25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Lia Tjokro by Lia Tjokro
October 19, 2025
in Cerpen
Dia yang Kalap | Cerpen Lia Tjokro

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SATU tahun 365 hari, selama 364 hari ia adalah gadis biasa-biasa saja, sangat biasa bahkan. Lalu satu hari, di hari paling akhir di setiap tahun, ia menjadi tidak biasa-biasa saja. Satu hari ia berhenti menjadi orang biasa, dan menjadi orang kalap.

Tanggal 31 Desember. Hari terakhir di setiap tahun. Ia kalap dan kewajibannya hanya satu: Menjalankan satu tugas mahapenting, mahamulia yang akan membantu orang banyak.

Tugas yang mahaberat tapi lima tahun terakhir sudah ia laksanakan dengan baik.

Melaksanakan dengan baik bukan berarti ia berhenti menangis sebelum ia harus bertugas, seperti malam itu.

Ia menganggukkan kepala berkali-kali, dan dengan setiap anggukan, air matanya deras mengalir. Tangannya gemetar mengusap hidungnya yang penuh ingus. Berkali-kali. Tapi air matanya begitu bandel dan terus mengalir.

Pertanyaan yang terus berkeliaran di benaknya adalah: Apakah aku setan dengan melakukan perbuatan ini, walau perbuatan ini akan membantu orang banyak? Perbuatan ini akan mencegah kematian orang-orang seperti kematian … Ia tidak sanggup melanjutkan kalimat di benaknya itu, matanya kini lurus terpaku pada sebuah foto berpigura hitam polos di atas meja tulisnya. Foto seorang wanita paruh baya dengan senyum yang begitu benderang. Demi dirimu. Semua demi dirimu, Bunda, bisiknya dalam hati dengan tatapan tak putus dari foto itu.

Bukan, ia bukan setan. Sama sekali bukan.

Ia hanya manusia biasa yang bisa marah, luar biasa marah, kemarahan yang berhasil menggetarkan gerbang neraka dan neraka mengirimkan seseorang untuknya. Dia.

Dia yang telah membantu merencanakan semua perbuatannya ini. Dia yang hanya bisa ia dengar suaranya, berbisik di telinganya, bisikan yang mulai ia dengar hari itu—31 Desember 6 tahun lalu—ketika ia hancur lebur di pemakaman Bunda. Dia membisikkan kata-kata penghiburan di telinganya.

Suara dia begitu merdu, mirip suaranya sendiri kalau lagi tidak menangis.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Begitu tanya dia padanya ketika ia berlutut di hadapan makam Bunda yang masih merah.

Ia menjawab dengan segenap kesedihan dan kemarahan.“Bundaku dibegal. Tasnya dirampas dan dia ditikam klewang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku marah, sangat marah.”

“Sudah ketahuan pelakunya?”

“Belum. Tidak ada saksi mata. Kecil kemungkinan akan tertangkap. Bunda meninggal sia-sia.”

Sunyi. Lalu dia berkata pelan tapi pasti, “Kematian Bunda tidak akan sia-sia.”

Ia kaget mendengar kepastian di nada suara itu, lalu bertanya pada dia,

”Apa maksudmu?”

Dia terdiam, lalu menjawab dalam bisikan serak,“Maukah kau kalau kuberi sebuah jalan untuk pembalasan dendam? Memberi keadilan untuk Bunda … dengan caraku?”

Ia membeku sejenak mendengar bisikan dia. Hanya dua kata yang ia proses: Keadilan. Pembalasan.

Mulutnya menganga sejenak, segenap memorinya mengenai Bunda berkelebatan di benaknya, dan ia tidak ingat bagaimana ia mencapai keputusan itu, tapi ia mengangguk.

Anggukan yang membawanya menghabiskan tahun setelah kematian Bunda untuk menyiapkan pembalasannya, dan pembalasan dendam pertamanya adalah pada 31 Desember 5 tahun lalu, dan sejak itu ia belum berhenti. Sementara dia telah menjelma menjadi sang dia karena semua kata-kata dan perintah dia sangat sulit ia tolak, dia menjadi semacam majikan baginya. Ia melayani sang dia.

“Bunda …” Ia berbisik sambil jari-jemarinya gemetar mengelus permukaan bingkai foto itu dengan sangat hati-hati. “Aku sayang Bunda, ini semua demi Bunda.”  

Ia menghela napas, dan tangisnya mendesak-desak keluar lagi. “Aku sudah jadi dokter, Bunda. Aku menolong orang setiap hari, menyelamatkan nyawa mereka. Kecuali hari ini, di hari terakhir tahun ini. Aku dan dia akan membalas kematianmu. Aku harap Bunda mau mengerti dan mengampuniku.”

Ia menghela napas, menghapus air matanya sekali lagi, dan dengan jari-jemari yang masih gemetar meraih sebuah peta dari laci mejanya.

Peta itu lusuh karena sudah ia buka tutup berkali-kali. Dengan satu hentakan tangan, ia membuka peta itu di atas meja tulisnya dan matanya mulai mengawasi isinya. Peta itu adalah peta kotanya yang sudah penuh dengan berbagai coretan tangannya: tanggal, angka-angka, dan di antara sekian banyak angka-angka itu, ada beberapa yang ia beri silang merah dan catatan kecil di samping silang itu: SELESAI.

Hujan di luar turun dengan deras menghantam atap seng kamar kosnya, bising tapi ia tidak terganggu sama sekali. Ia duduk tegak, konsentrasinya ia fokuskan penuh ke peta lusuh di atas meja. Sesekali ia menelengkan kepala ketika ia mengamati angka-angka yang ada, matanya tak berkedip menatap semua angka itu, seakan sebuah keputusan besar tengah bergantung pada ketelitiannya menganalisa angka-angka itu.

Jari telunjuk kanannya bergerak pelan menyusuri nama beberapa kelurahan, bergerak ke sana kemari sebelum akhirnya jari itu berhenti di satu nama. “Giliranmu,” ia berbisik sambil mengambil spidol merah dan melingkari satu nama kelurahan dengan angka tertinggi. “Tahun lalu kamu nomor dua … sekarang lihatlah, paling tinggi!” Ia nanar sambil mengetuk-ngetuk nama kelurahan yang baru ia lingkari.

Lalu ia tercenung selama beberapa menit, tatapannya kosong, dan jari-jemarinya mencengkeram tempurung lututnya. Ia hanya duduk tegap kaku dalam keheningan. Mengatur napas. Menghapus airmata. Menatap foto Bunda. Mencari tanda pengampunan.

Setelah beberapa menit duduk diam, ia bisa merasakan kehadiran sang dia yang selalu diiringi rasa gelap dan dingin di sanubarinya.Bagaikan robot, ia berdiri, menuju lemari pakaiannya, dan membuka lemari tua itu. Bau lumut dan debu menyeruak menyerbu indera penciuman. Tangannya meraih satu set pakaian yang ia letakkan di tumpukan paling bawah.

Pakaian yang berupa satu set kebaya encim berbordir tempel merah marun keemasan. Warisan Bunda untuknya. Kebaya encim yang sudah menjadi milik Bunda sejak masa gadisnya, dan setelah Bunda pergi selama-lamanya, kebaya itu menjadi harta paling berharganya.

Dengan hati-hati, ia mengenakan kebaya itu. Samar-samar ia masih bisa mencium bau parfum Bunda di sela-sela serat kain kebaya itu. Ia berdoa semoga tahun depan bau itu masih ada, bau yang menguatkannya dalam menjalankan tugas ini.

Ia sudah lama berhenti menangis ketika ia mematut diri di hadapan cermin. Tangannya mulai lincah menyisir rambutnya yang hitam legam, panjang sepinggangnya dan membuat satu sanggulan kecil. Lalu ia memulas bibirnya dengan lipstik merah darah, menambahkan celak warna hitam di matanya, dan membedaki wajahnya. Terakhir, ia meraih sarung tangan sutra berwarna putih dari dalam laci bajunya, sarung tangan yang juga milik Bunda. Ia mengenakan sarung tangan itu dengan hati-hati.

Setelah puas dengan penampilannya, ia berdiri tegap di tengah ruangan. Sang dia sudah menyiapkan segalanya, di situ, di bawah ranjangnya, di dalam sebuah kotak karton bekas mi instan.

Ia berlutut, mengambil kotak itu, dan meraih suatu benda dari dalamnya.

Ia tersenyum melihat benda yang sudah disiapkan sang dia: Pelan-pelan ia membuka bungkus kertas benda itu, dan melihat sebuah tas kulit buaya berwarna merah darah, mengkilap mulus, berukuran sedang, dengan gagang rantai emas, dan logo tas juga dari bahan emas mengkilap. Tas itu terlihat eksklusif, mahal, mewah.

“Bagus …” Ia berbisik dengan mata berbinar ketika ia meraih tas itu dengan amat hati-hati. Ritsleting tas itu tertutup rapat, dan ia tahu, ia tidak boleh membukanya.

Hatinya cukup teguh sekarang untuk menjalankan tugasnya. Ia harus pergi sekarang. Rencana pembalasan dendam dirinya dan sang dia hanya akan berhasil kalau waktunya pas dan ia tidak terlambat, tidak sedetik pun.

#

Hujan telah berhenti, menyisakan jalanan yang basah berkilap. Ia berjalan di gang sepi itu, gang di kelurahan yang menjadi tempatnya menjalankan tugas malam ini berdasarkan peta yang ia periksa tadi. Kelurahan yang berdasarkan risetnya adalah kelurahan dengan angka begal tertinggi tahun ini.

Gang itu sepi karena semua keramaian terpusat di sebuah lapangan sepakbola tak jauh dari situ, gegap gempita panggung musik live dengan petasan bertalu-talu terdengar.

Tas kulit buayanya ia genggam erat di tangannya yang bersarung tangan sutra, dan ia terus berjalan menyusuri gang itu.

Lamat-lamat telinganya menangkap deru motor dari arah belakangnya. Deru motor yang semakin mendekat ke arahnya.

Ia tersenyum. Setelah berkali-kali melakukan tugas ini, firasatnya sudah begitu terlatih. “Selalu ada. Selalu ada manusia jahanam yang merampas apa yang bukan menjadi haknya—” ia bergumam.“Selalu ada.”

Deru motor itu semakin dekat.

Jantungnya berdegup kencang.

Deru motor itu tepat di belakangnya.

Ia mulai menghitung dalam hatinya—

Satu …

Dua …

Tiga!

Tas di genggaman tangannya ditarik—mungkin istilah lebih tepat adalah disambar keras.

Ia mencoba untuk tidak tersenyum, dan berpura-pura mencoba mempertahankan tas itu, sebelum merelakannya dibegal seseorang di atas sepeda motor yang kini dipacu kencang, menghilang di ujung gang.

Langkahnya terhenti. Matanya awas mengawasi sekeliling. “Tidak ada saksi mata. Bagus,” ia berkata pelan sambil menatap tanpa kedip ujung gang tempat pembegalnya melarikan diri.

“Selamat Akhir Tahun,” ia berucap sinis. “Karena tidak akan ada tahun baru untukmu.”

Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Dalam hatinya ia mulai berdendang nada-nada pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan Bunda saat ia masih kecil, dan ia mulai berhitung—

Satu, dua, tiga, empat …                   

Tepat di hitungan kelima, gelegar ledakan terdengar di kejauhan, dan ia tersenyum. Satu lagi pembalasan dendam telah ia tunaikan.

#

Malam itu, di antara suara riuh terompet tahun baru dan bunyi petasan, ia berbaring telentang di ranjang, dalam balutan kebaya encim warisan Bunda dan dekapan keheningan pikirannya, menikmati sisa-sisa manisnya sebuah pembalasan dendam.

Mungkin di antara semua begal yang sudah ia habisi dengan bantuan sang dia, ada pembegal yang sudah mencabut nyawa Bunda. Mungkin tidak. Mungkin orang itu akan ia habisi di tahun-tahun yang akan datang karena ia tidak akan berhenti. Selama ada orang yang merampas apa yang bukan menjadi haknya, ia akan ada untuk menegakkan keadilan dengan caranya. Dengan bantuan sang dia.

Ia kalap. Tapi biarlah, ia tidak apa-apa. Selamat Tahun Baru, ia berucap lirih pada dirinya sendiri. Ia punya satu tahun untuk menyiapkan pembalasan dendam selanjutnya.

Matanya melirik jam di dinding. Hampir jam empat subuh.

Tugas jaganya di UGD RS akan mulai dalam satu jam. Ia tidak boleh terlambat. Pasien-pasiennya menanti. Ia sudah mencabut nyawa malam ini, ia juga akan menebusnya pada hari yang sama.

Ia bangkit dan berjalan sedikit terseok-seok menuju cermin di ujung ruangannya.

Ia menatap wajah di cermin itu. Wajahnya dan wajah sang dia adalah sama persis. Suaranya dan suara sang dia juga adalah sama persis. Tapi mereka tetap berbeda.

Ia adalah dokter, sang dia adalah pencabut nyawa, makhluk yang merupakan pengejawantahan kemarahan dan dukanya yang begitu dalam, makhluk yang lahir dari kegelapan neraka hatinya.

Dengan punggung tangannya, ia menghapus lipstik merah di bibirnya dengan beberapa gosokan keras. Ia menghela napas, menyeringai ke wajah belepotan lipstik  dan air mata di cermin, dan berbisik,”Dia adalah aku. Namanya adalah namaku. Tubuhnya adalah tubuhku. Dia dan aku. Dua dalam satu.”

Ia memejamkan matanya erat-erat.

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, lalu disusul tetes-tetes berikutnya berkejaran di pipinya yang cemang-cemong oleh lipstik dan bedak. Tetes-tetes air mata itu, hangat dan berkilau, bagaikan banjir bandang yang menyapubersih semua bercak noda sang dia dari dalam sanubarinya. Untuk sesaat itu, untuk sementara, sang dia menjadi sunyi. [T]

Penulis: Lia Tjokro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mujamin Jassin | Aku Sebilah Pelor

Next Post

TIMOTHY ADALAH SAYA

Lia Tjokro

Lia Tjokro

Lahir di Palembang dan menghabiskan masa kanak-kanak sampai remajanya di sana. Ia pindah ke Singapura pada tahun 1998 dan setelah menyelesaikan SMA-nya di sana, ia pindah ke Amerika. Di Amerika ia menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 di bidang psikologi kognitif/neurosains kognitif. Setelah meraih gelar Ph.D-nya, ia kembali ke Singapura dan bekerja selama enam tahun sebagai dosen di National University of Singapore (NUS). Sekarang ia berdomisili di Belanda bersama suami, anak, dan anabulnya. Di Belanda, ia mulai menemukan kembali kecintaannya pada kegiatan menulis. Ia menulis novel, novela, cerpen, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Karya novel cetak debutnya berjudul Sang Pemanah Matahari (Tisapinkluv, 2023). Cerpen dan puisinya sudah terbit di jurnal-jurnal sastra internasional seperti Porch Litmag, Kitaab, The Citron Review, Mekong Review, Harrow House Journal, Ricepaper Magazine, ScribesMICRO, dan The Writing Disorder. Ia bisa ditemui di sosmednya (IG: februalia1).

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIMOTHY ADALAH SAYA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co