“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke dalam rumah mencari tempat duduk. Di belakangnya, dua temannya menyusul sambil menertawakan tingkahnya.
Hal semacam itu sudah biasa terjadi di Warung Nasi Lawar Dugong 21 – warung makan yang setiap malam selalu ramai. Tapi tak banyak yang tahu, warung ini dibangun dari perjalanan panjang yang tak mulus.
Lokasinya strategis, di pinggir jalan, tepat sebelah utara Indomaret Guwang, Sukawati. Warung itu mencolok, lampu-lampunya menyala terang, menerangi meja-meja kayu yang tertata rapi, baik di teras warung maupun di pekarangan rumah. Setiap malam, aroma soto panas, lawar segar, dan sate yang baru dipanggang menguar di teras warung. Orang datang karena lapar, rindu, atau sekadar ingin tahu.

Di balik meja saji, tangan Ni Ketut Sami (69) bergerak cekatan, mengaduk lawar dengan gerakan yang sudah menyatu dengan denyut malam. Tak ada resep tertulis. Semua datang dari ingatan, dari kebiasaan, dari rasa yang diwariskan. Tak jauh dari sana, sang suami, I Wayan Balik Dudug (68), masih setia menemani. Kadang membantu, kadang duduk mengawasi, sesekali menyapa pelanggan setia yang sudah seperti kawan lama.
Tiga puluh tahun lalu, ketika awal 90-an, semua bermula bukan dari bisnis kuliner, melainkan dari lapak kecil penjual kaset. Setelah menikah pada 1974, Sami dan Dudug membuka usaha itu demi menghidupi lima anak perempuan mereka. Cukup untuk hidup sederhana, asal bisa makan dan menyekolahkan anak.
Masa-masa itu tak selalu mudah. Suatu hari, anak ketiga mereka mulai jatuh sakit. Usianya masih kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kian melemah, Dudug dan Sami pun berkeliling, mencari pengobatan, menggantungkan harapan. Uang perlahan habis, tapi yang paling menyakitkan, sang anak tak tertolong. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan luka mendalam, membuat mereka begitu terpukul.
“Waktu itu perasaan nggak karuan, seperti ikut mati. Semua aset dijual untuk pengobatan,” ujar Dudug lirih.


Lapak kaset pun ditutup. Mereka mulai lagi dari nol: jualan kopi, bensin eceran, hingga lawar penyu yang dulu masih legal. Ketika penjualan penyu dilarang, mereka beralih ke lawar ayam, lalu datang flu burung. Kemudian beralih ke lawar babi, tak lama, flu babi datang. Setiap kali seperti itu, hidup seolah menggiring mereka ke ujung, lalu mendorong, menunggu apakah mereka akan jatuh atau melompat.
Dan mereka selalu memilih untuk melompat. Seperti dugong yang terus berenang meski laut tak selalu tenang, berusaha mencari cara untuk bertahan. Itulah filosofi “Dugong”, yang mereka jadikan nama warung – lambang ketangguhan. Sementara “21”, diambil dari suku kata pertama nama mereka: Du dari Dudug, Sa dari Sami. Nama itu bukan sekadar identitas, tapi penanda perjalanan, cinta yang diuji, kesedihan yang bukan alasan untuk berhenti, dan ketekunan tanpa menuntut untuk dilihat.
Dari pagi jadi malam: titik balik di malam Siwaratri
Titik balik datang pada malam Siwaratri 2019. Warung yang awalnya hanya buka pagi, malam itu mencoba berjualan malam. Tak diduga, warung ramai. Anak-anak muda datang berbondong-bondong. Meja di teras warung tak cukup menampung, sebagian masuk dan makan di pekarangan rumah.
Sejak saat itu, Warung Dugong 21 mantap jadi kuliner malam. Kini, sedari pukul lima sore, sebelas orang: anak, cucu, dan karyawan yang sudah seperti saudara, bergerak bersama, berbagi tugas, menyiapkan segala piranti. Menu utamanya lawar merah: campuran daging cincang, darah segar, sayur kacang panjang, kelapa parut, rames (irisan kulit babi), dan basa genep (bumbu khas Bali). Pelanggan juga bisa request lawar: lebih sayur, lebih daging, tanpa darah, atau apa pun sesuai selera.
Ayu Rai (26), cucu Dudug dan Sami, kini ikut menjaga warung. Ia tumbuh di antara uap soto dan adukan lawar. “Banyak yang bilang, makan di sini kayak di resepsi,” katanya sambil tersenyum.
Kadang ia ikut membantu membungkus, kadang mengantar pesanan ke meja. Gerak tubuhnya cekatan, tapi wajahnya tetap lembut, seperti orang yang tahu bahwa warung ini punya makna lebih dari sekadar jualan.


Dengan harga dua puluh ribuan, seporsi nasi lawar lengkap dengan sate, soto, dan minuman bisa dinikmati. Beberapa pelanggan bahkan datang hanya untuk membungkus sate atau soto hangat. Di meja saji, tumpukan sate selalu menggoda. Tak jarang, pembeli mengambil satu-dua sate tambahan, sembari menanti seporsi nasi lawar. Mereka tak keberatan membayar lebih.
Menjelang pukul delapan malam, warung semakin ramai. Meja-meja di pekarangan rumah nyaris penuh. Sebagian pelanggan rela menunggu agar bisa makan di tempat. Di salah satu sudut pekarangan, tiga anak muda duduk bersisian sambil menunggu pesanan mereka.
“Ini yang viral itu, kan?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, aku lihat di TikTok. Katanya lawar dan satenya enak,” sahut temannya.
Tak lama kemudian, Ayu datang membawa nampan berisi tiga piring: nasi lawar, minuman, dan soto panas. Uapnya langsung naik bersama aroma bumbu yang tajam dan gurih.
“Wah, baunya aja udah bikin lupa diet,” celetuk yang paling muda di antara mereka.
Di meja lain, seorang pemuda makan dengan tenang. Ia menyuap nasi, kemudian menyeruput soto pelan. “Pertama ke sini karena penasaran, sekarang malah jadi langganan. Saya paling suka sate dan sotonya,” kata Bayu Apriana (22), pelanggan muda asal Karangasem.
Tak jauh dari situ, Eka, pemuda dari Batubulan, ikut menimpali sambil menoleh ke arah temannya. “Saya ke sini pertama kali waktu patah hati. Sembuhnya bukan karena waktu, tapi karena lawar Dugong 21,” katanya sambil tertawa ringan bersama teman-temannya.
Ayu yang lewat sempat mendengar. Ia hanya geleng-geleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali ke depan rumah, membantu di meja saji.


Malam terus berjalan, tapi antrean belum juga surut. Beberapa pelanggan datang dari luar Gianyar karena melihat unggahan di media sosial, ada juga beberapa turis asing yang mampir karena diajak oleh tour guide-nya. Selain itu, banyak juga yang datang karena cerita sederhana dari saudara, teman, atau tetangga – cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut.
Bagi yang benar-benar mengenal tempat ini, Dugong 21 bukan sekadar warung makan. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang bisa bertahan melewati waktu dan cobaan. Warung ini tumbuh dari kehilangan, tapi justru melahirkan harapan. Di sini, keluarga bekerja bersama, bukan hanya untuk menghidupi, tapi menjaga sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa yang lahir dari kesabaran.
Jadi, kalau suatu malam melintasi Desa Guwang, tengoklah ke pinggir jalan, tepat di sebelah utara Indomaret. Di sana, Warung Dugong 21 tetap menyala, bukan hanya karena lampunya, tapi karena cinta dan ketekunan yang tak pernah padam. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama
- Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).



























