3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI JADI MESIN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 21, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Oktober 2025

“Bali adalah mesin…”.

Ungkapan penting ini mengemuka secara tidak langsung dalam forum Balinomics di Denpasar, Bali, Sabtu, 17 Oktober 2025. Dimuat oleh Antaranews dengan mengutip apa yang disampaikan perwakilan Bank Indonesia di Bali.

Menjadi kenyataan pahit jika Bali di mata investor dan pemerintah pusat hanya dilihat sebatas mesin pelipat ganda uang. Tanpa pertimbangan serius-mendalam terhadap dampak religi, sosio-kultural dan ekologinya.

Celakanya, orang Bali umumnya terlena dengan pujian. Padalah, di balik pujian yang berlimpah, terselip agenda menjual Bali dan memperalat Bali dan warganya. Jadi alat. Jadi mesin. Artinya: Bisa mogok, bisa mengeluarkan polusi dan kerusakan lingkungan, dan ingat, setiap mesin tunduk pada tuan/pemiliknya.

Bali adalah mesin? Mesin apa?

Situasi liar investasi di Bali mencerminkan Pulau Bali telah dijadikan pabrik yang digerakkan oleh “mesin kapitalisme”.

Apa daya rusak “mesin kapitalisme” pariwisata?

BALI DIKUASAI PARA PEMODAL

Sekitar 90% lahan strategis di di daerah wisata terbaik di Bali telah dikuasai oleh pemodal besar dan investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Penduduk lokal sering kali terpinggirkan di tanah sendiri, kehilangan akses terhadap jalan, pantai, dan sumber daya mereka, dan diposisikan menjadi “jongos pariwisata”. Direkrut sebatas menjadi penjaga dan atau buruh penggarap di tanah sendiri.

ORIENTASI KEUNTUNGAN, BUKAN ALAM-BUDAYA

Promosi Bali mengutamakan jumlah wisatawan yang sebesar-besarnya, tanpa pertimbangan daya dukung alam dan keselarasan nilai agama, budaya, dan kelestarian alam. Ini menuju arah chaos.

Bali dijadikan arena perang harga properti dan akomodasi wisata, harga ditekan, kualitas merosot terus, alam digencet, kualitas lenyap, Bali pun berujung jadi “pulau murahan”.

PEMERKOSAAN ALAM

Pembangunan infrastruktur pariwisata telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan gesekan sosial.

Contoh kasus yang belakangan terkuak: Pulau Kura-Kura, GWK, Nuanu, PARQ UBUD, kawasan villa-resort-restorant yang makan sempadan sungai dan laut, dll.

Penyusutan pertanian (sawah dan subak) tak terbendung, krisis air bersih terjadi, dan masalah sampah menjadi “bencana plastik”. Banjir melanda.

GAP SOSIAL SI KAYA VS SI MISKIN

Mesin kapitalisme pariwisata memperlebar jurang antara para pengusaha-investor besar dengan masyarakat lokal.

Kelompok elit yang berjumlah kecil ini akan mendapat kue terbesar. Mayoritas orang Bali hanya mendapatkan remah-remah kue. Dan malangnya, mendapat porsi remah kue tapi bertanggungjawab bersih-bersih gunung tumpukan dan sungai sampah.

DESA ADAT DIKALAHKAN PEMODAL

Bermunculan kasus: Aktivitas komersial menggangu upacara agama. Pemodal merusak alam dan mendirikan bangunan/fasilitas berat merusak lingkungan, prajuru dan krama adat tidak mampu membendung. Pejabat mengaku kaget.

Di banyak tempat pemodal menghalalkan jalan dengan menyuap pejabat dan pemimpin adat. Bahkan mengadu domba pemucuk desa adat demi mengamankan aset.

HINDU BALI DIJADIKAN JUALAN

Seni budaya yang lahir dari rahim tradisi Hindu Bali terang-terangan dijual kepada wisatawan. Nilai-nilai agama dijadikan komoditas dan dieksploitasi.

Contoh: Pulau buatan hasil merusak terumbu karang, pengusuran ruang nelayan, penutupan akses religi lokal, secara memalukan didukung pemerintah pusat, dipromosikan sebagai destinasi berbasis “Tri Hita Karana”, bahkan diklaim sebagai tempat ‘melukat’.

Dampak busuk “mesin kapitalisme pariwisata” di Bali dapat disimpulkan sbb:

1> Perubahan mindset Bali: Nilai-nilai budaya Bali dikalahkan oleh logika ekonomi dan komersial. Nilai-nilai budaya Bali semata-mata dihargai sebagai “barang dagangan”.

2> Kerusakan alam terkendali: Kerusakan tebing, konversi sawah dan lahan hijau, kerusakan sempadan serta pesisir, sumber mata air, baik danau dan hulu sungai, sudah menjadi bola api liar yang melenyapkan ide awal pengambangan pariwisata budaya yang keberlanjutan. Bali terjun bebas ke lembah kegelapan.

3> Kedaulatan masyarakat Bali hilang: Warga dan desa pakraman telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Di banyak lokasi paling indah dan terstrategis di Bali, orang Bali telah menjadi “tamu” di tanah leluhur sendiri. Ini telah meluas sampai ke pelosok Bali. Tidak terbendung.

Ungkapan “Bali adalah mesin…” adalah alarm yang telah lama bergaung membangunkan masyarakat Bali. Tapi karena pejabat dan politisinya sibuk kongkalikong dan menjadi maklar, masyarakat Bali dinina-bobokkan seakan-akan Bali masih baik-baik saja.

Alih-alih Bali dikelola sebagai sebuah warisan leluhur yang memiliki nilai budaya dan kesucian, Bali telah dijadikan mesin pencuci uang, mesin pelipat ganda keuntungan, buta-bongol bergerak melabrak dan merusak alam sekitarnya, serta mencelakai dan memecah-belah krama Bali sendiri. [T]

Tags: baliHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Transformasi Jejaring Jalan Bali dari Kosmologi menjadi Koridor Kapital

Next Post

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Dunia Terasa Lamban Setelah Jalan Kaki di Denpasar dan Menonton Teatrikalisasi Puisi “Nyawa, Tinggallah Sejenak Lebih Lama” di ETC Book Forum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co