23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 15, 2025
in Tualang
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Pantai Balangan | Foto Sariasih

DARI begitu banyak pantai yang bisa dikunjungi di wilayah Jimbaran, Kuta Selatan, Badung-Bali, salah satunya Pantai Balangan. Dulu pantai ini sepi, terpencil, pengunjung tak banyak yang tahu lokasi pantai ini. Nama pantainya pun tak pernah disebut-sebut.

Tapi kini, pantai itu begitu terkenal. Namanya kini bisa disejajarkan dengan pantai-pantai yang sudah lebih dulu dikenal di Bali, semisal Kuta dan Sanur.

Belum lama ini saya berkunjung ke Pantai Balangan, dan rasanya seperti bernostalgia. Pantai Balangan, di telinga saya, atau di lingkungan keluarga saya, memang sangat akrab. Saya mengenal pantai ini sejak saya masih kecil.

Dulu, sebelum tahun 2010-an, saya dan penduduk asli di desa-desa di sekitar Pantai Balangan lebih sering bermain di pesisir pantai, berendam dengan leluasa. Rasanya sunyi, sepi, dan damai.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Kami berendam dalam lubang-lubang air yang terbentuk secara alami ketika air laut surut. Kami berendam sambil menikmati matahari terbenam, sambil ngobrol, atau sembari melakukan kegiatan lainnya yang menyenangkan.

Saya sering ke Pantai Balangan bersama Bapak. Kami mengendarai sepeda motor Honda Astrea Prima, menyusuri jalan-jalan kecil. Di kiri kanan jalan tampak semak-semak dan pepohonan rindang yang membuat jalanan terasa sejuk.

Saya ingat, waktu kecil saya akan memicingkan mata saat dibonceng Bapak. Teriknya sinar matahari sore lumayan membuat mata silau.

Perjalanan dari tempat tinggal saya, di Lingkungan Cengiling, Jimbaran, menuju Pantai Balangan tak begitu lama. Waktu yang dibutuhkan yaitu selama kurang lebih 15 menit. Sepanjang jalan sekitar 10 kilometer itu sepi dan berliku.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Di sepanjang jalan kami melihat kakek-kakek atau nenek-nenek yang sedang menggembala sapi di tengah rerumputan. Kami biasa menyapa kakek-kakek dan nenek-nenek itu. Itu terasa sangat menyenangkan.

Kami tak henti memandang semak-semak hijau maupun cokelat karena mengering terkena paparan terik matahari. Dari jalan yang semakin dekat dengan pantai terlihat hamparan berwarna biru. Ya! Itulah Pantai Balangan.

Pantai yang sering saya datangi. Untuk sekadar melihat sunset ataupun berendam di dalam kubangan air di tengah laut. Begitu sampai, kami memarkirkan sepeda motor di atas tebing yang memang disiapkan untuk area parkir.

Jalan menuju pesisir pantai terdapat dua pilihan. Ada jalan yang langsung bisa mengendarai sepeda motor sampai di pesisir dekat dengan area warung-warung di pinggir pantai, tetapi jalannya cukup rusak, banyak bebatuan atau kerikil.

Ada juga jalan yang harus dilewati dengan berjalan menuruni puluhan anak tangga. Saya dan Bapak memilih untuk berjalan turun perlahan. Meskipun medan yang saya lewati cukup terjal, namun pemandangan yang disuguhkan selama menuruni anak tangga sangat sayang untuk dilewatkan.

Dari atas tebing sudah terdengar deburan ombak yang seakan menyapa saya. Awan yang berbaris dilangit pantai menyejukkan mata. Tanpa terasa sedikit demi sedikit anak tangga sudah terlewati.

Akhirnya kami menginjakkan kaki pada hamparan pasir putih. Kebetulan saat itu pantai sedang surut. Batu karang yang dipenuhi rumput laut hijau membentuk kubangan air. Di sana pula tempat favorit saya.

Saya senang merendam kaki ke dalam kolam itu karena airnya yang hangat terpapar sinar matahari siang itu. Sambil berendam memandangi suasana pantai juga menonton peselancar yang asyik bermain surfing.  

Dahulu memang Pantai Balangan masih belum ramai pengunjung. Banyak wisatawan bermain surfing saat ombak  besar. Mereka senang ketika gelombang air begitu besar dengan warna air yang indah, ombak yang menggulung tinggi disertai suaranya yang begitu ribut tapi menenangkan.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Di masa kini, ketika saya kembali mengunjungi Pantai Balangan untuk kesekian kalinya, suasana terasa berbeda. Dari rumah sampai menuju Pantai Balangan sudah banyak dibangun hotel maupun vila di pinggir jalan.

Semak-semak sudah berubah menjadi bangunan. Rumput hijau sudah berubah menjadi hotel, rentoran dan tempat tinggal. Jarang sekali kini tampak kakek-kakek atau nenek-nenek yang biasa menggembala sapi di sisa lahan rerumputan atau semak-semak.

Seiring berjalannya waktu, Pantai Balangan sudah cukup ramai didatangi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Pantai itu kini viral sebagai tempat untuk menikmati pemandangan sunset yang indah.  Tebing di atas Pantai Balangan  itu pada waktu sore hari, diserbu wisatawan yang berbondong-bondong memilih tempat untuk duduk.

Biasanya di tebing ini lebih didominasi remaja gen Z. Mereka berkumpul, duduk berjejer, bergurau menebar tawa sembari memainkan lagu dengan gitar yang mereka bawa. Di tebing Pantai Balangan ini juga biasanya banyak yang melakukan foto prewedding.

Selain tebing yang kini menjadi ikon Pantai Balangan, ada hiddem gem yang bisa pengunjung temukan. Tempatnya terpojok di bagian selatan, dekat dengan tebing New Kota Golf sangat cocok untuk orang-orang kota yang ingin menikmati ketenangan.

Selain itu Pantai Balangan juga ada warung-warung kecil yang berjejer di tepi pantai. Di setiap warung menyewakan long chair atau kursi santai dengan payung. Selain itu biasanya juga terdapat jasa pijat maupun jasa kepang rambut serta terdapat juga toilet umum yang dapat digunakan membersihkan diri dari lengketnya air pantai dan pasir.

Hingga saat ini masih banyak orang yang susah menemuka akses untuk menuju Pantai Balangan. Tetapi, ketika sudah sampai, lelah mereka dalam perjalanan akan terbayarkan dengan view sunset yang menenangkan.

Semua keindahan yang ada di Pantai Balangan dari saya kecil hingga kini masih sama. Keaslian alamnya tetap terjaga. Pantai yang bersih dan indah karena masyarakat maupun pengunjung sama-sama saling menjaga. Pengalaman perjalanan yang tidaklah mudah untuk dilupakan dalam memori ingatan.

Ketika sudah pernah menikmati keindahannya pasti ingin datang kembali. Pantai Balangan tempat yang tepat untuk saya menenangkan pikiran setelah melalui hari yang melelahkan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto

Tags: JimbaranPantai BalanganPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Next Post

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co