7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jembrana, Pusat Dunia yang Tak Pernah Selesai

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
February 2, 2018
in Opini

Anak-anak Jembrana main jegog. /Foto: Yogi Periawan

KARENA bumi bulat-bundar, maka setiap benda di dunia ini adalah pusat. Saya dan anda, masing-masing adalah pusat dunia atau pusat bumi. Setiap sebutir pasir atau sebutir atom adalah pusat dunia. Dan anjing saya yang selalu tidur di depan pintu dapur adalah pusat dunia.

Dan Kabupaten Jembrana, yang jika dilihat dari konsep arah mata angin terletak di bagian barat pulau Bali, adalah sudah pasti juga merupakan pusat dunia.

Setiap pusat dunia, entah sebutir pasir atau seekor anjing yang suka tidur di depan pintu dapur, pasti punya riwayat. Maka riwayat Jembrana konon adalah seperti ini; bahwa dulunya merupakan kawasan hutan belantara di kawasan barat Bali di mana para memedi, jin, wong samar, banas, temongkang, pepengkah dan sejenisnya beranak-pinak.

Sementara tetangganya di kawasan timur dan selatan serta utara telah berkembang membentuk kawasan dengan masyarakat yang mapan sehingga mereka merasa perlu sekali membangun puri-puri, membuat raja, membuat suatu pemerintahan dengan seluruh perangkat lunak maupun perangkat kerasnya yang berujung pada sikap dan jalan hidup bernama feodalisme.

Di saat feodalisme tumbuh dan hidup dengan subur serta mapan di kawasan lain Bali inilah Jembrana membentuk sejarahnya sendiri. Seolah sengaja sebagai penolakan akan suatu kemapanan, alam Jembrana menghimpun embrio-embrio tercecer yang terbuang ke dalamnya.

Embrio-embrio tersebut terdiri dari: (1) Orang-orang pintar, kritis dan ngeyel yang berani menentang atau melawan sikap maupun kebijakan para raja yang dibuang (diasingkan) ke Jembrana. (2) Orang-orang yang sangat jahat, kriminalis akut, begundal masyarakat yang dibuang (diusir) ke Jembrana. (3) Orang-orang yang miskinnya tak ketulungan, yang membuang diri ke Jembrana untuk mencari penghidupan.

Jadi, Jembrana konon terbentuk dari embrio-embrio buangan!

Maka, Jembrana berkembang dengan masyarakat yang yatim piatu secara kebudayaan!

Itulah sebabnya kemudian, di Jembrana lahir sebuah kesenian gamelan bernama Jegog. Logikanya, sebagai masyarakat buangan yang tentu saja miskin dan tidak mampu membeli perunggu untuk membuat gamelan seperti yang ada di tanah leluhur dan saudara-saudara mereka di kawasan timur, maka naluri dan kepekaan seni masyarakat buangan di Jembrana terasah secara alamiah untuk berbuat dengan apa saja yang memungkinkan dan ada di sekitarnya.

Mula-mula mereka membuat gamelan jegog dengan bahan dari pohon tertentu (semisal kayu balang) yang diraut menjadi serupa dengan bilah-bilah gamelan perunggu yang dijejer di atas telawah seperti pada gamelan gong. Tetapi ini tentu saja kurang efektif dan kurang efisien. Maka kayu diganti dengan bambu. Dan agar suara yang timbul bisa beresonansi mirip suara gamelan dari perunggu, maka dipilihlah batang-batang bambu raksasa.

Satu hal yang paling unik dari gamelan jegog ini adalah; diabaikannya “nada-nada feodal” yang telah mapan pada gamelan perunggu, baik gong, gender, maupun angklung, yaitu slendro maupun pelog. Jegog terlahir benar-benar sebagai sesuatu yang baru, orisinal, dengan notasi yang mimpas (keluar jalur) dari slendero maupun pelog. Nada pada gamelan jegog adalah nada yang tercipta dari suara alam, entah itu alam nyata atau alam tak nyata, entah itu berasal dari dunia memedi, dunia banas atau dunia antah-berantah lainnya.

Maka tidaklah mengherankan bila kemudian masyarakat Bali pernah tidak bisa menerima jegog sebagai salah satu dari kesenian tradisional Bali. “Orang Bali” merasa sangat asing dan bingung dengan suara (nada) jegog. “Orang Bali” merasa asing dan aneh melihat teknis dan pola menabuh gamelan jegog. “Orang Bali” merasa asing dan bingung kenapa mesti ada jegog mebarung – yakni lomba keras-kerasan suara gamelan dan kuat-kuatan menabuh.

Secara politik dalam sejarah modern, Jembrana itu telah membuktikan dirinya sebagai yang paling hebat di Bali. Gubernur pertama Bali adalah orang Jembrana. Bahkan bukan orang biasa yang konvensional, tetapi seseorang yang kontroversial. Dia seorang keturunan raja, memimpin Bali dalam sistem pemerintahan demokrasi yang pertama, tetapi pula dianggap sebagai seorang komunis dan akhirnya mengasingkan diri ke luar negeri.

Entah kapan dan di mana wafatnya (masyarakat tidak tahu), tetapi ketika Puri Negara menyelenggarakan upacara pengabenannya tahun 2007 yang lalu, upacara tersebut dihadiri oleh raja-raja di Bali, dihadiri tokoh-tokoh nasional. Sebuah upacara yang unik, karena tanpa adanya jasad dan diselenggarakan untuk seseorang yang pada sisa hidupnya dicap sebagai seorang komunis yang dalam pengertian Indonesia adalah tidak percaya agama dan Tuhan.

Di era reformasi pasca rezin Orde Baru, Jembrana juga dipimpin oleh seorang bupati yang tak kalah kontroversialnya. Seorang bupati yang bahkan berani “merusak” tatanan pemerintahan konvensional yang berlaku di Indonesia selama ini. Inilah satu-satunya bupati di Indonesia yang berani menggagas sekaligus menyelenggarakan pendidikan gratis bagi seluruh siswa dari tingkat SD sampai SMA dan akhirnya mengilhami program yang sama untuk skala nasional. Inilah satu-satunya bupati di Indonesia yang tanpa ragu-ragu berani merombak benang kusut penyakit birokrasi di Indonesia.

Dengan kompleksitas prosesi alamiah, baik dari sisi manusia, lingkungan, sosial, politik hingga spiritualitas yang sedemikian rupa, maka jadilah Jembrana sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia. Bahwa misalnya, ternyata masyarakat Jembrana telah membentuk perilaku (baca: kebiasaan) dan bahasa tersendiri. Bahasa orang Jembrana paling berbeda di Bali. Di Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem hingga Buleleng, barangkali hanya dialek yang berbeda secara umum, tetapi di Jembrana mulai dari dialek hingga suku kata berbeda dengan Bali belahan lainnya.

Bahasa orang Jembrana itu “kaku”. Dan suku kata orang Jembrana tidak mengenal akhiran berkonsonan. Orang Jembrana mengucapkan kata “tabrakan” menjadi “tabraka”. “Orang Bali” mengatakan “ngalihin” (mencari), orang Jembrana mengatakannya “ngalihe”. “Semengan” menjadi “semenga”, “kundangan” menjadi “kundanga”, “mejalan” menjadi “mejala”, “kokohan” (batuk) menjadi “kokoa”, “jagurin” menjadi “jagure”, “mejaguran” (berantem) menjadi “mejagura”, “nyidaang” menjadi “nyidaa”, dan seterusnya.

Demikianlah Jembrana lahir dan mengada di bagian barat Bali. Jika kemudian Bali diistilahkan sebagai pulau surga (saya tak pernah mengerti dengan istilah ini karena jika Bali itu Surga tentu tidak ada orang miskin, tidak ada pengemis, tidak ada kejahatan, tidak ada penindasan, tidak ada ketidakadilan, tidak ada orang bokek, tidak ada korupsi, tidak ada partai politik, tidak ada perebutan kekuasaan sampai berdarah-darah), maka Jembrana adalah “tetangga” dari surga dan neraka.

Jembrana tidak selesai terbentuk, baik menuju bentuk surga maupun bentuk neraka. Dengan kata lain, Jembrana adalah kawasan yang dinamis, tidak stagnan, tidak ajeg! Jembrana adalah sesuatu yang harmoni dengan segala kehidupan yang serba mungkin di dalamnya! (T)

Tags: BahasabaliBudayajembrana
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Mempelajari Implementasi Sastra Dunia di dalam Pengetahuan Bahasa dan Sastra

Next Post

Jomblo Jangan Resah, Perayu Ulung pun Bisa Tak Laku-laku

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Jomblo Jangan Resah, Perayu Ulung pun Bisa Tak Laku-laku

Jomblo Jangan Resah, Perayu Ulung pun Bisa Tak Laku-laku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co