26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nilon dan Filsafat Tukang Jagal | Cerpen Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira by Rasyid Yudhistira
November 15, 2025
in Cerpen
Nilon dan Filsafat Tukang Jagal  |  Cerpen Rasyid Yudhistira

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Batbayar tahu betul bahwa kesepian adalah penyakit menular seksual, meskipun ia sudah pensiun dari urusan ranjang sejak sepuluh tahun lalu. Di Sanur yang panas, ia hanya ditemani bau garam dan sisa pasta gigi di wastafel. Sikat gigi nilon usang itulah yang menjadi satu-satunya benda yang ia sentuh setiap pagi. Benda itu membersihkan sisa nasi dan gusi berdarah, tetapi bagi Batbayar, sikat itu adalah pengingat harian akan dosa-dosa masa lalu dan keindahan kematian yang akan datang.

Ia adalah Batbayar, keturunan Mongolia yang entah bagaimana terdampar di Jakarta dan kemudian terdampar lagi di kontrakan kecil Sanur. Dahulu, ia dikenal sebagai tukang jagal yang teliti, yang tahu persis di mana letak arteri utama seekor kerbau, dan bagaimana memisahkan daging dari tulang tanpa merusak sumsum. Kini, tangannya hanya ahli membalik telur ceplok dan menyeka keringat di dahi.

Rutinitasnya adalah siklus kematian yang lambat. Bangun, minum kopi pahit, membersihkan wastafel yang selalu berkerak, lalu duduk di teras membiarkan matahari memanggang kulitnya yang keriput.

Satu-satunya interaksi manusiawinya adalah dengan penjual kopi yang selalu menyapa dengan pertanyaan yang sama, “Bagaimana kabar istri, Pak?”

Ia selalu menjawab, “Baik,” meskipun istrinya telah menjadi abu sepuluh tahun lalu, dan abunya telah ia buang di Selat Bali, kembali ke laut yang asin dan tak peduli. Kesepiannya terasa tebal, lebih pekat daripada lapisan kerak kapur yang menempel di sudut wastafel.

Lalu, Sikat mulai berbicara.

Awalnya, itu hanya gumaman, resonansi dari nilon yang bergesekan dengan porselen. Batbayar mengira itu adalah efek samping arak Bali murahan yang ia minum semalam, atau mungkin hanya bunyi denyutan di telinganya. Tetapi suatu pagi, ketika ia sedang memelintir bulu sikat itu di antara gigi gerahamnya yang keropos, suara itu menjadi jelas, berwibawa, dan sangat dekat.

“Geraham kanan, Batbayar. Kau selalu melupakan geraham kanan. Di sanalah sisa-sisa daging lama bersembunyi. Daging lama selalu menuntut untuk diingat.”

Batbayar terlonjak, menatap sikat gigi plastiknya yang berwarna biru pudar.

“Siapa kau?” tanyanya, suaranya serak.

Sikat tidak menjawab tentang identitasnya, melainkan tentang nasib. “Aku adalah Nilon, dan aku adalah Filsafat. Aku membersihkan kotoran yang kau masukkan, dan aku tahu kotoran yang kau keluarkan. Dan kotoran itu, Batbayar, adalah kebijaksanaan sejati.”

Sejak hari itu, Sikat tidak hanya menyarankan cara menggosok geraham yang benar atau bagaimana membersihkan gusi yang berdarah, tetapi juga mulai menanyakan hal-hal yang brutal dan intim, menembus lapisan pertahanan diri Batbayar.

“Apakah kau pernah menyesali darah yang kau tumpahkan? Bukan darah kerbau, Batbayar. Darah manusia. Darah yang kau biarkan mengering di Jakarta, darah dari perempuan yang kau tinggalkan, darah dari hatimu sendiri yang kau robek demi uang.”

Batbayar mencoba membuang Sikat. Ia melemparkannya ke tempat sampah di belakang kontrakan, di antara kulit pisang dan puntung rokok. Ia merasa lega, berharap kegilaannya berakhir. Namun, keesokan paginya, ketika ia membuka mata, Sikat sudah tergeletak persis di sisi wastafel, bersih, seolah-olah ia telah merangkak kembali dari tempat sampah, menyeberangi lantai yang kotor, hanya untuk melanjutkan dialog mereka.

Batbayar berhenti melawan. Ia mulai bergantung pada nasihat Sikat. Sikat membimbingnya dalam hal-hal kecil: memilih ikan di pasar (Sikat berbisik, “Pilih yang matanya jernih, Batbayar. Seperti jiwa yang belum melihat terlalu banyak kematian”), hingga hal-hal besar: bagaimana menghadapi mimpi buruk tentang seekor kerbau besar yang ia sembelih tiga puluh tahun lalu, yang kini menghantuinya dengan mata penuh air mata.

Nasihat Sikat selalu brutal tetapi efektif. “Jangan lari dari kerbau itu. Biarkan ia menjilatmu. Kotoran adalah bagian dari kehidupan. Dan hidupmu adalah kotoran, Batbayar.”

Ketergantungan itu berubah menjadi tuntutan. Sikat, yang kini menjadi guru spiritual Batbayar yang berbau pasta gigi basi, menuntut tindakan penebusan dosa yang aneh, meniru folklor Mongolia yang pernah didengar Batbayar di masa kecilnya. Sikat menyuruhnya mencari dan meminta maaf kepada seorang wanita yang pernah ia tinggalkan di masa muda, di sebuah kota pelabuhan yang kini mungkin sudah tenggelam. Atau, Sikat menyuruhnya menanam gigi kerbau tua di bawah pohon beringin di tengah malam, sebagai persembahan kepada roh-roh yang haus akan darah lama.

Namun, Sikat mulai melampaui batas moralitas yang tersisa di diri Batbayar.

“Kau bosan, Batbayar. Kau butuh adrenalin. Kau butuh tindakan yang nyata. Bukan darah kerbau yang beku, Batbayar. Kau harus merasakan kembali denyutan kehidupan yang kau tangani dulu. Rasakan ketegangan antara hidup dan mati. Curi perhiasan turis yang sedang mabuk di pantai. Rasakan kembali denyutan hidup, rasakan kembali dosa, rasakan kembali kekuasaanmu atas kerapuhan manusia.”

Batbayar menolak. “Aku sudah tua, Sikat. Aku ingin mati dengan damai.”

“Damai adalah kebohongan. Kebijaksanaan hanya tumbuh di tengah kekacauan,” bentak Sikat.

Dalam kemarahan yang tiba-tiba, Batbayar meraih palu dari kotak peralatannya. Tangannya gemetar, bukan karena usia, tetapi karena ketakutan bahwa ia akan membunuh satu-satunya entitas yang benar-benar mengenalnya. Ia mengangkat palu itu tinggi-tinggi, berniat menghancurkan benda plastik laknat itu menjadi serpihan nilon dan remah-remah plastik. Ia mengayunkannya.

Gedebuk!

Palu menghantam porselen wastafel hingga retak, namun Sikat sudah tidak ada di sana. Batbayar terengah-engah. Ia mencari, dan melihat Sikat kini berdiri tegak di tepi wastafel yang retak, seolah-olah ia telah melompat dengan kecepatan yang tidak mungkin. Ketika Batbayar mencoba memukulnya lagi, bulu-bulu nilonnya yang usang tiba-tiba tampak memanjang, bergerak lambat namun pasti, melilit erat kepala palu itu seperti tentakel yang licin dan jijik.

Suara Sikat berubah. Itu bukan lagi suara gumaman wastafel, melainkan tawa yang dalam, berat, dan sangat manusiawi, seperti suara tukang jagal tua yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kotornya.

“Kau tidak bisa membunuh kebijaksanaan, Batbayar. Ia sudah tumbuh di antara kotoranmu. Aku adalah kau, yang kau coba buang selama sepuluh tahun ini.”

Ketakutan Batbayar mencapai puncaknya. Ia menyadari bahwa Sikat bukanlah arak Bali atau kegilaan, melainkan manifestasi nyata dari penyesalan dan keinginan liarnya sendiri, yang kini terbungkus dalam plastik dan bakteri.

Batbayar berhenti melawan. Ia menerima Sikat sebagai guru spiritualnya yang kotor. Mereka melanjutkan dialog pagi hari mereka. Batbayar menyadari bahwa sikat gigi itu, dengan segala keanehan dan kekasarannya, adalah satu-satunya entitas yang tulus. Manusia lain hanya menawarkan basa-basi, Sikat menawarkan kebenaran yang berbau kematian.

Suatu pagi, Sikat memberikan ‘perintah terakhir’ yang paling aneh.

“Satukan dirimu denganku, Batbayar. Aku adalah kebijaksanaan kotor. Telan aku. Hanya dengan itu kau akan mencapai pencerahan dan mengakhiri kesepianmu. Kau akan menjadi daging dan aku akan menjadi nilon. Kita akan abadi.”

Batbayar menatap Sikat. Menelan plastik usang, penuh bakteri, dan penuh filosofi kotor. Ia mengangkatnya ke mulut.

Namun, ia tidak menelannya. Ia tersenyum. Sikat tidak perlu ditelan.

Batbayar melihat refleksi dirinya di cermin wastafel yang berkerak. Gusi Batbayar berdarah, dan di antara giginya yang kuning, beberapa helai bulu nilon tipis mulai tumbuh. Bukan dari sikat, melainkan dari lidahnya sendiri.

Suara Sikat tidak lagi terdengar dari wastafel. Suara itu kini bergaung di tenggorokannya, langsung dari ulu hati. Batbayar telah menjadi wadah bagi kebijaksanaan kotor itu, asimilasi itu terjadi tanpa harus menelan.

Malam itu, Batbayar pergi ke pantai Sanur, membiarkan ombak menjilat kakinya. Ia tidak lagi mencari teman manusia atau meminta maaf pada hantu masa lalu. Ia hanya membawa sikat gigi itu, yang kini sunyi, sebab suaranya telah menjadi suara Batbayar sendiri. Ironisnya, sikat gigi itu adalah satu-satunya entitas yang benar-benar memahami bau darah dan kesunyiannya. Batbayar tersenyum, menyadari bahwa ia telah menemukan kedamaiannya: sebuah benda plastik, penuh bakteri, yang kini telah menjadi bagian dari dagingnya sendiri. [T]

Penulis: Rasyid Yudhistira
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Anonimitas

Next Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Rasyid Yudhistira

Rasyid Yudhistira

Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co