2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nilon dan Filsafat Tukang Jagal | Cerpen Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira by Rasyid Yudhistira
November 15, 2025
in Cerpen
Nilon dan Filsafat Tukang Jagal  |  Cerpen Rasyid Yudhistira

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Batbayar tahu betul bahwa kesepian adalah penyakit menular seksual, meskipun ia sudah pensiun dari urusan ranjang sejak sepuluh tahun lalu. Di Sanur yang panas, ia hanya ditemani bau garam dan sisa pasta gigi di wastafel. Sikat gigi nilon usang itulah yang menjadi satu-satunya benda yang ia sentuh setiap pagi. Benda itu membersihkan sisa nasi dan gusi berdarah, tetapi bagi Batbayar, sikat itu adalah pengingat harian akan dosa-dosa masa lalu dan keindahan kematian yang akan datang.

Ia adalah Batbayar, keturunan Mongolia yang entah bagaimana terdampar di Jakarta dan kemudian terdampar lagi di kontrakan kecil Sanur. Dahulu, ia dikenal sebagai tukang jagal yang teliti, yang tahu persis di mana letak arteri utama seekor kerbau, dan bagaimana memisahkan daging dari tulang tanpa merusak sumsum. Kini, tangannya hanya ahli membalik telur ceplok dan menyeka keringat di dahi.

Rutinitasnya adalah siklus kematian yang lambat. Bangun, minum kopi pahit, membersihkan wastafel yang selalu berkerak, lalu duduk di teras membiarkan matahari memanggang kulitnya yang keriput.

Satu-satunya interaksi manusiawinya adalah dengan penjual kopi yang selalu menyapa dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana kabar istri, Pak?”

Ia selalu menjawab, “Baik,” meskipun istrinya telah menjadi abu sepuluh tahun lalu, dan abunya telah ia buang di Selat Bali, kembali ke laut yang asin dan tak peduli. Kesepiannya terasa tebal, lebih pekat daripada lapisan kerak kapur yang menempel di sudut wastafel.

Lalu, Sikat mulai berbicara.

Awalnya, itu hanya gumaman, resonansi dari nilon yang bergesekan dengan porselen. Batbayar mengira itu adalah efek samping arak Bali murahan yang ia minum semalam, atau mungkin hanya bunyi denyutan di telinganya. Tetapi suatu pagi, ketika ia sedang memelintir bulu sikat itu di antara gigi gerahamnya yang keropos, suara itu menjadi jelas, berwibawa, dan sangat dekat.

“Geraham kanan, Batbayar. Kau selalu melupakan geraham kanan. Di sanalah sisa-sisa daging lama bersembunyi. Daging lama selalu menuntut untuk diingat.”

Batbayar terlonjak, menatap sikat gigi plastiknya yang berwarna biru pudar.

“Siapa kau?” tanyanya, suaranya serak.

Sikat tidak menjawab tentang identitasnya, melainkan tentang nasib. “Aku adalah Nilon, dan aku adalah Filsafat. Aku membersihkan kotoran yang kau masukkan, dan aku tahu kotoran yang kau keluarkan. Dan kotoran itu, Batbayar, adalah kebijaksanaan sejati.”

Sejak hari itu, Sikat tidak hanya menyarankan cara menggosok geraham yang benar atau bagaimana membersihkan gusi yang berdarah, tetapi juga mulai menanyakan hal-hal yang brutal dan intim, menembus lapisan pertahanan diri Batbayar.

“Apakah kau pernah menyesali darah yang kau tumpahkan? Bukan darah kerbau, Batbayar. Darah manusia. Darah yang kau biarkan mengering di Jakarta, darah dari perempuan yang kau tinggalkan, darah dari hatimu sendiri yang kau robek demi uang.”

Batbayar mencoba membuang Sikat. Ia melemparkannya ke tempat sampah di belakang kontrakan, di antara kulit pisang dan puntung rokok. Ia merasa lega, berharap kegilaannya berakhir. Namun, keesokan paginya, ketika ia membuka mata, Sikat sudah tergeletak persis di sisi wastafel, bersih, seolah-olah ia telah merangkak kembali dari tempat sampah, menyeberangi lantai yang kotor, hanya untuk melanjutkan dialog mereka.

Batbayar berhenti melawan. Ia mulai bergantung pada nasihat Sikat. Sikat membimbingnya dalam hal-hal kecil: memilih ikan di pasar (Sikat berbisik, “Pilih yang matanya jernih, Batbayar. Seperti jiwa yang belum melihat terlalu banyak kematian”), hingga hal-hal besar: bagaimana menghadapi mimpi buruk tentang seekor kerbau besar yang ia sembelih tiga puluh tahun lalu, yang kini menghantuinya dengan mata penuh air mata.

Nasihat Sikat selalu brutal tetapi efektif. “Jangan lari dari kerbau itu. Biarkan ia menjilatmu. Kotoran adalah bagian dari kehidupan. Dan hidupmu adalah kotoran, Batbayar.”

Ketergantungan itu berubah menjadi tuntutan. Sikat, yang kini menjadi guru spiritual Batbayar yang berbau pasta gigi basi, menuntut tindakan penebusan dosa yang aneh, meniru folklor Mongolia yang pernah didengar Batbayar di masa kecilnya. Sikat menyuruhnya mencari dan meminta maaf kepada seorang wanita yang pernah ia tinggalkan di masa muda, di sebuah kota pelabuhan yang kini mungkin sudah tenggelam. Atau, Sikat menyuruhnya menanam gigi kerbau tua di bawah pohon beringin di tengah malam, sebagai persembahan kepada roh-roh yang haus akan darah lama.

Namun, Sikat mulai melampaui batas moralitas yang tersisa di diri Batbayar.

“Kau bosan, Batbayar. Kau butuh adrenalin. Kau butuh tindakan yang nyata. Bukan darah kerbau yang beku, Batbayar. Kau harus merasakan kembali denyutan kehidupan yang kau tangani dulu. Rasakan ketegangan antara hidup dan mati. Curi perhiasan turis yang sedang mabuk di pantai. Rasakan kembali denyutan hidup, rasakan kembali dosa, rasakan kembali kekuasaanmu atas kerapuhan manusia.”

Batbayar menolak. “Aku sudah tua, Sikat. Aku ingin mati dengan damai.”

“Damai adalah kebohongan. Kebijaksanaan hanya tumbuh di tengah kekacauan,” bentak Sikat.

Dalam kemarahan yang tiba-tiba, Batbayar meraih palu dari kotak peralatannya. Tangannya gemetar, bukan karena usia, tetapi karena ketakutan bahwa ia akan membunuh satu-satunya entitas yang benar-benar mengenalnya. Ia mengangkat palu itu tinggi-tinggi, berniat menghancurkan benda plastik laknat itu menjadi serpihan nilon dan remah-remah plastik. Ia mengayunkannya.

Gedebuk!

Palu menghantam porselen wastafel hingga retak, namun Sikat sudah tidak ada di sana. Batbayar terengah-engah. Ia mencari, dan melihat Sikat kini berdiri tegak di tepi wastafel yang retak, seolah-olah ia telah melompat dengan kecepatan yang tidak mungkin. Ketika Batbayar mencoba memukulnya lagi, bulu-bulu nilonnya yang usang tiba-tiba tampak memanjang, bergerak lambat namun pasti, melilit erat kepala palu itu seperti tentakel yang licin dan jijik.

Suara Sikat berubah. Itu bukan lagi suara gumaman wastafel, melainkan tawa yang dalam, berat, dan sangat manusiawi, seperti suara tukang jagal tua yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kotornya.

“Kau tidak bisa membunuh kebijaksanaan, Batbayar. Ia sudah tumbuh di antara kotoranmu. Aku adalah kau, yang kau coba buang selama sepuluh tahun ini.”

Ketakutan Batbayar mencapai puncaknya. Ia menyadari bahwa Sikat bukanlah arak Bali atau kegilaan, melainkan manifestasi nyata dari penyesalan dan keinginan liarnya sendiri, yang kini terbungkus dalam plastik dan bakteri.

Batbayar berhenti melawan. Ia menerima Sikat sebagai guru spiritualnya yang kotor. Mereka melanjutkan dialog pagi hari mereka. Batbayar menyadari bahwa sikat gigi itu, dengan segala keanehan dan kekasarannya, adalah satu-satunya entitas yang tulus. Manusia lain hanya menawarkan basa-basi, Sikat menawarkan kebenaran yang berbau kematian.

Suatu pagi, Sikat memberikan ‘perintah terakhir’ yang paling aneh.

“Satukan dirimu denganku, Batbayar. Aku adalah kebijaksanaan kotor. Telan aku. Hanya dengan itu kau akan mencapai pencerahan dan mengakhiri kesepianmu. Kau akan menjadi daging dan aku akan menjadi nilon. Kita akan abadi.”

Batbayar menatap Sikat. Menelan plastik usang, penuh bakteri, dan penuh filosofi kotor. Ia mengangkatnya ke mulut.

Namun, ia tidak menelannya. Ia tersenyum. Sikat tidak perlu ditelan.

Batbayar melihat refleksi dirinya di cermin wastafel yang berkerak. Gusi Batbayar berdarah, dan di antara giginya yang kuning, beberapa helai bulu nilon tipis mulai tumbuh. Bukan dari sikat, melainkan dari lidahnya sendiri.

Suara Sikat tidak lagi terdengar dari wastafel. Suara itu kini bergaung di tenggorokannya, langsung dari ulu hati. Batbayar telah menjadi wadah bagi kebijaksanaan kotor itu, asimilasi itu terjadi tanpa harus menelan.

Malam itu, Batbayar pergi ke pantai Sanur, membiarkan ombak menjilat kakinya. Ia tidak lagi mencari teman manusia atau meminta maaf pada hantu masa lalu. Ia hanya membawa sikat gigi itu, yang kini sunyi, sebab suaranya telah menjadi suara Batbayar sendiri. Ironisnya, sikat gigi itu adalah satu-satunya entitas yang benar-benar memahami bau darah dan kesunyiannya. Batbayar tersenyum, menyadari bahwa ia telah menemukan kedamaiannya: sebuah benda plastik, penuh bakteri, yang kini telah menjadi bagian dari dagingnya sendiri. [T]

Penulis: Rasyid Yudhistira
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Anonimitas

Next Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira

Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co