PELAYAN yang biasanya menyapa mereka tidak ada malam itu. Nadine memperhatikan pintu sebentar, seolah menunggu seseorang yang tidak akan datang. Angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya, membuat rambutnya tergerai dan beberapa ujungnya menempel di pipi. Langkahnya pelan, tapi pasti, seolah tubuhnya sudah menghapal jalan ini. Di seberang, Leo melambaikan tangan, wajahnya setengah diterpa cahaya lampu jalan.
Minggu malam selalu sepi. Kedai kopi ini seperti menahan napas di hari terakhir sebelum Senin. Hanya mereka berdua yang datang malam itu, setidaknya sejauh ini. Pelayan magang di balik meja menyambut dengan senyum kaku.
“Pesanan atas nama siapa?” tanya pelayan itu.
“Leo, Kak,” jawab Leo, agak ragu. Pelayan yang lama tak pernah perlu bertanya. Mereka sudah dikenalnya.
Tanpa menunggu, Nadine melangkah menuju pojok kanan, tempat kipas angin berputar malas di atas kepala. Ia duduk di kursi yang sama seperti setiap minggu. Leo mengikutinya, duduk di seberang, sedikit tidak sejajar, seperti dua bidak catur yang saling menimbang langkah.
“Minggu ini aku lebih sibuk dari biasanya,” kata Leo sambil menunduk ke ponselnya, dua jempolnya menari cepat di layar.
Nadine menatap ke arah lain. “Pasti lelah, ya?” suaranya datar, matanya mengarah ke pasangan di meja sebelah: si perempuan dengan kedua tangannya sibuk, si pria menatapnya dengan benar-benar mendengar.
Jam dinding di atas kepala Nadine berdetak lambat, detiknya menembus sunyi. Ia mengetukkan ujung sepatunya pelan ke lantai, waktu tak mau berjalan.
Aroma kopi yang hangat membuat ingatan Nadine bergeser ke minggu kedua bulan Agustus, tahun lalu. Saat mereka pertama kali datang ke sini. Waktu itu, tempat ini begitu tenang hingga Nadine bisa menumpahkan isi hatinya tanpa takut ada yang mendengar. Leo pun mendengarkannya dengan seksama.
Setelah beberes, Nadine berkata, “Kali ini aku yang bayar, ya?”
Leo tertawa kecil. “Iya Din”
Tapi sejak akhir tahun, ketika Leo naik jabatan, sesuatu perlahan bergeser. Ia mulai merasa semua hal adalah tanggungannya. Makan, keputusan, bahkan diam. Rasa sayangnya berubah bentuk menjadi kebiasaan. Di antara kebiasaan itu, sayang dan kuasa hanya dipisahkan garis yang sangat tipis. Pelayan datang membawa dua gelas, Nadine berhenti ke masa lalu.
“Pesanan atas nama Lio?” tanyanya.
Leo mengangkat tangan, tersenyum kecil. Nadine hanya menatap kopi hitam di depannya.
Leo teringat sesuatu, waktu itu Nadine marah karena pelayan menulis nama Leo salah.
“Leo, bukan Lio,” katanya waktu itu dengan nada tinggi.
Leo menenangkan, “Gapapa, kedengarannya masih mirip, kan?” Ia menambahkan, “Makasih, ya. Udah perhatian sama hal-hal kecil.”
Nadine tersipu waktu itu. Kini, memori itu datang seperti sinar samar dari masa yang lain.
Sunyi mengendap di antara mereka. Leo menghela napas. “Maaf. Aku salah. Aku bikin kamu ngerasa gak ada.”
Nadine menatap meja sejenak sebelum mengangkat pandangan. “Semuanya ada pelajarannya masing-masing, kan? Aku juga minta maaf, karena gak bisa jujur soal apa yang aku rasain”
Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka saling bertemu.
Nadine akhirnya berdiri. “Lain kali kita ketemu lagi, ya? Hari ini aku capek.”
Leo mengangguk pelan. Mereka berjalan menuju kasir, langkahnya beriring tapi tidak bersamaan, seperti dua bidak yang memilih berpapasan. Leo menatap layar kasir, tangannya membatalkan rencananya merogoh saku celana kanan. Leo berbalik ke Nadine.
“Kali ini aku yang bayar, ya?” tanyanya pelan.
Senyum Nadine muncul perlahan, hangat, jujur. “Iya.”
Bersama senyumnya, Nadine menghembuskan napasnya keluar bersama sesuatu yang lama ia simpan. Mungkin beban, mungkin cinta. Untuk sesaat, ia merasa dilibatkan lagi. Di antara aroma kopi yang perlahan mendingin, Leo tahu, beberapa senyum tidak berarti selamat tinggal, tapi juga tidak menjanjikan pulang. [T]
Penulis: I Made Dwipayana
Editor: Adnyana Ole



























