12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
September 21, 2025
in Panggung
Melihat Kembali Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Drama teatrikal "Surabaya Merah Putih" | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“MERDEKA! Merdeka! Merdeka!” teriak arek-arek Suroboyo setelah berhasil merobek bendera Belanda yang berkibar di atap Hotel Majapahit Surabaya. Teriakan tersebut disambut oleh rakyat yang memadati Jalan Tunjungan. Teriakan-teriakan itu cukup membuat bulu lengan berdiri.

Sesaat setelah aksi heroik itu membuat ribuan warga terpukau, lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki mengalun memenuhi telinga semua orang. Suasana yang berapi-api itu seketika berubah menjadi sendu. Pasalnya, salah seorang pejuang yang ikut andil dalam peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Cak Sidik, gugur ditembak Sekutu. Seorang perempuan muda terharu melihat adegan tersebut.

Di atas merupakan sedikit gambaran adegan teatrikal kolosal bertajuk “Surabaya Merah Putih” yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, Minggu (21/9/2025) pagi di kawasan Hotel Majapahit—dulu bernama Hotel Oranje sebelum berubah nama menjadi Hotel Yamato pada masa penjajahan Jepang. Teatrikal itu merupakan refleksi perobekan bendera di Hotel Yamato 19 September 1945 silam. Hampir setiap tahun Pemkot Surabaya mengenang peristiwa tersebut dengan menampilkan drama teatrikal dan termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat berperan menjadi Residen Soedirman dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

“Ini kali kedua saya menyaksikan teatrikal perobekan bendera. Sangat ikonik, refleksi peristiwa sejarah ini juga memupuk rasa nasionalisme,” kata Rosi, warga Surabaya. Perempuan 30 tahun itu tak dapat menyembunyikan rasa harunya saat lagu Gugur Bunga diperdengarkan.

Meski tak sempurna, konsep drama teatrikal ini bukan sekadar drama sejarah yang direkonstruksi, melainkan karya seni kolaboratif yang menyatukan berbagai elemen: teater, tari, musik, puisi, seni instalasi, parade sepeda kuno, bahkan warga biasa sebagai pemeran, bukan aktor profesional. Sekira 1.000 pemain terlibat, dari pelajar SD/SMP, mahasiswa, komunitas budaya, veteran, seniman lintas disiplin, hingga Forkopimda.

Adegan perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato dalam drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, pihak yang ditunjuk untuk merancang skenario agar terasa hidup, menggunakan skenografi lawas (“ludrukan Surabaya lawasan”), pakaian tradisional, ornamen kota lama, sepeda ontel, serta instalasi yang membangkitkan suasana Surabaya tahun 1945.

Ada bagian yang sangat ditunggu, yakni adegan negosiasi dengan tokoh Belanda W.V.C. Ploegman, pengacara pro-Belanda, yang menolak tuntutan rakyat Surabaya agar menurunkan bendera Belanda dari Hotel Yamato. Kemudian puncak dramanya, pemuda Surabaya, dengan tangga bambu, memanjat Hotel Yamato, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, dan mengibarkan sang Saka Merah Putih.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi rupanya turut serta dalam pementasan ini. Ia berperan sebagai Residen Soedirman, bukan hanya hadir sebagai pejabat. Keikutsertaannya seolah menandakan bahwa pemimpin kota juga harus ikut merasakan dan membawa kisah sejarah itu ke hadapan publik.

“Di balik menara bendera, kami tidak goyah berdiri karena semangat bersatu, tekat menyala, harga diri terlalu mahal untuk ditukar. Arek Suroboyo tahu mati lebih baik daripada dijajah lagi,” ujar Residen Soedirman yang diperankan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Simbol Perlawan

Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945, merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini terjadi hanya sebulan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika rakyat Indonesia masih berusaha menegaskan kedaulatannya di hadapan bangsa asing.

Hotel Yamato—kini dikenal sebagai Hotel Majapahit—pada masa itu menjadi saksi ketegangan antara pemuda-pemuda Surabaya dengan pihak Belanda yang baru saja kembali bersama tentara Sekutu. Pada tanggal tersebut, pihak Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap hotel untuk merayakan ulang tahun Ratu belanda Wilhelmina. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan Indonesia, sebab bendera tersebut melambangkan kembalinya penjajahan.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Suasana penonton drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Rakyat Surabaya, yang dipelopori oleh para pemuda, segera menolak pengibaran bendera tersebut. Mereka menuntut agar bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera merah putih. Namun, pihak Belanda menolak. Ketegangan pun meningkat hingga akhirnya para pemuda berinisiatif mengambil tindakan langsung.

Dengan keberanian dan tekad, mereka berhasil memanjat tiang bendera di atap hotel. Salah satu tokoh yang tercatat dalam sejarah adalah Harun Tohir, Sidik, dan Koesno Wibowo yang ikut terlibat dalam aksi tersebut. Mereka kemudian merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga hanya tersisa warna merah dan putih—bendera Indonesia. Sayang, Sidik gugur dalam peristiwa itu.

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Tindakan simbolis ini membakar semangat rakyat Surabaya. Perobekan bendera bukan sekadar aksi spontan, tetapi juga wujud perlawanan tegas terhadap upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa. Dari peristiwa ini, semangat arek-arek Suroboyo semakin berkobar, yang kemudian memuncak dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945—pertempuran besar yang menjadi tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato bukan hanya sekadar insiden kecil, melainkan simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Peristiwa ini menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Hingga kini, kisah heroik tersebut tetap dikenang sebagai bagian dari identitas nasional dan kebanggaan bangsa Indonesia.[T]

Drama teatrikal “Surabaya Merah Putih” | Foto: Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: DramakemerdekaanSurabayaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Demokrasi di SMK Kesehatan Bali Medika: Adelia dan Alissa Siap Pimpin OSIS Kesbam

Next Post

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Keberagaman Daya Ungkap dalam Kumpulan Puisi  “Nguber Lawat ring Kalangan Wayah” karya Ngakan Made Kasub Sidan                       

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co