24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 15, 2025
in Tualang
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Pantai Balangan | Foto Sariasih

DARI begitu banyak pantai yang bisa dikunjungi di wilayah Jimbaran, Kuta Selatan, Badung-Bali, salah satunya Pantai Balangan. Dulu pantai ini sepi, terpencil, pengunjung tak banyak yang tahu lokasi pantai ini. Nama pantainya pun tak pernah disebut-sebut.

Tapi kini, pantai itu begitu terkenal. Namanya kini bisa disejajarkan dengan pantai-pantai yang sudah lebih dulu dikenal di Bali, semisal Kuta dan Sanur.

Belum lama ini saya berkunjung ke Pantai Balangan, dan rasanya seperti bernostalgia. Pantai Balangan, di telinga saya, atau di lingkungan keluarga saya, memang sangat akrab. Saya mengenal pantai ini sejak saya masih kecil.

Dulu, sebelum tahun 2010-an, saya dan penduduk asli di desa-desa di sekitar Pantai Balangan lebih sering bermain di pesisir pantai, berendam dengan leluasa. Rasanya sunyi, sepi, dan damai.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Kami berendam dalam lubang-lubang air yang terbentuk secara alami ketika air laut surut. Kami berendam sambil menikmati matahari terbenam, sambil ngobrol, atau sembari melakukan kegiatan lainnya yang menyenangkan.

Saya sering ke Pantai Balangan bersama Bapak. Kami mengendarai sepeda motor Honda Astrea Prima, menyusuri jalan-jalan kecil. Di kiri kanan jalan tampak semak-semak dan pepohonan rindang yang membuat jalanan terasa sejuk.

Saya ingat, waktu kecil saya akan memicingkan mata saat dibonceng Bapak. Teriknya sinar matahari sore lumayan membuat mata silau.

Perjalanan dari tempat tinggal saya, di Lingkungan Cengiling, Jimbaran, menuju Pantai Balangan tak begitu lama. Waktu yang dibutuhkan yaitu selama kurang lebih 15 menit. Sepanjang jalan sekitar 10 kilometer itu sepi dan berliku.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Di sepanjang jalan kami melihat kakek-kakek atau nenek-nenek yang sedang menggembala sapi di tengah rerumputan. Kami biasa menyapa kakek-kakek dan nenek-nenek itu. Itu terasa sangat menyenangkan.

Kami tak henti memandang semak-semak hijau maupun cokelat karena mengering terkena paparan terik matahari. Dari jalan yang semakin dekat dengan pantai terlihat hamparan berwarna biru. Ya! Itulah Pantai Balangan.

Pantai yang sering saya datangi. Untuk sekadar melihat sunset ataupun berendam di dalam kubangan air di tengah laut. Begitu sampai, kami memarkirkan sepeda motor di atas tebing yang memang disiapkan untuk area parkir.

Jalan menuju pesisir pantai terdapat dua pilihan. Ada jalan yang langsung bisa mengendarai sepeda motor sampai di pesisir dekat dengan area warung-warung di pinggir pantai, tetapi jalannya cukup rusak, banyak bebatuan atau kerikil.

Ada juga jalan yang harus dilewati dengan berjalan menuruni puluhan anak tangga. Saya dan Bapak memilih untuk berjalan turun perlahan. Meskipun medan yang saya lewati cukup terjal, namun pemandangan yang disuguhkan selama menuruni anak tangga sangat sayang untuk dilewatkan.

Dari atas tebing sudah terdengar deburan ombak yang seakan menyapa saya. Awan yang berbaris dilangit pantai menyejukkan mata. Tanpa terasa sedikit demi sedikit anak tangga sudah terlewati.

Akhirnya kami menginjakkan kaki pada hamparan pasir putih. Kebetulan saat itu pantai sedang surut. Batu karang yang dipenuhi rumput laut hijau membentuk kubangan air. Di sana pula tempat favorit saya.

Saya senang merendam kaki ke dalam kolam itu karena airnya yang hangat terpapar sinar matahari siang itu. Sambil berendam memandangi suasana pantai juga menonton peselancar yang asyik bermain surfing.  

Dahulu memang Pantai Balangan masih belum ramai pengunjung. Banyak wisatawan bermain surfing saat ombak  besar. Mereka senang ketika gelombang air begitu besar dengan warna air yang indah, ombak yang menggulung tinggi disertai suaranya yang begitu ribut tapi menenangkan.

Pantai Balangan | Foto Sariasih

Di masa kini, ketika saya kembali mengunjungi Pantai Balangan untuk kesekian kalinya, suasana terasa berbeda. Dari rumah sampai menuju Pantai Balangan sudah banyak dibangun hotel maupun vila di pinggir jalan.

Semak-semak sudah berubah menjadi bangunan. Rumput hijau sudah berubah menjadi hotel, rentoran dan tempat tinggal. Jarang sekali kini tampak kakek-kakek atau nenek-nenek yang biasa menggembala sapi di sisa lahan rerumputan atau semak-semak.

Seiring berjalannya waktu, Pantai Balangan sudah cukup ramai didatangi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Pantai itu kini viral sebagai tempat untuk menikmati pemandangan sunset yang indah.  Tebing di atas Pantai Balangan  itu pada waktu sore hari, diserbu wisatawan yang berbondong-bondong memilih tempat untuk duduk.

Biasanya di tebing ini lebih didominasi remaja gen Z. Mereka berkumpul, duduk berjejer, bergurau menebar tawa sembari memainkan lagu dengan gitar yang mereka bawa. Di tebing Pantai Balangan ini juga biasanya banyak yang melakukan foto prewedding.

Selain tebing yang kini menjadi ikon Pantai Balangan, ada hiddem gem yang bisa pengunjung temukan. Tempatnya terpojok di bagian selatan, dekat dengan tebing New Kota Golf sangat cocok untuk orang-orang kota yang ingin menikmati ketenangan.

Selain itu Pantai Balangan juga ada warung-warung kecil yang berjejer di tepi pantai. Di setiap warung menyewakan long chair atau kursi santai dengan payung. Selain itu biasanya juga terdapat jasa pijat maupun jasa kepang rambut serta terdapat juga toilet umum yang dapat digunakan membersihkan diri dari lengketnya air pantai dan pasir.

Hingga saat ini masih banyak orang yang susah menemuka akses untuk menuju Pantai Balangan. Tetapi, ketika sudah sampai, lelah mereka dalam perjalanan akan terbayarkan dengan view sunset yang menenangkan.

Semua keindahan yang ada di Pantai Balangan dari saya kecil hingga kini masih sama. Keaslian alamnya tetap terjaga. Pantai yang bersih dan indah karena masyarakat maupun pengunjung sama-sama saling menjaga. Pengalaman perjalanan yang tidaklah mudah untuk dilupakan dalam memori ingatan.

Ketika sudah pernah menikmati keindahannya pasti ingin datang kembali. Pantai Balangan tempat yang tepat untuk saya menenangkan pikiran setelah melalui hari yang melelahkan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto

Tags: JimbaranPantai BalanganPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Next Post

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ijazah Sebagai Senjata Politik, Bukan Penentu Kapabilitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co