23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nilon dan Filsafat Tukang Jagal | Cerpen Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira by Rasyid Yudhistira
November 15, 2025
in Cerpen
Nilon dan Filsafat Tukang Jagal  |  Cerpen Rasyid Yudhistira

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Batbayar tahu betul bahwa kesepian adalah penyakit menular seksual, meskipun ia sudah pensiun dari urusan ranjang sejak sepuluh tahun lalu. Di Sanur yang panas, ia hanya ditemani bau garam dan sisa pasta gigi di wastafel. Sikat gigi nilon usang itulah yang menjadi satu-satunya benda yang ia sentuh setiap pagi. Benda itu membersihkan sisa nasi dan gusi berdarah, tetapi bagi Batbayar, sikat itu adalah pengingat harian akan dosa-dosa masa lalu dan keindahan kematian yang akan datang.

Ia adalah Batbayar, keturunan Mongolia yang entah bagaimana terdampar di Jakarta dan kemudian terdampar lagi di kontrakan kecil Sanur. Dahulu, ia dikenal sebagai tukang jagal yang teliti, yang tahu persis di mana letak arteri utama seekor kerbau, dan bagaimana memisahkan daging dari tulang tanpa merusak sumsum. Kini, tangannya hanya ahli membalik telur ceplok dan menyeka keringat di dahi.

Rutinitasnya adalah siklus kematian yang lambat. Bangun, minum kopi pahit, membersihkan wastafel yang selalu berkerak, lalu duduk di teras membiarkan matahari memanggang kulitnya yang keriput.

Satu-satunya interaksi manusiawinya adalah dengan penjual kopi yang selalu menyapa dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana kabar istri, Pak?”

Ia selalu menjawab, “Baik,” meskipun istrinya telah menjadi abu sepuluh tahun lalu, dan abunya telah ia buang di Selat Bali, kembali ke laut yang asin dan tak peduli. Kesepiannya terasa tebal, lebih pekat daripada lapisan kerak kapur yang menempel di sudut wastafel.

Lalu, Sikat mulai berbicara.

Awalnya, itu hanya gumaman, resonansi dari nilon yang bergesekan dengan porselen. Batbayar mengira itu adalah efek samping arak Bali murahan yang ia minum semalam, atau mungkin hanya bunyi denyutan di telinganya. Tetapi suatu pagi, ketika ia sedang memelintir bulu sikat itu di antara gigi gerahamnya yang keropos, suara itu menjadi jelas, berwibawa, dan sangat dekat.

“Geraham kanan, Batbayar. Kau selalu melupakan geraham kanan. Di sanalah sisa-sisa daging lama bersembunyi. Daging lama selalu menuntut untuk diingat.”

Batbayar terlonjak, menatap sikat gigi plastiknya yang berwarna biru pudar.

“Siapa kau?” tanyanya, suaranya serak.

Sikat tidak menjawab tentang identitasnya, melainkan tentang nasib. “Aku adalah Nilon, dan aku adalah Filsafat. Aku membersihkan kotoran yang kau masukkan, dan aku tahu kotoran yang kau keluarkan. Dan kotoran itu, Batbayar, adalah kebijaksanaan sejati.”

Sejak hari itu, Sikat tidak hanya menyarankan cara menggosok geraham yang benar atau bagaimana membersihkan gusi yang berdarah, tetapi juga mulai menanyakan hal-hal yang brutal dan intim, menembus lapisan pertahanan diri Batbayar.

“Apakah kau pernah menyesali darah yang kau tumpahkan? Bukan darah kerbau, Batbayar. Darah manusia. Darah yang kau biarkan mengering di Jakarta, darah dari perempuan yang kau tinggalkan, darah dari hatimu sendiri yang kau robek demi uang.”

Batbayar mencoba membuang Sikat. Ia melemparkannya ke tempat sampah di belakang kontrakan, di antara kulit pisang dan puntung rokok. Ia merasa lega, berharap kegilaannya berakhir. Namun, keesokan paginya, ketika ia membuka mata, Sikat sudah tergeletak persis di sisi wastafel, bersih, seolah-olah ia telah merangkak kembali dari tempat sampah, menyeberangi lantai yang kotor, hanya untuk melanjutkan dialog mereka.

Batbayar berhenti melawan. Ia mulai bergantung pada nasihat Sikat. Sikat membimbingnya dalam hal-hal kecil: memilih ikan di pasar (Sikat berbisik, “Pilih yang matanya jernih, Batbayar. Seperti jiwa yang belum melihat terlalu banyak kematian”), hingga hal-hal besar: bagaimana menghadapi mimpi buruk tentang seekor kerbau besar yang ia sembelih tiga puluh tahun lalu, yang kini menghantuinya dengan mata penuh air mata.

Nasihat Sikat selalu brutal tetapi efektif. “Jangan lari dari kerbau itu. Biarkan ia menjilatmu. Kotoran adalah bagian dari kehidupan. Dan hidupmu adalah kotoran, Batbayar.”

Ketergantungan itu berubah menjadi tuntutan. Sikat, yang kini menjadi guru spiritual Batbayar yang berbau pasta gigi basi, menuntut tindakan penebusan dosa yang aneh, meniru folklor Mongolia yang pernah didengar Batbayar di masa kecilnya. Sikat menyuruhnya mencari dan meminta maaf kepada seorang wanita yang pernah ia tinggalkan di masa muda, di sebuah kota pelabuhan yang kini mungkin sudah tenggelam. Atau, Sikat menyuruhnya menanam gigi kerbau tua di bawah pohon beringin di tengah malam, sebagai persembahan kepada roh-roh yang haus akan darah lama.

Namun, Sikat mulai melampaui batas moralitas yang tersisa di diri Batbayar.

“Kau bosan, Batbayar. Kau butuh adrenalin. Kau butuh tindakan yang nyata. Bukan darah kerbau yang beku, Batbayar. Kau harus merasakan kembali denyutan kehidupan yang kau tangani dulu. Rasakan ketegangan antara hidup dan mati. Curi perhiasan turis yang sedang mabuk di pantai. Rasakan kembali denyutan hidup, rasakan kembali dosa, rasakan kembali kekuasaanmu atas kerapuhan manusia.”

Batbayar menolak. “Aku sudah tua, Sikat. Aku ingin mati dengan damai.”

“Damai adalah kebohongan. Kebijaksanaan hanya tumbuh di tengah kekacauan,” bentak Sikat.

Dalam kemarahan yang tiba-tiba, Batbayar meraih palu dari kotak peralatannya. Tangannya gemetar, bukan karena usia, tetapi karena ketakutan bahwa ia akan membunuh satu-satunya entitas yang benar-benar mengenalnya. Ia mengangkat palu itu tinggi-tinggi, berniat menghancurkan benda plastik laknat itu menjadi serpihan nilon dan remah-remah plastik. Ia mengayunkannya.

Gedebuk!

Palu menghantam porselen wastafel hingga retak, namun Sikat sudah tidak ada di sana. Batbayar terengah-engah. Ia mencari, dan melihat Sikat kini berdiri tegak di tepi wastafel yang retak, seolah-olah ia telah melompat dengan kecepatan yang tidak mungkin. Ketika Batbayar mencoba memukulnya lagi, bulu-bulu nilonnya yang usang tiba-tiba tampak memanjang, bergerak lambat namun pasti, melilit erat kepala palu itu seperti tentakel yang licin dan jijik.

Suara Sikat berubah. Itu bukan lagi suara gumaman wastafel, melainkan tawa yang dalam, berat, dan sangat manusiawi, seperti suara tukang jagal tua yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kotornya.

“Kau tidak bisa membunuh kebijaksanaan, Batbayar. Ia sudah tumbuh di antara kotoranmu. Aku adalah kau, yang kau coba buang selama sepuluh tahun ini.”

Ketakutan Batbayar mencapai puncaknya. Ia menyadari bahwa Sikat bukanlah arak Bali atau kegilaan, melainkan manifestasi nyata dari penyesalan dan keinginan liarnya sendiri, yang kini terbungkus dalam plastik dan bakteri.

Batbayar berhenti melawan. Ia menerima Sikat sebagai guru spiritualnya yang kotor. Mereka melanjutkan dialog pagi hari mereka. Batbayar menyadari bahwa sikat gigi itu, dengan segala keanehan dan kekasarannya, adalah satu-satunya entitas yang tulus. Manusia lain hanya menawarkan basa-basi, Sikat menawarkan kebenaran yang berbau kematian.

Suatu pagi, Sikat memberikan ‘perintah terakhir’ yang paling aneh.

“Satukan dirimu denganku, Batbayar. Aku adalah kebijaksanaan kotor. Telan aku. Hanya dengan itu kau akan mencapai pencerahan dan mengakhiri kesepianmu. Kau akan menjadi daging dan aku akan menjadi nilon. Kita akan abadi.”

Batbayar menatap Sikat. Menelan plastik usang, penuh bakteri, dan penuh filosofi kotor. Ia mengangkatnya ke mulut.

Namun, ia tidak menelannya. Ia tersenyum. Sikat tidak perlu ditelan.

Batbayar melihat refleksi dirinya di cermin wastafel yang berkerak. Gusi Batbayar berdarah, dan di antara giginya yang kuning, beberapa helai bulu nilon tipis mulai tumbuh. Bukan dari sikat, melainkan dari lidahnya sendiri.

Suara Sikat tidak lagi terdengar dari wastafel. Suara itu kini bergaung di tenggorokannya, langsung dari ulu hati. Batbayar telah menjadi wadah bagi kebijaksanaan kotor itu, asimilasi itu terjadi tanpa harus menelan.

Malam itu, Batbayar pergi ke pantai Sanur, membiarkan ombak menjilat kakinya. Ia tidak lagi mencari teman manusia atau meminta maaf pada hantu masa lalu. Ia hanya membawa sikat gigi itu, yang kini sunyi, sebab suaranya telah menjadi suara Batbayar sendiri. Ironisnya, sikat gigi itu adalah satu-satunya entitas yang benar-benar memahami bau darah dan kesunyiannya. Batbayar tersenyum, menyadari bahwa ia telah menemukan kedamaiannya: sebuah benda plastik, penuh bakteri, yang kini telah menjadi bagian dari dagingnya sendiri. [T]

Penulis: Rasyid Yudhistira
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Anonimitas

Next Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira

Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co