14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nilon dan Filsafat Tukang Jagal | Cerpen Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira by Rasyid Yudhistira
November 15, 2025
in Cerpen
Nilon dan Filsafat Tukang Jagal  |  Cerpen Rasyid Yudhistira

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Batbayar tahu betul bahwa kesepian adalah penyakit menular seksual, meskipun ia sudah pensiun dari urusan ranjang sejak sepuluh tahun lalu. Di Sanur yang panas, ia hanya ditemani bau garam dan sisa pasta gigi di wastafel. Sikat gigi nilon usang itulah yang menjadi satu-satunya benda yang ia sentuh setiap pagi. Benda itu membersihkan sisa nasi dan gusi berdarah, tetapi bagi Batbayar, sikat itu adalah pengingat harian akan dosa-dosa masa lalu dan keindahan kematian yang akan datang.

Ia adalah Batbayar, keturunan Mongolia yang entah bagaimana terdampar di Jakarta dan kemudian terdampar lagi di kontrakan kecil Sanur. Dahulu, ia dikenal sebagai tukang jagal yang teliti, yang tahu persis di mana letak arteri utama seekor kerbau, dan bagaimana memisahkan daging dari tulang tanpa merusak sumsum. Kini, tangannya hanya ahli membalik telur ceplok dan menyeka keringat di dahi.

Rutinitasnya adalah siklus kematian yang lambat. Bangun, minum kopi pahit, membersihkan wastafel yang selalu berkerak, lalu duduk di teras membiarkan matahari memanggang kulitnya yang keriput.

Satu-satunya interaksi manusiawinya adalah dengan penjual kopi yang selalu menyapa dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana kabar istri, Pak?”

Ia selalu menjawab, “Baik,” meskipun istrinya telah menjadi abu sepuluh tahun lalu, dan abunya telah ia buang di Selat Bali, kembali ke laut yang asin dan tak peduli. Kesepiannya terasa tebal, lebih pekat daripada lapisan kerak kapur yang menempel di sudut wastafel.

Lalu, Sikat mulai berbicara.

Awalnya, itu hanya gumaman, resonansi dari nilon yang bergesekan dengan porselen. Batbayar mengira itu adalah efek samping arak Bali murahan yang ia minum semalam, atau mungkin hanya bunyi denyutan di telinganya. Tetapi suatu pagi, ketika ia sedang memelintir bulu sikat itu di antara gigi gerahamnya yang keropos, suara itu menjadi jelas, berwibawa, dan sangat dekat.

“Geraham kanan, Batbayar. Kau selalu melupakan geraham kanan. Di sanalah sisa-sisa daging lama bersembunyi. Daging lama selalu menuntut untuk diingat.”

Batbayar terlonjak, menatap sikat gigi plastiknya yang berwarna biru pudar.

“Siapa kau?” tanyanya, suaranya serak.

Sikat tidak menjawab tentang identitasnya, melainkan tentang nasib. “Aku adalah Nilon, dan aku adalah Filsafat. Aku membersihkan kotoran yang kau masukkan, dan aku tahu kotoran yang kau keluarkan. Dan kotoran itu, Batbayar, adalah kebijaksanaan sejati.”

Sejak hari itu, Sikat tidak hanya menyarankan cara menggosok geraham yang benar atau bagaimana membersihkan gusi yang berdarah, tetapi juga mulai menanyakan hal-hal yang brutal dan intim, menembus lapisan pertahanan diri Batbayar.

“Apakah kau pernah menyesali darah yang kau tumpahkan? Bukan darah kerbau, Batbayar. Darah manusia. Darah yang kau biarkan mengering di Jakarta, darah dari perempuan yang kau tinggalkan, darah dari hatimu sendiri yang kau robek demi uang.”

Batbayar mencoba membuang Sikat. Ia melemparkannya ke tempat sampah di belakang kontrakan, di antara kulit pisang dan puntung rokok. Ia merasa lega, berharap kegilaannya berakhir. Namun, keesokan paginya, ketika ia membuka mata, Sikat sudah tergeletak persis di sisi wastafel, bersih, seolah-olah ia telah merangkak kembali dari tempat sampah, menyeberangi lantai yang kotor, hanya untuk melanjutkan dialog mereka.

Batbayar berhenti melawan. Ia mulai bergantung pada nasihat Sikat. Sikat membimbingnya dalam hal-hal kecil: memilih ikan di pasar (Sikat berbisik, “Pilih yang matanya jernih, Batbayar. Seperti jiwa yang belum melihat terlalu banyak kematian”), hingga hal-hal besar: bagaimana menghadapi mimpi buruk tentang seekor kerbau besar yang ia sembelih tiga puluh tahun lalu, yang kini menghantuinya dengan mata penuh air mata.

Nasihat Sikat selalu brutal tetapi efektif. “Jangan lari dari kerbau itu. Biarkan ia menjilatmu. Kotoran adalah bagian dari kehidupan. Dan hidupmu adalah kotoran, Batbayar.”

Ketergantungan itu berubah menjadi tuntutan. Sikat, yang kini menjadi guru spiritual Batbayar yang berbau pasta gigi basi, menuntut tindakan penebusan dosa yang aneh, meniru folklor Mongolia yang pernah didengar Batbayar di masa kecilnya. Sikat menyuruhnya mencari dan meminta maaf kepada seorang wanita yang pernah ia tinggalkan di masa muda, di sebuah kota pelabuhan yang kini mungkin sudah tenggelam. Atau, Sikat menyuruhnya menanam gigi kerbau tua di bawah pohon beringin di tengah malam, sebagai persembahan kepada roh-roh yang haus akan darah lama.

Namun, Sikat mulai melampaui batas moralitas yang tersisa di diri Batbayar.

“Kau bosan, Batbayar. Kau butuh adrenalin. Kau butuh tindakan yang nyata. Bukan darah kerbau yang beku, Batbayar. Kau harus merasakan kembali denyutan kehidupan yang kau tangani dulu. Rasakan ketegangan antara hidup dan mati. Curi perhiasan turis yang sedang mabuk di pantai. Rasakan kembali denyutan hidup, rasakan kembali dosa, rasakan kembali kekuasaanmu atas kerapuhan manusia.”

Batbayar menolak. “Aku sudah tua, Sikat. Aku ingin mati dengan damai.”

“Damai adalah kebohongan. Kebijaksanaan hanya tumbuh di tengah kekacauan,” bentak Sikat.

Dalam kemarahan yang tiba-tiba, Batbayar meraih palu dari kotak peralatannya. Tangannya gemetar, bukan karena usia, tetapi karena ketakutan bahwa ia akan membunuh satu-satunya entitas yang benar-benar mengenalnya. Ia mengangkat palu itu tinggi-tinggi, berniat menghancurkan benda plastik laknat itu menjadi serpihan nilon dan remah-remah plastik. Ia mengayunkannya.

Gedebuk!

Palu menghantam porselen wastafel hingga retak, namun Sikat sudah tidak ada di sana. Batbayar terengah-engah. Ia mencari, dan melihat Sikat kini berdiri tegak di tepi wastafel yang retak, seolah-olah ia telah melompat dengan kecepatan yang tidak mungkin. Ketika Batbayar mencoba memukulnya lagi, bulu-bulu nilonnya yang usang tiba-tiba tampak memanjang, bergerak lambat namun pasti, melilit erat kepala palu itu seperti tentakel yang licin dan jijik.

Suara Sikat berubah. Itu bukan lagi suara gumaman wastafel, melainkan tawa yang dalam, berat, dan sangat manusiawi, seperti suara tukang jagal tua yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kotornya.

“Kau tidak bisa membunuh kebijaksanaan, Batbayar. Ia sudah tumbuh di antara kotoranmu. Aku adalah kau, yang kau coba buang selama sepuluh tahun ini.”

Ketakutan Batbayar mencapai puncaknya. Ia menyadari bahwa Sikat bukanlah arak Bali atau kegilaan, melainkan manifestasi nyata dari penyesalan dan keinginan liarnya sendiri, yang kini terbungkus dalam plastik dan bakteri.

Batbayar berhenti melawan. Ia menerima Sikat sebagai guru spiritualnya yang kotor. Mereka melanjutkan dialog pagi hari mereka. Batbayar menyadari bahwa sikat gigi itu, dengan segala keanehan dan kekasarannya, adalah satu-satunya entitas yang tulus. Manusia lain hanya menawarkan basa-basi, Sikat menawarkan kebenaran yang berbau kematian.

Suatu pagi, Sikat memberikan ‘perintah terakhir’ yang paling aneh.

“Satukan dirimu denganku, Batbayar. Aku adalah kebijaksanaan kotor. Telan aku. Hanya dengan itu kau akan mencapai pencerahan dan mengakhiri kesepianmu. Kau akan menjadi daging dan aku akan menjadi nilon. Kita akan abadi.”

Batbayar menatap Sikat. Menelan plastik usang, penuh bakteri, dan penuh filosofi kotor. Ia mengangkatnya ke mulut.

Namun, ia tidak menelannya. Ia tersenyum. Sikat tidak perlu ditelan.

Batbayar melihat refleksi dirinya di cermin wastafel yang berkerak. Gusi Batbayar berdarah, dan di antara giginya yang kuning, beberapa helai bulu nilon tipis mulai tumbuh. Bukan dari sikat, melainkan dari lidahnya sendiri.

Suara Sikat tidak lagi terdengar dari wastafel. Suara itu kini bergaung di tenggorokannya, langsung dari ulu hati. Batbayar telah menjadi wadah bagi kebijaksanaan kotor itu, asimilasi itu terjadi tanpa harus menelan.

Malam itu, Batbayar pergi ke pantai Sanur, membiarkan ombak menjilat kakinya. Ia tidak lagi mencari teman manusia atau meminta maaf pada hantu masa lalu. Ia hanya membawa sikat gigi itu, yang kini sunyi, sebab suaranya telah menjadi suara Batbayar sendiri. Ironisnya, sikat gigi itu adalah satu-satunya entitas yang benar-benar memahami bau darah dan kesunyiannya. Batbayar tersenyum, menyadari bahwa ia telah menemukan kedamaiannya: sebuah benda plastik, penuh bakteri, yang kini telah menjadi bagian dari dagingnya sendiri. [T]

Penulis: Rasyid Yudhistira
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Anonimitas

Next Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira

Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co