24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Bali Kini

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 26, 2025
in Esai
Budaya Bali Kini

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebelum berbicara tentang Budaya Bali Kini, saya mencoba bertanya pada diri tentang Budaya Bali Kita?

Kita berarti ada saya di dalamnya, dan juga ada mereka di sisi yang lain.

Saya dan kita saya batasi terkait dengan orang yang menjalani kehidupannya di Bali dalam kurun waktu setelah tahun 1960-an atau yang sempat menikmati kemerdekaan lebih dari 50 tahun sampai tahun 2025 ini. Kita-kita inilah yang bisa melihat sawah luas, gunung hijau dan air jernih dan mendengar “dongeng” orang tua, dan kakek nenek.

Perubahan Pekerjaan Penduduk Bali

Alam Bali (tanah dan air) sejak jaman kemerdekaan relatif sama sampai saat ini. Yang berubah adalah manusia, binatang dan pohon yang hidup di dalamnya.

Data statistik menunjukkan dari luas Bali sekitar 5,880 Km2, tahun 2025 dihuni oleh sekitar 4,46 juta jiwa, dengan jumlah kunjungan wisatawan pada bulan Juli 2025 tercatat mencapai 697,11 ribu. Jadi kalau dipresentasikan akan ada peningkatan sekitar 16 persen penduduk setiap bulan. Yang kalau dirata-ratakan pertahun akan ada tambahan sekitar 8,36 juta penduduk pertahun, dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal, menetap di Bali.

Kondisi ini menimbulkan perubahan besar dan besar-besaran di Bali, terlihat dari gambaran pekerjaan penduduk Bali. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, tanggal 6 Mei 2025, jumlah penduduk Bali yang berkerja sebanyak 2.665.421 orang.

Yang bekerja sebagai tenaga profesional, teknisi dan tenaga lain, 217.820 (8,17), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, 45.722 (1,7), tenaga usaha penjualan 218.236 (8, 2), penjualan jasa 525.852 (20,7), pertanian, perhutanan, perburuan, perikanan 470.397(17), tenaga produksi alat, oprator alat-alat angkutan, pekerja kasar, 895.364 (33,5), pekerja lain 50.000 (1,9). Kondisi ini menggambarkan perubahan besar jenis pekerjaan masyarakat Bali saat ini.

Kebiasaan, Tradisi dan Kebudayaan

Setiap mahluk, tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia mempunyai kebiasaan.
Kebiasaan dikenali dalam rentang waktu hidup setiap jenis mahluk. Pada manusia ada rentang waktu lebih dari 25 tahun (jika diandaikan usia hidup rata- rata manusia Bali saat ini adalah 50 tahun lebih).

Yang paling sederhana adalah mengenali kebiasaan keluarga, pasangan dan sekitar.

Prosentase pengenalan kebiasaan sangat bergantung pada jarak dan waktu. Semakin dekat jarak dan semakin panjang waktu yang dipakai untuk mengenali kebiaasan seseorang/sekelompok orang, pengenalan kebiasaan akan semakin mendekati pemahaman, kesehimbangan, keharmonisan, kebenaran. Mungkin itu sebabnya perkawinan yang sudah memasuki usia 25 tahun disebut perkawinan perak dan perkawinan emas untuk yang sudah memasuki usia perkawinan 50 tahun.

Kumpulan kebiasaan yang baik, dalam keluarga yang mendekati kesehimbangan, keharmonisan menjadi tradisi.

Kebiasaan sekelompok manusia yang sudah dilakukan sejak lama disebut tradisi (kebiasaan yang mentradisi).Tradisi yang dianggap baik, sehimbang dan harmonis ini kemudian dilanjutkan diwariskan dan dilestarikan pada generasi berikutnya dengan cara lisan atau pembiasaan, maupun tertulis, terpahat, tergambar, terbangun, dan tervisualkan dalam berbagai jenis dan bentuk upacara, seni, kerajinan, teknologi, bahasa dan sistem organisasi sosial.

Ada 7 (tujuh) unsur Kebudayaan yang bersifat universal menurut Koentjaraningrat (1990:203), yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sitem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) Sistem religi; dan (7) kesenian.

Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.

Yang kita sebut sebagai budaya Bali, lebih banyak lahir dari prilaku komunal masyarakat Bali jaman dahulu yang hidup sebagai petani yang menetap di suatu daerah, tidak berpindah-pindah. Pola hidup menetap menjadikan masyarakat membuat organisasi sosial, yang memudahkan pengelolaan terhadap unsur alam terutama unsur tanah dan air.

Tanah yang diam/tetap disebut pati bisa berarti mati, juga esensi. Yang tetap/mati perlu dikelola oleh bupati agar bisa memberi hidup pada masyarakat.

Air berubah, bisa dipindah, dikelola untuk menghidupi tanah, agar bisa menghidupi masyarakat.

Pengelolaan atas tanah melahirkan berbagai profesi, salah satunya adalah pengelola air, yang di Bali disebut subak. Organisasi subak melahirkan profesi sebagai: pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir).

Perkembangan manusia untuk hidup menetap, melahirkan budaya bercocok tanam, aneka seni, kerajinan, pertenunan, pertukangan dan lain-lain.

Subak dan Jaman Bali Kuno

Jaman kerajaan Bali Kuna, masyarakat Bali mengenal Subak, sebuah sistem pengelolaan air.

Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali menyimpulkan bahwa kemunculan subak, ditopang oleh profesi seseorang yang terkuak dalam Prasasti Bebetin (896) dan Prasasti Batuan (1022). Menurutnya, “Dua prasasti itu menjelaskan ada tiga kelompok pekerja khusus sawah, salah satunya ahli pembuat terowongan air yang disebut undagi pangarung.” Pekerja ini biasa dipakai dalam subak masa modern.

Menurut Arkeolog I Ketut Setiawan istilah Subak, dipakai sebagai istilah untuk Organisasi Irigasi Pada Pertanian Padi Sawah Masa Bali Kuno. Kata ini ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Subak berasal dari kata suwak terdiri atas dua kata, yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan atau sistem pengaliran air yang baik.

Keterangan lebih jelas mengenai pengelolaan sawah dan irigasi termuat dalam Prasasti Trunyan (891). Dalam prasasti itu tersua kata “serdanu” yang berarti kepala urusan air danau. Ini berarti masyarakat Bali sudah mengenal cara mengelola sawah dan irigasinya pada akhir abad ke-9.

Peradaban Air

Sistem subak Jaman Bali Kuno dapat dikatakan telah mencapai taraf perkembangan pengetahuan yang lebih tinggi terkait dengan pengelolahan air, sehingga bisa disebut sebagai Peradaban air.

Pengetahuan tinggi tentang pengelolaan air ini telah juga diwariskan kepada masyarakat Bali umumnya, dan khususnya pada Pekaseh. Tetapi seberapapun tinggi pengetahuan seseorang tak akan bermanfaat dan tak bisa dimanfaatkan dan dikembangkan jika yang bersangkutan tak menguasi air sebagai obyeknya.

Bali Sebagai NKRI

Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Persoalan tanah dan air di Bali menjadi sangat krusial untuk ditata dan kelola. Kuncinya adalah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat semestinya menjadi prioritas, sehingga air dan tanah dijaga dan dikelola oleh wakil-wakil berkompoten yang terdekat, tetapi tetap dengan pengawasan ketat sehingga tak bisa dikuasai oleh perorangan atau kelompok.

Jika pengelolaan air negara bisa kembali memakai sistem subak maka untuk pengelolaan tanah pemerintah bisa memakai sistem Bali mula yang disebut sebagai “tanah ayahan desa” (yang hanya sesuai dengan kewajiban)

Kebudayaan Bali Kini

Pekerjaan Penduduk Bali kini makin beragam, hanya 17 persen atau 470.397 orang yang bekerja di perpertanian, perhutanan, perburuan, perikanan. Memaksakan untuk tetap berbudaya agraris tentu akan sangat memberatkan.
Sebagian besar masyarakat Bali 33,6 perse atau sebanyak 895.364 kini bekerja sebagai tenaga produksi alat, oprator alat-alat, angkutan dan pekerja kasar, sedang 20,7 persen atau sebanyak 525.852 bekerja dalam penjualan jasa.

Kita menjalani hidup di masa kini, bukan di masa lalu. Tradisi, budaya dan peradaban yang diwariskan oleh leluhur Bali masa lalu itu baik, sangat baik, akan selalu ada dalam DNA kita menjadi penuntun. Kebiasan-kebiasaan yang kita lakukan saat ini secara pribadi dalam keluarga dan kelompok pasti berubah. Mungkin akan lebih sulit dikenali karena faktor ruang yang melebar dan waktu yang menyempit, tetapi justru disanalah tantangannya.

Budaya Bali Kita adalah budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan, dalam ruang yang luas tanpa batas bahkan maya, dan dalam waktu yang dimanpatkan. Kebiasaan-kebiasaan baru ini akan melahirkan tradisi baru dan budaya Bali baru. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Next Post

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co