15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nanda Gayatri | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
October 26, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Nanda Gayatri  | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri

OH, MEME, IBUKU!

Bunga rampai di atas janur dipersembahkan
Di bawah ketupat aku melihat, sebilah pisau
Perempuan-perempuan menari terbelenggu
Bergumam menghadap Bhatara

Entah apa,
Pandangan, rasa, dan jiwa saling tertaut
Semesta tak kunjung memberi jawaban
Meme, tak perlu kau paksakan kegamangan itu

Me, dewi-dewi itu sama sepertimu, dikultuskan
Mitos-mitos pelayanan beterbangan
Me, lihat! burung-burung dan pepohonan itu bebas
Sedang kita?

Me, wajah lelah itu, ku sayang
Tak perlu dupa, gumitir, bahkan pacar seribu!
Tubuhmu suci.
Tirta suci itu, Me,
Keruh kecoklatan rasa bangkai pun,
Dicipratkan mantra; ‘Atas nama Gangga!’
;melahirkan kembali berjuta kemurnian

Me, ritual leluhur yang tak kau pahami
Pun aku juga
Meme, aku ingin kamu utuh
Tanpa sajen para dewa, tanpa kain putih kuning
Tanggalkan bambu kecil pengait janur, Me
Meme, Ibuku!

Tersiksa aku, Me
Kematianmu nanti,
Ritus-ritus kuluputkan,
Jiwamu tak perlu itu,
Kan kuhangatkan tanpa asap menyan
Kukuburkan bersama sebilah pisau dalam rahim
Kau wangi, Me! Oh Meme, Ibuku!

DOA

Ada hari dimana awan kelabu
Doa-doa dijunjung
Insan berbincang soal kematian
Mendongak menunduk

Bergemuruh kilat menyambar
Indra murka, didentumkannya palu Thor
Penuh kegamangan
Riuk suara bebunyian,
Gemericik suara di angkasa
Para nabi berbincang, pendosa dibungkam

Sungguh tak adil,
Siapa yang bisa disebut pendosa?
Pelacur yang selalu mengupayakan segenggam nasi
atau iblis-iblis di istana berjubah sutra,
Meminum anggur merah penuh derita

Serakah tawa mereka,
merayakan pengasingan
Tanah-tanah diratakan
Tak lagi kudengar kidung petani,
Bahkan kicau burung

Pengadilan tak pernah adil.
Di bumi atau bahkan mungkin di akhirat.
Para penggembala disiksa, dihukum, dicabik
Hingga ajal menjemput
Tanpa kebenaran, mereka bukan pendosa.

Terkutuk! Terkutuklah engkau!
Tak perlu aku didoakan,
Aku hanya ingin kembali,
Bermesraan dengan pertiwi.

INI SORGA BUKAN?

Mawar hitam ku taburkan depan pintu sorga
Merayakan duka, di tangan kanan menenteng payung
Rasanya kulihat malaikat itu, malam gelap
Terhisap nafsu

Bayang-bayang asap menari kegirangan penuh
Santapan terlihat lezat, remahan sedap
Sebab anjing meraung sangat keras

Bayang-bayang itu mendekat,
Semakin mendekat,
Aku takut.
Dikejar,
Aku diam, terpaku.

Ditelanjangi bak Drupadi
Sialan! Tak ada Krisna di samping
Dihabisi kain menyentuh kulit.

Itu malam gelap.
Ketika tubuhku terbilah-bilah depan pintu
Waktu berdetak,
Marsinah ada di sana
1 Marsinah, kemudian 2, 3 hingga 1001

Lamat-lamat kutatap
Tubuh terbilah itu bau anyir
Darah mengalir
Dikoyak-koyak benda tumpul
Tersisa dalam perut tertusuk
Panas.

Payungku dirampas,
Malaikat biadab,
Hujan datang,
Malaikat biadab,
Payungku dirampas

Sudah mati.
Ini sorga bukan?
Teriak 1001 Marsinah.

 

KERETA MALAM

Di stasiun kuperhatikan,
manusia berlalu-lalang
Penuh keriuhan,
sedang aku tenggelam

Menatap nanar pada sepatu-sepatu usang,
membanting tulang
Menukar pohon tua untuk hidup dalam sangkar
Tak pernah dinikmati

Di kereta ini, aku merasa kecil
Gelisah,
pada sebuah fakta, bahwa;
tak akan kita lihat lagi padi-padi menguning merunduk
Bak bulan tertutup polusi berkabut

Di setiap stasiun, yang tak berkepentingan berhamburan
Tak perlu menunggu pemberhentian terakhir
Optimisme semakin memuncak setiap fajar,
Untuk sebutir pil beras penuh ilusi
Dimasukkan ke dalam perut tanpa ruh

Pukul dua belas malam, gemilang angkuh lampu kota menemani
Tergantikan cahaya terang Ilahi,
Belum sempat tersambar Sang Yama
Terengah-engah aku turun,
Keluar menghadapi jiwa-jiwa kelaparan
Bapa tersenyum,
“Cantik”, katanya.
Menghibur perubahan dalam jeruji kebisingan
Sepi memudar,
Mendoakan gadis kecilnya,
Semoga sehat selalu.

RUMAHKU

Fermentasi lontar + kopi dingin sisa perdebatan
Asap kretek, perut kosong
Menghangatkan setiap rongga dalam tubuh
Di bawah pohon mangga, pun menghadap pohon durian

Perempuan bernyanyi santai, satunya bekerja keras memelihara
Menghasilkan susu sapi, terperah
Berpayungkan romantisme pembaruan
Mengalunkan nada kecemerlangan
Lelaki bertelanjang dada mengupayakan ketidakmungkinan

Bangun pagi tanpa arah,
Pulang tanpa harap
Melingkar kembali membentuk persekutuan kecil
Buku-buku kemakmuran serupa pajangan
Membentang menggaungkan pesimisme, pun bahasa kawan

Tetap di sini, merangkul
Meluapkan uap sisa kabut semalam
Tetes-tetesnya diusap oleh tangan kecil
Direnggut perpisahan

Pabila reinkarnasi betulan ada,
Ingin ku kecap penderitaan bersama,
sekali lagi.
Ditempatkan di tengah lingkar kecil
Mengharap hidup berjalan lambat

Untukku, untukmu, untuk kita semua.
Dihadapan botol-botol kosong
dan cangkir bekas ribuan mayat hidup.
Serupa bunga matahari tertanam dalam plastik bekas pembawa penderitaan.
Mari kita upayakan lagi, omong kosong berkepanjangan.
Di dalam sepetak ruang, di luar kebun harapan.
Tumbuh, tumbuhlah liar serupa gulma.
Di hadapan pohon pisang serba guna.

.

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Next Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co