DI antara hamparan sawah Ketewel dan desir angin laut Gianyar, Masa Masa kembali bersiap menjadi tempat pertemuan tubuh-tubuh yang berpikir dan bergerak. Dari 4 hingga 6 November 2025, Bali Performing Arts Meeting (B-PART) akan kembali digelar — bukan sekadar festival, melainkan laboratorium hidup tempat seni, riset, dan pengetahuan saling bersentuhan.
Di tengah lanskap Bali yang kerap direduksi menjadi sekadar destinasi wisata, B-PART mengajak publik memandang pulau ini sebagai ruang pengetahuan bersama — tempat pluralitas pengalaman manusia dipertemukan dan dirayakan. Sejak pertama kali hadir pada 2023, B-PART tumbuh sebagai festival mikro-laboratorium yang menghadirkan seni pertunjukan dalam lintasan ide, eksperimen, dan percakapan lintas disiplin. Tahun 2025 menjadi simpul terakhir dari tema tiga tahunan “Raga, Ruang, Ragam (Living Bodies, Shared Spaces, Plural Lifeways)” sebelum bertransformasi menjadi festival dwitahunan.
Selama tiga tahun terakhir, tema besar ini menjadi semacam kompas kuratorial yang mengarahkan perjalanan B-PART — bergerak dari tubuh (raga), menuju ruang, hingga ke keragaman cara hidup. “Raga, ruang, dan ragam menjadi tiga poros konseptual yang bekerja simultan dalam membaca kehidupan dan praktik artistik di Bali,” ujar Wayan Sumahardika, Founder & Direktur B-PART 2023-2025.
“Raga kami pahami sebagai subjek yang bernapas dan menyimpan pengalaman, sekaligus menegosiasikan relasi antara individu dan komunitas. Ruang hadir sebagai arena sosial, ekologis, dan spiritual tempat tubuh-tubuh hidup berjumpa dan berinteraksi. Sementara ragam menjadi artikulasi artistik yang adaptif — sebuah bentuk respons terhadap kenyataan sosial, politik, dan budaya yang terus berubah.”
Dari kerangka berpikir itu, setiap pertunjukan di B-PART tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang eksperimental yang mempertemukan seniman, peneliti, dan penonton dalam pengalaman bersama. Tubuh menjadi metode berpikir, ruang menjadi medan pertukaran, dan ragam menjadi cara untuk terus beradaptasi terhadap dunia yang berubah.
Lebih dari sekadar lokasi, Bali dalam kerangka B-PART dipahami sebagai ruang epistemik — tempat ide, harapan, dan kenyataan sosial warga bernegosiasi setiap hari. “Kami ingin menjadikan Bali bukan sekadar destinasi, tetapi medan hidup tempat ide-ide baru bisa tumbuh,” lanjut Suma. “Setiap pertemuan di B-PART adalah cara tubuh belajar mendengar kembali Bali — secara kritis dan reflektif.”
Sebelum festival utama dimulai, B-PART 2025 membuka rangkaiannya dengan pra-acara pada 3 November 2025 di Masa Masa Restaurant. Agenda ini menandai pembukaan Bali Critical Notes Forum, sebuah ruang percakapan bertajuk “Kritik yang Berpikir Bersama Pertunjukan: Dialog tentang Ruang Tumbuh Penulisan Kritik Seni Pertunjukan Bali dan Indonesia.” Forum ini menghadirkan Ugoran Prasad dalam dialog terbuka, sekaligus menjadi momentum peluncuran buku Mukadimah Gelagat Liar terbitan Sokong Publish. Pra-acara ini juga membuka lokakarya “Menulis Kritik Bersama Pertunjukan”, yang mempertemukan para penulis dan pengulas seni dari berbagai wilayah Indonesia untuk membangun bahasa kritik baru yang hidup di tengah praktik seni pertunjukan kontemporer.
Memasuki program utama, selama tiga hari, Masa Masa akan dipenuhi oleh pertunjukan lintas disiplin dari dalam dan luar negeri — mempertemukan tubuh, gagasan, dan konteks sosial dalam satu ruang bersama. Di antara karya yang hadir adalah Aguru Waktra oleh Lemah Tulis (Bali), Comot oleh Kysha Ashreen (Singapura), Indonesian Dreams oleh Haifa Marwan (Jakarta), Soft Square oleh Razan Wirjosandjojo (Solo), Musik & Aksara oleh Renggama (Buleleng), Muay Thai Gym oleh Fight Right (Denpasar), Making New Skin oleh Kai Tuchmann (Jerman), Last War oleh DekJall (Aceh), Sejak Padi Mengakar oleh Gusbang (Bali), Jnana, Dasa Aksara, Kanda Pat oleh Pasek Wijaya (Klungkung), Angob Rare: Maliang-liang oleh Kerta Art (Bali), Kartokoreografi v1.0 oleh Enji Sekar (Yogyakarta), Cercle oleh Olé Khamchanla (Laos–Prancis), dan Before the Pulse Fails oleh Wayan Gde Yudane serta Putu Septa (Bali).
Karya-karya ini membentuk lanskap pertunjukan yang plural — dari meditasi koreografis yang intim hingga eksplorasi performatif yang politis dan eksperimental. Setiap karya menjadi medan pertemuan baru antara tubuh, ruang, dan ingatan, menjadikan B-PART sebagai ruang penciptaan yang tidak hanya menampilkan hasil, tetapi juga membuka proses dan percakapan di dalamnya.
B-PART dan Kolaborasi bersama Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya
Tahun ini, B-PART juga berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, sebuah program prioritas nasional yang bertujuan menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan. Kolaborasi ini terbagi ke dalam tiga skema utama: MTN Lab, MTN Presentasi, dan MTN Market — yang bersama-sama membentuk jembatan antara riset artistik, presentasi karya, dan penguatan jejaring pasar seni pertunjukan di Indonesia.
Melalui sinergi ini, B-PART tidak hanya menjadi ruang pamer karya, melainkan juga ekosistem pembelajaran tempat seniman, kurator, penulis, dan pengelola festival saling berjejaring untuk membangun sistem pertunjukan yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing.
Salah satu sorotan penting tahun ini adalah MTN Market x B-PART 2025, forum profesional bertajuk “Menumbuhkan Pasar Seni Pertunjukan di Indonesia: Melihat Kekhasan dan Kepentingan Bersama.” Forum ini mempertemukan beragam inisiatif festival dan pelaku seni pertunjukan dari seluruh Indonesia — mulai dari BPAF / Pseudo Entertainment, Djakarta International Theater Platform (DITP), Festival Kebudayaan Yogyakarta, Festival Mentari, Garasi Performance Institute, Indonesian Dance Festival (IDF), Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), JICON, Kala Monolog, Katalis Kolektif Koreografi, Paradance Festival, Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest), Solo International Performing Arts (SIPA), Sasikirana Koreolab, Studio Plesungan, West Sumatra Performing Arts Market (WESPAM), hingga Yayasan Kelola.
Melalui pertemuan ini, B-PART menegaskan kembali posisi pasar sebagai ekosistem keberlanjutan, bukan sekadar ruang transaksi. MTN Market mengupayakan agar karya seni tidak berhenti di ruang produksi, tetapi menemukan jalannya menuju penonton, jejaring, dan pasar yang relevan — baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kerangka MTN Lab, B-PART mempersembahkan program “Bali in Between: Residency & Dialogues”, sebuah residensi yang mempertemukan seniman dan penulis dari berbagai wilayah Indonesia dalam proses reflektif yang menjelajahi batas antara riset dan performativitas. Program ini terbagi menjadi dua fokus utama: presentasi karya dan platform performatif sebagai ruang uji coba gagasan, serta lokakarya penulisan kritik yang difasilitasi oleh para pengulas dan peneliti seni pertunjukan.
Alih-alih mengejar hasil akhir, residensi ini menekankan nilai pertemuan dan resonansi. Setiap percakapan, catatan, dan gerak tubuh menjadi bagian dari proses belajar yang tak terputus — residensi yang hidup karena perjumpaan, bukan karena pencapaian.
Sementara itu, dalam skema MTN Presentasi, karya Dukhakala Vol. 2: Di Bawah Gundukan oleh Mendalo Dance Project (Padang Panjang, Sumatera Barat) menjadi salah satu penanda penting sinergi antara B-PART dan MTN. Karya koreografer Kurniadi Ilham ini menelusuri lapisan tubuh, tanah, dan ingatan — mengajak penonton menyelami ruang permenungan tentang duka, kehilangan, dan regenerasi. Melalui gerak yang subtil dan atmosfer yang intim, Dukhakala Vol. 2 menghidupkan percakapan senyap tentang waktu dan penyembuhan yang berjalan di tubuh kolektif manusia.
Selain menghadirkan pertunjukan, B-PART membuka ruang refleksi kritis melalui forum dramaturgi dan diskusi publik seperti Tur Budaya Bali In-Situ Walk, Majelis Dramaturgi, Silang Bincang: Bali yang Dibawa / Dilihat / Disinggahi, dan Percakapan dari Festival ke Ekosistem. Forum-forum ini mempertemukan seniman, kurator, dan peneliti untuk membedah relasi antara karya, tempat, dan konteks sosialnya. Setiap percakapan menjadi upaya menulis ulang narasi seni pertunjukan di Indonesia — bukan dari pusat ke pinggiran, tetapi dari arah yang jamak dan saling menyapa.
Rangkaian B-PART 2025 akan ditutup pada 8 November 2025 dengan presentasi riset artistik Dekolonial Expo & Bali oleh Mulawali Institute, yang menampilkan pertunjukan The (Famous) Squatting Dance serta sesi Silang Bincang tentang Regenerative Tourism & Alternative Curricula in Bali bersama Pesraman Air dan TK Rumah Mentari.
B-PART: Mikro-Lab Festival Seni Pertunjukan Kontemporer Bali
Dalam refleksi perjalanan tiga tahunnya, B-PART 2023–2025 berupaya membuka ruang bagi tubuh-tubuh Bali untuk menemukan kembali otonominya; bagi ruang untuk berfungsi sebagai simpul kolektif; dan bagi ragam untuk tampil dalam pluralitas yang hidup dan dinamis. Festival ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan bukan hanya peristiwa artistik, tetapi juga cara hidup dan cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa tubuh adalah arsip pengetahuan, ruang adalah percakapan, dan ragam adalah napas keberlanjutan.
B-PART tumbuh dari kesadaran bahwa festival bukan sekadar panggung perayaan, melainkan juga ruang refleksi sosial. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, B-PART memilih menjadi jembatan — menyatukan praktik, pengalaman, dan pengetahuan. Berakar di Bali, namun beresonansi ke dunia, B-PART menjadi ruang lintas yang memelihara pertukaran gagasan antara lokalitas dan globalitas.
Diselenggarakan oleh Mulawali Institute, bekerja sama dengan Jelana Creative Movement, Kelompok Sekali Pentas, Komunitas Aghumi, dan Satu Frekuensi Films, B-PART 2025 menjadi penutup satu fase perjalanan yang kaya dan reflektif. Sebagaimana Bali yang tak pernah selesai ditafsirkan, B-PART juga tidak berakhir; ia diharapkan terus bertransformasi, membuka pertemuan baru, dan menumbuhkan kehidupan yang terus bergerak. [T]
Denpasar, 2025
💳 Pembelian Tiket Online / Online Purchase:
🔗 linktr.ee/b.part
📞 Kontak / Contact:
Rita — +62 858-4759-1506



























