24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
in Kuliner
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

Ical di kedai kopinya di Jalan Dewi Sartika Singaraja | Foto-foto: Teddy Setiadi

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS Undiksha Singaraja.

Di tepi jalan itu, Faisal sedang jenak untuk berjualan kopi. Ia berjualan dengan menggunakan mobil. Kok bisa berjualan di Singaraja?

Bung Ical, begitu sapaan akrabnya, sejak lama memang memutuskan hidup mengembara alias nomaden. Ical memilih berkeliling, dari kota ke kota. Ia berkeliling dengan sebuah mobil tua yang diubah menjadi kedai kopi. Ia tidur di mobil itu, berjualan juga di mobil itu.

Nama kedai kopinya, Twntytoo Coffee. Di atas mobil tuanya, ical bercerita tentang mengapa ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara sambari berjualan kopi dengan cara berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Ia mengaku terinpirasi dari sebuah film yang bercerita tentang kehidupan nomaden. Judul filmnya Nomadland. Itu sebuah film yang mengisahkan seorang wanita paruhbaya kehilangan segalanya setelah negaranya mengalami resesi hebat. Perempuan itu memutuskan memulai perjalanan melalui Amerika Barat dan hidup sebagai pengembara modern yang tinggal di van.

Film Nomadland telah mempengaruhi hidupnya. Dan, ia membulatkan tekadnya mewujudkan cita-cita untuk memulai perjalanan. Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta pada tahun 2019, Ical memutuskan untuk membuka usaha kedai kopi di kampung halamannya.

Keputusannya untuk membuka usaha kedai kopi ini bukanlah tujuan utamanya. Tetapi ia harus mempersiapkan usaha itu untuk adiknya, sebelum ia sendiri merealisasikan mimpinya hidup nomaden.

Setelah semua dirasa sudah siap, akhirnya Ical memulai mimpinya. Perjalanan Ical bersama Twntytoo Coffee dimulai dari Kota Pekanbaru, lalu berpindah ke Sumatera Barat, berlanjut ke Pulau Jawa sampai akhirnya ke Bali.

Di Pulau Bali Ical dan Twntytoo Coffee pertama kali singgah di Kabupaten Jembrana. Di sini Ical tidak mau terburu-buru. Ical mengaku selalu ingin merasakan bagaimana suasana di setiap tempat yang dikunjungi.

Setelah dirasa cukup, barulah ia lanjutkan perjalanan. Sebelum tiba di Kota Singaraja, Ical ternyata juga sempat singgah di Kota Denpasar, lalu ke beberapa tempat di Kabupaten Badung seperti Uluwatu, Kuta dan juga tempat wisata lainnya.

Datang menggunakan mobil Daihatsu Zebra tua berwarna putih kombinasi biru muda yang ditambah dengan printilan untuk menonjolkan kesan klasik dan retro. Kehadiran Twntycoffee di Singaraja cukup berhasil menjadi perhatian.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Lampu remang di dalam mobilnya pun menambah romansa yang sangat klasik. Tidak jarang banyak di antara pelanggan tertarik naik ke dalam mobil ingin merasakann sensasinya sambari melihat proses meracik kopi yang sedang mereka pesan.

“Di Singaraja saya berjualan mulai sore sampai malam, kadang sampai jam satu pagi kalau weekend. Tempatnya pun berpindah-pindah seperti di kawasan Pantai Penimbangan, di depan SMA N 1 Singaraja dan sekarang di Dewi Sartika,” kata Ical.

Di halaman media sosial Instagram yang diberi nama @twntytoo.coffee Ical selalu melakukan interaksi dan mengabadikan perjalannya sehingga para follower Twntytoo Coffee mengetahui update lokasi perjalannya serta memberitahu menu apa saja yang tersedia saat itu.

Twntytoo Coffee menyediakan menu kopi yang cukup beragam, kita bisa memilih mulai dari kopi lokal daerah yang dikunjungi hingga pilihan kopi seperti espresso, latte, cappuccino dan lainnya.

Untuk yang tidak suka meminum kopi, Ical harus berdamai dengan fakta seperti itu. Ia pun sudah menyediakan menu non kopi serta tambahan roti bakar yang bisa dipesan.

Untuk kopi lokal Singaraja, Ical memilih kopi robusta dari Desa Lemukih. Selain menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Buleleng, kopi Desa Lemukih ini memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dari pada kopi arabika sehingga cocok dijadikan bahan dasar untuk membuat espresso terutama jika dicampur dengan jenis kopi lain atau susu.

Kawasan Jalan Dewi Sartika Singaraja saat malam hari biasanya sepi, lampu penerangan jalan yang jumlahnya tidak banyak membuat kawasan itu muram. Setelah Twntycoffee hadir setidaknya suasana sedikit berubah. Selepas senja kawasan sebelah barat kampus FBS Undiksha ini menjadi hidup dan bermetamorfosis menjadi episentrum baru bagi para pecinta kopi di Singaraja.

Banyak mahasiswa atau warga yang datang membeli kopi di sana. Harganya yang terjangkau, dan lokasi yang strategis juga membuat Twntytoo Coffee dijadikan pilihan karena konsumen bisa langsung grab-and-go tanpa harus berjalan jauh atau terlalu lama mengantri di coffee shop konvensional.

Konsumen juga bisa dengan akrab berinteraksi dengan Ical sebagai barista kopi. Interaksi yang tidak hanya tentang memesan, tetapi juga terciptanya suasana yang fun yang bisa menjadi jeda singkat yang menyegarkan dari padatnya rutinitas kuliah atau pekerjaan.

Ical juga sering menciptakan elemen kejutan-kejutan kecil kepada pelanggannya. Pada kunjungan saya pertama misalnya, Ical memberikan shot espresso serta dua buah stiker kecil untuk kenang-kenangan. 

Hal itu jarang ditemukan di barista coffee shop konvensional. Keakraban yang dibangun secara cepat, tulus dan juga konsisten. Hubungan yang personal inilah yang membuat kita ingin datang dan datang lagi.

Tetapi sayang sekali, pencinta Twntytoo harus menyadari bahwa kalimat yang ditulis pada kaca sebelah kiri mobilnya tentang  “Kopi dan Perjalanan” memang harus dilakukan. Ical harus melanjutkan perjalannya.

Mobil yang dijadikan kedai kopi

Ditemani mobil kesayangannya, di penghujung bulan Nopember ini ia mengaku harus melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Jawa. Perjalanan yang harus meninggalkan Singaraja, perjalanan yang mungkin sedikit panjang, sedikit pelan- pelan, dan tidak berujung.

Melanjutkan sebuah perjalanan tanpa batasan waktu, setiap kilometer seakan membawanya tidak hanya ke tempat yang baru, tetapi juga ke sisi lain dari tempat yang sudah pernah dikunjungi.

Perjalanan yang bukan hanya mementingkan jarak, melainkan keberanian untuk terus melaju maju, tidak takut berhenti sampai saatnya benar- benar harus kembali.

Kembali karena pedal gas tidak diinjak lagi, mesin mobil yang sudah tidak ada yang menghidupkan, sampai saat kepulangan abadi benar benar memanggilnya kembali.

Sampai bertemu lagi Bung Ical, di lain waktu, di lain kesempatan, dengan perjalanan yang masih sama, dengan rasa kopi yang tidak berubah, di kota Singaraja yang asik ini. [T]

Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: coffee shopkopiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Soul Art Exhibition’: Memaknai Jejak Spiritual di Persimpangan Dialog antara Tuhan, Manusia, dan Alam

Next Post

‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

'Purusa: Wedding Sacred', Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co