2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Dimas Sanubari by Dimas Sanubari
December 25, 2025
in Esai
Lika-liku Anak Muda Katolik Tak Laku-laku

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KATA Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca, jatuh cinta itu biasa saja. Tapi, bakal kurang relevan sama orang muda Katolik hari ini, lantaran cinta malah jadi hal yang kompleks dan sulit dicapai.

Belakangan ini lagu “Finding a Catholic Man to Love the Love of My Life”-nyaReality Club menjadi banyak perhatian. Lagu tersebut masuk dalam album keempat terbaru mereka yang bertajuk “Who Knows Where Life Will Take You?” dan dirilis pada 26 Agustus 2025.

Lagu itu mencuri perhatian sebagian orang karena Faiz sang gitaris menyampaikan kalau lagu ini soal perjuangan cinta beda agama dalam kanal YouTube Reality Club. Maka tak heran kalau lagu ini seolah menjadi anthem bagi mereka yang lagi pacaran namun terbentur perbedaan keyakinan.

Sementara, dalam pandangan orang muda Katolik, lagu itu justru menjadi semacam refleksi modern soal pergulatan mereka mencari pasangan yang seiman. Sehingga celotehan, “cari pacar sama-sama Katolik itu susah,” bukanlah sekadar lelucon melainkan realitanya begitu.

Antara Iman dan Realita

Vania (25), misalnya, ia salah satu anak muda Katolik dari Semarang yang mengaku kalau cari laki-laki Katolik itu susah. Sekalipun ia sudah aktif mengikuti beberapa komunitas yang ada di dalam gereja, namun jodohnya tak kunjung datang.

Itu baru soal agama. Belum lagi latar belakang keluarganya yang etnis Tionghoa, menuntunnya untuk sebisa mungkin menemukan laki-laki Katolik sekaligus Tionghoa. Bayangkan saja, sudah minoritas di agama ditambah etnis pula.

“Cari laki-laki Katolik itu susah, terutama yang chinese juga. Mereka itu kayak tersembunyi entah di mana,” katanya.

Meski susah menemukan jodohnya yang seiman, Vania tetap mengupayakan laki-laki itu karena ia enggan meninggalkan keyakinannya. “Aku sudah punya janji diri sendiri dengan Tuhan. Dan aku juga nggak mau meninggalkan Bunda Maria dan Sakramen Ekaristi. Jadi, kalau laki-lakinya dari agama lain, aku mending nggak, deh.” tuturnya.

Kompromi dengan Keadaan

Sedangkan, Bayu (25) asal Semarang juga, yang saat ini sedang merantau di Jakarta, beranggapan kalau mencari pasangan Katolik itu juga susah. Alih-alih mencari pasangan yang seiman, sementara ini ia malahan mencari pasangan yang secara kepribadiannya cocok dulu baru setelahnya agama.

“Padahal, kadang kita suka sama orang bukan karena kepribadiannya, bukan karena obrolannya nyambung, atau bukan cara pandangnya sama, tapi cuma karena satu agama aja. Jadi kalau ditanya sekarang, aku nggak ngeliat agama sebagai hal utama. Aku lebih fokus ke kecocokan karakter dan kepribadian.” terangnya.

“Aku sempat berusaha cari yang Katolik, yang Jawa, tapi ujung-ujungnya nggak pernah sesuai harapan. Malah yang beda agama atau beda suku justru sering ninggalin kesan mendalam. Apalagi yang Protestan, entah kenapa selalu punya kesan yang kuat banget buatku,” lanjutnya.

Persaingan Ketat

Pada kenyataannya, agama Katolik memang masih terbilang minoritas jika harus dibandingkan dengan Kristen Protestan. Kedua agama itu sering kali dianggap sama namun sebenarnya memiliki perbedaan, baik secara tradisi maupun berdoa.

Dalam urutannya, agama Islam masih menduduki populasi paling terbanyak yakni 245.973.915 jiwa (87,08%). Lalu disusul Kristen sebanyak 20.911.697 jiwa (7,40%), dan Katolik berjumlah 8.667.619 jiwa (3,07%).

Dari data itu, wajar saja kalau cari pasangan sama-sama Katolik itu memang terdengar susah. Dengan populasi yang hanya 3,07%, persaingan bisa terjadi bukan cuma secara “horizontal” sesama orang muda Katolik, tapi juga “vertikal” dengan mereka yang berbeda agama.

Maka, ketika ada yang berseloroh, “jangan ambil jatah orang Katolik,” itu lumrah saja karena cerminan dari realita kehidupan yang demikian.

Santo Rafael, Santo Pelindung Jomblo Katolik

Memperoleh jodoh yang sesuai diharapkan itu memang misteri. Namun, dalam tradisi Katolik, ada Santo Rafael yang dikenal sebagai pelindung untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh.

Dalam Kitab Tobit, Santo Rafael merupakan malaikat agung yang melayani Allah secara istimewa. Ia bukan hanya menyembuhkan orang terluka, namun juga mempertemukan dua insan yaitu Tobia dan Sara yang saat itu hidupnya sama-sama sedang dilanda masalah berat (dalam Tobit 12:1-22).

Maka, jika cintamu sulit ditebak, biarlah Santo Rafael yang bertindak. Sebab, Yesus sendiri pernah mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Matius 7:7).

Berikut teks doa Santo Rafael yang diyakini banyak orang Katolik untuk memperoleh jodoh:

Santo Rafael yang mulia, pelindung dan pecinta kaum muda. Aku datang padamu dan memohon dengan sangat pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan, aku membuka hatiku untuk memohon bimbingan dan bantuan dalam segala tugas penting merencanakan masa depanku.

Melalui doamu berilah kepadaku terang rahmat Allah agar aku dapat memutuskan dengan bijaksana siapa orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Malaikat para pencari pasangan hidup, semoga tanganmu membimbing kami agar dapat bertemu satu dengan lainnya, semoga segala perilaku kami dibimbing oleh terangmu dan diubah oleh sukacitamu.

Santo Rafael, pelindung terkasih bagi orang yang mencari pasangan hidup, tolonglah aku dalam mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupku ini.

Pertemukanlah aku dengan seseorang sebagai pasangan hidupku yang sifat-sifatnya mencerminkan beberapa sifat Yesus dan Maria. Semoga dia jujur, setia, murni, tulus dan mulia, sehingga dalam bekerja sama yang dilandasi kesucian dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri kami berdua dapat berusaha untuk menyempurnakan tubuh dan jiwa kami, dan juga anak-anak yang Allah percayakan kepada kami.

Santo Rafael, Malaikat suci para pencari pasangan hidup, berkatilah persahabatan dan cinta kami agar dosa tidak menodainya. Semoga cinta kasih kami berdua mengikat kami begitu erat sehingga rumah tangga kami dapat meneladani Keluarga Kudus dari Nazaret.

Persembahkanlah doa-doa kami kepada Allah agar kami berdua dapat memperoleh berkat-Nya dalam perkawinan kami, sebagaimana engkau menjadi bahtera berkat bagi perkawinan Tobia dan Sara.

Tunjukkanlah padaku orang yang dapat bekerja sama dalam melakukan Kehendak Allah, orang yang dapat hidup bersamaku dalam damai, cinta dan harmoni serta mencapai kebahagiaan dalam hidup kekal yang akan datang. Amin.

Santo Rafael, doakanlah kami. [T]

Artikel ini pernah dimuat di mojok.co

Penulis: Dimas Sanubari
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintajodohkatolik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berlari Bersama Denpasar: Kota yang Berlari, Saya yang Tertinggal Sedikit

Next Post

“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Dimas Sanubari

Dimas Sanubari

Alumnus mahasiswa jurnalistik. Suka baca kajian jurnalisme, dan sesekali sastra, sejarah, sosial-budaya

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Stagnation”: Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

"Stagnation": Mahakarya Genesis Seperti Puisi yang Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co