- Judul Buku: Nguber Lawat ring Kalangan Wayah (Mengejar Bayangan di Tanah Tua)
- Penulis: Ngakan Made Kasub Sidan
- Tahun Terbit: 2022
- Penerbit: Pustaka Ekspresi, Tabanan
- Halaman: i-vii, 61 Halaman
SEBUAH karya sastra tercipta dari komunikasi yang intens antara penulis dengan masyarakat sosialnya. Seorang penulis (penyair, sastrawan) adalah warga masyarakat. Penyair, sastrawan bergaul dalam kehidupan masyarakat sosialnya.
Dalam pergaulan itu, seorang penyair, sastrawan berkomunikasi dengan dirinya maupun dengan masyarakatnya. Kelebihan seorang penyair, sastrawan mampu mengubahnya menjadi karya kreatif yang bisa diapresiasi oleh masyarakat pembacanya maupun pendengarnya. Sastrawan, penyair tidak berdiam diri dalam menghadapi problematika sosial. Penyair, sastrawan menciptakan sesuai daya kreatifnya. Di sinilah kelebihan dari seorang penyair maupun sastrawan yang memiliki daya kreativitas.
Seorang penyair menciptakan puisi. Secara sederhana puisi dapat dirumuskan sebagai ”sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya (Suminto A. Sayuti, 2002:3).
Kemampuan imajinatif dan komunikasi kreatif sosial budaya itulah yang mampu menciptakan karya sastra khususnya puisi. Bahasa puisi adalah bahasa yang khas yang menunjukkan pemakaian yang spesial yang hanya dimanfaatkan oleh penyair; pemakaian bahasa itu dianggap menyimpang dari bahasa sehari-hari (A.Teeuw, 1984: 70).
Seorang penyair mampu menghidupkan bahasa-bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat sosial. Penyair memiliki daya kreatif mengoptimalkan bahasa. Dengan memanfaatkan majas khususnya metafora, penyair menjadikan bahasa itu lebih berjiwa lebih memiliki ruh sehingga pembaca terkadang dibuatnya berpikir tentang makna-makna yang ada di balik metafora yang diciptakan.
Ngakan Made Kasub Sidan salah satu penyair Bali Modern yang mampu mengkreatifkan bahasa Bali. Keberagaman metafora diciptakan oleh Ngakan Kasub Sidan. Contoh sederhananya pada judul puisinya “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah”.
Dalam judul itu ada metafora baru terbentuk, /kalangan wayah/ dalam kata kalangan wayah bisa ditafsirkan, tempat, tanah yang sudah lama baik itu usianya, ataupun tempat dengan tingkat kemagisan yang tinggi.
Keberagaman Daya Ungkap
Puisi lebih mengutamakan hal-hal yang intuitif, imajinatif, dan sintetis. Oleh karena itu, dalam proses penciptaannya, konsentrasi, dan intensifikasi berbagai hal yang terkait dengan ekspresi pribadi menjadi perhatian utama penyair, baik itu yang menyangkut dasar ekspresi maupun deklarasinya, baik itu yang mengutamakan fungsi emotif (Suminto, A. Sayuti, 2002: 25).
Puisi sebagai sistem tanda memiliki bahasa yang padat, pekat sehingga menjadi terkonsentrasi, terpusat yang memperhatikan pilihan-pilihan kata. Artinya, seorang penyair mengolah kata menjadi kata yang hidup, segar, dan baru bagi pembaca maupun pendengarnya. Kemampuan ini yang menjadi ciri khas seorang penyair yang mampu mengolah bahasa menjadi bahasa yang hidup betenaga dan kuat.
Dalam puisi Nguber Lawat ring Kalangan Wayah, secara tersirat penyair ingin mengungkapkan keberagaman karakter manusia dengan memakai topeng kehidupan. Ada kritik sosial juga diungkapkan dalam puisi ini terhadap manusia yang berpura-pura:…//tapel cungih nyingidang baos bobad/ tapel enyor ngilidang mua baag dumilah//…// (topeng sumbing menyembunyikan kata berbohong/ topeng ceria menyembunyikan wajah yang memerah).
Itulah Ngakan Kasub Sidan memiliki kemampuan melihat ketimpangan kehidupan sosial di masyarakat. Hidup dengan berpura-pura, manusia yang bertopeng. Di balik topeng ada wajah aslinya. Artinya, topeng perilaku manusia belum sesuai sengan karakter dasarnya yang dimilikinya.
Permainan daya ungkap suara dapat dilihat dalam puisi “Suara Rikala Kali Tepet” Suara-suara kodok yang menarik daya imajinasi Ngakan Kasub Sidan. Peniruan bunyi-bunyi membuat puisi ini enak dibaca. Onomatopea:…/Kek…kung…kek…kung….//
Dalam suasana seperti itu, Ngakan Kasub Sidan merasakan kedamaian dan kesejukan batin makanya ia mengungkapkan dalam bait seperti ini:…//Ning manah/ning genah/ning natah/ning sekala niskala/…//
Kedamaian jiwa lahir dan batin bisa dirasakan oleh penyair pada saat tengah hari. Ini sesuatu yang menarik saat matahari berada di titik puncak keheningan itu dirasakan oleh Ngakan Kasub Sidan. Daya ungkap mencari kesejukan juga tersirat dalam puisi “Aji Tetep Menadi Bianglalah” (Aji Tetap Menjadi Pelangi).
Kata Aji ini bisa berujuk pada seseorang atau ilmu pengetahuan. Kata /ning/ juga bisa merujuk pada anak kandung atau pada suasana hening, suci, dan bening. Begitulah puisi yang multiinterpretasi.
Ngakan Kasub Sidan mampu menciptakan pusi-puisi yang membuat pembaca untuk merenung dan berupaya untuk menggali makna-makna yang tersirat. Keberagaman daya ungkap Ngakan Kasub Sidan sebagai pengejawantahan kekhasannya dalam proses kreatifnya. [T]
Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole



























