2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
September 21, 2025
in Panggung
Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“MERDEKA! Merdeka! Merdeka!” teriak arek-arek Suroboyo setelah berhasil merobek bendera Belanda yang berkibar di atap Hotel Majapahit Surabaya. Teriakan tersebut disambut oleh rakyat yang memadati Jalan Tunjungan. Teriakan-teriakan itu cukup membuat bulu lengan berdiri.

Sesaat setelah aksi heroik itu membuat ribuan warga terpukau, lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki mengalun memenuhi telinga semua orang. Suasana yang berapi-api itu seketika berubah menjadi sendu. Pasalnya, salah seorang pejuang yang ikut andil dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Cak Sidik, gugur ditembak Sekutu. Seorang perempuan muda terharu melihat adegan tersebut.

Di atas merupakan sedikit gambaran adegan teatrikal kolosal bertajuk “Surabaya Merah Putih” yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (21/9/2025) pagi di kawasan Hotel Majapahit—dulu bernama Hotel Oranje sebelum berubah nama menjadi Hotel Yamato pada masa penjajahan Jepang. Teatrikal itu merupakan refleksi perobekan bendera di Hotel Yamato 19 September 1945 silam. Hampir setiap tahun Pemkot Surabaya mengenang peristiwa tersebut dengan menampilkan drama teatrikal dan termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat berperan menjadi Residen Soedirman dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“Ini kali kedua saya menyaksikan teatrikal perobekan bendera. Sangat ikonik, refleksi peristiwa sejarah ini juga memupuk rasa nasionalisme,” kata Rosi, warga Surabaya. Perempuan 30 tahun itu tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat lagu Gugur Bunga diperdengarkan.

Meski tak sempurna, konsep drama teatrikal ini bukan sekadar drama sejarah yang direkonstruksi, melainkan karya seni kolaboratif yang menyatukan berbagai elemen: teater, tari, musik, puisi, seni instalasi, parade sepeda kuno, bahkan warga biasa sebagai pemeran, bukan aktor profesional. Sekira 1.000 pemain terlibat, dari pelajar SD/SMP, mahasiswa, komunitas budaya, veteran, seniman lintas disiplin, hingga Forkopimda.

Adegan perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, pihak yang ditunjuk untuk merancang skenario agar terasa hidup, menggunakan skenografi lawas (“ludrukan Surabaya lawasan”), pakaian tradisional, ornamen kota lama, sepeda ontel, serta instalasi yang membangkitkan suasana Surabaya tahun 1945.

Ada bagian yang sangat ditunggu, yakni adegan negosiasi dengan tokoh Belanda W.V.C. Ploegman, pengacara pro-Belanda, yang menolak tuntutan rakyat Surabaya agar menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato. Kemudian puncak dramanya, pemuda Surabaya, dengan tangga bambu, memanjat Hotel Yamato, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, dan mengibarkan sang Saka Merah Putih.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi rupanya turut serta dalam pementasan ini. Ia berperan sebagai Residen Soedirman, bukan hanya hadir sebagai pejabat. Keikutsertaannya seolah menandakan bahwa pemimpin kota juga harus ikut merasakan dan membawa kisah sejarah itu ke hadapan publik.

“Di balik menara bendera, kami tidak goyah berdiri karena semangat bersatu, tekat menyala, harga diri terlalu mahal untuk ditukar. Arek Suroboyo tahu mati lebih baik daripada dijajah lagi,” ujar Residen Soedirman yang diperankan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Simbol Perlawan

Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945, merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini terjadi hanya sebulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika rakyat Indonesia masih berusaha menegaskan kedaulatannya di hadapan bangsa asing.

Hotel Yamato—kini dikenal sebagai Hotel Majapahit—pada masa itu menjadi saksi ketegangan antara pemuda-pemuda Surabaya dengan pihak Belanda yang baru saja kembali bersama tentara Sekutu. Pada tanggal tersebut, pihak Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap hotel untuk merayakan ulang tahun Ratu belanda Wilhelmina. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia, sebab bendera tersebut melambangkan kembalinya penjajahan.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Suasana penonton drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Rakyat Surabaya, yang dipelopori oleh para pemuda, segera menolak pengibaran bendera tersebut. Mereka menuntut agar bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera merah putih. Namun, pihak Belanda menolak. Ketegangan pun meningkat hingga akhirnya para pemuda berinisiatif mengambil tindakan langsung.

Dengan keberanian dan tekad, mereka berhasil memanjat tiang bendera di atap hotel. Salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah adalah Harun Tohir, Sidik, dan Koesno Wibowo yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. Mereka kemudian merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga hanya tersisa warna merah dan putih—bendera Indonesia. Sayang, Sidik gugur dalam peristiwa itu.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Tindakan simbolis ini membakar semangat rakyat Surabaya. Perobekan bendera bukan sekadar aksi spontan, tetapi juga wujud perlawanan tegas terhadap upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa. Dari peristiwa ini, semangat arek-arek Suroboyo semakin berkobar, yang kemudian memuncak dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945—pertempuran besar yang menjadi tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato bukan hanya sekadar insiden kecil, melainkan simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Peristiwa ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Hingga kini, kisah heroik tersebut tetap dikenang sebagai bagian dari identitas nasional dan kebanggaan bangsa Indonesia.[T]

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: DramakemerdekaanSurabayaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co