2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 21, 2025
in Panggung
Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Teatrikalisasi Puisi "Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama"

LELAKI bertubuh tegap berjalan di depan saya. Ia mengenakan celana jeans dan kemeja hitam lengan panjang, lengkap dengan tas punggung abu-abu. Seketika itu, ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Kenapa Aan Mansyur suka jalan kaki?”

Saya hanya menggeleng, separuh karena lelah, separuh karena tidak tahu. Napas saya sudah ngos-ngosan sejak tadi berjalan kaki di trotoar Denpasar yang panas dan sumpek. Kami sudah berjalan hampir setengah kilometer.

“Karena dunia terasa berjalan lebih pelan kalau jalan kaki,” ujarnya sambil menghindari motor yang diparkir di atas trotoar. Saya berpikir sejenak—mungkin benar. Dunia memang terasa berputar lebih cepat setiap hari. Seakan tak ada waktu untuk berhenti, apalagi istirahat—kecuali kita sendiri yang berani mencuri waktu dari laju hidup yang terburu-buru.

Jadi teringat pada puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, Aku berjalan di kota yang berubah / lebih cepat daripada hati manusia.

Barangkali, itulah yang kami alami sore itu. Berjalan pelan di tengah kota yang sibuk adalah bentuk kecil perlawanan terhadap kecepatan dunia. Mungkin dengan berjalan kaki, kita tidak sedang memperlambat waktu, tapi lelaki itu kembali berkata “ente jadi bisa memperhatikan banyak hal saat berjalan, ada kucing, ada tukang parkir, yang tidak akan mungkin diperhatikan kalau naik motor.”

Namun, konsep waktu ini memang bisa diperdebatkan. Apakah berjalan kaki benar-benar membuat dunia melambat? Atau malah membuat kita kehilangan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mengejar sesuatu yang harus diselesaikan? Atau jangan-jangan, seperti di film In Time, waktu adalah nyawa mereka sendiri, kaum elit yang punya banyak waktu bisa hidup sampai 100 tahun, sementara rakyat pinggiran harus bekerja keras agar bisa hidup keesokan harinya.

Hampir saja saya lupa, lelaki yang berjalan di depan saya itu bernama Azman Hassam, kadang juga dikenal sebagai Azman Bahbereh. Ia seorang penulis puisi dan pencinta film. Saya dan dia telah berjalan kaki hampir satu kilometer menuju warung makan rekomendasinya.

Kami berdua baru saja keluar dari sesi diskusi “Buku-Buku yang Menarik Dewan Juri” di ETC Book Forum, Denpasar. Diskusi yang seru bersama Oka Rusmini, tapi perut kami lebih berisik dari pembicaraan di panggung.

Sebelum acara diskusi benar-benar berakhir, kami sudah kabur duluan mencari makan di sekitar Graha Yowana Suci (GYC). Kami memutuskan untuk jalan kaki. Selain karena malas bayar parkir dua kali, salah duanya karena bermotor di Denpasar dengan lalu lintas padat dan banyak jalan satu arah, resiko terlewat sedikit saja tempat yang dituju maka bisa harus putar balik dengan jarak seperti mengelilingi satu kota—apalagi untuk orang yang tidak memahami peta geografi Denpasar.

Matahari mulai tenggelam di langit Denpasar ketika kami berjalan kembali ke GYC. Langkah kami buru-buru agar tidak kelewatan satu pertunjukan yang dijadwalkan malam itu, Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi yang dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Begitu tiba, tata ruangan telah diatur. Kursi-kursi digeser, proyektor dipasang di tengah panggung, dan lampu ruang diredupkan. Di panggung, lampu merah menyala pelan, menciptakan atmosfer sunyi yang sekaligus mencekam. Kami duduk di bean bag paling depan—ingin dekat, tapi juga ingin beristirahat.

Purba Wiangga sedang menatap kursi | Foto: Satu Frekuensi

Seorang lelaki muncul. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana jeans, dan membawa tas punggung. Wajahnya diolesi cat putih yang melingkar di area mata, mulut, dan bergari di hidung, seperti ada topeng yang menggantung di wajahnya. Ia meletakkan tas, melepas kemeja, lalu berjalan pelan ke arah laptop. Dengan satu ketukan tombol enter, musik mengalun. Ia berdiri, menatap penonton, dan mengucap, “Nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Seketika instrumen drum terdengar berat, berpadu dengan bunyi terompet yang menguar menjadi instrumental yang mencekam. Tak lama, suara lelaki dalam rekaman mulai terdengar, membacakan puisi Pranita Dewi.

Aku berjalan di kota yang berubah
lebih cepat dari pada hati manusia.
Aku sering mencium lagu di tiap tikungan,
tersandung oleh kata-kata di trotoar
…

Aktor—yang kemudian saya ketahui bernama Purba Wiangga—mengambil kursi kayu di sisi panggung. Ia memanggulnya di punggung seperti menanggung beban hidup. Lalu, tiba-tiba, kursi itu dibanting keras ke lantai. Suaranya memecah ruang, membuat saya tersentak.

Purba Wiangga mendorong kursi | Foto: Satu Frekuensi

Ia terus menggerakkan kursinya, juga menunggangi kursi layaknya seorang koboi yang sedang memacu kuda. Kursinya tampak sudah reyot. Tetapi Purba Wiangga tetap menaikinya, memutarnya, mengangkatnya, dibanting ke belakang, diangkat lagi dan dibanting lagi.

Gerakan itu diulangi beberapa kali, terus mengulang gerak seperti mesin yang kehilangan kendali.  Situasi yang tercipta menegangkan, bagaimana jika tiba-tiba kaki kursi kayu reyot itu patah dan bisa saja mencelakai aktornya. Tapi, mungkin di situlah ketegangan yang dicari, seperti perasaan gentar antara tubuh yang rapuh dan kehendak untuk tetap hidup.

Setelah itu Purba Wiangga mulai berbicara sendiri—tentang kuliah, tentang tugas-tugas, tentang rasa lelah yang menumpuk.

“Rutinitas kuliah terasa begitu melelahkan. Tapi aku tahu, aku harus terus berjalan. Walau terkadang harus mengorbankan idealismeku. Demi sebuah realitas.” gumamnya.

Adegan ini menghadirkan teks baru di luar puisi Pranita Dewi, semacam teks monolog tentang kehidupan mahasiswa yang lelah secara eksistensial. Ada gerak tubuh oleh aktor di hadapan kami, menjelma jadi sesuatu yang kalau boleh saya sebut dengan puisi tubuh barangkali.

Aktor di depan para penonton | Foto: Satu Frekuensi

Puisi Pranita Dewi yang terdengar dari rekaman telah berpadu dengan teks keluh kesah tentang tugas kuliah, idealisme, dan realitas mahasiswa. Sementara, gerak tubuh aktor semacam menjadi simbolik kenyataan beban hidup yang dialaminya.


Komunitas Aghumi, lewat tafsirnya, membawa puisi ke konteks sosial hari ini—rutinitas akademik yang menumpulkan rasa hidup, menggambarkan tubuh muda yang kehilangan arah namun tetap harus bergerak. Tentang batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian.

Di titik ini, Ingatan saya kembali ke percakapan di trotoar sore tadi. Tentang berjalan pelan di dunia yang serba cepat. Tentang mencari napas di tengah rutinitas yang melelahkan. Semacam ada hal yang patut direnungkan lagi soal menjalani hidup yang sadar. Dan Aan Mansyur pernah mengatakan “Semakin cepat sampai ke tempat tujuan semakin sedikit yang bisa dihayati. Dan puisi tidak ada di hal-hal besar.”

Maksud saya, memberi jeda itu sama seperti memberi ruang diri untuk lebih menghayati hidup, walau dengan hal kecil saja. Sesimpel memilih berjalan kaki dalam hal-hal tertentu. Siapa tau puisi bisa muncul dari sana seperti kata Aan di atas.

Saya pun menduga Pranita Dewi menulis puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama  saat ia sedang berjalan kaki ke suatu tempat. Saya membayangkan Pranita berhenti di  bawah pohon ketapang, berteduh, dan merefleksikan dinamika hidup yang telah lama ia jalani—duduk termenung sendiri di suatu malam lalu menarik nafas dalam-dalam dan menulis “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Di depan panggung, Purba Wiangga kembali memutar dan membanting kursi, sambil berkeluh kesah tentang tugas-tugas kuliahnya. Beban perkuliahan seolah membuatnya ingin mati saja.

“Di kampus aku harus tetap fokus. Berpindah dari satu mata kuliah ke mata kuliah lain. Mengerjakan tugas—matematika, fisika—sampai aku lelah!” ujarnya, duduk di atas kursi kayu yang tampak mulai reyot. Ia melanjutkan, “Seusai kuliah pun aku tetap harus bersosialisasi dengan teman-teman di kampus. Biar keren. Biar trendi. Begitu terus, setiap hari berulang-ulang. Sampai-sampai aku lupa… aku ini sedang tumbuh, atau hanya berusaha untuk tetap hidup?”

Membawa konteks perkuliahan sebagai rutinitas yang melelahkan. Memang melelahkan. Namun di situ juga terbesit pertanyaan kenapa harus perkuliahan? Kenapa tidak dalam konteks pekerjaan, atau dalam konteks hubungan percintaan yang sering membuat orang ingin mengakhiri hidup. Atau hal ini terlalu klise.

Bicara soal hidup yang melelahkan, setiap orang punya versinya sendiri. Ada yang lelah karena kuliah, ada yang lelah karena kerja, ada pula yang lelah karena cinta. Mencintai orang yang tidak mencintai balik, misalnya—melelahkan bukan? Bahkan menulis puisi pun bisa jadi pekerjaan yang sangat melelahkan.

Purba Wiangga memainkan kursi | Foto: Satu Frekuensi

Jahe Biru, nama pena, yang saat itu membuka lapak puisi one the spot di ETC Book Forum, memilih istirahat lebih awal sebelum acara benar-benar usai. Ia kelelahan mendengar curhat orang-orang di sana dan harus segera menerjemahkannya menjadi puisi. Saya dan Azman sudah antre lama karena ingin juga dituliskan puisi. Tapi, ketika satu orang di depan kami selesai dibuatkan puisi, Jahe Biru malah mematikan lampu di atas mejanya dan menutup mesin ketik birunya. “Lelah,” ucapnya singkat.

Saya dan Azman hanya bisa saling pandang dan menggeleng. Yah, kami juga lelah—lelah menunggu, dan lelah karena ternyata tidak jadi.

Kita balik ke soal kenapa Komunitas Aghumi mencoba mengambil konteks lelah dalam dunia perkuliahan? Apakah puisinya Pranita Dewi membicarakan itu? Urgensi apa sedang terjadi?

Tapi, siapa yang bisa melarang interpretasi seseorang terhadap puisi. Komunitas Aghumi tentu memiliki kebebasan untuk membaca dan menghubungkan makna sesuai pengalaman mereka sendiri.

Saya jadi teringat pada kasus bunuh diri Timothy Anugerah, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bali beberapa waktu lalu—peristiwa yang barangkali menjadi akumulasi dari kelelahan yang tak sempat diungkapkan.

Kalau pun teatrikalisasi puisi ini dikaitkan ke sana, artinya Komunitas Aghumi sedang menanggapi sesuatu yang lebih besar—sebuah urgensi sosial yang selama ini sering dilupakan. Dalam laporan BRIN, Yurika Fauzai Wardhani mencatat bahwa dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia (2012–2023), sekitar 46,63% dilakukan oleh remaja. Laki-laki tercatat lebih rentan karena tuntutan budaya yang mengekang ekspresi emosional mereka, dan dari semua jenjang pendidikan, mahasiswa menempati posisi tertinggi.

Saya sebenarnya tidak bisa lagi berbicara apa-apa, kampus bukan lagi ruang aman. Pelecehan, perundungan, dan berbagai tekanan terjadi di sana. Mahasiswa seolah tidak bisa apa-apa dengan nasibnya sendiri.

Dalam Teatriikalisasi Puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama, tubuh Purba Wiangga menjadi semacam manifestasi kelelahan generasi muda. Tubuh yang tetap bergerak meski nyawanya tertinggal; tubuh yang tetap bertahan karena menyerah bukan pilihan.

“Bagiku, hidup tidak harus dihindari. Tapi dijalani. Di nafas yang tersengal dan gelap. Kesetiaan bukan tentang pergi saat jalannya berbeda. Tapi keberanian untuk bertahan di saat segalanya berubah,” ucap Purba Wiangga dengan lirih. Ia melanjutkan, “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Kalimat itu menutup monolognya. Seperti gema doa dan pernyataan hidup: bahwa hidup memang berat, tapi tetap harus dijalani. Kata Dea Anugrah, “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” Sekalipun hidup adalah pilihan terburuk. Tapi, seperti tulis Sugi Lanus, “Setidaknya kita tidak membuat ibu bersedih.”

Komunitas Aghumi, menghadirkan pertunjukan ini bukan sekadar sebagai alih wahana puisi, tapi sebagai ruang terapeutik. Mereka menjadikan pertunjukan sebagai tempat singgah, tempat “nyawa” berhenti sejenak. Pilihan visual minimalis—kursi, cahaya merah, cat putih di wajah—menegaskan intensitas tubuh dan ruang tanpa harus mengandalkan properti berlebih.

Di sisi lain, beberapa adegan terasa agak repetitif—bantingan kursi yang diulang berkali-kali semacam ingin mengatakan bahwa kelelahan adalah pengulangan tanpa akhir.

Ketika pertunjukan usai, tepuk tangan menggema. Azman mengajak saya ngopi di halaman Graha Yowana Suci. Kami bertemu Pranita Dewi, Hosea, Priyo, dan Moch. Satrio Welang. Malam itu kami menertawakan banyak hal, tubuh yang letih pun ikut beristirahat.
Hidup memang melelahkan, tapi tertawa bersama—itu jeda yang paling sehat. [T]

Catanan tambahan:

Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Tim Produksi:


Artistik: Satria Nugraha, Santi Dewi
Pimpinan Produksi: Agus Pratama
Sutradara: Wulan Saraswati
Aktor: Purba Wiangga

Sinopsis:

Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama adalah Teatrikalisasi puisi karya Pranita Dewi yang dihadirkan oleh Komunitas Aghumi sebagai ruang jeda.

Bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan tentang keberanian untuk berhenti, menatap kembali, dan bernapas. Seperti mendaki gunung, kita kadang kehilangan napas, namun di titik itu pula kita menemukan kehidupan yang paling mujur.

Komunitas Aghumi menelusuri batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian. Karya ini adalah ajakan untuk berhenti sebentar, mendengar detak nyawa yang mungkin sudah lama kita abaikan. Sebab dalam jeda itulah nyawa sering kali paling hidup.

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarETC Book ForumPenerbit Partikularpertunjukan puisiteatrikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI JADI MESIN

Next Post

“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
0
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

Read moreDetails

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
0
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

Read moreDetails
Next Post
“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

"Noris" UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co