14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Karista Denianti by Karista Denianti
October 21, 2025
in Ulas Pentas
“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Tari kontemporer Noris di Festival ke Uma, Tabanan

MALAM, 28 September 2025, di satu hamparan sawah di Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, sebuah tari kontemporer dipertunjukkan dengan begitu padu dan riang. Tarian itu ditampilkan anak-anak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Satyam Siwam Sundaram, Universitas Udayana (Unud), Denpasar, serangkaian acara Festival ke Uma 2025.

Tarian bukan tari Bali yang biasa ditonton, misalnya dalam Pesta Kesenian Bali (PKB), namun tarian itu mencoba bicara tentang Bali sebagai panggung Dunia, dengan label eksotis: “Surga Dunia” yang mengundang jutaan wisatawan. Surga yang telah laris manis dalam industri wisata, belum menunjukan masyarakat yang sejahtera pada tekanan kebutuhan hidup dan tekanan budaya yang harus tetap lestari.

Ini tarian yang membaca zaman dan bicara tentang zamannya. Bagaimana proses terciptanya tari Noris itu, sikan baca artikel Karista Denianti dari UKM Satyam Siwam Sundaram:

***

SEBAGAI Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di ruang lingkup Fakultas Ilmu Budaya, UKM Satyam Siwam Sundaram atau yang lebih dikenal sebagai UKM SSS punya peran penting untuk mempersiapkan kontingen untuk mewakili Fakultas Ilmu Budaya pada ajang perlombaan Dies Natalis Universitas Udayana pada cabang seni Tari Kontemporer. Lomba itu memang  rutin dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Oktober.

Begitulah awal proses tari kontemporer yang kami garap ini. Awal proses pembentukan karya bermula pada bulan Mei. Kami mulai merencanakan konsep dan isu apa yang sekiranya akan kami bawakan dalam lomba itu sebagai wakil dari FIB tahun ini.

Perencanaan kami lakukan bersama dua koreografer yangsekaligus jadi konseptor, yakni Mahijasena dan Dhegung. Dua orang yang sudah memiliki kedekatan tersendiri dengan kami di Fakultas Ilmu Budaya khususnya UKM SSS. Apalagi dua tahun belakang ini kami sudah melakukan kolaborasi yang serupa dalam proses pembentukan karya tari kontemporer.

Proses diskusi karya

Saya sendiri sebagai penari yang sudah dua tahun berproses bersama koreografer Mahijasena dan beberapa kali juga sempat berposes pada karya tahun lalu bersama Dhegung. Ini merupakan pertama kali saya sebagai penari juga ikut serta dalam proses di balik penciptaan karya ini.

Walaupun pada saat itu tema besar dari panitia belum keluar, kami mencoba berdiskusi dan berdialog mengenai permasalahan yang sering terjadi di sekitar kita. Dari diskusi itu kami bertemu pada satu kesepakatan, yaitu “Bali Terkini”. Dari dua kata kunci tersebut kami mencoba untuk menelaah fenomena-fenomena kebudayaan masyarakat Bali, dan menemukan banyak sekali aspek dari fenomena itu, yang akan kami kembangkan pada proses eksplorasi gerak visual bersama penari.

Proses Eksplor Gerak Bersama Penari

Materi yang diberikan pertama kali kepada penari adalah latihan fisik dasar sebelum benar-benar masuk ke proses eksplorasi gerak bersama pelatih. Dengan bermodalkan materi yang sudah diajarkan kepada kami selama dua tahun terakhir, kami berusaha mentransfernya kepada penari.

Dalam proses ini, ada beberapa kendala yang mereka alami, mulai dari kondisi tubuh yang belum beradaptasi, bahkan sampai ada yang memundurkan diri karena kondisi fisiknya tidak bisa menyesuaikan dengan latihan fisik yang bisa dibilang lumayan intens dan berat. Dari yang awalnya jumlah penari sebanyak 8 orang, hanya tersisa 5 orang yang bertahan.

Proses latihan

Pada proses awal kami juga sempat turun ke lapangan untuk mengeksplorasi data mengenai aktivitas masyarakat di Kota Denpasar. Menelusuri lapangan Puputan yang ada di pusat kota dan melihat aktifitas yang dilakukan oleh orang orang di sana. Penari lalu diminta untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk visual tubuh yang ditarikan sesuai kreativitas mereka.

Aktivitas seperti bermain catur, jogging, bermain bola, aktivitas berjualan, dan lain-lain diperagakan oleh mereka. Dari banyaknya data yang didapat, kemudian dikembangkan lagi menjadi banyak variasi dan nantinya akan menjadi dasar gerakan choreography dalam karya ini.

Ada satu hal yang mungkin membedakan karya tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tidak menggunakan musik sama sekali, melainkan menonjolkan vokal dari penari langsung. Dimana konsep yang direncanakan awalnya yaitu lecturing atau guiding, yang nantinya penari akan berperan menjadi pencerita dan juga aktor yang berperan dalam cerita yang dibawakan.

Ini akan menjadi tantangan tersendiri, karena penari harus menari sambil mengeluarkan vokal secara bersamaan dan tanpa musik latar belakang.

Sebuah Kesempatan

Pada tanggal 28 September 2025 kami mendapat sebuah kesempatan untuk menampilkan tari kontemporer Noris untuk pertama kalinya pada Festival ke Uma di Marga, Tabanan. Hasil proses eksplorasi selama kurang lebih dua bulan akhirnya bisa diperlihatkan ke hadapan publik, sebelum nantinya akan benar benar ditampilkan untuk perlombakan.

Pementasan Noris di Festival ke Uma, Marga, Tabanan

Kenapa pada akhirnya kami memutuskan setuju menampilkan Noris ke publik padahal karya ini merupakan karya untuk lomba, karena sejak awal memang ada kesepakatan bahwa pembentukan Noris tidak hanya untuk diperlombakan, melainkan kami akan menciptakan lebih banyak ruang untuk bisa menampilkan tarian itu. Supaya nantinya apa yang ingin disampaikan melalui karya ini bisa tersampaikan kepada masyarakat luas dan tidak hanya ditampilkan sekali lalu tidak ada keberlanjutan sama sekali.

Respon Penonton Terhadap Karya Ini

Karya ini mendapat tanggapan yang beragam dari penonton. Banyak dari pelaku seni yang saat itu menonton mengapresiasi karya ini. Menurut beberapa orang yang menghampiri penari setelah perform, premis yang diangkat sangat menarik dan bahkan memberikan beberapa saran dan masukan terhadap karya ini.

Namun di satu sisi, beberapa orang dari pihak kampus yang kami undang untuk menonton penampilan Noris justru memberikan respon yang berbeda. Saya menanyakan beberapa orang mengenai tanggapan mereka setelah menonton, beberapa orang yang memang tidak terlibat dari proses awal karya ini sama sekali tidak bisa memahami apa yang ditampilkan penari pada saat itu. Bahkan beberapa dari mereka ada yang tertawa karena menganggap beberapa gerakan aneh dan konyol, bahkan bertanya, “mereka ngapain sih?”.

Memang secara visual keseluruhan di karya ini tidak terlalu menampilkan pola-pola koreografi yang indah, bahkan bisa dibilang aneh. Apalagi dalam karya ini kami tidak menggunakan musik sama sekali dan hanya terdapat vokal dari penari yang melantunkan kata “ditut”, “dangtut”, “pak” secara berulang-ulang. Dan itu yang mungkin akan menyebabkan beberapa orang tidak bisa sepenuhnya menikmati atau bahkan mengerti karya ini, karena dianggap tidak menghadirkan keindahan estetika visual yang memanjakan mata penonton.

Pesan yang Ingin Disampaikan Melalui Noris

Melalui Noris, kami ingin menghadirkan sudut pandang yang lebih jujur dan getir dari realitas Bali yang sering dijuluki sebagai “Surga Dunia”. Menghidangkan paradoks budaya yang membelit masyarakat Bali saat ini, dimana pariwisata sering dijadikan sebagai lahan untuk menjual identitas lokal: menyesuaikan dengan keadaan pasar, tanpa sadar sebenarnya kita telah dirancang untuk menjadi lahan komersial dan telah mempertaruhkan antara budaya lokal, kebutuhan pasar, dan juga tuntutan ekonomi yang pada akhirnya membentuk masyarakat yang tunduk pada pariwisata.

Pementasan Noris di Festival ke Uma, Marga, Tabanan

Seperti judulnya, “Noris” yang berarti “tampil”, kami berharap penonton bisa menyaksikan penampilan dengan pengalaman yang berbeda. Bahwasanya, karya ini bisa ditafsir secara luas dan tidak hanya menilai penampilan karya ini berdasarkan keindahan estetika visual gerakan atau pola-pola tarian yang indah.

Penutup

Terlepas apapun hasilnya, Noris merupakan hasil dari mengkritisi fenomena di pulau tercinta kita yang tidak pernah sepi akan permasalahan. Melahirkan sebuah tontonan untuk membaca kembali Bali yang penuh dengan paradoks budaya. Noris menjadi ruang reflektif bagi kita semua dalam menghadapi wajah Bali yang kian hari makin terhimpit arus pariwisata tanpa jeda. [T]

Penulis: Karista Denianti
Editor: Adnyana Ole

Tags: balitari kontemporerUKM Satyam Siwam SundaramUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Next Post

Ayu Candri Pratiwi, Bintang Baca Puisi dari SMAN 1 Kubu — Juara di Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana

Karista Denianti

Karista Denianti

Mahasiswi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, yang memiliki ketertarikan dalam menikmati seni pertunjukan. Lahir dan besar di desa Kapal, Mengwi, Badung, sedari kecil sudah memiliki ketertarikan tersendiri di dunia tari.

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Ayu Candri Pratiwi, Bintang Baca Puisi dari SMAN 1 Kubu — Juara di Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana

Ayu Candri Pratiwi, Bintang Baca Puisi dari SMAN 1 Kubu -- Juara di Festival Nasional Seni Pelajar Jembrana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co