidupan yang demikian.

Santo Rafael, Santo Pelindung Jomblo Katolik

Memperoleh jodoh yang sesuai diharapkan itu memang misteri. Namun, dalam tradisi Katolik, ada Santo Rafael yang dikenal sebagai pelindung untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh.

Dalam Kitab Tobit, Santo Rafael merupakan malaikat agung yang melayani Allah secara istimewa. Ia bukan hanya menyembuhkan orang terluka, namun juga mempertemukan dua insan yaitu Tobia dan Sara yang saat itu hidupnya sama-sama sedang dilanda masalah berat (dalam Tobit 12:1-22).

Maka, jika cintamu sulit ditebak, biarlah Santo Rafael yang bertindak. Sebab, Yesus sendiri pernah mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7).

Berikut teks doa Santo Rafael yang diyakini banyak orang Katolik untuk memperoleh jodoh:

Santo Rafael yang mulia, pelindung dan pecinta kaum muda. Aku datang padamu dan memohon dengan sangat pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan, aku membuka hatiku untuk memohon bimbingan dan bantuan dalam segala tugas penting merencanakan masa depanku.

Melalui doamu berilah kepadaku terang rahmat Allah agar aku dapat memutuskan dengan bijaksana siapa orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Malaikat para pencari pasangan hidup, semoga tanganmu membimbing kami agar dapat bertemu satu dengan lainnya, semoga segala perilaku kami dibimbing oleh terangmu dan diubah oleh sukacitamu.

Santo Rafael, pelindung terkasih bagi orang yang mencari pasangan hidup, tolonglah aku dalam mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupku ini.

Pertemukanlah aku dengan seseorang sebagai pasangan hidupku yang sifat-sifatnya mencerminkan beberapa sifat Yesus dan Maria. Semoga dia jujur, setia, murni, tulus dan mulia, sehingga dalam bekerja sama yang dilandasi kesucian dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri kami berdua dapat berusaha untuk menyempurnakan tubuh dan jiwa kami, dan juga anak-anak yang Allah percayakan kepada kami.

Santo Rafael, Malaikat suci para pencari pasangan hidup, berkatilah persahabatan dan cinta kami agar dosa tidak menodainya. Semoga cinta kasih kami berdua mengikat kami begitu erat sehingga rumah tangga kami dapat meneladani Keluarga Kudus dari Nazaret.

Persembahkanlah doa-doa kami kepada Allah agar kami berdua dapat memperoleh berkat-Nya dalam perkawinan kami, sebagaimana engkau menjadi bahtera berkat bagi perkawinan Tobia dan Sara.

Tunjukkanlah padaku orang yang dapat bekerja sama dalam melakukan Kehendak Allah, orang yang dapat hidup bersamaku dalam damai, cinta dan harmoni serta mencapai kebahagiaan dalam hidup kekal yang akan datang. Amin.

Santo Rafael, doakanlah kami. [T]

Artikel ini pernah dimuat di mojok.co

Penulis: Dimas Sanubari
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintajodohkatolik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Next Post

“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Dimas Sanubari

Dimas Sanubari

Alumnus mahasiswa jurnalistik. Suka baca kajian jurnalisme, dan sesekali sastra, sejarah, sosial-budaya

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

"Stagnation": Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co