2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Dian Suryantini by Dian Suryantini
September 15, 2025
in Ulas Film
Suintrah (2024): Keheningan yang Mengguncang | Catatan Film Pemenang FFI 2024 Kategori Film  Cerita Pendek

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

FESTIVAL Film Indonesia (FFI) 2024 mencatat satu nama yang patut diingat, Suintrah. Film cerita pendek karya sutradara muda Ayesha Alma Almera ini menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik tahun 2024. Film ini yang tidak hanya mengukuhkan kepekaan artistik sang sutradara, tetapi juga memperlihatkan keberanian dalam mengeksplorasi narasi, visual, dan audio secara serentak.

Di tengah gempuran film-film pendek lain yang mencoba tampil dengan gaya realis atau eksperimen visual semata, Suintrah tampil sebagai anomali. Suintrah memiliki premis sederhana—seorang ayah dan anak laki-laki satu-satunya menyewa rumah di sebuah desa dengan aturan ketat. Di desa itu, tidak seorang pun boleh berbicara keras. Namun dari premis itu, Almera berhasil meramu sebuah dunia (universe) yang terasa utuh, believable, dan menyimpan lore (tutur) yang kuat. Film ini discreening di Ruang Audio Visual, Dharma Negara Alaya dalam program Market Screening : FFI, Senin, 15 September 2025.

Keberhasilan Suintrah terletak pada kemampuannya menjadikan satu aturan sederhana—larangan berbicara keras—sebagai fondasi dunia yang misterius. Desa tempat Jor (sang ayah) dan Nayak (sang anak) tinggal digambarkan bak kedamaian. Alamnya rindang, pemandangan gemah ripah, suara angin dan burung yang menenangkan. Namun, justru dalam keindahan itu terkandung ancaman yang tak kasatmata.

Setiap kali ada suara yang meninggi, penonton merasakan getaran ancaman. Serasa itu terlibat dalam mendengar, mengintai, dan siap menghukum. Sosok atau kekuatan itu tidak pernah ditunjukkan secara gamblang, tetapi bayangan kehadirannya mengisi seluruh ruang film. Inilah kekuatan world-building Almera—tidak perlu menjelaskan panjang lebar, cukup dengan satu aturan desa, imaji penonton bekerja sendiri.

Dengan cerdas, film ini mengingatkan pada tradisi horor yang membangun teror dari atmosfer, bukan jumpscare murahan. Semacam resonansi dengan A Quiet Place (2018), tetapi dengan kekhasan lokal dan nuansa desa tropis yang hangat sekaligus mencekam.

Jika ada satu aspek paling menonjol dalam Suintrah, maka jawabannya adalah eksperimen audio. Film ini tidak semata-mata bercerita dengan gambar, tetapi dengan keheningan yang dipaksa.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dialog yang minim dan penuh bisikan justru membuat penonton terperangkap dalam pengalaman mendengar. Suara desir angin, langkah kaki di tanah kering, atau sekadar helaan napas menjadi titik dramatik. Setiap bunyi terdengar signifikan, seakan mengandung risiko.

Di sinilah Almera membangun lapisan kontras audio. Suara manusia yang berbisik, ditimpa efek suara horor yang samar, seolah-olah ada entitas asing yang menyelinap di setiap kata. Ketegangan bukan datang dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang terdengar. Penonton dipaksa siaga, ikut waspada, seperti Jor dan Nayak.

Kekuatan ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang potensi medium film. Almera tidak jatuh pada gimmick suara, tetapi memanfaatkan audio sebagai tulang punggung narasi.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Dari sisi visual, Suintrah menampilkan kontras yang memikat. Sinematografi menghadirkan desa yang tampak damai. Namun, kamera Almera tidak membiarkan penonton menikmati kedamaian itu dengan nyaman. Ada framing yang menekan, komposisi ruang yang terasa mengurung, dan gerakan kamera yang kadang lambat, kadang terhenti tiba-tiba, menciptakan sensasi diawasi.

Desa itu adalah paradoks. Tanah yang tenteram tetapi menyimpan kekerasan aturan. Keindahan visual justru menjadi perangkap psikologis. Penonton diingatkan bahwa kemakmuran tidak selalu identik dengan keramahan. Sebuah aturan sosial bisa meniadakan rasa aman, meski lingkungan tampak ideal.

Dua tokoh utama, Jor dan Nayak, hadir tanpa banyak latar belakang. Almera menolak untuk memberi penjelasan gamblang—dan justru di situlah letak kekuatan narasi. Ayah (Jor) digambarkan sebagai figur yang waspada, berusaha menyesuaikan diri dengan aturan baru yang asing dan menekan. Tetapi Nayak justru berbalik. Rasa acuh dan ketidakpercayaan yang digambarkan oleh anak kecil menjadi titik konflik dalam film ini.

Hubungan mereka tidak sekadar hubungan biologis, tetapi juga simbolik. Ayah sebagai benteng perlindungan yang retak, anak sebagai generasi yang harus menanggung resiko dalam keheningan. Penonton perlahan menangkap bahwa desa dengan aturan sunyi ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan cermin dari represi sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Mengapa Suintrah terasa relevan? Karena film ini bicara tentang represi suara, larangan untuk berbicara keras, yang bisa dibaca sebagai metafora pembungkaman ekspresi di masyarakat. Aturan desa bukan hanya hukum fiksi, melainkan refleksi sebuah suara individu yang sering diredam oleh norma, kuasa, atau tradisi.

Film ini tidak menyajikan jawaban, tetapi menantang penonton untuk bertanya. Apa yang terjadi jika masyarakat dibangun di atas larangan berbicara dengan keras? Bagaimana identitas, trauma, dan rasa takut diturunkan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Suintrah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga sebagai wacana sosial.

Meski begitu, film ini juga menyisakan ruang kritik. Sebagai penonton saya merasa narasi terlalu tertutup, minim informasi, sehingga sulit diakses. Ending yang ambigu—tidak menjelaskan asal-usul ancaman—akan menimbulkan frustrasi bagi sebagian orang. Namun, justru di titik inilah letak keberanian Almera. Ia memilih untuk tidak memanjakan penonton dengan jawaban instan.

Film Suintrah (2024) saat diputar dalam program Market Screening : FFI serangkaian MFW11 | Foto: Dian

Tidak berlebihan jika banyak kritikus menyebut Suintrah sebagai film pendek dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi film panjang. Lore (tutur) yang sudah terbentuk—aturan desa, atmosfer, karakter ayah-anak—cukup kuat untuk ditarik lebih jauh.

Versi panjang bisa menggali lebih dalam asal-usul aturan, konflik masyarakat desa, atau transformasi psikologis Jor dan Nayak. Jika dieksekusi tepat, Suintrah berpeluang menjadi horor psikologis lokal yang mendunia.

Kemenangan Suintrah di FFI 2024 bukan sekadar kemenangan teknis, tetapi kemenangan ide. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu datang dari cerita besar, tetapi dari premis kecil yang dieksplorasi dengan totalitas.

Ayesha Alma Almera telah menunjukkan bahwa keheningan bisa lebih mengguncang daripada teriakan. Suintrah mengajarkan penonton bahwa di balik sunyi, ada suara-suara yang ingin keluar, tetapi ditahan oleh ketakutan. Dan mungkin, di situlah horor yang sesungguhnya. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmFestival Film Indonesiafilmfilm pendekMinikinoMinikino Film WeekMinikino Film Week 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Badak, Sajikan Kuliner Tradisional di Tengah Kota Denpasar

Next Post

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails
Next Post
Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Bernostalgia ke Pantai Balangan: Dulu Terpencil Kini Terkenal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co