26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nanda Gayatri | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
October 26, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Nanda Gayatri  | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri

OH, MEME, IBUKU!

Bunga rampai di atas janur dipersembahkan
Di bawah ketupat aku melihat, sebilah pisau
Perempuan-perempuan menari terbelenggu
Bergumam menghadap Bhatara

Entah apa,
Pandangan, rasa, dan jiwa saling tertaut
Semesta tak kunjung memberi jawaban
Meme, tak perlu kau paksakan kegamangan itu

Me, dewi-dewi itu sama sepertimu, dikultuskan
Mitos-mitos pelayanan beterbangan
Me, lihat! burung-burung dan pepohonan itu bebas
Sedang kita?

Me, wajah lelah itu, ku sayang
Tak perlu dupa, gumitir, bahkan pacar seribu!
Tubuhmu suci.
Tirta suci itu, Me,
Keruh kecoklatan rasa bangkai pun,
Dicipratkan mantra; ‘Atas nama Gangga!’
;melahirkan kembali berjuta kemurnian

Me, ritual leluhur yang tak kau pahami
Pun aku juga
Meme, aku ingin kamu utuh
Tanpa sajen para dewa, tanpa kain putih kuning
Tanggalkan bambu kecil pengait janur, Me
Meme, Ibuku!

Tersiksa aku, Me
Kematianmu nanti,
Ritus-ritus kuluputkan,
Jiwamu tak perlu itu,
Kan kuhangatkan tanpa asap menyan
Kukuburkan bersama sebilah pisau dalam rahim
Kau wangi, Me! Oh Meme, Ibuku!

DOA

Ada hari dimana awan kelabu
Doa-doa dijunjung
Insan berbincang soal kematian
Mendongak menunduk

Bergemuruh kilat menyambar
Indra murka, didentumkannya palu Thor
Penuh kegamangan
Riuk suara bebunyian,
Gemericik suara di angkasa
Para nabi berbincang, pendosa dibungkam

Sungguh tak adil,
Siapa yang bisa disebut pendosa?
Pelacur yang selalu mengupayakan segenggam nasi
atau iblis-iblis di istana berjubah sutra,
Meminum anggur merah penuh derita

Serakah tawa mereka,
merayakan pengasingan
Tanah-tanah diratakan
Tak lagi kudengar kidung petani,
Bahkan kicau burung

Pengadilan tak pernah adil.
Di bumi atau bahkan mungkin di akhirat.
Para penggembala disiksa, dihukum, dicabik
Hingga ajal menjemput
Tanpa kebenaran, mereka bukan pendosa.

Terkutuk! Terkutuklah engkau!
Tak perlu aku didoakan,
Aku hanya ingin kembali,
Bermesraan dengan pertiwi.

INI SORGA BUKAN?

Mawar hitam ku taburkan depan pintu sorga
Merayakan duka, di tangan kanan menenteng payung
Rasanya kulihat malaikat itu, malam gelap
Terhisap nafsu

Bayang-bayang asap menari kegirangan penuh
Santapan terlihat lezat, remahan sedap
Sebab anjing meraung sangat keras

Bayang-bayang itu mendekat,
Semakin mendekat,
Aku takut.
Dikejar,
Aku diam, terpaku.

Ditelanjangi bak Drupadi
Sialan! Tak ada Krisna di samping
Dihabisi kain menyentuh kulit.

Itu malam gelap.
Ketika tubuhku terbilah-bilah depan pintu
Waktu berdetak,
Marsinah ada di sana
1 Marsinah, kemudian 2, 3 hingga 1001

Lamat-lamat kutatap
Tubuh terbilah itu bau anyir
Darah mengalir
Dikoyak-koyak benda tumpul
Tersisa dalam perut tertusuk
Panas.

Payungku dirampas,
Malaikat biadab,
Hujan datang,
Malaikat biadab,
Payungku dirampas

Sudah mati.
Ini sorga bukan?
Teriak 1001 Marsinah.

 

KERETA MALAM

Di stasiun kuperhatikan,
manusia berlalu-lalang
Penuh keriuhan,
sedang aku tenggelam

Menatap nanar pada sepatu-sepatu usang,
membanting tulang
Menukar pohon tua untuk hidup dalam sangkar
Tak pernah dinikmati

Di kereta ini, aku merasa kecil
Gelisah,
pada sebuah fakta, bahwa;
tak akan kita lihat lagi padi-padi menguning merunduk
Bak bulan tertutup polusi berkabut

Di setiap stasiun, yang tak berkepentingan berhamburan
Tak perlu menunggu pemberhentian terakhir
Optimisme semakin memuncak setiap fajar,
Untuk sebutir pil beras penuh ilusi
Dimasukkan ke dalam perut tanpa ruh

Pukul dua belas malam, gemilang angkuh lampu kota menemani
Tergantikan cahaya terang Ilahi,
Belum sempat tersambar Sang Yama
Terengah-engah aku turun,
Keluar menghadapi jiwa-jiwa kelaparan
Bapa tersenyum,
“Cantik”, katanya.
Menghibur perubahan dalam jeruji kebisingan
Sepi memudar,
Mendoakan gadis kecilnya,
Semoga sehat selalu.

RUMAHKU

Fermentasi lontar + kopi dingin sisa perdebatan
Asap kretek, perut kosong
Menghangatkan setiap rongga dalam tubuh
Di bawah pohon mangga, pun menghadap pohon durian

Perempuan bernyanyi santai, satunya bekerja keras memelihara
Menghasilkan susu sapi, terperah
Berpayungkan romantisme pembaruan
Mengalunkan nada kecemerlangan
Lelaki bertelanjang dada mengupayakan ketidakmungkinan

Bangun pagi tanpa arah,
Pulang tanpa harap
Melingkar kembali membentuk persekutuan kecil
Buku-buku kemakmuran serupa pajangan
Membentang menggaungkan pesimisme, pun bahasa kawan

Tetap di sini, merangkul
Meluapkan uap sisa kabut semalam
Tetes-tetesnya diusap oleh tangan kecil
Direnggut perpisahan

Pabila reinkarnasi betulan ada,
Ingin ku kecap penderitaan bersama,
sekali lagi.
Ditempatkan di tengah lingkar kecil
Mengharap hidup berjalan lambat

Untukku, untukmu, untuk kita semua.
Dihadapan botol-botol kosong
dan cangkir bekas ribuan mayat hidup.
Serupa bunga matahari tertanam dalam plastik bekas pembawa penderitaan.
Mari kita upayakan lagi, omong kosong berkepanjangan.
Di dalam sepetak ruang, di luar kebun harapan.
Tumbuh, tumbuhlah liar serupa gulma.
Di hadapan pohon pisang serba guna.

.

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Next Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co