4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nanda Gayatri | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
October 26, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Nanda Gayatri  | Oh, Meme, Ibuku

Nanda Gayatri

OH, MEME, IBUKU!

Bunga rampai di atas janur dipersembahkan
Di bawah ketupat aku melihat, sebilah pisau
Perempuan-perempuan menari terbelenggu
Bergumam menghadap Bhatara

Entah apa,
Pandangan, rasa, dan jiwa saling tertaut
Semesta tak kunjung memberi jawaban
Meme, tak perlu kau paksakan kegamangan itu

Me, dewi-dewi itu sama sepertimu, dikultuskan
Mitos-mitos pelayanan beterbangan
Me, lihat! burung-burung dan pepohonan itu bebas
Sedang kita?

Me, wajah lelah itu, ku sayang
Tak perlu dupa, gumitir, bahkan pacar seribu!
Tubuhmu suci.
Tirta suci itu, Me,
Keruh kecoklatan rasa bangkai pun,
Dicipratkan mantra; ‘Atas nama Gangga!’
;melahirkan kembali berjuta kemurnian

Me, ritual leluhur yang tak kau pahami
Pun aku juga
Meme, aku ingin kamu utuh
Tanpa sajen para dewa, tanpa kain putih kuning
Tanggalkan bambu kecil pengait janur, Me
Meme, Ibuku!

Tersiksa aku, Me
Kematianmu nanti,
Ritus-ritus kuluputkan,
Jiwamu tak perlu itu,
Kan kuhangatkan tanpa asap menyan
Kukuburkan bersama sebilah pisau dalam rahim
Kau wangi, Me! Oh Meme, Ibuku!

DOA

Ada hari dimana awan kelabu
Doa-doa dijunjung
Insan berbincang soal kematian
Mendongak menunduk

Bergemuruh kilat menyambar
Indra murka, didentumkannya palu Thor
Penuh kegamangan
Riuk suara bebunyian,
Gemericik suara di angkasa
Para nabi berbincang, pendosa dibungkam

Sungguh tak adil,
Siapa yang bisa disebut pendosa?
Pelacur yang selalu mengupayakan segenggam nasi
atau iblis-iblis di istana berjubah sutra,
Meminum anggur merah penuh derita

Serakah tawa mereka,
merayakan pengasingan
Tanah-tanah diratakan
Tak lagi kudengar kidung petani,
Bahkan kicau burung

Pengadilan tak pernah adil.
Di bumi atau bahkan mungkin di akhirat.
Para penggembala disiksa, dihukum, dicabik
Hingga ajal menjemput
Tanpa kebenaran, mereka bukan pendosa.

Terkutuk! Terkutuklah engkau!
Tak perlu aku didoakan,
Aku hanya ingin kembali,
Bermesraan dengan pertiwi.

INI SORGA BUKAN?

Mawar hitam ku taburkan depan pintu sorga
Merayakan duka, di tangan kanan menenteng payung
Rasanya kulihat malaikat itu, malam gelap
Terhisap nafsu

Bayang-bayang asap menari kegirangan penuh
Santapan terlihat lezat, remahan sedap
Sebab anjing meraung sangat keras

Bayang-bayang itu mendekat,
Semakin mendekat,
Aku takut.
Dikejar,
Aku diam, terpaku.

Ditelanjangi bak Drupadi
Sialan! Tak ada Krisna di samping
Dihabisi kain menyentuh kulit.

Itu malam gelap.
Ketika tubuhku terbilah-bilah depan pintu
Waktu berdetak,
Marsinah ada di sana
1 Marsinah, kemudian 2, 3 hingga 1001

Lamat-lamat kutatap
Tubuh terbilah itu bau anyir
Darah mengalir
Dikoyak-koyak benda tumpul
Tersisa dalam perut tertusuk
Panas.

Payungku dirampas,
Malaikat biadab,
Hujan datang,
Malaikat biadab,
Payungku dirampas

Sudah mati.
Ini sorga bukan?
Teriak 1001 Marsinah.

 

KERETA MALAM

Di stasiun kuperhatikan,
manusia berlalu-lalang
Penuh keriuhan,
sedang aku tenggelam

Menatap nanar pada sepatu-sepatu usang,
membanting tulang
Menukar pohon tua untuk hidup dalam sangkar
Tak pernah dinikmati

Di kereta ini, aku merasa kecil
Gelisah,
pada sebuah fakta, bahwa;
tak akan kita lihat lagi padi-padi menguning merunduk
Bak bulan tertutup polusi berkabut

Di setiap stasiun, yang tak berkepentingan berhamburan
Tak perlu menunggu pemberhentian terakhir
Optimisme semakin memuncak setiap fajar,
Untuk sebutir pil beras penuh ilusi
Dimasukkan ke dalam perut tanpa ruh

Pukul dua belas malam, gemilang angkuh lampu kota menemani
Tergantikan cahaya terang Ilahi,
Belum sempat tersambar Sang Yama
Terengah-engah aku turun,
Keluar menghadapi jiwa-jiwa kelaparan
Bapa tersenyum,
“Cantik”, katanya.
Menghibur perubahan dalam jeruji kebisingan
Sepi memudar,
Mendoakan gadis kecilnya,
Semoga sehat selalu.

RUMAHKU

Fermentasi lontar + kopi dingin sisa perdebatan
Asap kretek, perut kosong
Menghangatkan setiap rongga dalam tubuh
Di bawah pohon mangga, pun menghadap pohon durian

Perempuan bernyanyi santai, satunya bekerja keras memelihara
Menghasilkan susu sapi, terperah
Berpayungkan romantisme pembaruan
Mengalunkan nada kecemerlangan
Lelaki bertelanjang dada mengupayakan ketidakmungkinan

Bangun pagi tanpa arah,
Pulang tanpa harap
Melingkar kembali membentuk persekutuan kecil
Buku-buku kemakmuran serupa pajangan
Membentang menggaungkan pesimisme, pun bahasa kawan

Tetap di sini, merangkul
Meluapkan uap sisa kabut semalam
Tetes-tetesnya diusap oleh tangan kecil
Direnggut perpisahan

Pabila reinkarnasi betulan ada,
Ingin ku kecap penderitaan bersama,
sekali lagi.
Ditempatkan di tengah lingkar kecil
Mengharap hidup berjalan lambat

Untukku, untukmu, untuk kita semua.
Dihadapan botol-botol kosong
dan cangkir bekas ribuan mayat hidup.
Serupa bunga matahari tertanam dalam plastik bekas pembawa penderitaan.
Mari kita upayakan lagi, omong kosong berkepanjangan.
Di dalam sepetak ruang, di luar kebun harapan.
Tumbuh, tumbuhlah liar serupa gulma.
Di hadapan pohon pisang serba guna.

.

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Next Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co