4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Bali Kini

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 26, 2025
in Esai
Budaya Bali Kini

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebelum berbicara tentang Budaya Bali Kini, saya mencoba bertanya pada diri tentang Budaya Bali Kita?

Kita berarti ada saya di dalamnya, dan juga ada mereka di sisi yang lain.

Saya dan kita saya batasi terkait dengan orang yang menjalani kehidupannya di Bali dalam kurun waktu setelah tahun 1960-an atau yang sempat menikmati kemerdekaan lebih dari 50 tahun sampai tahun 2025 ini. Kita-kita inilah yang bisa melihat sawah luas, gunung hijau dan air jernih dan mendengar “dongeng” orang tua, dan kakek nenek.

Perubahan Pekerjaan Penduduk Bali

Alam Bali (tanah dan air) sejak jaman kemerdekaan relatif sama sampai saat ini. Yang berubah adalah manusia, binatang dan pohon yang hidup di dalamnya.

Data statistik menunjukkan dari luas Bali sekitar 5,880 Km2, tahun 2025 dihuni oleh sekitar 4,46 juta jiwa, dengan jumlah kunjungan wisatawan pada bulan Juli 2025 tercatat mencapai 697,11 ribu. Jadi kalau dipresentasikan akan ada peningkatan sekitar 16 persen penduduk setiap bulan. Yang kalau dirata-ratakan pertahun akan ada tambahan sekitar 8,36 juta penduduk pertahun, dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal, menetap di Bali.

Kondisi ini menimbulkan perubahan besar dan besar-besaran di Bali, terlihat dari gambaran pekerjaan penduduk Bali. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, tanggal 6 Mei 2025, jumlah penduduk Bali yang berkerja sebanyak 2.665.421 orang.

Yang bekerja sebagai tenaga profesional, teknisi dan tenaga lain, 217.820 (8,17), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, 45.722 (1,7), tenaga usaha penjualan 218.236 (8, 2), penjualan jasa 525.852 (20,7), pertanian, perhutanan, perburuan, perikanan 470.397(17), tenaga produksi alat, oprator alat-alat angkutan, pekerja kasar, 895.364 (33,5), pekerja lain 50.000 (1,9). Kondisi ini menggambarkan perubahan besar jenis pekerjaan masyarakat Bali saat ini.

Kebiasaan, Tradisi dan Kebudayaan

Setiap mahluk, tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia mempunyai kebiasaan.
Kebiasaan dikenali dalam rentang waktu hidup setiap jenis mahluk. Pada manusia ada rentang waktu lebih dari 25 tahun (jika diandaikan usia hidup rata- rata manusia Bali saat ini adalah 50 tahun lebih).

Yang paling sederhana adalah mengenali kebiasaan keluarga, pasangan dan sekitar.

Prosentase pengenalan kebiasaan sangat bergantung pada jarak dan waktu. Semakin dekat jarak dan semakin panjang waktu yang dipakai untuk mengenali kebiaasan seseorang/sekelompok orang, pengenalan kebiasaan akan semakin mendekati pemahaman, kesehimbangan, keharmonisan, kebenaran. Mungkin itu sebabnya perkawinan yang sudah memasuki usia 25 tahun disebut perkawinan perak dan perkawinan emas untuk yang sudah memasuki usia perkawinan 50 tahun.

Kumpulan kebiasaan yang baik, dalam keluarga yang mendekati kesehimbangan, keharmonisan menjadi tradisi.

Kebiasaan sekelompok manusia yang sudah dilakukan sejak lama disebut tradisi (kebiasaan yang mentradisi).Tradisi yang dianggap baik, sehimbang dan harmonis ini kemudian dilanjutkan diwariskan dan dilestarikan pada generasi berikutnya dengan cara lisan atau pembiasaan, maupun tertulis, terpahat, tergambar, terbangun, dan tervisualkan dalam berbagai jenis dan bentuk upacara, seni, kerajinan, teknologi, bahasa dan sistem organisasi sosial.

Ada 7 (tujuh) unsur Kebudayaan yang bersifat universal menurut Koentjaraningrat (1990:203), yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sitem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) Sistem religi; dan (7) kesenian.

Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.

Yang kita sebut sebagai budaya Bali, lebih banyak lahir dari prilaku komunal masyarakat Bali jaman dahulu yang hidup sebagai petani yang menetap di suatu daerah, tidak berpindah-pindah. Pola hidup menetap menjadikan masyarakat membuat organisasi sosial, yang memudahkan pengelolaan terhadap unsur alam terutama unsur tanah dan air.

Tanah yang diam/tetap disebut pati bisa berarti mati, juga esensi. Yang tetap/mati perlu dikelola oleh bupati agar bisa memberi hidup pada masyarakat.

Air berubah, bisa dipindah, dikelola untuk menghidupi tanah, agar bisa menghidupi masyarakat.

Pengelolaan atas tanah melahirkan berbagai profesi, salah satunya adalah pengelola air, yang di Bali disebut subak. Organisasi subak melahirkan profesi sebagai: pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir).

Perkembangan manusia untuk hidup menetap, melahirkan budaya bercocok tanam, aneka seni, kerajinan, pertenunan, pertukangan dan lain-lain.

Subak dan Jaman Bali Kuno

Jaman kerajaan Bali Kuna, masyarakat Bali mengenal Subak, sebuah sistem pengelolaan air.

Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali menyimpulkan bahwa kemunculan subak, ditopang oleh profesi seseorang yang terkuak dalam Prasasti Bebetin (896) dan Prasasti Batuan (1022). Menurutnya, “Dua prasasti itu menjelaskan ada tiga kelompok pekerja khusus sawah, salah satunya ahli pembuat terowongan air yang disebut undagi pangarung.” Pekerja ini biasa dipakai dalam subak masa modern.

Menurut Arkeolog I Ketut Setiawan istilah Subak, dipakai sebagai istilah untuk Organisasi Irigasi Pada Pertanian Padi Sawah Masa Bali Kuno. Kata ini ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Subak berasal dari kata suwak terdiri atas dua kata, yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan atau sistem pengaliran air yang baik.

Keterangan lebih jelas mengenai pengelolaan sawah dan irigasi termuat dalam Prasasti Trunyan (891). Dalam prasasti itu tersua kata “serdanu” yang berarti kepala urusan air danau. Ini berarti masyarakat Bali sudah mengenal cara mengelola sawah dan irigasinya pada akhir abad ke-9.

Peradaban Air

Sistem subak Jaman Bali Kuno dapat dikatakan telah mencapai taraf perkembangan pengetahuan yang lebih tinggi terkait dengan pengelolahan air, sehingga bisa disebut sebagai Peradaban air.

Pengetahuan tinggi tentang pengelolaan air ini telah juga diwariskan kepada masyarakat Bali umumnya, dan khususnya pada Pekaseh. Tetapi seberapapun tinggi pengetahuan seseorang tak akan bermanfaat dan tak bisa dimanfaatkan dan dikembangkan jika yang bersangkutan tak menguasi air sebagai obyeknya.

Bali Sebagai NKRI

Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Persoalan tanah dan air di Bali menjadi sangat krusial untuk ditata dan kelola. Kuncinya adalah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat semestinya menjadi prioritas, sehingga air dan tanah dijaga dan dikelola oleh wakil-wakil berkompoten yang terdekat, tetapi tetap dengan pengawasan ketat sehingga tak bisa dikuasai oleh perorangan atau kelompok.

Jika pengelolaan air negara bisa kembali memakai sistem subak maka untuk pengelolaan tanah pemerintah bisa memakai sistem Bali mula yang disebut sebagai “tanah ayahan desa” (yang hanya sesuai dengan kewajiban)

Kebudayaan Bali Kini

Pekerjaan Penduduk Bali kini makin beragam, hanya 17 persen atau 470.397 orang yang bekerja di perpertanian, perhutanan, perburuan, perikanan. Memaksakan untuk tetap berbudaya agraris tentu akan sangat memberatkan.
Sebagian besar masyarakat Bali 33,6 perse atau sebanyak 895.364 kini bekerja sebagai tenaga produksi alat, oprator alat-alat, angkutan dan pekerja kasar, sedang 20,7 persen atau sebanyak 525.852 bekerja dalam penjualan jasa.

Kita menjalani hidup di masa kini, bukan di masa lalu. Tradisi, budaya dan peradaban yang diwariskan oleh leluhur Bali masa lalu itu baik, sangat baik, akan selalu ada dalam DNA kita menjadi penuntun. Kebiasan-kebiasaan yang kita lakukan saat ini secara pribadi dalam keluarga dan kelompok pasti berubah. Mungkin akan lebih sulit dikenali karena faktor ruang yang melebar dan waktu yang menyempit, tetapi justru disanalah tantangannya.

Budaya Bali Kita adalah budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan, dalam ruang yang luas tanpa batas bahkan maya, dan dalam waktu yang dimanpatkan. Kebiasaan-kebiasaan baru ini akan melahirkan tradisi baru dan budaya Bali baru. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Next Post

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co