15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Lia Tjokro by Lia Tjokro
October 19, 2025
in Cerpen
Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja. Satu hari ia berhenti menjadi orang biasa, dan menjadi orang kalap.

Tanggal 31 Desember. Hari terakhir di setiap tahun. Ia kalap dan kewajibannya hanya satu: Menjalankan satu tugas mahapenting, mahamulia yang akan membantu orang banyak.

Tugas yang mahaberat tapi lima tahun terakhir sudah ia laksanakan dengan baik.

Melaksanakan dengan baik bukan berarti ia berhenti menangis sebelum ia harus bertugas, seperti malam itu.

Ia menganggukkan kepala berkali-kali, dan dengan setiap anggukan, air matanya deras mengalir. Tangannya gemetar mengusap hidungnya yang penuh ingus. Berkali-kali. Tapi air matanya begitu bandel dan terus mengalir.

Pertanyaan yang terus berkeliaran di benaknya adalah: Apakah aku setan dengan melakukan perbuatan ini, walau perbuatan ini akan membantu orang banyak? Perbuatan ini akan mencegah kematian orang-orang seperti kematian … Ia tidak sanggup melanjutkan kalimat di benaknya itu, matanya kini lurus terpaku pada sebuah foto berpigura hitam polos di atas meja tulisnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum yang begitu benderang. Demi dirimu. Semua demi dirimu, Bunda, bisiknya dalam hati dengan tatapan tak putus dari foto itu.

Bukan, ia bukan setan. Sama sekali bukan.

Ia hanya manusia biasa yang bisa marah, luar biasa marah, kemarahan yang berhasil menggetarkan gerbang neraka dan neraka mengirimkan seseorang untuknya. Dia.

Dia yang telah membantu merencanakan semua perbuatannya ini. Dia yang hanya bisa ia dengar suaranya, berbisik di telinganya, bisikan yang mulai ia dengar hari itu—31 Desember 6 tahun lalu—ketika ia hancur lebur di pemakaman Bunda. Dia membisikkan kata-kata penghiburan di telinganya.

Suara dia begitu merdu, mirip suaranya sendiri kalau lagi tidak menangis.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Begitu tanya dia padanya ketika ia berlutut di hadapan makam Bunda yang masih merah.

Ia menjawab dengan segenap kesedihan dan kemarahan.“Bundaku dibegal. Tasnya dirampas dan dia ditikam klewang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku marah, sangat marah.”

“Sudah ketahuan pelakunya?”

“Belum. Tidak ada saksi mata. Kecil kemungkinan akan tertangkap. Bunda meninggal sia-sia.”

Sunyi. Lalu dia berkata pelan tapi pasti, “Kematian Bunda tidak akan sia-sia.”

Ia kaget mendengar kepastian di nada suara itu, lalu bertanya pada dia,

”Apa maksudmu?”

Dia terdiam, lalu menjawab dalam bisikan serak,“Maukah kau kalau kuberi sebuah jalan untuk pembalasan dendam? Memberi keadilan untuk Bunda … dengan caraku?”

Ia membeku sejenak mendengar bisikan dia. Hanya dua kata yang ia proses: Keadilan. Pembalasan.

Mulutnya menganga sejenak, segenap memorinya mengenai Bunda berkelebatan di benaknya, dan ia tidak ingat bagaimana ia mencapai keputusan itu, tapi ia mengangguk.

Anggukan yang membawanya menghabiskan tahun setelah kematian Bunda untuk menyiapkan pembalasannya, dan pembalasan dendam pertamanya adalah pada 31 Desember 5 tahun lalu, dan sejak itu ia belum berhenti. Sementara dia telah menjelma menjadi sang dia karena semua kata-kata dan perintah dia sangat sulit ia tolak, dia menjadi semacam majikan baginya. Ia melayani sang dia.

“Bunda …” Ia berbisik sambil jari-jemarinya gemetar mengelus permukaan bingkai foto itu dengan sangat hati-hati. “Aku sayang Bunda, ini semua demi Bunda.”  

Ia menghela napas, dan tangisnya mendesak-desak keluar lagi. “Aku sudah jadi dokter, Bunda. Aku menolong orang setiap hari, menyelamatkan nyawa mereka. Kecuali hari ini, di hari terakhir tahun ini. Aku dan dia akan membalas kematianmu. Aku harap Bunda mau mengerti dan mengampuniku.”

Ia menghela napas, menghapus air matanya sekali lagi, dan dengan jari-jemari yang masih gemetar meraih sebuah peta dari laci mejanya.

Peta itu lusuh karena sudah ia buka tutup berkali-kali. Dengan satu hentakan tangan, ia membuka peta itu di atas meja tulisnya dan matanya mulai mengawasi isinya. Peta itu adalah peta kotanya yang sudah penuh dengan berbagai coretan tangannya: tanggal, angka-angka, dan di antara sekian banyak angka-angka itu, ada beberapa yang ia beri silang merah dan catatan kecil di samping silang itu: SELESAI.

Hujan di luar turun dengan deras menghantam atap seng kamar kosnya, bising tapi ia tidak terganggu sama sekali. Ia duduk tegak, konsentrasinya ia fokuskan penuh ke peta lusuh di atas meja. Sesekali ia menelengkan kepala ketika ia mengamati angka-angka yang ada, matanya tak berkedip menatap semua angka itu, seakan sebuah keputusan besar tengah bergantung pada ketelitiannya menganalisa angka-angka itu.

Jari telunjuk kanannya bergerak pelan menyusuri nama beberapa kelurahan, bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya jari itu berhenti di satu nama. “Giliranmu,” ia berbisik sambil mengambil spidol merah dan melingkari satu nama kelurahan dengan angka tertinggi. “Tahun lalu kamu nomor dua … sekarang lihatlah, paling tinggi!” Ia nanar sambil mengetuk-ngetuk nama kelurahan yang baru ia lingkari.

Lalu ia tercenung selama beberapa menit, tatapannya kosong, dan jari-jemarinya mencengkeram tempurung lututnya. Ia hanya duduk tegap kaku dalam keheningan. Mengatur napas. Menghapus airmata. Menatap foto Bunda. Mencari tanda pengampunan.

Setelah beberapa menit duduk diam, ia bisa merasakan kehadiran sang dia yang selalu diiringi rasa gelap dan dingin di sanubarinya.Bagaikan robot, ia berdiri, menuju lemari pakaiannya, dan membuka lemari tua itu. Bau lumut dan debu menyeruak menyerbu indera penciuman. Tangannya meraih satu set pakaian yang ia letakkan di tumpukan paling bawah.

Pakaian yang berupa satu set kebaya encim berbordir tempel merah marun keemasan. Warisan Bunda untuknya. Kebaya encim yang sudah menjadi milik Bunda sejak masa gadisnya, dan setelah Bunda pergi selama-lamanya, kebaya itu menjadi harta paling berharganya.

Dengan hati-hati, ia mengenakan kebaya itu. Samar-samar ia masih bisa mencium bau parfum Bunda di sela-sela serat kain kebaya itu. Ia berdoa semoga tahun depan bau itu masih ada, bau yang menguatkannya dalam menjalankan tugas ini.

Ia sudah lama berhenti menangis ketika ia mematut diri di hadapan cermin. Tangannya mulai lincah menyisir rambutnya yang hitam legam, panjang sepinggangnya dan membuat satu sanggulan kecil. Lalu ia memulas bibirnya dengan lipstik merah darah, menambahkan celak warna hitam di matanya, dan membedaki wajahnya. Terakhir, ia meraih sarung tangan sutra berwarna putih dari dalam laci bajunya, sarung tangan yang juga milik Bunda. Ia mengenakan sarung tangan itu dengan hati-hati.

Setelah puas dengan penampilannya, ia berdiri tegap di tengah ruangan. Sang dia sudah menyiapkan segalanya, di situ, di bawah ranjangnya, di dalam sebuah kotak karton bekas mi instan.

Ia berlutut, mengambil kotak itu, dan meraih suatu benda dari dalamnya.

Ia tersenyum melihat benda yang sudah disiapkan sang dia: Pelan-pelan ia membuka bungkus kertas benda itu, dan melihat sebuah tas kulit buaya berwarna merah darah, mengkilap mulus, berukuran sedang, dengan gagang rantai emas, dan logo tas juga dari bahan emas mengkilap. Tas itu terlihat eksklusif, mahal, mewah.

“Bagus …” Ia berbisik dengan mata berbinar ketika ia meraih tas itu dengan amat hati-hati. Ritsleting tas itu tertutup rapat, dan ia tahu, ia tidak boleh membukanya.

Hatinya cukup teguh sekarang untuk menjalankan tugasnya. Ia harus pergi sekarang. Rencana pembalasan dendam dirinya dan sang dia hanya akan berhasil kalau waktunya pas dan ia tidak terlambat, tidak sedetik pun.

#

Hujan telah berhenti, menyisakan jalanan yang basah berkilap. Ia berjalan di gang sepi itu, gang di kelurahan yang menjadi tempatnya menjalankan tugas malam ini berdasarkan peta yang ia periksa tadi. Kelurahan yang berdasarkan risetnya adalah kelurahan dengan angka begal tertinggi tahun ini.

Gang itu sepi karena semua keramaian terpusat di sebuah lapangan sepakbola tak jauh dari situ, gegap gempita panggung musik live dengan petasan bertalu-talu terdengar.

Tas kulit buayanya ia genggam erat di tangannya yang bersarung tangan sutra, dan ia terus berjalan menyusuri gang itu.

Lamat-lamat telinganya menangkap deru motor dari arah belakangnya. Deru motor yang semakin mendekat ke arahnya.

Ia tersenyum. Setelah berkali-kali melakukan tugas ini, firasatnya sudah begitu terlatih. “Selalu ada. Selalu ada manusia jahanam yang merampas apa yang bukan menjadi haknya—” ia bergumam.“Selalu ada.”

Deru motor itu semakin dekat.

Jantungnya berdegup kencang.

Deru motor itu tepat di belakangnya.

Ia mulai menghitung dalam hatinya—

Satu …

Dua …

Tiga!

Tas di genggaman tangannya ditarik—mungkin istilah lebih tepat adalah disambar keras.

Ia mencoba untuk tidak tersenyum, dan berpura-pura mencoba mempertahankan tas itu, sebelum merelakannya dibegal seseorang di atas sepeda motor yang kini dipacu kencang, menghilang di ujung gang.

Langkahnya terhenti. Matanya awas mengawasi sekeliling. “Tidak ada saksi mata. Bagus,” ia berkata pelan sambil menatap tanpa kedip ujung gang tempat pembegalnya melarikan diri.

“Selamat Akhir Tahun,” ia berucap sinis. “Karena tidak akan ada tahun baru untukmu.”

Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Dalam hatinya ia mulai berdendang nada-nada pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan Bunda saat ia masih kecil, dan ia mulai berhitung—

Satu, dua, tiga, empat …                   

Tepat di hitungan kelima, gelegar ledakan terdengar di kejauhan, dan ia tersenyum. Satu lagi pembalasan dendam telah ia tunaikan.

#

Malam itu, di antara suara riuh terompet tahun baru dan bunyi petasan, ia berbaring telentang di ranjang, dalam balutan kebaya encim warisan Bunda dan dekapan keheningan pikirannya, menikmati sisa-sisa manisnya sebuah pembalasan dendam.

Mungkin di antara semua begal yang sudah ia habisi dengan bantuan sang dia, ada pembegal yang sudah mencabut nyawa Bunda. Mungkin tidak. Mungkin orang itu akan ia habisi di tahun-tahun yang akan datang karena ia tidak akan berhenti. Selama ada orang yang merampas apa yang bukan menjadi haknya, ia akan ada untuk menegakkan keadilan dengan caranya. Dengan bantuan sang dia.

Ia kalap. Tapi biarlah, ia tidak apa-apa. Selamat Tahun Baru, ia berucap lirih pada dirinya sendiri. Ia punya satu tahun untuk menyiapkan pembalasan dendam selanjutnya.

Matanya melirik jam di dinding. Hampir jam empat subuh.

Tugas jaganya di UGD RS akan mulai dalam satu jam. Ia tidak boleh terlambat. Pasien-pasiennya menanti. Ia sudah mencabut nyawa malam ini, ia juga akan menebusnya pada hari yang sama.

Ia bangkit dan berjalan sedikit terseok-seok menuju cermin di ujung ruangannya.

Ia menatap wajah di cermin itu. Wajahnya dan wajah sang dia adalah sama persis. Suaranya dan suara sang dia juga adalah sama persis. Tapi mereka tetap berbeda.

Ia adalah dokter, sang dia adalah pencabut nyawa, makhluk yang merupakan pengejawantahan kemarahan dan dukanya yang begitu dalam, makhluk yang lahir dari kegelapan neraka hatinya.

Dengan punggung tangannya, ia menghapus lipstik merah di bibirnya dengan beberapa gosokan keras. Ia menghela napas, menyeringai ke wajah belepotan lipstik  dan air mata di cermin, dan berbisik,”Dia adalah aku. Namanya adalah namaku. Tubuhnya adalah tubuhku. Dia dan aku. Dua dalam satu.”

Ia memejamkan matanya erat-erat.

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, lalu disusul tetes-tetes berikutnya berkejaran di pipinya yang cemang-cemong oleh lipstik dan bedak. Tetes-tetes air mata itu, hangat dan berkilau, bagaikan banjir bandang yang menyapubersih semua bercak noda sang dia dari dalam sanubarinya. Untuk sesaat itu, untuk sementara, sang dia menjadi sunyi. [T]

Penulis: Lia Tjokro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mujamin Jassin | Aku Sebilah Pelor

Next Post

TIMOTHY ADALAH SAYA

Lia Tjokro

Lia Tjokro

Lahir di Palembang dan menghabiskan masa kanak-kanak sampai remajanya di sana. Ia pindah ke Singapura pada tahun 1998 dan setelah menyelesaikan SMA-nya di sana, ia pindah ke Amerika. Di Amerika ia menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 di bidang psikologi kognitif/neurosains kognitif. Setelah meraih gelar Ph.D-nya, ia kembali ke Singapura dan bekerja selama enam tahun sebagai dosen di National University of Singapore (NUS). Sekarang ia berdomisili di Belanda bersama suami, anak, dan anabulnya. Di Belanda, ia mulai menemukan kembali kecintaannya pada kegiatan menulis. Ia menulis novel, novela, cerpen, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Karya novel cetak debutnya berjudul Sang Pemanah Matahari (Tisapinkluv, 2023). Cerpen dan puisinya sudah terbit di jurnal-jurnal sastra internasional seperti Porch Litmag, Kitaab, The Citron Review, Mekong Review, Harrow House Journal, Ricepaper Magazine, ScribesMICRO, dan The Writing Disorder. Ia bisa ditemui di sosmednya (IG: februalia1).

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIMOTHY ADALAH SAYA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co