4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Bali Kini

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 26, 2025
in Esai
Budaya Bali Kini

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebelum berbicara tentang Budaya Bali Kini, saya mencoba bertanya pada diri tentang Budaya Bali Kita?

Kita berarti ada saya di dalamnya, dan juga ada mereka di sisi yang lain.

Saya dan kita saya batasi terkait dengan orang yang menjalani kehidupannya di Bali dalam kurun waktu setelah tahun 1960-an atau yang sempat menikmati kemerdekaan lebih dari 50 tahun sampai tahun 2025 ini. Kita-kita inilah yang bisa melihat sawah luas, gunung hijau dan air jernih dan mendengar “dongeng” orang tua, dan kakek nenek.

Perubahan Pekerjaan Penduduk Bali

Alam Bali (tanah dan air) sejak jaman kemerdekaan relatif sama sampai saat ini. Yang berubah adalah manusia, binatang dan pohon yang hidup di dalamnya.

Data statistik menunjukkan dari luas Bali sekitar 5,880 Km2, tahun 2025 dihuni oleh sekitar 4,46 juta jiwa, dengan jumlah kunjungan wisatawan pada bulan Juli 2025 tercatat mencapai 697,11 ribu. Jadi kalau dipresentasikan akan ada peningkatan sekitar 16 persen penduduk setiap bulan. Yang kalau dirata-ratakan pertahun akan ada tambahan sekitar 8,36 juta penduduk pertahun, dua kali lipat dari jumlah penduduk yang tinggal, menetap di Bali.

Kondisi ini menimbulkan perubahan besar dan besar-besaran di Bali, terlihat dari gambaran pekerjaan penduduk Bali. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, tanggal 6 Mei 2025, jumlah penduduk Bali yang berkerja sebanyak 2.665.421 orang.

Yang bekerja sebagai tenaga profesional, teknisi dan tenaga lain, 217.820 (8,17), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, 45.722 (1,7), tenaga usaha penjualan 218.236 (8, 2), penjualan jasa 525.852 (20,7), pertanian, perhutanan, perburuan, perikanan 470.397(17), tenaga produksi alat, oprator alat-alat angkutan, pekerja kasar, 895.364 (33,5), pekerja lain 50.000 (1,9). Kondisi ini menggambarkan perubahan besar jenis pekerjaan masyarakat Bali saat ini.

Kebiasaan, Tradisi dan Kebudayaan

Setiap mahluk, tumbuh-tumbuhan, binatang maupun manusia mempunyai kebiasaan.
Kebiasaan dikenali dalam rentang waktu hidup setiap jenis mahluk. Pada manusia ada rentang waktu lebih dari 25 tahun (jika diandaikan usia hidup rata- rata manusia Bali saat ini adalah 50 tahun lebih).

Yang paling sederhana adalah mengenali kebiasaan keluarga, pasangan dan sekitar.

Prosentase pengenalan kebiasaan sangat bergantung pada jarak dan waktu. Semakin dekat jarak dan semakin panjang waktu yang dipakai untuk mengenali kebiaasan seseorang/sekelompok orang, pengenalan kebiasaan akan semakin mendekati pemahaman, kesehimbangan, keharmonisan, kebenaran. Mungkin itu sebabnya perkawinan yang sudah memasuki usia 25 tahun disebut perkawinan perak dan perkawinan emas untuk yang sudah memasuki usia perkawinan 50 tahun.

Kumpulan kebiasaan yang baik, dalam keluarga yang mendekati kesehimbangan, keharmonisan menjadi tradisi.

Kebiasaan sekelompok manusia yang sudah dilakukan sejak lama disebut tradisi (kebiasaan yang mentradisi).Tradisi yang dianggap baik, sehimbang dan harmonis ini kemudian dilanjutkan diwariskan dan dilestarikan pada generasi berikutnya dengan cara lisan atau pembiasaan, maupun tertulis, terpahat, tergambar, terbangun, dan tervisualkan dalam berbagai jenis dan bentuk upacara, seni, kerajinan, teknologi, bahasa dan sistem organisasi sosial.

Ada 7 (tujuh) unsur Kebudayaan yang bersifat universal menurut Koentjaraningrat (1990:203), yaitu: (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sitem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) Sistem religi; dan (7) kesenian.

Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan.

Yang kita sebut sebagai budaya Bali, lebih banyak lahir dari prilaku komunal masyarakat Bali jaman dahulu yang hidup sebagai petani yang menetap di suatu daerah, tidak berpindah-pindah. Pola hidup menetap menjadikan masyarakat membuat organisasi sosial, yang memudahkan pengelolaan terhadap unsur alam terutama unsur tanah dan air.

Tanah yang diam/tetap disebut pati bisa berarti mati, juga esensi. Yang tetap/mati perlu dikelola oleh bupati agar bisa memberi hidup pada masyarakat.

Air berubah, bisa dipindah, dikelola untuk menghidupi tanah, agar bisa menghidupi masyarakat.

Pengelolaan atas tanah melahirkan berbagai profesi, salah satunya adalah pengelola air, yang di Bali disebut subak. Organisasi subak melahirkan profesi sebagai: pekaseh (ketua subak), petajuh (wakil pekaseh), penyarikan (juru tulis), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir).

Perkembangan manusia untuk hidup menetap, melahirkan budaya bercocok tanam, aneka seni, kerajinan, pertenunan, pertukangan dan lain-lain.

Subak dan Jaman Bali Kuno

Jaman kerajaan Bali Kuna, masyarakat Bali mengenal Subak, sebuah sistem pengelolaan air.

Arkeolog Supratikno Raharjo dalam Sejarah Kebudayaan Bali menyimpulkan bahwa kemunculan subak, ditopang oleh profesi seseorang yang terkuak dalam Prasasti Bebetin (896) dan Prasasti Batuan (1022). Menurutnya, “Dua prasasti itu menjelaskan ada tiga kelompok pekerja khusus sawah, salah satunya ahli pembuat terowongan air yang disebut undagi pangarung.” Pekerja ini biasa dipakai dalam subak masa modern.

Menurut Arkeolog I Ketut Setiawan istilah Subak, dipakai sebagai istilah untuk Organisasi Irigasi Pada Pertanian Padi Sawah Masa Bali Kuno. Kata ini ditemukan dalam Prasasti Pandak Badung (1071) dan Klungkung (1072). Subak berasal dari kata suwak terdiri atas dua kata, yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” untuk pengairan atau sistem pengaliran air yang baik.

Keterangan lebih jelas mengenai pengelolaan sawah dan irigasi termuat dalam Prasasti Trunyan (891). Dalam prasasti itu tersua kata “serdanu” yang berarti kepala urusan air danau. Ini berarti masyarakat Bali sudah mengenal cara mengelola sawah dan irigasinya pada akhir abad ke-9.

Peradaban Air

Sistem subak Jaman Bali Kuno dapat dikatakan telah mencapai taraf perkembangan pengetahuan yang lebih tinggi terkait dengan pengelolahan air, sehingga bisa disebut sebagai Peradaban air.

Pengetahuan tinggi tentang pengelolaan air ini telah juga diwariskan kepada masyarakat Bali umumnya, dan khususnya pada Pekaseh. Tetapi seberapapun tinggi pengetahuan seseorang tak akan bermanfaat dan tak bisa dimanfaatkan dan dikembangkan jika yang bersangkutan tak menguasi air sebagai obyeknya.

Bali Sebagai NKRI

Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Persoalan tanah dan air di Bali menjadi sangat krusial untuk ditata dan kelola. Kuncinya adalah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat semestinya menjadi prioritas, sehingga air dan tanah dijaga dan dikelola oleh wakil-wakil berkompoten yang terdekat, tetapi tetap dengan pengawasan ketat sehingga tak bisa dikuasai oleh perorangan atau kelompok.

Jika pengelolaan air negara bisa kembali memakai sistem subak maka untuk pengelolaan tanah pemerintah bisa memakai sistem Bali mula yang disebut sebagai “tanah ayahan desa” (yang hanya sesuai dengan kewajiban)

Kebudayaan Bali Kini

Pekerjaan Penduduk Bali kini makin beragam, hanya 17 persen atau 470.397 orang yang bekerja di perpertanian, perhutanan, perburuan, perikanan. Memaksakan untuk tetap berbudaya agraris tentu akan sangat memberatkan.
Sebagian besar masyarakat Bali 33,6 perse atau sebanyak 895.364 kini bekerja sebagai tenaga produksi alat, oprator alat-alat, angkutan dan pekerja kasar, sedang 20,7 persen atau sebanyak 525.852 bekerja dalam penjualan jasa.

Kita menjalani hidup di masa kini, bukan di masa lalu. Tradisi, budaya dan peradaban yang diwariskan oleh leluhur Bali masa lalu itu baik, sangat baik, akan selalu ada dalam DNA kita menjadi penuntun. Kebiasan-kebiasaan yang kita lakukan saat ini secara pribadi dalam keluarga dan kelompok pasti berubah. Mungkin akan lebih sulit dikenali karena faktor ruang yang melebar dan waktu yang menyempit, tetapi justru disanalah tantangannya.

Budaya Bali Kita adalah budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan, dalam ruang yang luas tanpa batas bahkan maya, dan dalam waktu yang dimanpatkan. Kebiasaan-kebiasaan baru ini akan melahirkan tradisi baru dan budaya Bali baru. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dua Bidak Catur | Cerpen I Made Dwipayana

Next Post

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Nekat Traveler di Kota Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co