12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2024 mencatat satu nama yang patut diingat, Suintrah. Film cerita pendek karya sutradara muda Ayesha Alma Almera ini menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik tahun 2024. Film ini yang tidak hanya mengukuhkan kepekaan artistik sang sutradara, tetapi juga memperlihatkan keberanian dalam mengeksplorasi narasi, visual, dan audio secara serentak.

Di tengah gempuran film-film pendek lain yang mencoba tampil dengan gaya realis atau eksperimen visual semata, Suintrah tampil sebagai anomali. Suintrah memiliki premis sederhana—seorang ayah dan anak laki-laki satu-satunya menyewa rumah di sebuah desa dengan aturan ketat. Di desa itu, tidak seorang pun boleh berbicara keras. Namun dari premis itu, Almera berhasil meramu sebuah dunia (universe) yang terasa utuh, believable, dan menyimpan lore (tutur) yang kuat. Film ini discreening di Ruang Audio Visual, Dharma Negara Alaya dalam program Market Screening : FFI, Senin, 15 September 2025.

Keberhasilan Suintrah terletak pada kemampuannya menjadikan satu aturan sederhana—larangan berbicara keras—sebagai fondasi dunia yang misterius. Desa tempat Jor (sang ayah) dan Nayak (sang anak) tinggal digambarkan bak kedamaian. Alamnya rindang, pemandangan gemah ripah, suara angin dan burung yang menenangkan. Namun, justru dalam keindahan itu terkandung ancaman yang tak kasatmata.

Setiap kali ada suara yang meninggi, penonton merasakan getaran ancaman. Serasa itu terlibat dalam mendengar, mengintai, dan siap menghukum. Sosok atau kekuatan itu tidak pernah ditunjukkan secara gamblang, tetapi bayangan kehadirannya mengisi seluruh ruang film. Inilah kekuatan world-building Almera—tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup dengan satu aturan desa, imaji penonton bekerja sendiri.

Dengan cerdas, film ini mengingatkan pada tradisi horor yang membangun teror dari atmosfer, bukan jumpscare murahan. Semacam resonansi dengan A Quiet Place (2018), tetapi dengan kekhasan lokal dan nuansa desa tropis yang hangat sekaligus mencekam.

Jika ada satu aspek paling menonjol dalam Suintrah, maka jawabannya adalah eksperimen audio. Film ini tidak semata-mata bercerita dengan gambar, tetapi dengan keheningan yang dipaksa.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dialog yang minim dan penuh bisikan justru membuat penonton terperangkap dalam pengalaman mendengar. Suara desir angin, langkah kaki di tanah kering, atau sekadar helaan napas menjadi titik dramatik. Setiap bunyi terdengar signifikan, seakan mengandung risiko.

Di sinilah Almera membangun lapisan kontras audio. Suara manusia yang berbisik, ditimpa efek suara horor yang samar, seolah-olah ada entitas asing yang menyelinap di setiap kata. Ketegangan bukan datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang terdengar. Penonton dipaksa siaga, ikut waspada, seperti Jor dan Nayak.

Kekuatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang potensi medium film. Almera tidak jatuh pada gimmick suara, tetapi memanfaatkan audio sebagai tulang punggung narasi.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dari sisi visual, Suintrah menampilkan kontras yang memikat. Sinematografi menghadirkan desa yang tampak damai. Namun, kamera Almera tidak membiarkan penonton menikmati kedamaian itu dengan nyaman. Ada framing yang menekan, komposisi ruang yang terasa mengurung, dan gerakan kamera yang kadang lambat, kadang terhenti tiba-tiba, menciptakan sensasi diawasi.

Desa itu adalah paradoks. Tanah yang tenteram tetapi menyimpan kekerasan aturan. Keindahan visual justru menjadi perangkap psikologis. Penonton diingatkan bahwa kemakmuran tidak selalu identik dengan keramahan. Sebuah aturan sosial bisa meniadakan rasa aman, meski lingkungan tampak ideal.

Dua tokoh utama, Jor dan Nayak, hadir tanpa banyak latar belakang. Almera menolak untuk memberi penjelasan gamblang—dan justru di situlah letak kekuatan narasi. Ayah (Jor) digambarkan sebagai figur yang waspada, berusaha menyesuaikan diri dengan aturan baru yang asing dan menekan. Tetapi Nayak justru berbalik. Rasa acuh dan ketidakpercayaan yang digambarkan oleh anak kecil menjadi titik konflik dalam film ini.

Hubungan mereka tidak sekadar hubungan biologis, tetapi juga simbolik. Ayah sebagai benteng perlindungan yang retak, anak sebagai generasi yang harus menanggung resiko dalam keheningan. Penonton perlahan menangkap bahwa desa dengan aturan sunyi ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan cermin dari represi sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Mengapa Suintrah terasa relevan? Karena film ini bicara tentang represi suara, larangan untuk berbicara keras, yang bisa dibaca sebagai metafora pembungkaman ekspresi di masyarakat. Aturan desa bukan hanya hukum fiksi, melainkan refleksi sebuah suara individu yang sering diredam oleh norma, kuasa, atau tradisi.

Film ini tidak menyajikan jawaban, tetapi menantang penonton untuk bertanya. Apa yang terjadi jika masyarakat dibangun di atas larangan berbicara dengan keras? Bagaimana identitas, trauma, dan rasa takut diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Suintrah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga sebagai wacana sosial.

Meski begitu, film ini juga menyisakan ruang kritik. Sebagai penonton saya merasa narasi terlalu tertutup, minim informasi, sehingga sulit diakses. Ending yang ambigu—tidak menjelaskan asal-usul ancaman—akan menimbulkan frustrasi bagi sebagian orang. Namun, justru di titik inilah letak keberanian Almera. Ia memilih untuk tidak memanjakan penonton dengan jawaban instan.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Tidak berlebihan jika banyak kritikus menyebut Suintrah sebagai film pendek dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi film panjang. Lore (tutur) yang sudah terbentuk—aturan desa, atmosfer, karakter ayah-anak—cukup kuat untuk ditarik lebih jauh.

Versi panjang bisa menggali lebih dalam asal-usul aturan, konflik masyarakat desa, atau transformasi psikologis Jor dan Nayak. Jika dieksekusi tepat, Suintrah berpeluang menjadi horor psikologis lokal yang mendunia.

Kemenangan Suintrah di FFI 2024 bukan sekadar kemenangan teknis, tetapi kemenangan ide. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu datang dari cerita besar, tetapi dari premis kecil yang dieksplorasi dengan totalitas.

Ayesha Alma Almera telah menunjukkan bahwa keheningan bisa lebih mengguncang daripada teriakan. Suintrah mengajarkan penonton bahwa di balik sunyi, ada suara-suara yang ingin keluar, tetapi ditahan oleh ketakutan. Dan mungkin, di situlah horor yang sesungguhnya. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film Indonesiafilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co