6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 21, 2025
in Panggung
Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Teatrikalisasi Puisi "Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama"

LELAKI bertubuh tegap berjalan di depan saya. Ia mengenakan celana jeans dan kemeja hitam lengan panjang, lengkap dengan tas punggung abu-abu. Seketika itu, ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Kenapa Aan Mansyur suka jalan kaki?”

Saya hanya menggeleng, separuh karena lelah, separuh karena tidak tahu. Napas saya sudah ngos-ngosan sejak tadi berjalan kaki di trotoar Denpasar yang panas dan sumpek. Kami sudah berjalan hampir setengah kilometer.

“Karena dunia terasa berjalan lebih pelan kalau jalan kaki,” ujarnya sambil menghindari motor yang diparkir di atas trotoar. Saya berpikir sejenak—mungkin benar. Dunia memang terasa berputar lebih cepat setiap hari. Seakan tak ada waktu untuk berhenti, apalagi istirahat—kecuali kita sendiri yang berani mencuri waktu dari laju hidup yang terburu-buru.

Jadi teringat pada puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, Aku berjalan di kota yang berubah / lebih cepat daripada hati manusia.

Barangkali, itulah yang kami alami sore itu. Berjalan pelan di tengah kota yang sibuk adalah bentuk kecil perlawanan terhadap kecepatan dunia. Mungkin dengan berjalan kaki, kita tidak sedang memperlambat waktu, tapi lelaki itu kembali berkata “ente jadi bisa memperhatikan banyak hal saat berjalan, ada kucing, ada tukang parkir, yang tidak akan mungkin diperhatikan kalau naik motor.”

Namun, konsep waktu ini memang bisa diperdebatkan. Apakah berjalan kaki benar-benar membuat dunia melambat? Atau malah membuat kita kehilangan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mengejar sesuatu yang harus diselesaikan? Atau jangan-jangan, seperti di film In Time, waktu adalah nyawa mereka sendiri, kaum elit yang punya banyak waktu bisa hidup sampai 100 tahun, sementara rakyat pinggiran harus bekerja keras agar bisa hidup keesokan harinya.

Hampir saja saya lupa, lelaki yang berjalan di depan saya itu bernama Azman Hassam, kadang juga dikenal sebagai Azman Bahbereh. Ia seorang penulis puisi dan pencinta film. Saya dan dia telah berjalan kaki hampir satu kilometer menuju warung makan rekomendasinya.

Kami berdua baru saja keluar dari sesi diskusi “Buku-Buku yang Menarik Dewan Juri” di ETC Book Forum, Denpasar. Diskusi yang seru bersama Oka Rusmini, tapi perut kami lebih berisik dari pembicaraan di panggung.

Sebelum acara diskusi benar-benar berakhir, kami sudah kabur duluan mencari makan di sekitar Graha Yowana Suci (GYC). Kami memutuskan untuk jalan kaki. Selain karena malas bayar parkir dua kali, salah duanya karena bermotor di Denpasar dengan lalu lintas padat dan banyak jalan satu arah, resiko terlewat sedikit saja tempat yang dituju maka bisa harus putar balik dengan jarak seperti mengelilingi satu kota—apalagi untuk orang yang tidak memahami peta geografi Denpasar.

Matahari mulai tenggelam di langit Denpasar ketika kami berjalan kembali ke GYC. Langkah kami buru-buru agar tidak kelewatan satu pertunjukan yang dijadwalkan malam itu, Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi yang dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Begitu tiba, tata ruangan telah diatur. Kursi-kursi digeser, proyektor dipasang di tengah panggung, dan lampu ruang diredupkan. Di panggung, lampu merah menyala pelan, menciptakan atmosfer sunyi yang sekaligus mencekam. Kami duduk di bean bag paling depan—ingin dekat, tapi juga ingin beristirahat.

Purba Wiangga sedang menatap kursi | Foto: Satu Frekuensi

Seorang lelaki muncul. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana jeans, dan membawa tas punggung. Wajahnya diolesi cat putih yang melingkar di area mata, mulut, dan bergari di hidung, seperti ada topeng yang menggantung di wajahnya. Ia meletakkan tas, melepas kemeja, lalu berjalan pelan ke arah laptop. Dengan satu ketukan tombol enter, musik mengalun. Ia berdiri, menatap penonton, dan mengucap, “Nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Seketika instrumen drum terdengar berat, berpadu dengan bunyi terompet yang menguar menjadi instrumental yang mencekam. Tak lama, suara lelaki dalam rekaman mulai terdengar, membacakan puisi Pranita Dewi.

Aku berjalan di kota yang berubah
lebih cepat dari pada hati manusia.
Aku sering mencium lagu di tiap tikungan,
tersandung oleh kata-kata di trotoar
…

Aktor—yang kemudian saya ketahui bernama Purba Wiangga—mengambil kursi kayu di sisi panggung. Ia memanggulnya di punggung seperti menanggung beban hidup. Lalu, tiba-tiba, kursi itu dibanting keras ke lantai. Suaranya memecah ruang, membuat saya tersentak.

Purba Wiangga mendorong kursi | Foto: Satu Frekuensi

Ia terus menggerakkan kursinya, juga menunggangi kursi layaknya seorang koboi yang sedang memacu kuda. Kursinya tampak sudah reyot. Tetapi Purba Wiangga tetap menaikinya, memutarnya, mengangkatnya, dibanting ke belakang, diangkat lagi dan dibanting lagi.

Gerakan itu diulangi beberapa kali, terus mengulang gerak seperti mesin yang kehilangan kendali.  Situasi yang tercipta menegangkan, bagaimana jika tiba-tiba kaki kursi kayu reyot itu patah dan bisa saja mencelakai aktornya. Tapi, mungkin di situlah ketegangan yang dicari, seperti perasaan gentar antara tubuh yang rapuh dan kehendak untuk tetap hidup.

Setelah itu Purba Wiangga mulai berbicara sendiri—tentang kuliah, tentang tugas-tugas, tentang rasa lelah yang menumpuk.

“Rutinitas kuliah terasa begitu melelahkan. Tapi aku tahu, aku harus terus berjalan. Walau terkadang harus mengorbankan idealismeku. Demi sebuah realitas.” gumamnya.

Adegan ini menghadirkan teks baru di luar puisi Pranita Dewi, semacam teks monolog tentang kehidupan mahasiswa yang lelah secara eksistensial. Ada gerak tubuh oleh aktor di hadapan kami, menjelma jadi sesuatu yang kalau boleh saya sebut dengan puisi tubuh barangkali.

Aktor di depan para penonton | Foto: Satu Frekuensi

Puisi Pranita Dewi yang terdengar dari rekaman telah berpadu dengan teks keluh kesah tentang tugas kuliah, idealisme, dan realitas mahasiswa. Sementara, gerak tubuh aktor semacam menjadi simbolik kenyataan beban hidup yang dialaminya.


Komunitas Aghumi, lewat tafsirnya, membawa puisi ke konteks sosial hari ini—rutinitas akademik yang menumpulkan rasa hidup, menggambarkan tubuh muda yang kehilangan arah namun tetap harus bergerak. Tentang batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian.

Di titik ini, Ingatan saya kembali ke percakapan di trotoar sore tadi. Tentang berjalan pelan di dunia yang serba cepat. Tentang mencari napas di tengah rutinitas yang melelahkan. Semacam ada hal yang patut direnungkan lagi soal menjalani hidup yang sadar. Dan Aan Mansyur pernah mengatakan “Semakin cepat sampai ke tempat tujuan semakin sedikit yang bisa dihayati. Dan puisi tidak ada di hal-hal besar.”

Maksud saya, memberi jeda itu sama seperti memberi ruang diri untuk lebih menghayati hidup, walau dengan hal kecil saja. Sesimpel memilih berjalan kaki dalam hal-hal tertentu. Siapa tau puisi bisa muncul dari sana seperti kata Aan di atas.

Saya pun menduga Pranita Dewi menulis puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama  saat ia sedang berjalan kaki ke suatu tempat. Saya membayangkan Pranita berhenti di  bawah pohon ketapang, berteduh, dan merefleksikan dinamika hidup yang telah lama ia jalani—duduk termenung sendiri di suatu malam lalu menarik nafas dalam-dalam dan menulis “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Di depan panggung, Purba Wiangga kembali memutar dan membanting kursi, sambil berkeluh kesah tentang tugas-tugas kuliahnya. Beban perkuliahan seolah membuatnya ingin mati saja.

“Di kampus aku harus tetap fokus. Berpindah dari satu mata kuliah ke mata kuliah lain. Mengerjakan tugas—matematika, fisika—sampai aku lelah!” ujarnya, duduk di atas kursi kayu yang tampak mulai reyot. Ia melanjutkan, “Seusai kuliah pun aku tetap harus bersosialisasi dengan teman-teman di kampus. Biar keren. Biar trendi. Begitu terus, setiap hari berulang-ulang. Sampai-sampai aku lupa… aku ini sedang tumbuh, atau hanya berusaha untuk tetap hidup?”

Membawa konteks perkuliahan sebagai rutinitas yang melelahkan. Memang melelahkan. Namun di situ juga terbesit pertanyaan kenapa harus perkuliahan? Kenapa tidak dalam konteks pekerjaan, atau dalam konteks hubungan percintaan yang sering membuat orang ingin mengakhiri hidup. Atau hal ini terlalu klise.

Bicara soal hidup yang melelahkan, setiap orang punya versinya sendiri. Ada yang lelah karena kuliah, ada yang lelah karena kerja, ada pula yang lelah karena cinta. Mencintai orang yang tidak mencintai balik, misalnya—melelahkan bukan? Bahkan menulis puisi pun bisa jadi pekerjaan yang sangat melelahkan.

Purba Wiangga memainkan kursi | Foto: Satu Frekuensi

Jahe Biru, nama pena, yang saat itu membuka lapak puisi one the spot di ETC Book Forum, memilih istirahat lebih awal sebelum acara benar-benar usai. Ia kelelahan mendengar curhat orang-orang di sana dan harus segera menerjemahkannya menjadi puisi. Saya dan Azman sudah antre lama karena ingin juga dituliskan puisi. Tapi, ketika satu orang di depan kami selesai dibuatkan puisi, Jahe Biru malah mematikan lampu di atas mejanya dan menutup mesin ketik birunya. “Lelah,” ucapnya singkat.

Saya dan Azman hanya bisa saling pandang dan menggeleng. Yah, kami juga lelah—lelah menunggu, dan lelah karena ternyata tidak jadi.

Kita balik ke soal kenapa Komunitas Aghumi mencoba mengambil konteks lelah dalam dunia perkuliahan? Apakah puisinya Pranita Dewi membicarakan itu? Urgensi apa sedang terjadi?

Tapi, siapa yang bisa melarang interpretasi seseorang terhadap puisi. Komunitas Aghumi tentu memiliki kebebasan untuk membaca dan menghubungkan makna sesuai pengalaman mereka sendiri.

Saya jadi teringat pada kasus bunuh diri Timothy Anugerah, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bali beberapa waktu lalu—peristiwa yang barangkali menjadi akumulasi dari kelelahan yang tak sempat diungkapkan.

Kalau pun teatrikalisasi puisi ini dikaitkan ke sana, artinya Komunitas Aghumi sedang menanggapi sesuatu yang lebih besar—sebuah urgensi sosial yang selama ini sering dilupakan. Dalam laporan BRIN, Yurika Fauzai Wardhani mencatat bahwa dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia (2012–2023), sekitar 46,63% dilakukan oleh remaja. Laki-laki tercatat lebih rentan karena tuntutan budaya yang mengekang ekspresi emosional mereka, dan dari semua jenjang pendidikan, mahasiswa menempati posisi tertinggi.

Saya sebenarnya tidak bisa lagi berbicara apa-apa, kampus bukan lagi ruang aman. Pelecehan, perundungan, dan berbagai tekanan terjadi di sana. Mahasiswa seolah tidak bisa apa-apa dengan nasibnya sendiri.

Dalam Teatriikalisasi Puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama, tubuh Purba Wiangga menjadi semacam manifestasi kelelahan generasi muda. Tubuh yang tetap bergerak meski nyawanya tertinggal; tubuh yang tetap bertahan karena menyerah bukan pilihan.

“Bagiku, hidup tidak harus dihindari. Tapi dijalani. Di nafas yang tersengal dan gelap. Kesetiaan bukan tentang pergi saat jalannya berbeda. Tapi keberanian untuk bertahan di saat segalanya berubah,” ucap Purba Wiangga dengan lirih. Ia melanjutkan, “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Kalimat itu menutup monolognya. Seperti gema doa dan pernyataan hidup: bahwa hidup memang berat, tapi tetap harus dijalani. Kata Dea Anugrah, “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” Sekalipun hidup adalah pilihan terburuk. Tapi, seperti tulis Sugi Lanus, “Setidaknya kita tidak membuat ibu bersedih.”

Komunitas Aghumi, menghadirkan pertunjukan ini bukan sekadar sebagai alih wahana puisi, tapi sebagai ruang terapeutik. Mereka menjadikan pertunjukan sebagai tempat singgah, tempat “nyawa” berhenti sejenak. Pilihan visual minimalis—kursi, cahaya merah, cat putih di wajah—menegaskan intensitas tubuh dan ruang tanpa harus mengandalkan properti berlebih.

Di sisi lain, beberapa adegan terasa agak repetitif—bantingan kursi yang diulang berkali-kali semacam ingin mengatakan bahwa kelelahan adalah pengulangan tanpa akhir.

Ketika pertunjukan usai, tepuk tangan menggema. Azman mengajak saya ngopi di halaman Graha Yowana Suci. Kami bertemu Pranita Dewi, Hosea, Priyo, dan Moch. Satrio Welang. Malam itu kami menertawakan banyak hal, tubuh yang letih pun ikut beristirahat.
Hidup memang melelahkan, tapi tertawa bersama—itu jeda yang paling sehat. [T]

Catanan tambahan:

Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Tim Produksi:


Artistik: Satria Nugraha, Santi Dewi
Pimpinan Produksi: Agus Pratama
Sutradara: Wulan Saraswati
Aktor: Purba Wiangga

Sinopsis:

Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama adalah Teatrikalisasi puisi karya Pranita Dewi yang dihadirkan oleh Komunitas Aghumi sebagai ruang jeda.

Bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan tentang keberanian untuk berhenti, menatap kembali, dan bernapas. Seperti mendaki gunung, kita kadang kehilangan napas, namun di titik itu pula kita menemukan kehidupan yang paling mujur.

Komunitas Aghumi menelusuri batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian. Karya ini adalah ajakan untuk berhenti sebentar, mendengar detak nyawa yang mungkin sudah lama kita abaikan. Sebab dalam jeda itulah nyawa sering kali paling hidup.

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarETC Book ForumPenerbit Partikularpertunjukan puisiteatrikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI JADI MESIN

Next Post

“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

"Noris" UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co