SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja. Satu hari ia berhenti menjadi orang biasa, dan menjadi orang kalap.
Tanggal 31 Desember. Hari terakhir di setiap tahun. Ia kalap dan kewajibannya hanya satu: Menjalankan satu tugas mahapenting, mahamulia yang akan membantu orang banyak.
Tugas yang mahaberat tapi lima tahun terakhir sudah ia laksanakan dengan baik.
Melaksanakan dengan baik bukan berarti ia berhenti menangis sebelum ia harus bertugas, seperti malam itu.
Ia menganggukkan kepala berkali-kali, dan dengan setiap anggukan, air matanya deras mengalir. Tangannya gemetar mengusap hidungnya yang penuh ingus. Berkali-kali. Tapi air matanya begitu bandel dan terus mengalir.
Pertanyaan yang terus berkeliaran di benaknya adalah: Apakah aku setan dengan melakukan perbuatan ini, walau perbuatan ini akan membantu orang banyak? Perbuatan ini akan mencegah kematian orang-orang seperti kematian … Ia tidak sanggup melanjutkan kalimat di benaknya itu, matanya kini lurus terpaku pada sebuah foto berpigura hitam polos di atas meja tulisnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum yang begitu benderang. Demi dirimu. Semua demi dirimu, Bunda, bisiknya dalam hati dengan tatapan tak putus dari foto itu.
Bukan, ia bukan setan. Sama sekali bukan.
Ia hanya manusia biasa yang bisa marah, luar biasa marah, kemarahan yang berhasil menggetarkan gerbang neraka dan neraka mengirimkan seseorang untuknya. Dia.
Dia yang telah membantu merencanakan semua perbuatannya ini. Dia yang hanya bisa ia dengar suaranya, berbisik di telinganya, bisikan yang mulai ia dengar hari itu—31 Desember 6 tahun lalu—ketika ia hancur lebur di pemakaman Bunda. Dia membisikkan kata-kata penghiburan di telinganya.
Suara dia begitu merdu, mirip suaranya sendiri kalau lagi tidak menangis.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Begitu tanya dia padanya ketika ia berlutut di hadapan makam Bunda yang masih merah.
Ia menjawab dengan segenap kesedihan dan kemarahan.“Bundaku dibegal. Tasnya dirampas dan dia ditikam klewang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku marah, sangat marah.”
“Sudah ketahuan pelakunya?”
“Belum. Tidak ada saksi mata. Kecil kemungkinan akan tertangkap. Bunda meninggal sia-sia.”
Sunyi. Lalu dia berkata pelan tapi pasti, “Kematian Bunda tidak akan sia-sia.”
Ia kaget mendengar kepastian di nada suara itu, lalu bertanya pada dia,
”Apa maksudmu?”
Dia terdiam, lalu menjawab dalam bisikan serak,“Maukah kau kalau kuberi sebuah jalan untuk pembalasan dendam? Memberi keadilan untuk Bunda … dengan caraku?”
Ia membeku sejenak mendengar bisikan dia. Hanya dua kata yang ia proses: Keadilan. Pembalasan.
Mulutnya menganga sejenak, segenap memorinya mengenai Bunda berkelebatan di benaknya, dan ia tidak ingat bagaimana ia mencapai keputusan itu, tapi ia mengangguk.
Anggukan yang membawanya menghabiskan tahun setelah kematian Bunda untuk menyiapkan pembalasannya, dan pembalasan dendam pertamanya adalah pada 31 Desember 5 tahun lalu, dan sejak itu ia belum berhenti. Sementara dia telah menjelma menjadi sang dia karena semua kata-kata dan perintah dia sangat sulit ia tolak, dia menjadi semacam majikan baginya. Ia melayani sang dia.
“Bunda …” Ia berbisik sambil jari-jemarinya gemetar mengelus permukaan bingkai foto itu dengan sangat hati-hati. “Aku sayang Bunda, ini semua demi Bunda.”
Ia menghela napas, dan tangisnya mendesak-desak keluar lagi. “Aku sudah jadi dokter, Bunda. Aku menolong orang setiap hari, menyelamatkan nyawa mereka. Kecuali hari ini, di hari terakhir tahun ini. Aku dan dia akan membalas kematianmu. Aku harap Bunda mau mengerti dan mengampuniku.”
Ia menghela napas, menghapus air matanya sekali lagi, dan dengan jari-jemari yang masih gemetar meraih sebuah peta dari laci mejanya.
Peta itu lusuh karena sudah ia buka tutup berkali-kali. Dengan satu hentakan tangan, ia membuka peta itu di atas meja tulisnya dan matanya mulai mengawasi isinya. Peta itu adalah peta kotanya yang sudah penuh dengan berbagai coretan tangannya: tanggal, angka-angka, dan di antara sekian banyak angka-angka itu, ada beberapa yang ia beri silang merah dan catatan kecil di samping silang itu: SELESAI.
Hujan di luar turun dengan deras menghantam atap seng kamar kosnya, bising tapi ia tidak terganggu sama sekali. Ia duduk tegak, konsentrasinya ia fokuskan penuh ke peta lusuh di atas meja. Sesekali ia menelengkan kepala ketika ia mengamati angka-angka yang ada, matanya tak berkedip menatap semua angka itu, seakan sebuah keputusan besar tengah bergantung pada ketelitiannya menganalisa angka-angka itu.
Jari telunjuk kanannya bergerak pelan menyusuri nama beberapa kelurahan, bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya jari itu berhenti di satu nama. “Giliranmu,” ia berbisik sambil mengambil spidol merah dan melingkari satu nama kelurahan dengan angka tertinggi. “Tahun lalu kamu nomor dua … sekarang lihatlah, paling tinggi!” Ia nanar sambil mengetuk-ngetuk nama kelurahan yang baru ia lingkari.
Lalu ia tercenung selama beberapa menit, tatapannya kosong, dan jari-jemarinya mencengkeram tempurung lututnya. Ia hanya duduk tegap kaku dalam keheningan. Mengatur napas. Menghapus airmata. Menatap foto Bunda. Mencari tanda pengampunan.
Setelah beberapa menit duduk diam, ia bisa merasakan kehadiran sang dia yang selalu diiringi rasa gelap dan dingin di sanubarinya.Bagaikan robot, ia berdiri, menuju lemari pakaiannya, dan membuka lemari tua itu. Bau lumut dan debu menyeruak menyerbu indera penciuman. Tangannya meraih satu set pakaian yang ia letakkan di tumpukan paling bawah.
Pakaian yang berupa satu set kebaya encim berbordir tempel merah marun keemasan. Warisan Bunda untuknya. Kebaya encim yang sudah menjadi milik Bunda sejak masa gadisnya, dan setelah Bunda pergi selama-lamanya, kebaya itu menjadi harta paling berharganya.
Dengan hati-hati, ia mengenakan kebaya itu. Samar-samar ia masih bisa mencium bau parfum Bunda di sela-sela serat kain kebaya itu. Ia berdoa semoga tahun depan bau itu masih ada, bau yang menguatkannya dalam menjalankan tugas ini.
Ia sudah lama berhenti menangis ketika ia mematut diri di hadapan cermin. Tangannya mulai lincah menyisir rambutnya yang hitam legam, panjang sepinggangnya dan membuat satu sanggulan kecil. Lalu ia memulas bibirnya dengan lipstik merah darah, menambahkan celak warna hitam di matanya, dan membedaki wajahnya. Terakhir, ia meraih sarung tangan sutra berwarna putih dari dalam laci bajunya, sarung tangan yang juga milik Bunda. Ia mengenakan sarung tangan itu dengan hati-hati.
Setelah puas dengan penampilannya, ia berdiri tegap di tengah ruangan. Sang dia sudah menyiapkan segalanya, di situ, di bawah ranjangnya, di dalam sebuah kotak karton bekas mi instan.
Ia berlutut, mengambil kotak itu, dan meraih suatu benda dari dalamnya.
Ia tersenyum melihat benda yang sudah disiapkan sang dia: Pelan-pelan ia membuka bungkus kertas benda itu, dan melihat sebuah tas kulit buaya berwarna merah darah, mengkilap mulus, berukuran sedang, dengan gagang rantai emas, dan logo tas juga dari bahan emas mengkilap. Tas itu terlihat eksklusif, mahal, mewah.
“Bagus …” Ia berbisik dengan mata berbinar ketika ia meraih tas itu dengan amat hati-hati. Ritsleting tas itu tertutup rapat, dan ia tahu, ia tidak boleh membukanya.
Hatinya cukup teguh sekarang untuk menjalankan tugasnya. Ia harus pergi sekarang. Rencana pembalasan dendam dirinya dan sang dia hanya akan berhasil kalau waktunya pas dan ia tidak terlambat, tidak sedetik pun.
#
Hujan telah berhenti, menyisakan jalanan yang basah berkilap. Ia berjalan di gang sepi itu, gang di kelurahan yang menjadi tempatnya menjalankan tugas malam ini berdasarkan peta yang ia periksa tadi. Kelurahan yang berdasarkan risetnya adalah kelurahan dengan angka begal tertinggi tahun ini.
Gang itu sepi karena semua keramaian terpusat di sebuah lapangan sepakbola tak jauh dari situ, gegap gempita panggung musik live dengan petasan bertalu-talu terdengar.
Tas kulit buayanya ia genggam erat di tangannya yang bersarung tangan sutra, dan ia terus berjalan menyusuri gang itu.
Lamat-lamat telinganya menangkap deru motor dari arah belakangnya. Deru motor yang semakin mendekat ke arahnya.
Ia tersenyum. Setelah berkali-kali melakukan tugas ini, firasatnya sudah begitu terlatih. “Selalu ada. Selalu ada manusia jahanam yang merampas apa yang bukan menjadi haknya—” ia bergumam.“Selalu ada.”
Deru motor itu semakin dekat.
Jantungnya berdegup kencang.
Deru motor itu tepat di belakangnya.
Ia mulai menghitung dalam hatinya—
Satu …
Dua …
Tiga!
Tas di genggaman tangannya ditarik—mungkin istilah lebih tepat adalah disambar keras.
Ia mencoba untuk tidak tersenyum, dan berpura-pura mencoba mempertahankan tas itu, sebelum merelakannya dibegal seseorang di atas sepeda motor yang kini dipacu kencang, menghilang di ujung gang.
Langkahnya terhenti. Matanya awas mengawasi sekeliling. “Tidak ada saksi mata. Bagus,” ia berkata pelan sambil menatap tanpa kedip ujung gang tempat pembegalnya melarikan diri.
“Selamat Akhir Tahun,” ia berucap sinis. “Karena tidak akan ada tahun baru untukmu.”
Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Dalam hatinya ia mulai berdendang nada-nada pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan Bunda saat ia masih kecil, dan ia mulai berhitung—
Satu, dua, tiga, empat …
Tepat di hitungan kelima, gelegar ledakan terdengar di kejauhan, dan ia tersenyum. Satu lagi pembalasan dendam telah ia tunaikan.
#
Malam itu, di antara suara riuh terompet tahun baru dan bunyi petasan, ia berbaring telentang di ranjang, dalam balutan kebaya encim warisan Bunda dan dekapan keheningan pikirannya, menikmati sisa-sisa manisnya sebuah pembalasan dendam.
Mungkin di antara semua begal yang sudah ia habisi dengan bantuan sang dia, ada pembegal yang sudah mencabut nyawa Bunda. Mungkin tidak. Mungkin orang itu akan ia habisi di tahun-tahun yang akan datang karena ia tidak akan berhenti. Selama ada orang yang merampas apa yang bukan menjadi haknya, ia akan ada untuk menegakkan keadilan dengan caranya. Dengan bantuan sang dia.
Ia kalap. Tapi biarlah, ia tidak apa-apa. Selamat Tahun Baru, ia berucap lirih pada dirinya sendiri. Ia punya satu tahun untuk menyiapkan pembalasan dendam selanjutnya.
Matanya melirik jam di dinding. Hampir jam empat subuh.
Tugas jaganya di UGD RS akan mulai dalam satu jam. Ia tidak boleh terlambat. Pasien-pasiennya menanti. Ia sudah mencabut nyawa malam ini, ia juga akan menebusnya pada hari yang sama.
Ia bangkit dan berjalan sedikit terseok-seok menuju cermin di ujung ruangannya.
Ia menatap wajah di cermin itu. Wajahnya dan wajah sang dia adalah sama persis. Suaranya dan suara sang dia juga adalah sama persis. Tapi mereka tetap berbeda.
Ia adalah dokter, sang dia adalah pencabut nyawa, makhluk yang merupakan pengejawantahan kemarahan dan dukanya yang begitu dalam, makhluk yang lahir dari kegelapan neraka hatinya.
Dengan punggung tangannya, ia menghapus lipstik merah di bibirnya dengan beberapa gosokan keras. Ia menghela napas, menyeringai ke wajah belepotan lipstik dan air mata di cermin, dan berbisik,”Dia adalah aku. Namanya adalah namaku. Tubuhnya adalah tubuhku. Dia dan aku. Dua dalam satu.”
Ia memejamkan matanya erat-erat.
Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, lalu disusul tetes-tetes berikutnya berkejaran di pipinya yang cemang-cemong oleh lipstik dan bedak. Tetes-tetes air mata itu, hangat dan berkilau, bagaikan banjir bandang yang menyapubersih semua bercak noda sang dia dari dalam sanubarinya. Untuk sesaat itu, untuk sementara, sang dia menjadi sunyi. [T]
Penulis: Lia Tjokro
Editor: Adnyana Ole



























