2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
October 21, 2025
in Panggung
Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Teatrikalisasi Puisi "Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama"

LELAKI bertubuh tegap berjalan di depan saya. Ia mengenakan celana jeans dan kemeja hitam lengan panjang, lengkap dengan tas punggung abu-abu. Seketika itu, ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan, “Kenapa Aan Mansyur suka jalan kaki?”

Saya hanya menggeleng, separuh karena lelah, separuh karena tidak tahu. Napas saya sudah ngos-ngosan sejak tadi berjalan kaki di trotoar Denpasar yang panas dan sumpek. Kami sudah berjalan hampir setengah kilometer.

“Karena dunia terasa berjalan lebih pelan kalau jalan kaki,” ujarnya sambil menghindari motor yang diparkir di atas trotoar. Saya berpikir sejenak—mungkin benar. Dunia memang terasa berputar lebih cepat setiap hari. Seakan tak ada waktu untuk berhenti, apalagi istirahat—kecuali kita sendiri yang berani mencuri waktu dari laju hidup yang terburu-buru.

Jadi teringat pada puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, Aku berjalan di kota yang berubah / lebih cepat daripada hati manusia.

Barangkali, itulah yang kami alami sore itu. Berjalan pelan di tengah kota yang sibuk adalah bentuk kecil perlawanan terhadap kecepatan dunia. Mungkin dengan berjalan kaki, kita tidak sedang memperlambat waktu, tapi lelaki itu kembali berkata “ente jadi bisa memperhatikan banyak hal saat berjalan, ada kucing, ada tukang parkir, yang tidak akan mungkin diperhatikan kalau naik motor.”

Namun, konsep waktu ini memang bisa diperdebatkan. Apakah berjalan kaki benar-benar membuat dunia melambat? Atau malah membuat kita kehilangan waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mengejar sesuatu yang harus diselesaikan? Atau jangan-jangan, seperti di film In Time, waktu adalah nyawa mereka sendiri, kaum elit yang punya banyak waktu bisa hidup sampai 100 tahun, sementara rakyat pinggiran harus bekerja keras agar bisa hidup keesokan harinya.

Hampir saja saya lupa, lelaki yang berjalan di depan saya itu bernama Azman Hassam, kadang juga dikenal sebagai Azman Bahbereh. Ia seorang penulis puisi dan pencinta film. Saya dan dia telah berjalan kaki hampir satu kilometer menuju warung makan rekomendasinya.

Kami berdua baru saja keluar dari sesi diskusi “Buku-Buku yang Menarik Dewan Juri” di ETC Book Forum, Denpasar. Diskusi yang seru bersama Oka Rusmini, tapi perut kami lebih berisik dari pembicaraan di panggung.

Sebelum acara diskusi benar-benar berakhir, kami sudah kabur duluan mencari makan di sekitar Graha Yowana Suci (GYC). Kami memutuskan untuk jalan kaki. Selain karena malas bayar parkir dua kali, salah duanya karena bermotor di Denpasar dengan lalu lintas padat dan banyak jalan satu arah, resiko terlewat sedikit saja tempat yang dituju maka bisa harus putar balik dengan jarak seperti mengelilingi satu kota—apalagi untuk orang yang tidak memahami peta geografi Denpasar.

Matahari mulai tenggelam di langit Denpasar ketika kami berjalan kembali ke GYC. Langkah kami buru-buru agar tidak kelewatan satu pertunjukan yang dijadwalkan malam itu, Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi yang dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Begitu tiba, tata ruangan telah diatur. Kursi-kursi digeser, proyektor dipasang di tengah panggung, dan lampu ruang diredupkan. Di panggung, lampu merah menyala pelan, menciptakan atmosfer sunyi yang sekaligus mencekam. Kami duduk di bean bag paling depan—ingin dekat, tapi juga ingin beristirahat.

Purba Wiangga sedang menatap kursi | Foto: Satu Frekuensi

Seorang lelaki muncul. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, celana jeans, dan membawa tas punggung. Wajahnya diolesi cat putih yang melingkar di area mata, mulut, dan bergari di hidung, seperti ada topeng yang menggantung di wajahnya. Ia meletakkan tas, melepas kemeja, lalu berjalan pelan ke arah laptop. Dengan satu ketukan tombol enter, musik mengalun. Ia berdiri, menatap penonton, dan mengucap, “Nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Seketika instrumen drum terdengar berat, berpadu dengan bunyi terompet yang menguar menjadi instrumental yang mencekam. Tak lama, suara lelaki dalam rekaman mulai terdengar, membacakan puisi Pranita Dewi.

Aku berjalan di kota yang berubah
lebih cepat dari pada hati manusia.
Aku sering mencium lagu di tiap tikungan,
tersandung oleh kata-kata di trotoar
…

Aktor—yang kemudian saya ketahui bernama Purba Wiangga—mengambil kursi kayu di sisi panggung. Ia memanggulnya di punggung seperti menanggung beban hidup. Lalu, tiba-tiba, kursi itu dibanting keras ke lantai. Suaranya memecah ruang, membuat saya tersentak.

Purba Wiangga mendorong kursi | Foto: Satu Frekuensi

Ia terus menggerakkan kursinya, juga menunggangi kursi layaknya seorang koboi yang sedang memacu kuda. Kursinya tampak sudah reyot. Tetapi Purba Wiangga tetap menaikinya, memutarnya, mengangkatnya, dibanting ke belakang, diangkat lagi dan dibanting lagi.

Gerakan itu diulangi beberapa kali, terus mengulang gerak seperti mesin yang kehilangan kendali.  Situasi yang tercipta menegangkan, bagaimana jika tiba-tiba kaki kursi kayu reyot itu patah dan bisa saja mencelakai aktornya. Tapi, mungkin di situlah ketegangan yang dicari, seperti perasaan gentar antara tubuh yang rapuh dan kehendak untuk tetap hidup.

Setelah itu Purba Wiangga mulai berbicara sendiri—tentang kuliah, tentang tugas-tugas, tentang rasa lelah yang menumpuk.

“Rutinitas kuliah terasa begitu melelahkan. Tapi aku tahu, aku harus terus berjalan. Walau terkadang harus mengorbankan idealismeku. Demi sebuah realitas.” gumamnya.

Adegan ini menghadirkan teks baru di luar puisi Pranita Dewi, semacam teks monolog tentang kehidupan mahasiswa yang lelah secara eksistensial. Ada gerak tubuh oleh aktor di hadapan kami, menjelma jadi sesuatu yang kalau boleh saya sebut dengan puisi tubuh barangkali.

Aktor di depan para penonton | Foto: Satu Frekuensi

Puisi Pranita Dewi yang terdengar dari rekaman telah berpadu dengan teks keluh kesah tentang tugas kuliah, idealisme, dan realitas mahasiswa. Sementara, gerak tubuh aktor semacam menjadi simbolik kenyataan beban hidup yang dialaminya.


Komunitas Aghumi, lewat tafsirnya, membawa puisi ke konteks sosial hari ini—rutinitas akademik yang menumpulkan rasa hidup, menggambarkan tubuh muda yang kehilangan arah namun tetap harus bergerak. Tentang batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian.

Di titik ini, Ingatan saya kembali ke percakapan di trotoar sore tadi. Tentang berjalan pelan di dunia yang serba cepat. Tentang mencari napas di tengah rutinitas yang melelahkan. Semacam ada hal yang patut direnungkan lagi soal menjalani hidup yang sadar. Dan Aan Mansyur pernah mengatakan “Semakin cepat sampai ke tempat tujuan semakin sedikit yang bisa dihayati. Dan puisi tidak ada di hal-hal besar.”

Maksud saya, memberi jeda itu sama seperti memberi ruang diri untuk lebih menghayati hidup, walau dengan hal kecil saja. Sesimpel memilih berjalan kaki dalam hal-hal tertentu. Siapa tau puisi bisa muncul dari sana seperti kata Aan di atas.

Saya pun menduga Pranita Dewi menulis puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama  saat ia sedang berjalan kaki ke suatu tempat. Saya membayangkan Pranita berhenti di  bawah pohon ketapang, berteduh, dan merefleksikan dinamika hidup yang telah lama ia jalani—duduk termenung sendiri di suatu malam lalu menarik nafas dalam-dalam dan menulis “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Di depan panggung, Purba Wiangga kembali memutar dan membanting kursi, sambil berkeluh kesah tentang tugas-tugas kuliahnya. Beban perkuliahan seolah membuatnya ingin mati saja.

“Di kampus aku harus tetap fokus. Berpindah dari satu mata kuliah ke mata kuliah lain. Mengerjakan tugas—matematika, fisika—sampai aku lelah!” ujarnya, duduk di atas kursi kayu yang tampak mulai reyot. Ia melanjutkan, “Seusai kuliah pun aku tetap harus bersosialisasi dengan teman-teman di kampus. Biar keren. Biar trendi. Begitu terus, setiap hari berulang-ulang. Sampai-sampai aku lupa… aku ini sedang tumbuh, atau hanya berusaha untuk tetap hidup?”

Membawa konteks perkuliahan sebagai rutinitas yang melelahkan. Memang melelahkan. Namun di situ juga terbesit pertanyaan kenapa harus perkuliahan? Kenapa tidak dalam konteks pekerjaan, atau dalam konteks hubungan percintaan yang sering membuat orang ingin mengakhiri hidup. Atau hal ini terlalu klise.

Bicara soal hidup yang melelahkan, setiap orang punya versinya sendiri. Ada yang lelah karena kuliah, ada yang lelah karena kerja, ada pula yang lelah karena cinta. Mencintai orang yang tidak mencintai balik, misalnya—melelahkan bukan? Bahkan menulis puisi pun bisa jadi pekerjaan yang sangat melelahkan.

Purba Wiangga memainkan kursi | Foto: Satu Frekuensi

Jahe Biru, nama pena, yang saat itu membuka lapak puisi one the spot di ETC Book Forum, memilih istirahat lebih awal sebelum acara benar-benar usai. Ia kelelahan mendengar curhat orang-orang di sana dan harus segera menerjemahkannya menjadi puisi. Saya dan Azman sudah antre lama karena ingin juga dituliskan puisi. Tapi, ketika satu orang di depan kami selesai dibuatkan puisi, Jahe Biru malah mematikan lampu di atas mejanya dan menutup mesin ketik birunya. “Lelah,” ucapnya singkat.

Saya dan Azman hanya bisa saling pandang dan menggeleng. Yah, kami juga lelah—lelah menunggu, dan lelah karena ternyata tidak jadi.

Kita balik ke soal kenapa Komunitas Aghumi mencoba mengambil konteks lelah dalam dunia perkuliahan? Apakah puisinya Pranita Dewi membicarakan itu? Urgensi apa sedang terjadi?

Tapi, siapa yang bisa melarang interpretasi seseorang terhadap puisi. Komunitas Aghumi tentu memiliki kebebasan untuk membaca dan menghubungkan makna sesuai pengalaman mereka sendiri.

Saya jadi teringat pada kasus bunuh diri Timothy Anugerah, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bali beberapa waktu lalu—peristiwa yang barangkali menjadi akumulasi dari kelelahan yang tak sempat diungkapkan.

Kalau pun teatrikalisasi puisi ini dikaitkan ke sana, artinya Komunitas Aghumi sedang menanggapi sesuatu yang lebih besar—sebuah urgensi sosial yang selama ini sering dilupakan. Dalam laporan BRIN, Yurika Fauzai Wardhani mencatat bahwa dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia (2012–2023), sekitar 46,63% dilakukan oleh remaja. Laki-laki tercatat lebih rentan karena tuntutan budaya yang mengekang ekspresi emosional mereka, dan dari semua jenjang pendidikan, mahasiswa menempati posisi tertinggi.

Saya sebenarnya tidak bisa lagi berbicara apa-apa, kampus bukan lagi ruang aman. Pelecehan, perundungan, dan berbagai tekanan terjadi di sana. Mahasiswa seolah tidak bisa apa-apa dengan nasibnya sendiri.

Dalam Teatriikalisasi Puisi Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama, tubuh Purba Wiangga menjadi semacam manifestasi kelelahan generasi muda. Tubuh yang tetap bergerak meski nyawanya tertinggal; tubuh yang tetap bertahan karena menyerah bukan pilihan.

“Bagiku, hidup tidak harus dihindari. Tapi dijalani. Di nafas yang tersengal dan gelap. Kesetiaan bukan tentang pergi saat jalannya berbeda. Tapi keberanian untuk bertahan di saat segalanya berubah,” ucap Purba Wiangga dengan lirih. Ia melanjutkan, “O nyawa, tinggallah sejenak lebih lama.”

Kalimat itu menutup monolognya. Seperti gema doa dan pernyataan hidup: bahwa hidup memang berat, tapi tetap harus dijalani. Kata Dea Anugrah, “Dari sekian banyak cara untuk mati, yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” Sekalipun hidup adalah pilihan terburuk. Tapi, seperti tulis Sugi Lanus, “Setidaknya kita tidak membuat ibu bersedih.”

Komunitas Aghumi, menghadirkan pertunjukan ini bukan sekadar sebagai alih wahana puisi, tapi sebagai ruang terapeutik. Mereka menjadikan pertunjukan sebagai tempat singgah, tempat “nyawa” berhenti sejenak. Pilihan visual minimalis—kursi, cahaya merah, cat putih di wajah—menegaskan intensitas tubuh dan ruang tanpa harus mengandalkan properti berlebih.

Di sisi lain, beberapa adegan terasa agak repetitif—bantingan kursi yang diulang berkali-kali semacam ingin mengatakan bahwa kelelahan adalah pengulangan tanpa akhir.

Ketika pertunjukan usai, tepuk tangan menggema. Azman mengajak saya ngopi di halaman Graha Yowana Suci. Kami bertemu Pranita Dewi, Hosea, Priyo, dan Moch. Satrio Welang. Malam itu kami menertawakan banyak hal, tubuh yang letih pun ikut beristirahat.
Hidup memang melelahkan, tapi tertawa bersama—itu jeda yang paling sehat. [T]

Catanan tambahan:

Teatrikalisasi  Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” karya Pranita Dewi, dipentaskan oleh Komunitas Aghumi.

Tim Produksi:


Artistik: Satria Nugraha, Santi Dewi
Pimpinan Produksi: Agus Pratama
Sutradara: Wulan Saraswati
Aktor: Purba Wiangga

Sinopsis:

Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama adalah Teatrikalisasi puisi karya Pranita Dewi yang dihadirkan oleh Komunitas Aghumi sebagai ruang jeda.

Bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai puncak, melainkan tentang keberanian untuk berhenti, menatap kembali, dan bernapas. Seperti mendaki gunung, kita kadang kehilangan napas, namun di titik itu pula kita menemukan kehidupan yang paling mujur.

Komunitas Aghumi menelusuri batas antara hidup dan rutinitas. Tentang tubuh yang terus bergerak meski letih, tentang jiwa yang mencari jeda di tengah suntuk keseharian. Karya ini adalah ajakan untuk berhenti sebentar, mendengar detak nyawa yang mungkin sudah lama kita abaikan. Sebab dalam jeda itulah nyawa sering kali paling hidup.

Reporter/Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarETC Book ForumPenerbit Partikularpertunjukan puisiteatrikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI JADI MESIN

Next Post

“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
“Noris” UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

"Noris" UKM Satyam Siwam Sundaram Unud: Tari Kontemporer yang Membaca dan Bersuara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co