24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
September 21, 2025
in Panggung
Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“MERDEKA! Merdeka! Merdeka!” teriak arek-arek Suroboyo setelah berhasil merobek bendera Belanda yang berkibar di atap Hotel Majapahit Surabaya. Teriakan tersebut disambut oleh rakyat yang memadati Jalan Tunjungan. Teriakan-teriakan itu cukup membuat bulu lengan berdiri.

Sesaat setelah aksi heroik itu membuat ribuan warga terpukau, lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki mengalun memenuhi telinga semua orang. Suasana yang berapi-api itu seketika berubah menjadi sendu. Pasalnya, salah seorang pejuang yang ikut andil dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Cak Sidik, gugur ditembak Sekutu. Seorang perempuan muda terharu melihat adegan tersebut.

Di atas merupakan sedikit gambaran adegan teatrikal kolosal bertajuk “Surabaya Merah Putih” yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (21/9/2025) pagi di kawasan Hotel Majapahit—dulu bernama Hotel Oranje sebelum berubah nama menjadi Hotel Yamato pada masa penjajahan Jepang. Teatrikal itu merupakan refleksi perobekan bendera di Hotel Yamato 19 September 1945 silam. Hampir setiap tahun Pemkot Surabaya mengenang peristiwa tersebut dengan menampilkan drama teatrikal dan termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat berperan menjadi Residen Soedirman dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“Ini kali kedua saya menyaksikan teatrikal perobekan bendera. Sangat ikonik, refleksi peristiwa sejarah ini juga memupuk rasa nasionalisme,” kata Rosi, warga Surabaya. Perempuan 30 tahun itu tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat lagu Gugur Bunga diperdengarkan.

Meski tak sempurna, konsep drama teatrikal ini bukan sekadar drama sejarah yang direkonstruksi, melainkan karya seni kolaboratif yang menyatukan berbagai elemen: teater, tari, musik, puisi, seni instalasi, parade sepeda kuno, bahkan warga biasa sebagai pemeran, bukan aktor profesional. Sekira 1.000 pemain terlibat, dari pelajar SD/SMP, mahasiswa, komunitas budaya, veteran, seniman lintas disiplin, hingga Forkopimda.

Adegan perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, pihak yang ditunjuk untuk merancang skenario agar terasa hidup, menggunakan skenografi lawas (“ludrukan Surabaya lawasan”), pakaian tradisional, ornamen kota lama, sepeda ontel, serta instalasi yang membangkitkan suasana Surabaya tahun 1945.

Ada bagian yang sangat ditunggu, yakni adegan negosiasi dengan tokoh Belanda W.V.C. Ploegman, pengacara pro-Belanda, yang menolak tuntutan rakyat Surabaya agar menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato. Kemudian puncak dramanya, pemuda Surabaya, dengan tangga bambu, memanjat Hotel Yamato, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, dan mengibarkan sang Saka Merah Putih.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi rupanya turut serta dalam pementasan ini. Ia berperan sebagai Residen Soedirman, bukan hanya hadir sebagai pejabat. Keikutsertaannya seolah menandakan bahwa pemimpin kota juga harus ikut merasakan dan membawa kisah sejarah itu ke hadapan publik.

“Di balik menara bendera, kami tidak goyah berdiri karena semangat bersatu, tekat menyala, harga diri terlalu mahal untuk ditukar. Arek Suroboyo tahu mati lebih baik daripada dijajah lagi,” ujar Residen Soedirman yang diperankan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Simbol Perlawan

Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945, merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini terjadi hanya sebulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika rakyat Indonesia masih berusaha menegaskan kedaulatannya di hadapan bangsa asing.

Hotel Yamato—kini dikenal sebagai Hotel Majapahit—pada masa itu menjadi saksi ketegangan antara pemuda-pemuda Surabaya dengan pihak Belanda yang baru saja kembali bersama tentara Sekutu. Pada tanggal tersebut, pihak Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap hotel untuk merayakan ulang tahun Ratu belanda Wilhelmina. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia, sebab bendera tersebut melambangkan kembalinya penjajahan.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Suasana penonton drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Rakyat Surabaya, yang dipelopori oleh para pemuda, segera menolak pengibaran bendera tersebut. Mereka menuntut agar bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera merah putih. Namun, pihak Belanda menolak. Ketegangan pun meningkat hingga akhirnya para pemuda berinisiatif mengambil tindakan langsung.

Dengan keberanian dan tekad, mereka berhasil memanjat tiang bendera di atap hotel. Salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah adalah Harun Tohir, Sidik, dan Koesno Wibowo yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. Mereka kemudian merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga hanya tersisa warna merah dan putih—bendera Indonesia. Sayang, Sidik gugur dalam peristiwa itu.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Tindakan simbolis ini membakar semangat rakyat Surabaya. Perobekan bendera bukan sekadar aksi spontan, tetapi juga wujud perlawanan tegas terhadap upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa. Dari peristiwa ini, semangat arek-arek Suroboyo semakin berkobar, yang kemudian memuncak dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945—pertempuran besar yang menjadi tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato bukan hanya sekadar insiden kecil, melainkan simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Peristiwa ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Hingga kini, kisah heroik tersebut tetap dikenang sebagai bagian dari identitas nasional dan kebanggaan bangsa Indonesia.[T]

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: DramakemerdekaanSurabayaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co