13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2024 mencatat satu nama yang patut diingat, Suintrah. Film cerita pendek karya sutradara muda Ayesha Alma Almera ini menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik tahun 2024. Film ini yang tidak hanya mengukuhkan kepekaan artistik sang sutradara, tetapi juga memperlihatkan keberanian dalam mengeksplorasi narasi, visual, dan audio secara serentak.

Di tengah gempuran film-film pendek lain yang mencoba tampil dengan gaya realis atau eksperimen visual semata, Suintrah tampil sebagai anomali. Suintrah memiliki premis sederhana—seorang ayah dan anak laki-laki satu-satunya menyewa rumah di sebuah desa dengan aturan ketat. Di desa itu, tidak seorang pun boleh berbicara keras. Namun dari premis itu, Almera berhasil meramu sebuah dunia (universe) yang terasa utuh, believable, dan menyimpan lore (tutur) yang kuat. Film ini discreening di Ruang Audio Visual, Dharma Negara Alaya dalam program Market Screening : FFI, Senin, 15 September 2025.

Keberhasilan Suintrah terletak pada kemampuannya menjadikan satu aturan sederhana—larangan berbicara keras—sebagai fondasi dunia yang misterius. Desa tempat Jor (sang ayah) dan Nayak (sang anak) tinggal digambarkan bak kedamaian. Alamnya rindang, pemandangan gemah ripah, suara angin dan burung yang menenangkan. Namun, justru dalam keindahan itu terkandung ancaman yang tak kasatmata.

Setiap kali ada suara yang meninggi, penonton merasakan getaran ancaman. Serasa itu terlibat dalam mendengar, mengintai, dan siap menghukum. Sosok atau kekuatan itu tidak pernah ditunjukkan secara gamblang, tetapi bayangan kehadirannya mengisi seluruh ruang film. Inilah kekuatan world-building Almera—tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup dengan satu aturan desa, imaji penonton bekerja sendiri.

Dengan cerdas, film ini mengingatkan pada tradisi horor yang membangun teror dari atmosfer, bukan jumpscare murahan. Semacam resonansi dengan A Quiet Place (2018), tetapi dengan kekhasan lokal dan nuansa desa tropis yang hangat sekaligus mencekam.

Jika ada satu aspek paling menonjol dalam Suintrah, maka jawabannya adalah eksperimen audio. Film ini tidak semata-mata bercerita dengan gambar, tetapi dengan keheningan yang dipaksa.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dialog yang minim dan penuh bisikan justru membuat penonton terperangkap dalam pengalaman mendengar. Suara desir angin, langkah kaki di tanah kering, atau sekadar helaan napas menjadi titik dramatik. Setiap bunyi terdengar signifikan, seakan mengandung risiko.

Di sinilah Almera membangun lapisan kontras audio. Suara manusia yang berbisik, ditimpa efek suara horor yang samar, seolah-olah ada entitas asing yang menyelinap di setiap kata. Ketegangan bukan datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang terdengar. Penonton dipaksa siaga, ikut waspada, seperti Jor dan Nayak.

Kekuatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang potensi medium film. Almera tidak jatuh pada gimmick suara, tetapi memanfaatkan audio sebagai tulang punggung narasi.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dari sisi visual, Suintrah menampilkan kontras yang memikat. Sinematografi menghadirkan desa yang tampak damai. Namun, kamera Almera tidak membiarkan penonton menikmati kedamaian itu dengan nyaman. Ada framing yang menekan, komposisi ruang yang terasa mengurung, dan gerakan kamera yang kadang lambat, kadang terhenti tiba-tiba, menciptakan sensasi diawasi.

Desa itu adalah paradoks. Tanah yang tenteram tetapi menyimpan kekerasan aturan. Keindahan visual justru menjadi perangkap psikologis. Penonton diingatkan bahwa kemakmuran tidak selalu identik dengan keramahan. Sebuah aturan sosial bisa meniadakan rasa aman, meski lingkungan tampak ideal.

Dua tokoh utama, Jor dan Nayak, hadir tanpa banyak latar belakang. Almera menolak untuk memberi penjelasan gamblang—dan justru di situlah letak kekuatan narasi. Ayah (Jor) digambarkan sebagai figur yang waspada, berusaha menyesuaikan diri dengan aturan baru yang asing dan menekan. Tetapi Nayak justru berbalik. Rasa acuh dan ketidakpercayaan yang digambarkan oleh anak kecil menjadi titik konflik dalam film ini.

Hubungan mereka tidak sekadar hubungan biologis, tetapi juga simbolik. Ayah sebagai benteng perlindungan yang retak, anak sebagai generasi yang harus menanggung resiko dalam keheningan. Penonton perlahan menangkap bahwa desa dengan aturan sunyi ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan cermin dari represi sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Mengapa Suintrah terasa relevan? Karena film ini bicara tentang represi suara, larangan untuk berbicara keras, yang bisa dibaca sebagai metafora pembungkaman ekspresi di masyarakat. Aturan desa bukan hanya hukum fiksi, melainkan refleksi sebuah suara individu yang sering diredam oleh norma, kuasa, atau tradisi.

Film ini tidak menyajikan jawaban, tetapi menantang penonton untuk bertanya. Apa yang terjadi jika masyarakat dibangun di atas larangan berbicara dengan keras? Bagaimana identitas, trauma, dan rasa takut diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Suintrah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga sebagai wacana sosial.

Meski begitu, film ini juga menyisakan ruang kritik. Sebagai penonton saya merasa narasi terlalu tertutup, minim informasi, sehingga sulit diakses. Ending yang ambigu—tidak menjelaskan asal-usul ancaman—akan menimbulkan frustrasi bagi sebagian orang. Namun, justru di titik inilah letak keberanian Almera. Ia memilih untuk tidak memanjakan penonton dengan jawaban instan.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Tidak berlebihan jika banyak kritikus menyebut Suintrah sebagai film pendek dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi film panjang. Lore (tutur) yang sudah terbentuk—aturan desa, atmosfer, karakter ayah-anak—cukup kuat untuk ditarik lebih jauh.

Versi panjang bisa menggali lebih dalam asal-usul aturan, konflik masyarakat desa, atau transformasi psikologis Jor dan Nayak. Jika dieksekusi tepat, Suintrah berpeluang menjadi horor psikologis lokal yang mendunia.

Kemenangan Suintrah di FFI 2024 bukan sekadar kemenangan teknis, tetapi kemenangan ide. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu datang dari cerita besar, tetapi dari premis kecil yang dieksplorasi dengan totalitas.

Ayesha Alma Almera telah menunjukkan bahwa keheningan bisa lebih mengguncang daripada teriakan. Suintrah mengajarkan penonton bahwa di balik sunyi, ada suara-suara yang ingin keluar, tetapi ditahan oleh ketakutan. Dan mungkin, di situlah horor yang sesungguhnya. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film Indonesiafilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co